CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
52. Menjadi tahanan


__ADS_3

"Kau akan menyesali semua yang telah kau lakukan kepadaku Nona Mie Instan--tepatnya Nona Hacker!"


Seketika Aura menarik bed cover yang ada di atas kasur itu. Menggulung benda itu ke seluruh tubuhnya. "O-om Mesum? Apa yang Kau lakukan padaku sialaaan?"


Dengan senyum tipis di bibirnya, tubuh yang hanya ditutup oleh handuk yang melekat dengan asal, Reza naik ke atas kasur. Mendekatkan dirinya kepada Aura yang membungkus dirinya dengan bedcover nan tebal itu.


"Apa Kau lupa atas apa yang kita lakukan tadi malam?"


"A-apa yang kita lakukan?" Wajah Aura berubah pucat pasi.


"Apa perlu kita praktekan kembali saat Kamu sadar begini?" Reza semakin mendekat. Menikmati tontonan akan wajah Aura yang ketakutan.


"Ja-jadi Kamu yang menyuruh preman-preman itu untuk menangkapku haa?"


Reza mengelus rambut Aura, lalu menariknya dengan kasar, "Katakan! Kau bekerja sama dengan siapa?!"


"Apa maksudmu?"


Reza mulai meraba wajah Aura. Memainkan dagu gadis itu, lalu mengelus pipinya. Aura merasa tidak terima dilecehkan seperti ini bangkit dan melempar bedcover tadi kepada Reza. Setelah itu Aura menendang Reza.


"Aaagghhh!" lenguh pria itu kesakitan.


Aura melompat, membuka lemari mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya dengan sempurna. Tampak baju kaos oblong milik laki-laki ini, Aura langsung menyorongkan ke tubuhnya.


Reza melepas selimut yang tengah membelenggunya tadi, setelah itu dilempar dengan asal. Mendapati gadis itu telah mengenakan pakaian miliknya yang terlihat kedodoran pada tubuh mungil gadis itu.


"Dasar pencuri! Belum puas Kau curi seluruh data perusahaanku? Sekarang malah dengan terang-terangan kau curi pakaian milikku. Haah, benar kata orang. Jangan pernah menilai sesuatu dari sampulnya. Terlihat lugu di luar, namun hatinya sangat busuk!"


"Diam Kau manusia mesum! Apa pun yang akan Kau katakan, bukan hal yang penting bagiku." Aura membongkar-bongkar lemari Reza. Mencari sesuatu untuk menutupi tubuh bagiam bawahnya. Ketemu lah celana pendek milik Reza.


Reza merebut celana tersebut, lalu menarik Aura dengan kasar hingga jatuh kembali ke atas kasur. "Kau tahu? Aku lebih suka saat Kau berpakaian seperti tadi. Kenapa Kau tutupi? Itu tak akan membuatmu terlihat lebih bersih. Seluruh bagianmu telah ku kecap." Reza menyeringai membuat Aura ketakutan.


"Kau bohong!" jeritnya. Memeriksa setiap bagian tubuhnya. Mengusap tangannya dengan kasar karena merasa jijik, jika itu memang terjadi.


"Menjerit laah! Tak akan ada yang bisa mendengarmu Nona Hacker. Penghacur dengan sekali 'klik.'"


Ritme jantung Reza semakin lama semakin cepat. Dia masih menikmati ketakutan yang ada pada wajah gadis itu. Semakin diperhatikan, wajah Aura terlihat semakin memesona baginya. Apalagi mereka hanya berdua di dalam kamar ini.


Dia kembali mendekati Aura yang sudah merasa waswas atas kelakuan pria aneh ini. "Sikap aroganmu itu membuatku semakin tertantang untuk mencoba apa yang telah kau berikan pada pacarmu itu."


Mata Aura terbelalak marah. Merasa terhina karena dianggap sebagai wanita murahan. Memang dia bersama Aksa semalaman di dalam kamar hotel, tetapi tak ada satu pun yang terjadi di antara mereka.


"Jangan Kau samakan aku dengan wanita-wanita yang berkencan denganmu!"


Reza semakin mendekatkan wajahnya pada Aura yang menatapnya dengan penuh kewaspadaan. "Kau pikir aku percaya? Jangan bilang kalian tidak ngapa-ngapain berada dalam kamar hotel yang sama? Karena aku tak akan percaya!"


Reza mulai liar menarik pakaian Aura, sang gadis berontak mendorong lelaki itu. "Terserah Kau mau percaya atau tidak! Itu bukan urusanku! Yang jelas, aku tak akan sama dengan wanita-wanita yang ada di sisimu! Dasar playboy mesum!"

__ADS_1


Reza menyeringai, menyunggingkan senyum yg penuh arti. "Hah, mari kita ulangi di saat Kamu sadar begini! Siapa tau Kau akan ketagihan! Aku rela jika hanya mendapat bekas orang lain!"


...plak...


Sebuah tamparan melekat di pipi Reza. Mata Aura nyalang dengan garang menantang mata tajam milik Reza. "Sekali lagi Kau hina dia, jangan salahkan aku untuk menghajarmu habis-habisan!"


Reza mengelus bekas tamparan di pipinya. Masih dengan senyuman sinis, Reza menarik dagu milik Aura. Membuat wajah gadis itu menengadah ke atas. "Aku tahu, Kau sengaja menyuruh dia masuk untuk menghancurkanku dari dalam bukan?"


Aura mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Reza barusan. "Apa maksudmu? Dia tidak tahu apa-apa keparat! Jangan Kau libatkan dia di antara kita!"


Reza mulai menjepit dagu Aura dengan tangannya yang besar. "Kau tak perlu terus melindunginya! Kalian berdua akan mendapatkan hukuman yang pantas atas apa yang telah kalian perbuat!"


Mata Aura membesar, mulutnya membulat karena dijepit oleh tangan Reza. "Kau jangan ganggu dia! Dia tidak ada kaitannya dengan peretasan tersebut. Ini hanya pekerjaan yang aku lakukan sendiri!"


Melihat bibir Aura yang membulat gara-gara dijepit itu, membuat perasaan Reza tak menentu. Jantungnya yang mulai berdetak dengan cepat ada hasrat ingin mencicipinya. Hal ini membuat ritme jantungnya menjadi semakin kencang. Reza sudah mulai merasa sesak, akhirnya memilih melepaskan Aura. Dia duduk di tepian tempat tidur itu, membelakangi Aura dan mengatur jalur pernapasannya.


Setelah itu matanya kembali nanar memperhatikan sang gadis hacker. Seorang perempuan yang telah mengusiknya beberapa waktu ini. Yang membuatnya selalu terkena sial setiap bertemu dengannya. Dengan wajah tanpa dosa itu, membuat perusahaannya hancur perlahan. Perasaan marah kembali hadir pada dirinya. Reza menatap gadis itu, pahanya terlihat sangat mulus terekspose dengan nyata. Dia beralih bagian atas gadis ini telah tertutup oleh kaos oblong miliknya yang terlihat kebesaran di tubuh mungil itu.


Aura melihat tatapan lapar dari pria ini. Menduga-duga apa yang tengah dipikirkannya. Mencoba menarik bedcover tadi, namun tangan gadis itu ditangkap duluan oleh pria ini. Aura menyibak tangan tersebut berlari menuju pintu kamar. Aura menarik gagang pintu tersebut, ternyata pintu itu terkunci.


"Kau tak akan bisa kabur!" Memamerkan kunci yang ada di tangannya.


Mata Aura liar melihat ke segala sisi di kamar yang luas itu, tampak sebuah jendela. Dia berlari ke arah jendela. Namun, kamar itu berada di lantai atas. Aura mundur tak percaya hari ini akan menjadi santapan pria hidung belang ini. Reza telah menangkapnya, merangkul gadis itu dengan ganas. Aura meronta dan mengeluarkan segala sisa tenaga yang ada untuk terus melawan.


"Kau mau kemana? Kau tak akan bisa kabur sebelum membagi apa yang Kau miliki seperti saat bersama dia!"


Aura melayangkan tinjunya pada pria itu. Namun Reza hanya menyeringai, menikmati ketakutan gadis itu yang masih didekap dalam pelukannya. Aura mulai kehabisan tenaga. Ini karena perutnya kosong semenjak kemarin sore. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah dan menangis di dalam dada Reza. Pria itu gelagapan melihat gadis hacker ini yang tiba-tiba menangis.


Masih terendus dengan samar aroma shampo dari rambut Aura. Ini kali kedua posisi mereka sangat dekat. Reza mulai kacau dengan pikirannya sendiri. Mengkhayalkan hal yang tidak-tidak, membuat jantungnya kembali berdetak dengan hebat. Dia tak ingin gadis ini mengetahui kelemahannya. Reza mendorong Aura menjauh.


Aura masih membutuhkan tempat bersandar, kembali mendekat untuk menangis di dada pria ini. "Kau sudah membuatku menangis! Jadi, Kau harus bertanggung jawab!" sungutnya.


"Nangis di pojokan aja sanah! Jangan deket-deket!" Jantung Reza makin tak karuan karena tingkah aneh Aura ini.


Aura terus mendekat, "Aku tu kalau nangis, membutuhkan tempat bersandar. Berhubung cuma ada Om Mesum sepertimu, jadi Kamu aja yang jadi tempat bersandarku, hiks!"


Reza kembali menghindar, "Udah! Jangan deket-deket! Bikin repot tau nggak?"


"Salahmu sendiri! Kamu mau apakan aku hah?" Akhirnya Aura memilih menggulung tubuhnya dalam selimut kembali. Tidak memedulikan seorang yang tengah jantungan karenanya.


Reza segera membuka kunci pintu tersebut. Kali ini dia masih bisa menyelamatkan diri dari rasa malu. Jika ketahuan sebenarnya dia tidak bisa dalam posisi yang terlalu int*m, dia khawatir jika gadis ini semakin mengerjainya.


Reza keluar dari kamar itu, menuju kamar tadi tempat dia tidur. Dia segera membersihkan diri dan mengecek ponsel miliknya. Terdapat notis dari email, bahwa beberapa mitra bisnis meminta untuk menghentikan kerja sama di antara mereka.


Siial!


Seharusnya, dia menakut-nakuti gadis itu. Namun kenyataannya malah berbalik dia yang ketakutan. Reza melangkahkan kakinya menuju jendela, melihat pemandangan pagi ini sembari memikirkan apa yang harus dilakukan agar gadis itu mengembalikan data yang telah dicurinya.

__ADS_1


...tok ... tok ... tok...


Sebuah ketukan dari luar menyadarkan ia dari lamunannya. "Masuk!"


Terdengar suara tarikan dari gagang pintu dengan pelan. "Tuan, sarapan sudah siap. Calon istrinya mau makan di mana?"


Benar juga, calon istri ... Ya, sepertinya itu akan membuatnya sedikit gentar ... Calon istri.


"Makanan itu dikirim saja ke kamarnya ya, Bi! Jangan biarkan dia keluar dari kamar hingga saya pulang!" Reza melangkahkan kakinya dengan segera menuju ruang makan untuk mengisi perutnya.


Asisten tersebut mengantarkan makanan ke tempat dimana Aura dikurung. Aura dengan sigap mencoba untuk kabur dari tempat itu.


"Nona mau kemana?" pekik sang asisten dengan panik. Aura berlari tak tentu arah. Menuruni tangga dan asal lari kemana kakinya melangkah. Namun ternyata, malah mendapati Reza sedang menyantap makanannya.


...uhuuuk...


Melihat wajah gadis itu berada di sana, sontak membuat Reza tersedak. Dia menyimpulkan gadis ini tengah mencoba kabur, namun salah tujuan. Pria itu segera meneguk air putih dan bangkit untuk mengejarnya.


Aura berlari meski perutnya tengah keroncongan. 'Ini rumah apa istana sih? Dari tadi tidak menemukan pintu keluar.'


Reza mulai kelimpungan mengejar gadis itu yang tak hentinya berlari. Detak jantungnya mulai tak beraturan kembali. Dia mulai merasakan nyeri pada organ utama di tubuhnya ini. Nafasnya mulai tersengal-sengal, menekan bagian dadanya yang terasa sangat nyeri


Aura mencoba membuka semua pintu di rumah itu, tetapi tidak tampak juga hilal menuju keluar dari bangunan ini. Dia teringat semua benda miliknya yang tak tahu disembunyikan di mana. Dengan perut yang kosong, akhirnya dia memilih mundur dan pasrah. Teringat makanan yang ada di meja makan di mana sang tuan rumah duduk menikmati makanan. Dia berencana kembali ke ruang makan tadi.


Namun, alangkah terkejutnya gadis itu, mendapati Om Mesum, tergeletak tak sadarkan diri di lorong panjang, tempat dia lewat tadi. Aura segera mengecek keadaan Reza. Dia benar-benar tidak sadarkan diri.


"Om, Om? Apa yang terjadi?"


Ayooo buat yang suka cerita fantasi, mampir juga pada cerita milik teman Author yaa... Ada 2 promo ni



Blurb :


Pada 16 tahun yang lalu, Keluarga Shen dan Keluarga Yu mengadakan suatu perjanjian pernikahan aliansi antara kedua keluarga. Dan mereka sepakat, bahwa anak kedualah yang akan menjadi pengikat tali aliansi kedua keluarga tersebut.


Namun siapa yang menyangka, jika ternyata anak kedua dari Keluarga Shen adalah seorang gadis dengan fisik tak serupa dengan Shen Xu saudara kembarnya yang cantik jelita.


Yu Zhen yang merupakan tuan muda kedua Keluarga Yu, menolak pernikahan aliansi tersebut dengan suatu alasan. Yu Zhen masih ingin mempelajari ilmu yang mengharuskan dirinya untuk tetap menjaga keperjakaannya.


Shen Ji yang merasa ditolak oleh Yu Zhen dan terus ditindas oleh Shen Xu, akhirnya melarikan diri dari keluarganya hingga dia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah takdirnya.



Sebutan anak haram melekat pada diri Rose sejak kecil karena ia tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Setelah sang ibu meninggal, Rose diasuh oleh paman dan bibinya. Namun bibi dan sepupunya yang kejam selalu memperlakukan Rose sebagai pembantu. Hingga pada usia empat belas tahun, nasibnya berubah total. Seorang pria bernama Denzel mengatakan bahwa Rose adalah pewaris dari Louis Brown, CEO Brown Group yang terbunuh secara misterius. Namun demi keselamatan dirinya Rose harus tetap menyembunyikan identitas aslinya. Rose memilih menjadi mahasiswi biasa di fakultas seni. Tidak ada yang mengetahui bahwa Rose sesungguhnya adalah pemilik perusahaan property Brown Group yang bernama Miss Black, sekaligus seorang violinis terkenal. Namun identitas aslinya hampir terbongkar ketika Luke, anak angkat Louis Brown datang untuk menuntut haknya. Akankah Rose dan Luke terlibat persaingan atau hubungan mereka justru berubah menjadi cinta?


...*bersambung*...

__ADS_1


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...


...Terima kasih!...


__ADS_2