CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
Ex. P15


__ADS_3

Setelah diberi ASI, bayi mungil itu diletakan pada box bayi yang telah tersedia. Reza baru tahu bahwa bayi perempuan memiliki suara tangis yang sangat kencang. Bahkan saat Aura hamil gadis kecil ini pun dia bersikap lebih manja.


Abizar pun undur diri untuk meninggalkan mereka. "Saya harus ke kantor dulu, bye ..." ucap Abizar menutup pintu kembali.


Tak perlu menunggu waktu lama pun, Aura sudah bisa pulang ke rumah. Akhirnya Aura bisa memeluk kembali putra mereka yang sudah ditinggal semalaman.


"Sekarang kamu sudah punya kawan main ni, Boy ..." ucap Reza menggendong Aksa. "Ayoo, panggil Adek dulu!"


"Dek ... Dedek ..." ucap Aksa dengan mulut kecilnya. Dia turun dari gendongan Ayah berpindah naik ke pangkuan Bunda juga.


"Jadi tidak ada yang mau main saya Ayah nih?"


Aksa kecil menggelengkan kepalanya. Dia ingin mencium adik kecil yang baru saja hadir. Aksa pindah ke kasurnya dan meminta adik tersebut tidur di sampingnya. Aura meletakan bayi mungil tidur di samping Aksa. Aksa pun mengajak adik kecilnya bermain.



"Duuuh, Abang sayang sama Adek ya?" ucap Aura.


"Abang?" tanya Reza kembali mengulang tak setuju.


"Lalu mau diajarin manggil siapa? Atau Aa kayak Keken manggil kamu?"


"Mas doong ... Dia setengah aku ini lho?" Reza melirik Aura yang tampak sedikit memasang wajah nyinyir.


"Kenapa? Nggak suka?"

__ADS_1


"Ye ... lah, ye ... lah, terserah Kanda aja. Semua yang ada di sini keputusanmu. Aku tak ada hak ikut campur dan ikut memutuskan," gumamnya.


"Lho? Kamu nggak suka?"


Aura hanya hanya mengedikan bahu. Dia mengajak Aksa dan adiknya bermain, tidak menanggapi lagi apa yang dikatakan Reza.


"Kamu suka Adek, Nak?" tanya Aura mengelus kepala Aksa. Aksa kecil tersenyum dan mengangguk.


"Sekarang kamu udah jadi Mas Aksa ya?" ucap Aura kembali. Aksa kembali mengangguk, entah beneran paham atau hanya sekedar menganggukan kepala.


Sore harinya, Stella hadir bersama Devan. Devan pun segera berkonsultasi pada Reza tips and trick rumah tangga mereka. Sementara Aura tertawa ngakak mendengar cerita bahwa tadi malam dia bertemu dengan arwah kembaran Devan.


"Bukannya orang meninggal itu sudah tidak bisa kembali lagi?" tanya Aura setengah tidak percaya.


"Naaah, aku juga tidak percaya hal itu terjadi. Tapi aku mengalaminya sendiri, dan dia menghilang begitu saja di depan mataku. Duh, gilak ... ngeri banget aku!"


Stella tertegun akan pertanyaan Aura. Lalu dia menatap Devan yang sedang berbicara tentang masalah pria dengan Reza. Stella tak memungkiri kemarin dia sempat ada rasa iri pada Aura. Membayangkan jika Reza lah menjadi sosok jodohnya, mungkin semua akan berbeda.


Maafkan aku kembaran, Kak Devan. Aku tidak bermaksud begitu ... Aku hanya membayangkan saja kok. Bukan berarti aku menginginkan orang yang sama.


Berbeda dengan Reza, Devan ini tipikal playboy tersembunyi. Melihat wajahnya bagai anak tanpa dosa, tak ada yang tahu bahwa dia memiliki kekasih lain. Begitu juga dengan Stella yang baru mengetahui beberapa waktu terakhir.


Dia berlaku begitu semenjak kepergian saudara kembarnya Deval. Sebagai pelarian rasa sepi dengan mendekati beberapa perempuan. Bahkan sudah mencicipi nikmatnya ONS dengan beberapa wanita bayaran.


Dia baru mulai benar-benar tobat, saat merasa jauh dari Stella. Dia menyadari bahwa dirinya telah mencintai Stella sang bocah ingusan. Semenjak kembali menjalani hubungan dengan Stella, sudah beberapa kali Devan mengajak Stella untuk menikah. Hasrat batinnya sungguh tak terbendung ingin segera dilepaskan.

__ADS_1


Akan tetapi, Stella masih belum siap untuk diajak menikah. Sehingga dia mencoba memperbanyak kegiatan untuk mengalihkan pikirannya ke arah sana. Karena baginya Stella begitu menggoda.


Setelah selesai bermain menengok dua bayi lucu, membuat perasaan Devan kembali menggebu ingin segera memiliki buah hati. Dalam perjalanan, Devan ingin menyinggung kembali soal pernikahan dengan Stella. Devan sengaja mengajak Stella duduk di sebuah taman kota, menikmati sore.


"Sayang, apa kamu tidak merasa gemes melihat dua bayi lucu tadi?" tanya Devan.


Stella dengan semangat menggukan kepalanya. "Tentu dong. Lucu begitu siapa yang gak bakalan gemes? Aaahh ...." Stella menengadahkan wajahnya menikmati angin sore yang sejuk.


"Apa kamu tidak ingin memiliki anak yang lebih lucu dari itu?"


Stella memandang Devan dengan senyuman khas miliknya. Permintaan ini sudah berapa kali didengar langsung dari telinganya. "Mau dong, tapi nanti dulu." Stella menggenggam tangan Devan.


"Apa yang kamu tunggu lagi? Kamu jangan takut dengan perekonomian kita setelah nikah. Jika usaha kecil-kecilanku kurang membuahkan hasil, aku tinggal pindah bekerja di perusahaan papaku."


Stella kembali tersenyum. "Bukan itu, aku tak pernah mengkhawatir keuangan sama sekali. Hanya saja ...."


Tiba-tiba mata Stella fokus pada seorang bocah laki-laki berusia lima tahun. Dia merasa bocah itu sangat mirip dengan Devan.


"Kak, lihat anak kecil itu! Senyumannya sangat mirip denganmu."



Devan pun melihat siapa yang dimaksudkan oleh Stella. "Aaah, masa?" ucap Devan tak percaya.


Lalu anak kecil tersebut tampak berlari ke sana ke mari. Terakhir dia mendekat pada seorang wanita. Mata Devan pun terbelalak nyalang melihat sosok wanita yang diduganya sebagai ibu dari anak itu.

__ADS_1



__ADS_2