CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
98. Jantung


__ADS_3

"Are you crazy?" Kening Mr. Adams berkerut. Dia merasa diremehkan karena diserahkan pada seorang muda yang mungkin belum berpengalaman.


"I'm not crazy. I will replace my husband to present this proposal." (Saya tidak gila. Saya akan menggantikan suami untuk mempresentasikan proposal ini.)


Mr. Adams dan sekretarisnya menaikan alis. Terheran mendengar bahwa gadis yang terlihat masih belia ini adalah istri dari CEO Harmony Grup.


"Are you sure?" (Apa kamu yakin untuk melakukannya?)


"Yes, I are."


Setelah itu, Aura mempersilakan Mr. Adams dan sekretarisnya untuk duduk kembali. Menjelaskan rencana perbaikan sistem yang telah dirusak oleh serangan hacker. Menunjukan rancangan kinerja masa depan yang akan dilakukan ke depannya agar mengembalikan kepercayaan masyarakat. Meeting dilakukan selama satu jam lebih. Mr. Smith sangat menyukai cara Aura meberikan solusi permasalahan yang pernah dialami oleh perusahaan ini.


Setelah terjadi perbincangan, tanya jawab, dan masukan, akhirnya Mr. Adams ingin melanjutkan kerja samanya kembali dengan Harmony Grup.


"I didn't expect that Mr. Reza had a brilliant wife." (Saya tak menyangka bahwa Mr. Reza memiliki istri yang sangat brilian).


"No. I am not that kind of person. It's just that I feel responsible for the company that my husband founded." (Bukan, saya bukan orang yang seperti itu. Hanya saja saya merasa bertanggung jawab atas perusahaan yang yang dibangun oleh suami saya.)


"Your husband must be very proud to have you." (Suamimu pasti sangat bangga memilikimu.)


Tanpa mereka sadari, ternyata Abizar tengah melakukan panggilan video dengan Big Boss-nya. Reza memulas senyuman di bibirnya.


'Benar sekali Mr. Adams. Saya sangat bangga memilikinya. Meskipun dia menyesal memiliki saya.'


"Kenapa Kamu senyum-senyum begitu, Mas?" tanya sang ibu yang telah berada di sisinya.


"Istriku sangat hebat," ucapnya.


Sang ibu memutar bola matanya merasa jengah. Sebenarnya tadi saat Aura menelepon untuk meminta menggantikan dia, sang ibu mertua melarang. Nyonya Kirana Brotoasmoro ini melarang Aura meninggalkan anaknya yang masih dirawat di rumah sakit. Karena, semenjak kecil, sang ibu tidak pernah meninggalkan putra sulungnya sedikit pun saat Reza dirawat. Sementara, Aura yang baru beberapa hari menjadi istri ini sudah berani macam-macam, meninggalkan anaknya sendirian.


Reza melihat ekspresi wajah tak menyenangkan dari sang ibu. "Ma, kenapa cemberut begitu?"


"Katakan pada Mama! Apa Kamu sudah berhasil menerobos istrimu?"

__ADS_1


Reza melihat heran pada sang ibu. "Maksudnya?"


"Apa Kamu sudah, ini ... ini ...?" Sang ibu memainkan kedua tangannya memberi kode.


Reza terkekeh memahami maksud dari ibunya ini. "Apa Mama benar-benar tidak sabar untuk menimang cucu dari kami? Apa tidak bisa menunggu hingga dia tamat kuliah dulu?"


"Sebenarnya sih iya, tetapi bukan itu maksud Mama. Sepertinya istrimu itu sangat tidak memedulikanmu. Bagaimana kalau kalian cerai saja?"


Reza menatap panjang pada ibunya. "Ma, kenapa berkata seperti itu?"


"Habisnya istrimu itu tidak becus banget mengurus Kamu. Ini juga, suaminya dirawat malah pergi keluyuran."


"Ma, dia itu bukan pergi keluyuran. Dia itu sedang menggantikan aku meeting dengan mitra kerja perusahaanku dari luar negeri. Bagaimana pun juga, aku tak akan melepaskannya. Aku sangat mencintainya. Kecuali, Tuhan berkata lain."


Reza memedang dadanya. "Jika Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk menemukan jantung yang cocok denganku. Saat itu lah aku akan melepasnya. Di waktu Tuhan mengambil nyawaku."


Mata sang ibu yang tadinya garang, kini berubah menjadi sayu. "Kenapa Kamu berkata seperti itu?"


"Tadi dokter menemuiku, menjelang Mama datang. Dokter berkata, akibat hantaman tadi malam, membuat katup pada jantungku menjadi semakin rusak. Aku harus segera menemukan jantung secepatnya." Reza kembali menekan jantungnya yang sedikit sesak.


Reza menggelengkan kepalanya. "Dia tidak mengetahuinya. Dokter datang sesaat dia telah pergi menuju kantor."


Raut wajah ibunya menjadi sedih. "Maafkan Mama anakku. Mama yang tidak becus menjagamu dulu dalam kandungan Mama. Atau, Kamu ambil saja jantung Mama. Sebagai penebus dosa karena menyiakanmu saat hamil Kamu dulu. Lagian Mama ini sudah tua. Umur--"


"Ma, jangan berkata seperti itu. Mama membuatku sedih jika menyalahkan diri terus menerus."


Air muka ibunya semakin sendu. "Lalu Mama harus bagaimana?"


"Mama sayangi Aura, istriku. Jangan Mama bedakan bagaimana bersikap dengan dia. Bersikap lah sebagaimana Mama menyayangi Rini, dan Rezi. Dia itu istriku, artinya dia lah sebagian dari diriku. Hanya itu yang aku minta."


"Tapi Mama merasa tak rela dia terus menyia-nyiakan Kamu."


"Bukan, itu hanya karena usianya yang masih muda. Dia belum memahami semuanya. Aku yakin, suatu saat nanti, sebelum aku pergi, dia sudah bisa mencintaiku dengan tulus."

__ADS_1


"Apa maksdumu? Kenapa ngomong begitu?"


Reza hanya menggeleng. Lalu kembali teringat pada yang dikatakan oleh dokter tadi.


Flashback On


took ... tok ... tok


Tanpa menunggu izin, pintu dibuka dari arah luar. Tampak dokter yang biasa jadi tempat berkonsultasinya hadir di sana.


"Selamat pagi Reza, bagaimana keadaanmu saat ini?"


"Nyeri yang saya rasakan lebih hebat dari biasanya dok. Kenapa ya?"


"Tadi malam, saya mendapat kabar dari dokter jaga IGD ada pasien jantung yang mendapat hantaman seorang maling. Terus dia memberikan informasi, ternyata pasien itu Kamu. Makanya saya hampiri Kamu kemari. Bagaimana bisa, kena hantaman lagi? Padahal baru beberapa waktu lalu Kamu juga mendapat serangan yang sama."


Reza hanya tersenyum kecut. Merasa malu pada dirinya yang tidak bisa menjaga diri sendiri. Baginya, bisa menggagalkan rencana jahat seseorang terhadap istrinya saja, sudah menjadi pekerjaan yang luar biasa untuknya. Yang penting Aura selamat.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter itu kembali karena Reza hanya diam.


"Lalu bagaimana dengan diagnosa terhadapa jantung saya kali ini, Dok?"


"Katup pada jantungmu mengalami cidera yang sangat parah. Sehingga, jantungmu akan bekerja lebih keras lagi dalam memompa darah," terang Dokter.


"Apa ada informasi donor jantung lagi nggak, Dok? Aku ingin segera mengganti jantung penyakitan ini, agar aku bisa membahagiakan istriku."


Mata sang dokter membesar, dan mulutnya mengerucut. "Kamu sudah menikah, tetapi tidak mengundang saya? Sungguh terlalu!"


"Masalah jantung, kemarin ada beberapa yang masuk. Tetapi saat saya periksa, bukan yang cocok untukmu. Jantung anak kecil soalnya. Yang lainnya sudah diambil oleh pasien lain yang membutuhkan penanganan cepat."


"Ooh, Dokter memang begitu. Apalah daya aku yang hanya anak tiri yang selalu dinomorsekian kan," ucapnya penuh drama.


"Kami baru saja menikah, Dok, di tempat istriku di Sumatera. Kami baru saja pulang dari sana, belum sempat mengadakan resepsi. Belum apa-apa, malah terjadi musibah seperti ini."

__ADS_1


Dokter memutar pandangan melihat ke segala sisi. "Mana istrimu? Kenapa hanya sendirian? Istrimu sungguh keterlaluan!"


__ADS_2