CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
Ex. P17


__ADS_3

"Dia hanya masa lalu!" ucap Devan tegas.


"Siapa anak itu?"


Devan berpikir sejenak, lalu menarik Stella duduk di banku-bangku yang tersedia di trotoar pinggir jalan. Devan menarik Stella agar bisa menatapnya dengan sempurna. Stella pun membuang pandangan, namun ditarik kembali oleh Devan. Beberapa detik kedua netra itu saling bertemu.


"Apakah aku boleh jujur padamu?"


Stella kembali membuang pandangannya. Devan menarik kembali dagu gadis itu agar mereka bisa berbicara dari hati ke hati.


"Bagaimana jika masa laluku lebih buruk dari bayanganmu?"


Stella menyepis tangan yang menahan dagunya. Dia duduk menyandarkan diri pada sandaran bangku tersebut. Dia mulai menduga-guda sendiri arah pembicaraan yang akan masuk fase lebih serius.


"Jika kamu belum siap, aku akan memilih diam," tambah Devan, ikut bersandar dan menengadahkan kepalanya menatap langit.


Beberapa waktu mereka lalui dan akhirnya Stella bersuara. "Sepertinya aku sudah siap mencoba untuk mendengarnya."


Devan meluruskan posisi duduknya, menatap kembali pada Stella. "Apa kamu yakin?" Stella mengangguk, antara yakin dan tak yakin.


"Baik lah, aku akan mulai semuanya dari awal."


Tak terasa Devan menyelesaikan kisahnya, waktu telah berpindah pada malam hari. Stella sesegukan mendengar cerita yang disampaikan oleh Devan. Devan mengusap air mata Stella.


"Kamu jangan menangis seperti itu. Jika setiap aku bercerita kamu menangis, aku tak akan menceritakan apa pun tentang diriku kembali."

__ADS_1


Stella menggenggam tangan Devan. "Aku tidak memiliki saudara. Tetapi, aku mengerti rasanya bagaimana kehilangan saudara! Namun, yang aku sesali kenapa kamu sampai terjerumus begitu? Bagaimana jika anak kecil itu memang anakmu saat bersama dengannya?" Stella melepaskan genggaman tersebut.


Devan kembali menyandarkan dirinya. Diliriknya gadis yang duduk di sampingnya sejenak. Lalu beralih kembali menopang kepala bagian belakang dengan kedua telapak tangan yang ditautkan.


"Entah lah, jika anak kecil itu memang anakku, aku siap untuk bertanggung jawab. Namun, dia tidak mau mengakui bahwa anak kecil tersebut adalah anakku, karena dia mengatakan bahwa itu adalah anak suaminya."


"Aku sendiri melihat anak kecil itu seperti Deval dulu. Dia mirip dengan saudara kembarku. Itu berarti dia mirip denganku. Karena kami adalah kembar identik."


Stella seperti menghela nafas panjang nan berat. Dia merasa bingung dengan situasi ini. Lalu dia bangkit berjalan meninggalkan Devan sendiri tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia langsung menaiki kendaraan dan pergi.


Devan melihat reaksi Stella telah siap dengan segala keputusan perempuan yang mulai dicintainya dengan tulus. Dia merasa bahwa tak ada gadis baik-baik yang pantas untuknya. Menatap kendaraan milik Stella yang semakin jauh dan menghilang.


"Vaal, sepertinya nasib kita tak jauh berbeda. Lu dipisahkan oleh alam berbeda, sedangkan gue dipisahkan nasib yang tak memihak pada kisah cinta gue."


💖


💖


Tanpa disadarinya, Stella tidak tidur sama sekali hingga malam berikutnya. Dia masih memikirkan kembali bagaimana perasaannya terhadap Devan. Apakah akan dilanjutkan, atau harus diakhiri.


"Stella ... Stella ...?"


Ini sudah kali berapa orang tuanya mengetuk pintu kamar itu. Dia tak memberikan jawaban apa-apa dalam heningnya. Sudah 24 jam dia tidak keluar dari kamar.


"Stella ... Aura dan keluarganya mencarimu nih. Ayo lah keluar! Kamu belum makan satu apa pun semenjak kemarin."

__ADS_1


Stella masih melipat tubuhnya duduk di atas ranjang. Dia tak bergeming seolah tak mendengar satu apa pun. Dia masih merenungkan kembali akan kelanjutan hubungannya dengan pria yang dicintainya.


Lima tahun lalu aku masih SMP. Dia sudah membuat anak dengan wanita lain kala. Entah lah ... Aku bingung ...


"La ... Stella?" Kali ini Aura yang memanggil Stella.


Stella terbangun dari lamunannya. Langsung bangkit dan membuka pintunya saat suara Aura jelas terdengar. Mama Nengsi yang sedari tadi menunggu langsung memeluk putri semata wayangnya ini.


"Kamu ngapain gak keluar-keluar dari kemarin?"


Stella memutar bola matanya. "Masa sih dari kemarin? Rasanya aku masuk baru beberapa waktu lalu deh." Stella menengok ke arah jam dinding.


"Aduuuh, Stella ... jangan bilang kamu menghilang dengan lorong waktu ke dunia lain lagi. Jelas kamu pulang-pulang kemarin, baru keluar saat Aura yang memanggilmu. Dari tadi Mama manggil kamu lho? Kamu tidur selama 24 jam ya?" Lalu ibunya menatap mata sang gadis sembab dan menghitam.


"Kamu ini kebanyakan tidur apa nggak tidur sama sekali sih?"


"Ooeekk ... Ooeeekkk ..."


Tiba-tiba, bayi yang ada dalam gendongan Aura menangis dengan sangat kencang. Mama Stella memeriksa bayi itu sejenak.


"Sepertinya dia lapar, kamu beri ASI saja di dalam kamar Stella!"


Aura menenangkan bayi itu menggendong masuk ke dalam kamar Stella. Aura naik ke atas ranjang milik Stella dan mulai memberikan ASI pada Asyara. Akhirnya tangisan itu berhenti juga.


"Mama sih, manggil-manggil Aura ke sini segala? Dia kan masih repot begitu?" sungut Stella kepada sang ibu.

__ADS_1


"Habis ... Mama itu khawatir tau nggak? Mama panggilin sejak tadi kamu tidak nyahut. Mama pikir kamu ngapain, atau bu nuh diri di dalam sana?"


__ADS_2