
Keesokan harinya, Aura dan Reza sedang berada di stasiun untuk menjemput Bibi yang akan menemani Aura selama berada dalam masa persembunyian. Reza akan kembali ke kota nanti malam, agar bisa bekerja kembali esok hari.
Abizar sudah terlalu sering menghubunginya, karena banyak pekerjaan yang menumpuk setelah beberapa hari tak masuk ke kantor. Terlalu lama menunggu, membuat Aura merasa ingin ke toilet. Keram di perutnya semenjak kemarin masih belum juga reda.
Dia mendapati, roti tawar tidak terisi lagi setelah bercak-bercak yang terjadi semenjak sore hingga malam kemarin. Dia berpikir keram ini terjadi akibat siklusnya yang tidak lancar.
Aura kembali mencari Reza dengan mengelus perutnya yang terasa tidak nyaman. Ternyata, Bibi sudah sampai dan telah berbicara dengan Reza. Aura menepis rasa tidak nyamannya dengan memulas senyuman kepada kedua orang tersebut.
Saat sore, tiba lah waktu di mana Reza harus berangkat kembali ke kota. Segala sesuatunya telah disiapkannya agar Aura merasa nyaman tinggal dan berada di sini. Aura tak mau lepas dari pelukan suaminya.
"Dih, apa yang aku bilang? Kamu sampai tak mau lepas dari pelukanku bukan?" canda Reza menyugar rambut Aura.
"Kanda hati-hati berkendara ya?"
"Kira-kira, tiga hari lagi, tamumu udah pergi belum?" tanya Reza yang langsung dipahami oleh Aura.
"Biasanya sih satu minggu. Tetapi jika tidak lancar seperti saat ini bisa jadi satu bulan nggak akan selesai," Aura membalas candaan tersebut.
"Dih, masa aku harus puasa lebih lama lagi? Nanti aku bisa jajan lho, kalo tamunya kelamaan?"
Aura mencubit pinggang Reza. "Kalau Kamu jajan, aku akan kembali pada mantan."
__ADS_1
"Ekhem," Reza sengaja berdehem menandakan dia tidak setuju.
"Ekheemm," Aura pun membalas hal yang sama.
Reza mengacak rambut istrinya. Dia merasa berat untuk meninggalkan Aura sendirian di sini. Mereka memutuskan menjelang masuk masa kuliah, Aura tinggal untuk sementara di sini. Dia pun bingung bagaimana caranya berkuliah dengan status bur*nan tersebut.
Dengan perasaan tak rela, Reza melajukan kendaraannya tersebut. Dalam waktu tiga jam perjalanan, dia telah sampai di mansion menikmati sepi sendiri, yang telah terbiasa beristri. Dia memberitahukan Aura bahwa ia telah sampai.
"Ah, Sayang. Baru beberapa jam saja kita berpisah, aku sudah merindukanmu."
Mereka bercerita bagai sepasang merpati yang dilanda kasmaran akut. Setelah beberapa jam melakukan panggilan, baru lah teleponnya ditutup. Reza memandangi istrinya di dalam LCD ponselnya.
Sebaliknya Aura juga memandangi foto suaminya.
"Kenapa makin hari Kamu terlihat makin ganteng aja sih? Padahal dulu aku lihat kamu itu jelek banget. Udah jelek, jantungan, ngeyel, terus playboy lagi? Kayak orang yang tak tahu diri gitu kesannya." Aura tertawa sendiri mengingat pertengkaran mereka dulu.
"Kanda, I Love you." Aura mengecup seseorang di dalam layar ponsel tersebut.
__ADS_1
Setelah itu Aura mulai kembali membuka laptop yang baru dibelikan oleh Reza tadi siang. Dia memcoba mengakses sesuatu yang telah dicurigainya dengan menggunakan akun f*ke. Dia memang tidak menemukan apa-apa, tetapi mencoba mengakses kembali sesuatu yang telah disembunyikan atau pun dihapus.
Akhirnya dia melihat sendiri status buronan yang berisi fotonya. Itu foto dari sosial medianya dulu. Lalu Aura mengecek siapa yang sudah menghilangkan berita tersebut. Tampak kode-kode yang telah dia hapal. Aksa yang menghilangkannya.
Namun, dia yakin bahwa Marcell pasti akan melakukannya lagi. Aura seperti telah mengenal watak Tuan Sistem yang tak pernah menyerah. Karena dia membuktikan dalam kegigihan seorang Marcell dalam membujuk hingga akhirnya seorang tersebut mau mengikuti perkataannya.
Keesokan harinya, Aura menceritakan keluhannya kepada Bibi asisten kesayangan suaminya atas apa yang telah dia alami. Dia menjelaskan perutnya selalu keram seperti sakit saat datang bulan. Tetapi bulanannya hanya sedikit dan seperti menghilang begitu saja. Bibi seakan tersenyum membaca sesuatu yang telah terjadi.
"Apa kalian sudah berhasil?"
Kening Aura berkerut, mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan Bibi. Lalu Bibi seperti memberi kode dengan jemarinya. Wajah Aura langsung merah menahan malu.
"Sepertinya udah ya? Katanya belum boleh? Ini kan masih belum sampai batas waktu yang diminta sama dokter kan?" Bibi membuka ponsel yang dikeluarkan dari celemeknya.
"Tau tuh, Bi? Kandanya maksa banget."
"Sakit ga?"
"Sakit banget, sampai aku gi---" Aura kembali mengunci bibirnya. Membatalkan apa yang hendak diucapkannya.
"Hmmm, dari tanda-tanda yang Nona katakan, ada nengarah ke sana sih. Tapi nanti kita lihat dulu pada siklus Nona bulan depan. Apa masih ada, atau bener-bener menghilang?"
__ADS_1
Aura melongo sambil memeluk perutnyai. 'Apakah secepat dan semudah itu?'
💖