
Aura yang ditarik oleh Reza terus menatap ke belakang. "Siapa dia?"
Sambil menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan, Reza mengacak rambut Aura. "Seperti yang aku katakan, dia bukan siapa-siapa."
Mereka segera memanggil Jono, dan di dalam kendaraan Aura kembali memasang masker, jaket memasang tudungnya, terakhir kacamata. Reza mematut-matut tampilan wanita di sampingnya ini. Mengambil kacamata hitam, melepas kacamata bening yang digunakan Aura.
"Sepertinya akan tertutup sempurna dengan ini." Reza memasangkan kaca mata tersebut.
"Aku ikut ke kosan Kamu," ucap Reza.
"Tidak usah! Aku hanya sebentar mengambil laptop dan beberapa catatan usaha menengah yang pernah jadi terget sebelumnya."
Kendaraan sudah terparkir di depan gang kecil arah indekos Aura. Dengan segera, Aura turun tanpa pikir panjang menggunakan langkah cepat menyelesaikan urusannya.
Reza melihat beberapa orang yang tampak mencurigakan tengah mendiskusikan sesuatu di jalan depan gang. Mereka mulai masuk ke arah dalam gang. Reza menghubungi istrinya.
"Ya, tunggu sebentar. Masih ada yang harus aku bawa." ucap yang di seberang.
"Kalau pakaian, tak usah dibawa lagi! Pakaian untukmu sudah cukup dari yang terluar, hingga yang terdalam. Dari yang non formal, hingga ke yang formal. Sekarang bawa benda yang paling penting, lalu berhati-hati lah. Ada beberapa orang yang mencurigakan."
"Kanda jangan turun! Tenang saja di dalam mobil! Aku akan berhati-hati!"
"Aku tak akan tenang sebelum memastikanmu aman!"
"Jangan! Nanti Kamu diserang lagi bagaimana? Aku akan berhati-hati. Jangan khawatir!"
Aura menyalakan kembali ponsel yang telah lama tidak aktif. Membuka sebuah program yang sempat dia sematkan dalam ponsel lama tersebut. Mendeteksi siapa saja yang ada di dekat lokasi dia berada.
Dalam layar tersebut, ada beberapa titik yang bergerak sekedar lewat, ada beberapa titik membentuk sebuah kelompok, saat ini berada tepat di depan rumah kos nya. Ada titik lain yang keluar masuk rumah kos ini.
__ADS_1
Berarti orang ini yang dikatakan oleh Kanda. Hmmm, tujuh orang. Apakah ada kaitan dengan Sistem?
Aura mengganti jaket yang dipakainya tadi. Tadi dia menggunakan jaket bewarna biru terang, kali ini diganti dengan jaket bernuansa gelap. Aura keluar dari rumah kos tersebut.
Saat berada di beranda, Aura memgecek kembali pada layar ponselnya. Melihat kerumunan tersebut telah berpencar pada titik-titik tertentu. Cara membedakan dengan orang biasa, ialah titik yang terus bergerak. Berarti titik yang diam, adalah orang-orang yang harus dihindari.
Aura menunggu beberapa titik bergerak, agar dia bisa barengan ikut dengan mereka menuju keluar gang. Akhirnya titik bergerak datang, Aura pun bergerak mengikuti titik tersebut. Aura masih mengecek titik tersebut seolah sedang memainkan ponsel seperti biasa. Ada beberapa titik ikut bergerak.
Apa dia mencurigaiku? Padahal aku sudah menutup identitas. Atau merasa curiga karena terlalu tertutup?
Beberapa titik lain ikut bergerak mengikutinya di belakang. Ini artinya, dia memang sedang diikuti. Aura menduga, mereka menggunakan alat pelacak atau pendeteksi yang mungkin diprogram sendiri.
Kenapa aku selalu bertemu orang yang tak bisa dibodohi? Ah sial!
Aura mempercepat langkah. Mendahului orang yang berada di depanya. Ternyata ada titik tenang yang berada di posisi depan juga bergerak. Aura mulai menyimpan ponselnya. Mengencangkan sabuk tas ransel yang sengaja diikat p padanya. Mereka tersusun rapi sehingga menutup jalan agar bisa dia lewati.
Setelah posisi tegap kembali, gadis itu berlari sekencangnya menuju kendaraan yang telah menunggunya di ujung gang. Aura segera masuk, pintu sudah dibuka oleh Reza. Jono langsung tancap gas.
Pasukan pengintai tadi langsung naik pada motor yang mereka gunakan tadi. Mengejar kendaraan yang mereka gunakan dengan kecepatan penuh. Aura melihat, ada empat motor yang mengejar mereka.
"Siapa mereka?" tanya Reza.
"Yang pasti orang-orang dari Sistem atau apa lah."
Aura merasa gregetan ingin menggantikan Jono untuk mengendarai mobil tersebut. Akan tetapi, apalah daya yang ternyata tidak bisa mengendarai mobil.
"Mas Jon, bisa lebih cepat lagi tidak?"
__ADS_1
"Ini sudah semaksimal kemampuan saya, Nona," ucap Jono terus mengecek kendaran yang terus mengikuti mereka.
Reza sebagai pengendara mobil sport pun merasa gregetan merasa Jono masih lambat dalam mengendarakan MPV ini. Dia menarik Jono ke samping, dan langsung melompat ke bangku supir. Dia mulai memamerkan kemampuannya dalam mengendarakan mobil berlambang quda yang biasa dia kendarai.
Setelah mencapai batas kecepatan mobil berukuran besar ini, Reza memukul setir karena merasa kesal. "Aaah, aku lupa. Ini hanya mobil keluarga," rutuknya.
Reza terus menginjak gas, kendaraan tersebut meliuk di jalan raya yang tidak terlalu padat. Dikejar empat motor yang memiliki kecepatan yang tak kalah dengan roda empat itu. Tiba-tiba, Reza memiliki ide untuk singgah ke suatu tempat yang tak akan berani mereka ikuti. Reza membelokan kendaraannya ke arah Kantor Polisi Daerah.
Keempat pengendara motor tersebut tidak berani mengikuti mereka hingga ke dalam. Semua yang ada di dalam kendaraan tersebut, merasa sedikit lega. Namun, jika mereka keluar dari area ini, pasti akan diikuti lagi.
"Sepertinya mobil ini kita tinggalkan untuk sementara di sini saja. Kita pakai kendaraan online saja. Beberapa waktu lagi, mobil itu kita ganti. Mobil ini sudah ditandai," jelas Reza.
Aura mengangguk, sedangkan Jono menjadi bingung. Takut bila dia dipecat oleh kedua tuannya ini. "Bagaimana dengan saya Tuan?"
"Ooh, menjelang mobil untuk istri saya diganti, Kamu boleh belajar lebih keras lagi!"
"Saya dipecat, Tuan?"
"Kamu mendengar apa yang saya katakan barusan? Silakan belajar lebih giat dulu! Sementara, istri biar saya yang urus." Reza menengadahkan tangannya di hadapan Aura.
Aura merasa bingung atas apa yang akan dimintanya. "Apa?"
"Hape Kamu ditinggal di sini saja! Biar mereka tidak dapat mendeteksi keberadaanmu!"
Aura mengangguk, non aktifkan ponsel dan meninggalkannya di dalam mobil itu. Seperti yang mereka rencanakan, mereka keluar dari area tersebut menggunakan taksi online. Diam-diam meninggalkan tempat tersebut.
Tujuh orang tadi, terus menunggu hingga kendaraan yang digunakan target keluar. Akan tetapi hingga tengah malam, mobil tersebut tetap tidak menunjukan pergerakan meninggalkan tempat ini.
Reza dan Aura telah sampai di mansion mewah milik pengusaha muda ini. "Welcome Nyonya!" ucap Reza mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ini kali pertamamu berada di rumah ini sebagai pemiliknya, bukan?"
Aura menghempaskan diri pada sofa yang ada di ruang tamu super luas rumah ini. "Aku tak menyangka, Kamu lah yang selalu menyelamatkanku. Kamu adalah pahlawanku."