CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
75. Selamat tinggal anak-anakku


__ADS_3

Alert pun muncul, serangan sudah masuk pada program dan jaringan miliknya. Masih menyerang bisnis yang sama dengan yang kemarin. Reza kembali mengingat manisnya bibir milik musuh di seberangnya saat ini. Membuatnya bersemangat mengetuk-ngetuk keyboard yang ada di hadapannya.


^^^[Bagaimana ini Tuan Sistem? Serangan dari pihak lawan sungguh membabi buta?]^^^


[Tenang saja Nona, kita akan membereskan ini secepatnya.]


Marcell segera menyusun rumus, dan Aura mulai memikirkan sesuatu, untuk menyelamatkan perusahaan itu. 'Mau tak mau jadi istrinya juga, bagaimana pun tak boleh hancur. Sepertinya aku belum siap untuk diajak hidup susah kembali.'


Aura menyiasati dengan beberapa cara. Menunggu kiriman rumus yang akan di-copy dan paste ke server miliknya. Dari pihak Harmony telah mencoba mengirim serangan balasan kepada mereka. Aura mencoba memberi sedikit perlawanan agar si Tuan Sistem tidak merasa curiga.


Ternyata gempuran yang dikirim semakin sengit, beberapa program milik Aura mulai tidak bisa digunakan. Saat Sistem memberikan beberapa bagian rumus, server milik Aura mulai eror dan tidak bisa dikendalikan.


^^^[Server saya mulai eror, apa yang harus saya lakukan?]^^^


^^^[Gempuran mereka mulai membuat CP saya kewalahan]^^^


Panggilan telepon dari Sistem mulai masuk. Aura segera memasang headset, dan mendengar perintah dari Sistem. Aura mengikuti panduan dari Sistem untuk mengembalikan server yang rusak.


"Yaaah, laptop saya mati," ucapnya pasrah.


"Apa Anda memiliki personal komputer yang lain?"


"Tidak punya. Laptop ini saja baru dibeli saat mendapat uang ketika baru terdaftar menjadi hacker beberapa waktu yang lalu. Jadi bagaimana?"


"Kalau begitu, Sistem akan membereskan ini terlebih dahulu. Jika masih belum berhasil juga, berarti esok adalah waktu untuk melanjutkan peretasannya. Sistem akan mengirimkan PC baru berupa laptop paling canggih di masa sekarang ini."


YEEEESSS, Aura mengepalkan tangannya. Apalagi mengingat akan mendapat laptop paling canggih di masa ini. Tentu harganya tak sebanding dengan laptop yang dibelinya beberapa waktu lalu.


"Oke, saya tunggu!"


"Seperti biasa, yang akan turun ke lapangan adalah seseorang yang bernama Marcell."


"Marcell lagi? Apa tidak ada orang selain dia?" protes Aura.

__ADS_1


"Yaa, kebetulan posisi dia yang terdekat dengan Anda. Jika ada yang lain, mungkin akan diutus orang tersebut. Karena orang-orang yang mendapat Sistem Kekayaan ini tidak banyak. Bersyukur lah jika Anda adalah salah satu orang yang terpilih."


"Terpilih apanya? Saya tidak pernah merasa jadi bertambah kaya tuh. Kena potong melulu. Kaya dari mana?"


"Jika Anda menyelesaikan semua misi hingga akhir, Anda tidak perlu merasa khawatir. Dana yang telah Sistem janjikan, segera masuk ke dalam Akun Keuangan milik Anda. Tidak hanya itu, kerasahiaan identitas Anda akan kami jamin!"


Dijamin apaaanya? Tuh, Om Mesum aja berhasil menangkapku, rutuknya dalam hati.


💖


"Kamu kalah lagi Sayaang?" Reza menatap foto Aura di dalam salah satu ponselnya. Bibirnya tak henti tersungging senyuman sambil mengelus-ngelus foto gadis yang ada di layar ponsel tersebut.


"Seandainya Kamu jadi gadis manis biasa, mungkin kita tak akan pernah saling mengenal. Keanehanmu lah yang menunjukan jalan kita untuk berjumpa." Reza membenamkan wajahnya, sambil terkekeh sendiri.


Reza mengecek ponselnya satu per satu. Tujuh unit ponsel tersebut sudah tidak berguna lagi. "Anak-anakku, terima kasih sudah menemani Daddy selama ini. Setelah ini kalian sudah tidak lagi Daddy gunakan. Kalian bakalan Daddy berikan kepada yang membutuhkan saja, agar lebih berguna."


Reza mengambil satu ponsel utama, dan satu lagi ponsel sebagai kunci pekerjaannya. "Nah, buat kamu berdua yang terpilih untuk tetap bersama Daddy, jangan sombong! Ini hanya kebetulan kalian yang memang sering dipakai saat berbisnis."


Reza memisahkan yang lima lagi untuk dititipkan lewat Abizar. "Selamat tinggal anak-anakku. Mungkin kalian akan jauh lebih bermanfaat bagi orang lain. Bukan hanya sekedar buat menambah-nambah pacar, seperti saat bersama Daddy."


***


Di sebuah rumah yang amat besar, seorang wanita dalam keadaan perut yang telah membuncit, pelan-pelan menuruni tangga. Dia merasa saat ini adalah waktunya sang suami yang dicintai, kembali dari pekerjaan.


Aura melihat sosok itu baru saja masuk melewati pintu. Tangannya tampak terentang menyambut wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Reza mengacak rambut wanita itu, menciumi pipi, dan mengelus perutnya.


"Kamu harus jadi orang yang melebihi kehebatan Ayah nanti yaa!" ucapnya duduk berjongkok di hadapan perut Aura sembari mengelusnya.


"Nggak boleh niru ayahnya! Nanti anakku malah kena serapah oleh semua perempuan bagaimana?"


"Dari pada niru ibunya? Jadi buronan internasional saat ini kan?"


"Nanti jika aku tertangkap bagaimana ya?" Dia berjalan perlahan menuju sofa di ruang tamu sembari dirangkul oleh Reza.

__ADS_1


Aura duduk perlahan, dipapah oleh Reza. "Hati-hati, Dinda!"


"Iih, lebay banget," sindir Aura kembali mendekap lengan Reza dengan manja.


"Diiih, manja banget?" Reza menyugar poni istrinya ini. "Kamu jangan mengkhawatirkan semuanya. Kamu tengah hamil, tidak baik memikirkan sesuatu yang terlalu berat. Aku akan selalu menjadi orang yang akan selalu menjagamu, Sayang."


"Apa Kanda tidak malu punya istri seorang Buronan seperti aku?"


Reza menggengkan kepalanya, membenamkan Aura ke dalam pelukannya. "Jika Kamu tidak begitu, kita tak akan pernah saling mengenal untuk selamanya."


Terdengar suara bel yang menandakan bahwa ada seseorang yang datang. Tampak Bibi berjalan dari arah dapur dengan segera membukakan pintu. Aura masih asik bermanja di dalam pelukan Reza.


Bibi yang tadi membukakan pintu, tergopoh-gopoh datang ke arah mereka. "Tuan, Nyonya, di luar sana ada polisi berpakaian preman. Katanya mencari seseorang dengan julukan Nona Hacker," jelasnya.


cit ... cit ... cit


Pagi pun menjelang dan suara burung-burung bercicit membangunkan gadis itu yang tengah bermimpi. "Mimpi lagi? Kenapa ada dia lagi di dalam mimpiku? Seharusnya aku mimpi Bang Aksa. Karena aku sangat merindukan dia," lirihnya.


Setelah itu, Aura mencoba memejamkan matanya kembali. "Semoga aku bisa tidur, mimpi bertemu Bang Aksa," ucapnya terus berusaha untuk melanjutkan tidurnya.


Dia ingin menambah waktu tidur, karena saat ini adalah akhir pekan. Hal ini membuatnya tidak perlu merasa bangun pagi seperti biasanya. Dia masih berusaha memicingkan mata, berkonsentrasi membayangkan wajah Aksa.


tok .. tok ... tok


Terdengar ketukan dari arah pintu kamarnya. Aura masih merasa malas untuk bangkit. Suara ketukan pintu kembali terdengar, kali ini ketukan pintu tersebut lebih kasar dibanding sebelumnya. Aura terduduk, masih dengan perasaan malas.


Suara ketukan ketiga udah seperti dibarengi dengan tendangan. "Heh Ra? Udah bangun belum?" Suara orang di luar sana sungguh tidak enak didengar.


"Udah!" jawabnya mulai bangkit. Perlahan membuka pintu. " Ya, ada apa?" tanyanya sembari menutup mulut menahan kuapan.


"Ada yang nyariin!" ucapnya dengan keras.


"Siapa?"

__ADS_1


"Tauk, liat aja sendiri!" Lalu gadis itu berjalan masuk ke kamar, di mana ia mendengar seseorang telah membicarakan dia.


Jadi dia orangnya? batin Aura.


__ADS_2