CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
111. Kehilangan


__ADS_3

Reza kembali berpikir ulang. "Saya harap operasi ini berhasil, karena kemungkinan suksesnya cukup besar. Namun, jika sesuatu di luar harapan terjadi, Kamu harus segera memberitahukan semuanya. Terutama istriku."


Wajah Abizar menegang. Takut kemungkinan buruk yang akan terjadi kepada sang big boss. "Semoga semua baik-baik saja, Boss. Kasihan istri Anda. Pasti kebingungan mencari Anda."


Reza hanya mengangguk. Lalu kembali masuk ke ruang dokter tadi. Tak lama dia muncul duduk di atas kursi roda, mengenakan pakaian bewarna hijau. Pakaian khusus bagi semua pasien yang hendak melakukan operasi.


"Boss, Kamu itu sungguh aneh. Masa tidak memberi kabar? Kasihan istrimu, pasti pusing mencarimu ke sana ke mari."


💖


Satu hari menginap di rumah Stella saja sudah membuat perasaan Aura tidak enak. Dia memutuskan untuk kembali ke appartemen yang ditinggalkannya kemarin malam. Berharap, sang suami berada menunggunya di sana. Namun sayang, rumah itu tetap kosong seperti saat ditinggalkan.


Aura berpikir, apakah Reza pulang ke mansion miliknya secara diam-diam karena marah? Namun, semua terbantahkan dengan alasan yang seharusnya yang marah adalah dia, bukan Reza. Dia sudah patuh pada isi kontrak yang mereka buat. Namun, kenapa lelaki itu secara diam-diam menghubungi Aksa.


Dengan kesal Aura memilih kembali ke rumah indekosnya. Semenjak kejadian diikuti oleh orang-orang suruhan Sistem, Aura selalu menutup identitasnya kemana pun dia melangkah. Kali ini ke rumah kos pun, dia memilih untuk tetap menutup penampilannya.


Sedari jauh dia mencoba mengecek lokasi sekitar jalan masuk gang menuju kosan. Meski tampak sepi dan tidak mencurigakan, Aura masih memilih berhati-hati. Kali ini dia memilih jalan memutar, melewati ujung gang yang satu lagi. Meski jalan memutar tersebut cukup jauh, Aura merasa sedikit aman bila harus masuk dari arah sana.


Aura memilih masuk jalur belakang. Melewati belakang bagian rumah warga atau pun rumah kos yang ada di sekitar sana. Akhirnya Aura sampai di pintu belakang rumah kos yang dia tempati. Pintu belakang selalu dibuka saat siang hari. Sehingga memudahkan dia masuk dan beristirahat di kamar yang kecil ini.


Untuk sementara, Aura bisa bernafas lega, karena dia sudah sampai di kamar kos. Dia merasa sangat lelah, hidup menjadi buruan seperti ini. Diburu sebagai sayembara keselamatan para hacker tersebut. Aura mengecek stok makanan yang dia miliki. Ternyata lagi-lagi hanya memiliki beberapa cup mie instan. Membuatnya tetap harus keluar mencari tambahan bekal melanjutkan hidup sebagai orang dalam pencarian oleh mereka.


Setiap melihat cincin yang ada di tangannya, Aura merasakan sebuah rasa. Rasa hampa karena kehilangan. Seorang yang biasa merecoki hari-harinya, tiba-tiba tidak memiliki kabar.

__ADS_1


'Cih, seharusnya aku yang marah, bukan dia. Kenapa dia yang pergi? Seharusnya aku.'


Aura sudah mulai merasa bingung pada dirinya sendiri. Bertanya pada status yang menggantung seperti ini. Perhatiannya kembali terfokus pada cincin yang melekat di jemarinya. Rasa hampa muncul menyiksa.


'Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku terus memikirkannya? Sudah empat hari, tanpa kabar darinya. Membuat hatiku tak henti bertanya-tanya.'


Aura memutuskan keluar dari kamarnya, setelah tiga hari bersemedi semenjak sampai di rumah indekos tersebut. Kebetulan stok mie instannya juga sudah habis. Dia memiliki banyak alasan untuk keluar. Ketika Aura keluar, dia bertemu Kak Fan yang kebetulan berada di koridor.


"Siapa itu?" tanyanya pada Aura yang tertutup sepenuhnya.


"Aku, Kak."


"Waah, Aura? Ini Kamu? Kenapa berpenampilan seperti ini?" Raut wajah seorang perempuan yang melebihi usianya ini terlihat heran.


"Ternyata beneran ada Kamu di dalam? Kami sempat heran, kenapa lampu kamarmu hidup? Sementara kami tidak pernah melihatmu sama sekali," tambahnya lagi.


"Kemarin aku merasa kurang sehat Kak. Jadinya tidak kuat untuk bangkit," ucapnya sekenanya.


"Kamu sakit, Ra? Oooh, pantesan saja wajahmu terlihat sangat pucat. Terus berkurung selama beberapa hari makan apa?" Aura hanya bisa meringis.


"Mie isntan? Oh my God. Masa sakit-sakit makan mie isntan mulu?" Kak Fan masih seperti biasa, selalu perhatian.


"Ini, aku mau cari makanan kok Kak." Aura melangkah ke arah belakang.

__ADS_1


"Lho, Ra? Mau ke mana? Katanya mau mencari makanan?" Kak Fan merasa sangat heran. Aura malah menuju ke belakang, bukan ke depan. Aura yang tidak menjawab pertanyaan Kak Fan lagi, membuat senior itu semakin heran.


"Kenapa, Kak?" tanya gadis yang selalu memusuhi Aura secara tidak langsung.


Aura melintasi jalur-jalur belakang kembali. Melewati area penuh nyamuk dan bau air pembuangan kamar mandi. Ini terpaksa dilakukan demi keamanannya sendiri. Sesampai di jalan raya, Aura segera berlari menuju pangkalan ojek. Meminta untuk segera diantar ke mansion milik Reza, berharap bisa bertemu dengan suaminya. Sudah lima hari mereka berpisah tanpa ada kabar.


Aura sengaja berhenti dengan posisi yang cukup jauh. Mengecek apakah ada hal yang mencurigakan yang memantau keberadaannya sekitar sana. Sama seperti sebelumnya, Aura mencoba masuk jalur belakang. Namun nahas, jalur belakang mansion ini dipagari oleh dinding setinggi empat meter. Berbeda dengan area kosanya yang tidak ditutupi oleh pagar.


Aura merasa sedih, dia tidak bisa masuk lewat jalur belakang, tetapi tidak berani jika masuk lewat pintu gerbang. Semua orang akan mengetahui kehadirannya. Tentu para pemburu itu juga akan segera mengetahui hal tersebut dan menangkapnya.


Aura duduk terkulai di bawah dinding pagar yang tinggi itu. Melihat cincin yang melekat di jari manisnya sembari meneteskan air mata. Dia menyadari telah ada rindu untuk sang suami.


'Kenapa Kamu begini? Setelah semua Kamu ambil, kenapa Kami pergi begitu saja?'


Dia meringkuk bersandar pada dinding pembatas itu. Merasa putus asa yang luar biasa. Jiwanya seperti terombang ambing ketika merasa kehilang suaminya.


'Kenapa aku bisa sesedih ini?'


Aura mulai bangkit, melangkah dengan gontai meninggalkan tempat itu. Kali ini dia kembali mencari tukang ojek, untuk kembali ke appartemen. Aura melangkahkan dengan perasaan berat. Menaiki lift menuju lantai sembilan.


Dia mengeluarkan kunci appartemen tersebut. Mendapati kesunyian yang tak jauh berbeda dibandingkan saat terakhir. Aura melihat ke arah meja makan, mengingat Reza makan masakannya dengan lahap. Beralih melihat tempat tidur, dia sudah tidak canggung tidur di dalam pelukanya.


Aura kembali terjatuh lemas. Dia baru menyadari, ternyata hatinya sudah terbiasa direcoki oleh sang suami. Bi bir nya sudah terbiasa mendapat ciu man darinya. Dirinya yang sudah terbiasa dipeluk oleh dada bidang sang suami. Saat semua terasa biasa dinikmati, namun entah kenapa semuanya harus hilang lagi.

__ADS_1


"Apakah semua ini sudah berakhir?"


Tiba-tiba, seseorang muncul dari belakang, berjongkok memeluknya sebelah tangan.


__ADS_2