CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
55. Pasangan penipu


__ADS_3

Dengan langkah ringan, Aksa menginjakan kakinya menelusuri lobi perusahaan tersebut. Cowok muda itu mendekat ke meja resepsionis, "Maaf Mba, apa saya bisa bertemu dengan Pak Reza?"


"Apakah Anda sudah membuat janji dengan beliau, Mas? Maaf dengan siapa kami berbicara?" Tanya resepsionis tersebut dengan mata berbinar. Cowo itu terlihat sangat sedap dipandang mata.


"Kata beliau, dia sudah menunggu saya di kantor. Nama saya Aksara Bermakna," jelasnya.


"Mohon ditunggu sebentar ya Mas, hingga sekarang Pak Reza belum sampai di kantor. Namun, ada orang kepercayaannya yang sudah stadby sejak tadi pagi."


Setelah itu, resepsionis tersebut menghubungi seseorang dengan panggilan cepat. "Selamat pagi, Pak Abizar. Ada seorang bernama Aksara datang mencari Pak Reza. Katanya sudah membuat janji dengan dengan Beliau."


"Oh ya, tolong antarkan dia ke ruang kerja saya. Biar dia menunggu di sini bersama saya!"


"Baik lah, Pak."


Resepsionis tersebut menutup panggilan dan segera bergerak memandu cowok muda nan tampan itu. "Mari, Mas. Ikuti saya!"


"Baik Mba, terima kasih." Aksa mengikuti wanita itu hingga tampak dua pintu yang bersisian.


Resepsionis tadi mengetuk salah satu pintu yang ada di sana. "Masuk!" terdengar suara pria dari dalam.


Perempuan tersebut menarik gagang pintu dengan perlahan, "Maaf, Pak. Saudara Aksara sudah berada di sini."


"Oh begitu, suruh dia masuk dan Kamu boleh kembali ke tempat! Terima kasih.


Perempuan itu menunduk, "Baik, Pak." Lalu mempersilakan Aksa masuk, dan dia langsung kembali ke bawah.


Aksa terpana melihat sosok yang dibilang seorang yang dipercaya. Setahunya, dia lah yang selama ini dianggapnya sebagai Pak Reza. Aksa segera mengulurkan tangannya untuk berjabatan.


"Bagaimana kabarnya, Pak?"


Abizar langsung bangkit dan menyambut uluran tangan tersebut. "Ya, begini lah. Sebaik yang Kamu lihat." Abizar memperhatikan ekspresi Aksa yang kebingungan.


"Kamu pasti heran bukan? Ternyata saya ini bukan Pak Reza yang sesungguhnya. Sebenarnya saya adalah assisten pribadi sekaligus sebagai sekretaris dari Pak Reza. Jadi, beberapa waktu ke depan kita akan menjadi rekan kerja."


Abizar mempersilakan Aksa untuk duduk di kursi yang tersedia. "Kamu mungkin heran kenapa saat saya masih aktif sebagai sekretaris, Pak Reza masih membutuhkan sekretaris lagi?"


Aksa mengangguk, dengan menyunggingkan senyum tipisnya. "Satu hal lagi yang membuat saya heran, mengapa sekretaris yang diambilnya bergenre laki-laki? Bukan kah sekretaris itu pada umumnya seorang perempuan?"


"Hahaha, sebenarnya ceritanya sangat panjang. Namun saya khawatir kita tidak memiliki cukup waktu untuk kisah itu."


...teeeet...


"Wah, sepertinya Pak Reza sudah datang." Abizar segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo Boss, sudah sampai?"


"Orang bernama Aksa itu sudah sampai?" tanya yang di seberang dengan ketus. Aksa pun ikut terkejut mendengar kearoganan sang pimpinan yang sebenarnya.


"Sudah, Pak. Dia sudah bersama saya."


"Cepat suruh dia menghadap ke sini!" ucap orang itu.


Aksa dan Abizar saling berpandangan. Memperkirakan apa yang sedang terjadi. Apa yang membuat dia marah pada lelaki bernama Aksa itu.


Abizar bangkit, Aksa ikut bangkit. Abizar berjalan terlebih dahulu membuka pintu. Setelah itu mempersilakan Aksa keluar duluan. Mereka hanya pindah ke ruang sebelah pintu ruang kerja Abizar. Tampak dia mengetuk pintu.


...tok ... tok ... tok...


"Masuk!" ucap seseorang di dalam dengan ketus.

__ADS_1


Abizar membuka pintu dengan perlahan, langsung menyilakan Aksa masuk ke dalam. Abizar mengikuti di belakang. Ekspresi wajah Aksa terlihat sangat tak biasa. Karena tak menyangka pria yang jadi pimpinan Harmony Grup yang sebenarnya adalah pria yang muntah di taman fantasi dulu. Pria yang juga dilihatnya saat keluar dari hotel, tengah memggandeng seorang wanita hendak ke sebuah pesta yang kebetulan diadakan di sana.


"Te-ternyata Anda lah yang bernama Pak Reza itu?" Aksa segera mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan pimpinan tertinggi perusahaan ini.


Namun, sang pimpinan hanya melihat tangan Aksa mengambang tanpa ada niat untuk menyambutnya kembali. Aksa yang sadar akan hal itu, segera menarik kembali tangannya. Sementara Abizar, merasa heran melihat kelakuan Boss yang tidak seperti biasanya ini.


"Abizar, Kamu boleh keluar! Tolong Kamu sambut tamu berikutny yang akan hadir di sini!" ucapnya dengan nada dingin.


'Apa yang terjadi dengannya?' batin Abizar.


"Baik, Pak." Abizar keluar dari ruangan dan segera menutup pintu.


Sekarang di dalam ruangan itu hanya ada Reza dan Aksara. Reza melepas jas yang melilit tubuhnya, lalu melemparkanny pada gagang kursi kerja. Melonggarkan dasi dan membuka satu kancing paling atas. Sementara Aksa hanya berdiri mencoba memahami apa yang dipikirkan oleh pria ini.


"Katakan sejujurnya! Apa Kau sengaja bekerja sama dengan gadis itu?" Reza langsung melontarkan pernyataan yang ada di dalam pikirannya kepada pria yang masih penuh dengan kebingungan ini.


"Maksudnya, Pak?"


"Kau sudah bekerja sama dengan hacker itu untuk menghancurkan perusahaan ini bukan?" Mata dingin Reza, dengan wajah putih pucat, membuat Aksa merasa ngeri.


"Kenapa begitu?" tanya Aksa.


"Bukan kah kau ini pacar nona Hacker itu?"


"Maksud Anda?"


"Saya akan memenjarakan kalian berdua!" Reza terus melayangkan vonis dr pikirannya sendiri.


"Saya? Apa yang telah saya lakukan? Aksa masih mencoba untuk menggunakan kepala dingin.


"Kau jangan berpura-pura bingung begitu! Aku tahu siapa kalian!"


"Tunggu! Siapa yang Anda maksud? Aku bekerja sama dengan siapa?" Aksa memandang wajah dingin milik Reza. Kali ini dia tampak sangat berbeda dengan waktu terakhir melihat pria itu.


"Bisa Anda jelaskan dengan pelan-pelan! Permainan saya dengan siapa maksudnya? Jangan membuat masalah ini makin mengambang tidak jelas!" Aksa mulai berbicara dengan tegas.


Reza menyunggingkan senyum sinis di bibirnya. "Apik sekali rencana permainanmu dengan gadis hacker itu. Hingga semua orang mampu kalian kecoh dengan sangat mudah."


...plok ... plok ... plok ......


Reza menepuk tangannya, namun wajahnya terlihat tanpa ekspresi. "Bravo, kalian bisa jadi aktor dan aktris terbaik ke depannya. Sepasang kekasih jago bersandiwara. Satu pandai menipu, yang satu lagi ahli dalam mencuri."


Aksa sedikit menelengkan kepalanya. Mencoba memahami setiap kata yang diucapkan oleh Reza. "Apa maksud Anda adalah Aura? Hacker? Pencuri?"


"Hahaha, Kau jangan membuatku tertawa! Jangan Kau katakan bahwa Kau tidak mengetahui bahwa kekasihmu itu adalah seorang hacker ulung! Hingga dengan sok hebatnya pura-pura melawan gadis itu selama ini!"


Reza bangkit dari posisinya, berjalan mendekat ke arah Aksa yang membisu mendengar segala tuduhannya itu. "Bersiaplah mendekap di penjara!"


💖


💖


Kali ini Aura menuju kantor pusat Harmony Grup. Gadis itu memiliki firasat buruk sesuatu yang akan menimpa Aksa. Kembali kendaraan online menjadi andalannya setiap kemana pun tujuannya.


Akhirnya Aura sampai kembali di gedung ini. Untuk pertama kali dia datang melewati pintu depan. Aura melihat security yang sempat mencegat dia saat menyusup dulu. Aura berusaha tenang. Namun, sebenarnya dia merasa seperti diawasi. Matanya liar melihat ke segala sisi.


Tampak resepsionis sedang memperhatikannya. Aura melangkahkan kakinya ke arah dua orang yang menatapnya dengan panjang.


"Selamat siang Mba," sapa gadis itu.

__ADS_1


"Selamat siang," balas resepsionis itu menundukan kepalanya.


"Apakah saya boleh menunggu teman saya di sini?" tanya Aura kembali.


"Apakah teman Anda bekerja di sini?" tanya salah satu resepsionis tersebut.


"Dia baru bekerja di sini sih, katanya dia tim ... hmmm, tim ... apa ya? Pro-pro--"


"Protektor?" sela salah satu dari mereka.


"Iya, kalau nggak salah itu. Katanya hari ini dia ke sini."


"Apakah orang yang Mba ini maksud bernama Aksara Bermakna?" tanya salah satu mereka dengan wajah dingin.


Aura membesarkan matanya. Seolah semangatnya kembali muncul karena orang yang dicari cukup dikenal di sini. "Iya, benar. Namanya Aksara itu. Apa Mba-Mba ini mengenalnya?"


"Dia sedang berada di ruang presiden direktur."


"Apakah saya dibolehkan menunggu di sini?"


Tampak salah satu dari mereka menekan nomor untuk panggilan cepat pada telepon yang ada di sana. "Selamat siang Pak. Sepertinya orang yang Bapak tunggu telah datang. Hmmm, baik lah."


Wanita yang baru saja menelepon tersebut, berjalan keluar dari meja itu. "Mba boleh ikuti saya. Saya akan mengantarkan Anda pada seseorang yang sedang menunggu di atas."


Aura menggeleng, "Sepertinya saya tidak memiliki urusan dengan presiden direktur. Oleh sebab itu, biarkan saya menunggu di sini saja."


Resepsionis itu kembali berjalan lebih dahulu. "Saya harap Mba mau mengikuti saja. Karena ada hal penting yang sedang mereka bahas."


"Hal penting seperti apa?"


"Silakan ikuti saya!"


Dengan langkah berat, gadis itu mengikuti resepsionis cantik yang memiliki tubuh proposional. Aura mengikuti masuk ke dalam lift, berhenti di lantai lima belas. Saat keluar dari lift tersebut, tampak Abizar sedang berdiri di depan pintu sebuah ruangan.


Resepsionis tadi mengajak Aura berjalan ke arah Abizar. "Silakan Mba!" Menyilakan Aura berjalan mendahuluinya.


"Kalau begitu saya permisi." Menundukan kepalanya kepada Abizar, dan Abizar juga menundukan kepalanya.


"Terimakasih Siska," ucapnya.


Abizar membuka pintu tersebut, "Silakan masuk Nona Aura!" ucapnya mempersilakan gadis itu masuk.


Dengan langkah perlahan, Aura mendekat masuk. Tampak wajah Aksa terkejut melihat kehadirannya.


"Anda benar, saya lah yang salah! Dia hanya gadis bodoh yang saya peralat! Jadi, sepenuhnya ini adalah kesalahan saya. Lepaskan dia! Cukup saya yang dipenjarakan!" ucapnya.


Mata Aura membulat. Menebak-nebak apa yang telah mereka berdua obrolkan. "Apa maksudmu?" tanyanya.


"Heh," bibir Reza terpulas sebuah senyuman sinis. "Kalian benar-benar cocok jadi pasangan penipu!"


"SUDAH HENTIKAN!!!" teriak Aura.


"Sudah berapa kali saya katakan? Dia itu tidak tahu apa-apa! Ini murni pekerjaan yang saya lakukan sendiri."


"Bukan! Dia yang tak tahu apa-apa! Saya yang telah memanfaatkannya. Jadi cukup penjarakan saya!"


Tampak Reza mengotak-atik ponselnya. Dia menunggu beberapa saat, "Kantor polisi, saya melaporkan orang yang bertanggung jawab atas kehancuran perusahaan saya!"


__ADS_1



Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat. Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan. "Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!" Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?


__ADS_2