CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
64. Blokir


__ADS_3

"Oh iya, aku Dinda ya?" Aura menggandeng tangan Stella. "Aku ajak Stella juga!"


Kedua alis Reza pun terangkat. Dia tidak setuju jika Stella juga diajak. Dia tidak mau teman Dinda-nya ikut melihat adegan-adegan yang akan terjadi nanti.


"Dinda," dia memanggil gadis itu. Namun, yang dipanggil belum merasa sama sekali.


Aura masih terlihat asik berbisik dengan Stella. Entah apa yang mereka bicarakan secara rahasia. Wajah Stella terlihat menolak sesuatu.


"Dinda?"


Aura masih membujuk sahabatnya untuk bersedia menemaninya pergi bersama Reza.


"Dinda, Kamu dengerin Kanda nggak sih?" suara Reza sedikit meninggi.


"Coba ulang dia bilang siapa?" tanya Stella makin terperangah.


"Kanda!" cetus Aura.


"Wkwkwkwk, aestaetik sekali panggilan indah kalian?" Stella langsung bengek melihat pasangan baru ini.


"Kamu beneran serius sama Om Mesum ini?"


"Entah lah ...."


"Kamu siapa namanya tadi? Anak Mr. Lee kan?" Mata Reza tertuju pada Stella.


"Iya, Om. Aku anak Appa Lee Dong Suk. Namaku Stella."


"Sekarang Kamu jangan panggil aku 'Om' lagi! Boleh panggil Kakak atau Mas, terserah Kamu. Karna aku akan meni--"


"Eh, La ..., lihat deh! Di sana ada anak ayam!" sela Aura menarik lengan Stella. Setelah itu membelalakan matanya pada Reza.


"Iya, kalau ada anak ayam kenapa?" Stella melepaskan diri dari Aura. Dia paham bahwa temannya itu tengah mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Bagaimana tadi Om-- eh, Kak?"


"Kamu boleh bertanya pada dia! Saat ini aku mau membawa dia terlebih dahulu. Boleh nggak?" tanya Reza.


Stella melihat kode dari Aura. Aura menggelengkan kepala dan membesarkan bola matanya. "Kalau aku tidak mau gimana, Kak?"


Reza bersidekap tangan di dadanya. Stella memperhatikan penampilan Reza yang sangat rapi daripada biasanya. Berbanding terbalik dengan sahabatnya, Aura terlihat kacau dan berantakan.


"Ra, sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua?" bisik Stella.


"Sepertinya aku belum bisa menceritakannya hari ini. Soalnya aku harus pergi dengannya. Nanti aku kontak lagi!"


Stella teringat dia kehilangan kontak Aura. "Kamu ganti kontak?" Tidak hanya itu, Stella menyerahkan Savety Detector yang ditemukannya saat mencari Aura beberapa waktu lalu.


Mata gadis itu terbelalak, "Di mana Kamu menemukannya?"


"Deket pembuangan sampah gede itu lho, di pojokan sana."


"Kenapa Kamu bisa menemukannya?"


"Kak Aksa yang mengirimkan map lokasi benda itu. Namun, Kamu tidak terlihat sama sekali," jelas Stella.


Aura kembali melirik orang yang menyuruh para preman tersebut. Menyimpan benda kenangan dari Aksa, lelaki yang manis memenuhi ruang hatinya.


"Mana hape-mu? Biar aku simpan kontakku yang baru," ucapnya.


Stella menyerahkan ponselnya, begitu juga dengan Reza. "Kanda juga belum punya kontak Kamu lho, Dinda!" ucap Reza.

__ADS_1


Aura menyalinkan nomor kontaknya yang baru, sementara ponsel Reza dikembalikan tanpa diisi kontaknya. Reza langsung menarik ponsel milik Stella, menyalin kontak sang Dinda. Tidak hanya itu, dia juga menyimpan kontak milik Stella.


"Biar aku tahu, kegiatan dia saat di kampus," ucapnya.


Reza melihat sang Dinda yang masih terlihat kacau. "Jadi Kamu masih belum mandi?"


"Udah!" ucapnya dengan ketus.


Reza menilik Aura dari atas hingga ke bawah. "Punya pakaian yang lebih baik nggak sih?"


"Nggak punya!"


Reza ingin menampilkan calon istri mudanya ini kepada para calon mantan. Jika tampilan gadis ini hanya acak-acakan seperti ini, dia yakin mereka akan meremehkan Aura.


"Stella, lain kali Kamu boleh ikut. Namun, kendaraanku saat ini hanya muat untuk dua orang, kali ini aku pinjam dia terlebih dahulu." Reza melihat Aura yang tak tertarik sama sekali dengan ucapannya. Pandangan gadis itu, mengarah ke tempat yang lain.


"Setelah ini aku janji, bawa kendaraan yang bisa muat rame-rame. Bahkan bisa muat orang satu kampung juga," candanya. Sang Dinda masih tampak tidak tertarik sama sekali.


"Oh, boleh lah, boleh ...," ucap Stella yang juga melirik sahabatnya itu. Menurutnya, wajah Aura terlihat nelangsa dan menderita. Stella hanya bisa menebak-nebak sebuah kisah tanpa rasa yang diperankan oleh sahabatnya ini. Karena, ekspressi Aura sangat berbeda saat bersama dengan Aksa.


Om Mesum akan menjalani perjuangan yang panjang setelah ini, batin Stella.


Dia teringat tadi pagi Aksa mengirim pesan bahwa Aura memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba. Saat ditanya kenapa, tak ada jawaban lagi. Dia juga tahu, Aksa sangat mencintai Aura. Dari segala bahasa tubuh dan aksi untuk menyenangkan sahabatnya ini.


"Dinda, kalau memang tak ada satu pun pakaianmu yang bagus, ayo ikut aku!"


"Kemana?" tanya gadis itu masih tak acuh.


"Kunci dulu pintu kamarnya sanah!" ucap Stella mengingatkan.


Dengan malas-malasan gadis itu berjalan menyimpan benda yang diserahkan Stella tadi lalu mengambil topi. Mengikat rambutnya dengan asal, lalu memakai topi tersebut, yang terakhir dia menutup dan mengunci pintu kamar.


Aura dan Stella sudah sering melihat mobil itu nangkring di pelataran kafe Harmony. Hanya saja, kala itu mereka mengira Reza sebagai supir dari Abizar. Reza menekan tombol kunci otomatis, terdengar suara kunci telah terbuka. Reza membukakan pintu untuk Aura.


Aura menyipitkan mata menatap pria dewasa ini. 'Dia sudah terbiasa begini karena dia seorang playboy tentu,' batinnya.


Gadis itu melambaikan tangan pada Stella. Matanya melihat beberapa mahasiswa lalu-lalang melihat mereka sambil berbisik. Stella terlihat menuju kendaraannya yang terparkir di depan mobil milik Reza ini, langsung melesat meninggalkan mereka yang masih riweh.


Aura tidak mau menggunakan sabuk pengaman. Reza masih nyinyir menyuruhnya menggunakan itu. "Ini demi keamanan Kamu, Dinda!"


Aura hanya bersidekap dada menyandarkan diri ke sandaran jok mobil itu. Dengan kesal, Reza melepas kembali sabuk yang telah mengikatnya. Menarik sabuk yang ada di samping jok milik Aura. "Kamu--" Reza tidak jadi melanjutkan ucapannya. Wajah mereka saat ini terlalu dekat, hanya tinggal beberapa sentimeter mengenai bibir gadis itu.


...deeeghh...


Aura terhenyak, mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mendorong Reza. "Ih, Om Mesum! Hampir saja kena tau nggak sih?" bentaknya.


Sementara jantung Reza sudah tak karuan karena melihat wajah gadis itu terlalu dekat. Dia berusaha menenangkan diri, agar jantungnya kembali normal.


'Padahal sudah biasa mencium klient lain dengan santai. Biasanya tidak apa-apa kalau sekedar ciuman saja. Namun kenapa di saat melihat wajahnya dengan dekat begini malah bikin jantungku kumat? Haduh ...,' batinnya.


"Malah bengong aja? Ayo jalan!" bentak gadis itu.


"Pakai dulu sabuknya sanah!" Reza masih berusaha menenangkan laju detak jantungnya.


Tiba-tiba, ponsel Aura bergetar. Matanya terbelalak melihat sebuah pesan yang sangat panjang dari Aksa.


[Ra, Kamu lebih memilih jalan menikahi CEO itu dibanding malu memiliki pacar seorang narapidana? Kenapa jalan ini yang Kamu pilih? Bagaimana denganku? Bagaimana dengan kisah kita yang baru beberapa saat ini? Kamu tahu, saat benar-benar memilikimu aku merasa sangat bahagia. Namun, hari ini semua telah sirna. Harapan untuk hidup bersama denganmu kini telah pupus. Apa Kamu yakin akan bahagia mejalani ini semua? Pikir kan lah kembali keputusanmu ini! Aku akan setia menunggumu jawabanmu di sini.]


Reza melihat linangan air mata telah membanjiri pipi Aura yang menatapi ponselnya. "Dinda, kenapa Kamu menangis? Apakah itu pesan dari pacarmu?"


Aura hanya diam menghapus air matanya. Reza merebut ponsel itu, lalu membacanya. Sebuah senyuman tipis terurai di bibirnya. Dia menekan-nekan beberpa kali layar benda pipih tersebut. Aura merebut, namun ditepis oleh Reza. Dia masih sibuk menekan-nekan lalu menyerahkannya.

__ADS_1


Aura memeriksa kembali pesan tersebut, tetapi sudah tidak ada lagi. Tak ada satu pun pesan dari Aksa. "Om Mesum, lancang sekali Kau hapus semua pesan milikku, darinya?"


"Emang mau Kamu apakan lagi pesan tersebut? Mau dijadikan kenang-kenangan? Oh, tidak hanya itu, aku sudah memblokir kontak dia di hapemu ini. Supaya dia tidak bisa menghubungimu lagi."


Mata Aura menatap pria itu dengan garang. "Lancang kali Kau!" Dia mencoba untuk membatalkan pemblokiran pada kontak Aksa.


"Jangan Kamu buka pemblokiran itu! Kalau Kamu buka, aku akan menyitanya kembali!"


"Kau pikir aku takut, hah? Jika Kau sita lagi, jangan salahkan aku saat aku menghancurkan perusahaanmu!"


"Jika Kamu menghancurkan perusahaanku, berarti Kamu siap untuk hidup miskin denganku!"


"Ogah, aku akan kembali padanya!"


"Apa Kamu yakin, dia akan menerimamu kembali? Mana mungkin dia mau menerima bekas orang lain?"


Aura hanya membisu membuang mukanya bersidekap dada. Di dalam kepalanya sudah merencanakan sesuatu. Melirik pria yang menatapnya dengan nanar. Akhirnya, kendaraan itu bergerak. Mereka berhenti tepat di depan sebuah butik ternama.


Pria itu turun berjalan memutar untuk membukakan pintu sang Dinda. Namun, gadis itu malah mengunci pintu tersebut dari dalam. Reza berputar kembali membuka pintu di bagian kemudi. Ternyata perempuan muda itu juga mengunci pintu itu.


"Heh, ini anak merepotkan amat?" desisnya. Akhirnya kunci otomatis digunakan. Dengan kesal pintu bagian penumpang dibuka.


"Cepat keluar! Mau dibelikan pakaian bagus bukannya seneng malah banyak tingkah," ucapnya.


Aura masih bersidekap dada, menurunkan kaki satu persatu dan keluar dari kendaraan itu dengan wajah angkuh. Dia berjalan masuk ke dalam butik itu sendirian meninggalkan Reza yang masih mengurus kendaraan mewahnya ini. Saat selesai, Reza celingak-celinguk mencari gadis tadi.


"Ni anak minta dikarungi juga lama-lama," gumamnya geram.


Reza langsung masuk ke dalam butik tersebut. Tampak gadis yang tampil acak-acakan itu tertunduk lesu di pojokan. Beberapa karyawan tampak berbisik-bisik heran melihat ada gembel masuk ke tempat mewah tersebut.


"Kenapa ini?" tanya Reza membuyarkan keadaan di sana.


"Oh, eh--" para pegawai tercekat melihat Reza pelanggan tetap butik ini. Biasa membawa pacar-pacarnya ke sini untuk membelikan pakaian untuk mereka.


"Kenapa calon istri saya diabaikan begitu saja?" tanyanya.


Pegawai tersebut merasa heran. Memikirkan calon istri yang dimaksud. Membayangkan calon istri sang tuan muda ini tentunya wanita yang sangat anggun dan mempesona. Namun, dia datang hanya sendirian.


"Calon istri? Yang mana Mas?" tanya pemilik butik tersebut.


"Itu," bibirnya menunjuk seorang yang terlihat sangat kusut, kayak preman.


"Dia?" tanya orang-orang tersebut dengan wajah tidak percaya.


Aura hanya tertunduk, merasa sedih diperlakukan dengan tidak menyenangkan seperti ini. Dia memang tidak pernah mengenakan pakaian butik selama ini. Dia hanya gadis modis, alias modal diskonan. Mencari pakaian yang ada label diskonnya di setiap departmen store. Apalagi ada label diskon 70% atau beli satu gratis dua, dia langsung kalap belanja merasa jadi orang paling kaya.


"Iya, dia itu calon istri saya!" ucap Reza tegas. "Sekarang tolong bantu saya untuk mengubah penampilannya itu!" titahnya.


Dua orang pegawai segera mengajak Aura memilih pakaian. Gadis itu hanya diam. Dia merasa bingung harus memilih yang mana. Baginya, semua pakaian itu terlihat sangat bagus.


Setelah beberapa waktu dibantu oleh pegawai di sana, akhirnya tirai ruang ganti dibuka oleh pegawai butik tersebut. Mata Reza terperangah melihat sosok gadis itu...


"Dinda ...?"


(fotonya di grub Author aja ya)


Ayo readers tersayang, mampir juga pada karya temen Author ini yaaa..


Jingga yang gendut berubah menjadi cantik setelah bertemu dengan Langit. Akhirnya berniat membalas dendam pada keluarganya yang selalu menyiksa dia sejak kecil. Bahkan Kakak tirinya berusaha untuk melecehkannya. Mereka juga selalu menghinanya. Kini dia sudah cantik. Jingga juga menjadi anggota perkumpulan rahasia. hubungannya dengan Langit hanya sebagai teman walau Jingga mencintai Langit. Jingga tahu Langit adalah playboy. Langit takut dengan komitmen dan pernikahan. Sampai suatu hari Langit benar-benar merasa kehilangan Jingga. Dia berjanji tidak akan melepaskan Jingga dan akan menikahinya.


__ADS_1


__ADS_2