CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
86. Siap tak siap, harus siap


__ADS_3

"Ibu di sini saja, biar Aura yang mengajaknya ke sini."


Aura segera bangkit dari sisi ibunya. Dia mengintip calon suami. Tampak sibuk menggaruk tubuhnya karena dapat serangan nyamuk. Reza pun memulai mencoba menangkap nyamuk yang mulai menyerang.


...ngiiiiiing...


...*pak*...


...ngiiiiiiing...


...*pak*...


Ternyata dia tidak memiliki keahlian sama sekali dalam menampol nyamuk-nyamuk tersebut. Aura muncul, berkonsentrasi mendengar suara nyamuk tersebut.


...pak...


Dia berhasil menangkap lima nyamuk dalam sekali tebas. Reza melongo melihat gadis itu memamerkan nyamuk yang ada di tangannya. Tampak Reza merasa terntantang untuk melakukan hal yang sama. Dia berkonsentrasi mendengarkan suara nyamuk sambil memejamkan mata.


...pak...


Suara nyamuk tadi hilang seketika. Dia membuka mata secara pelan-pelan. Melihat ada beberapa ekor di tangannya, dia merasa sangat takjub.


"Bagaimana rasanya hidup di rumah rakyat jelata, wahai Sultan di negeri nupel? Kelihatan sekali ya, tidak pernah merasakan gigitan nyamuk?" sindir Aura berjongkok tepat di hadapannya.


"Pernah kok, dulu."


"Kapan?"


"Ya nggak ingat. Soalnya waktu kecil aku pernah masuk rumah sakit karen DBD. Itu tandanya aku pernah digigit nyamuk kan?" jelasnya, tak mau kalah seperti memamerkan pernah menjadi pemenang orang terganteng satu sekolahan.


Aura seketika bengek mendengar penjelasannya. Ada ya orang bangga pernah digigit nyamuk seperti ini. Lalu Aura menengadahkan tangannya. Reza menatap gadis itu dengan heran. Aura masih menengadahkan tangannya. Tanpa pikir panjang dia membuka dompet mengeluarkan Soekarno-Hatta.


Aura terbelalak, namun tetap masuk ke dalam kantongnya, 'Lumayan,' batinnya. Tanpa basa-basi lagi, Aura menarik tangan besar milik Reza dan segera berdiri. Reza ikut berdiri mengikuti langkah Aura masuk ke sebuah kamar yang sangat sempit. Berbanding terbalik dengan kamar di mansion miliknya.


"Bu, ini dia orangnya."


Reza segera mencium tangan calon ibu mertuanya ini. "Perkenalkan Bu, nama saya Reza."


Ibu Aura mengangguk. Ibu terlihat terkesima melihat sosok yang sangat berbeda dari pikirannya. Ibu membayangkan calon suami anaknya ini hanya seperti pemuda kampung biasa yang berdagang di ibu kota. Sebagaimana banyak sekali pedagang minang yang merantau di tanah Jawa.


"Apa Kamu benar-benar yakin untuk segera menikah dengan anak Ibu?"

__ADS_1


Reza mengangguk mantap. "Saya sangat yakin, Bu."


"Apa alasanmu menginginkan anak Ibu yang masih belia ini? Dia ini orang yang keras kepala dan keras hati. Apa Kamu yakin bisa menerima semua sifat jeleknya?"


Reza mengangguk. "Tidak apa, Bu. Nanti jadi teman gelud yang sangat menyenangkan untuk saya."


Dalam pikiran Ibu, gelud itu memiliki arti berbeda dengan yang dikenal reader. Dalam bahasa minang, gelud itu memiliki arti 'bercanda' dan Ibu menganggap arti yang seperti itu.


"Jadi kalian sering bergelud?"


"Sering sekali, Bu. Sudah tidak bisa dihitung dengan jari."


Aura yang memperhatikan percakapan yang absurd tersebut hanya bisa terkekeh mendengar pernyataan sama tetapi beda makna. Reza mulai bingung memikirkan cara untuk mengutaran maksudnya datang lebih awal seperti ini.


"Reza mau apa datang secepat ini?" tanya Ibu.


Nah, akhirnya ada kesempatan baginya untuk mengutarakan secara langsung. "Saya ingin segera menikah dengan--" Melirik Aura sejenak. Dia sangat mengingat nama gadis ini meski tak pernah disebutkan lewat mulutnya.


"Saya ingin menikahi Aura dengan segera, Bu. Kalau bisa hari Senin nanti Kami langsung menikah."


...bruugh...


"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Ibu dengan raut wajah yang terkejut. Mereka memang membayangkan gadis ini menikah dalam waktu dekat, namun tak menyangka hanya dalam hitungan hari begini.


"Saya sudah tidak sabar, Bu," ucapnya dengan wajah yang sangat serius.


"Tidak sabar? Kenapa tidak sabar?"


Reza mulai memikirkan alasannya. Baginya sendiri agar gadis ini tidak main kabur-kaburan lagi. Supaya tidak berhubungan dengan pacarnya lagi. Terakhir, dia ingin memperbanyak sentuhan pada gadis itu. Alasan lainnya belum sempat dipikirkannya. Yang jelas, dia ingin melihat Aura setiap hari.


"Saya sangat mencintainya, Bu."


"Ra, Kamu siap nggak?" tanya Ibu memastikan secara langsung.


Aura melirik Om Mesum kembali. Sebenarnya hatinya meronta. Tapi demi, Aksa, dia terpaksa menjalani ini semua. "Siap tak siap harus siap, Bu."


"Lhoh? Kok jawabannya gitu?" tanya ibunya heran.


"Iya, gak apa, Bu. Mau tak mau harus mau kan?"


"Kenapa jawabannya makin ambigu begitu?"

__ADS_1


Reza memberi kode, agar Aura memberi jawaban yang jelas. Meski dia tahu, gadis ini hanya terpaksa menikahinya. Namun, dalam hatinya dia berharap agar gadis ini bisa mencintainya dengan tulus. Hatinya sakit melihat Aura masih berusaha menghubungi Aksa.


Akhirnya Aura mengangguk, "Iya, Bu. Aura siap."


Ayah mendekat, di antara sempitnya kamar itu. "Baik lah, semua akan Ayah urus. Nanti Reza ikut menemani Ayah mengurus segala sesuatunya."


"Baik, Yah."


"Tapi, karena sekarang masih hari Minggu, lebih baik kalian istirahat dulu. Hmmm, apakah Nak Reza mau tidur bareng adik Aura yang laki-laki? Dia sudah SMA, namanya Angga."


"Rumah Kami hanya memiliki tiga kamar kecil. Satu untuk orang tua, satu untuk anak perempuan, satu lagi untuk anak laki-laki. Kebetulan, aku hanya memiliki satu adik laki-laki. Dua adik perempuanku masih duduk di bangku sekolah dasar," jelas Aura.


"Wah, adik laki-laki ya? Kebetulan sekali aku tidak memiliki saudara laki-laki. Sekarang otomatis memiliki adik laki-laki." Reza berpikir sejenak.


Dia membisikan sesuatu pada telinga Aura. "Ada lotion anti nyamuk?"


💖


Saat pagi hari, Angga --adik Aura yang kedua-- terkesiap saat mendapati seseorang yang tertutup sepenuhnya oleh sarung. Dia melompat keluar kamar menemukan kakaknya tengah menyapu dan membersihkan rumah.


"Uni, udah pulang?" Angga langsung mencium tangan kakaknya itu.


"Iya, Uni sampai tadi malam. Bagaimana tidurmu? Apa terganggu oleh dia?"


Angga kembali mengintip orang yang terbungkus bagai mayat itu. "Itu siapa Uni? Saat Angga bangun, tiba-tiba sudah ada dia?"


Aura mengintip melihat pria itu terbungkus dari atas hingga ke bawah dengan kain sarung milik Ayah. "Apa dia tidak kepanasan terbungkus seperti itu?" tanya Aura. Angga hanya mengedikan bahu.


"Uni, dia itu siapa?"


Belum sempat dijawab oleh sang kakak, dua adik kecilnya berlari dari arah kamar mandi. Mereka berdua baru saja selesai mandi. Aulia saat ini duduk di bangku SD masih kelas 6. Aurel si bungsu masih kelas satu SD.


"Uni, Aulia udah selesai mandiin Aurel," ucap adik perempuan nomor tiga.


"Kalau begitu, sekarang pakai baju Kamu, dan pasangkan baju Aurel juga."


"Baik, Uni!" Dua gadis cilik itu segera masuk ke kamar dan menutup pintu.


"Nah, sekarang giliranmu Angga. Buruan mandi!" titah kakak utamanya ini.


Reza yang merasa terusik akan keributan keluarga ini, hanya bisa ngamuk kesal tak jelas dalam sarungnya.

__ADS_1


__ADS_2