
Pria itu segera menghubungi Aura. Namun, panggilan dia terdengar sedang ada panggilan lain. Pria itu bertopang dagu karena merasa kesal.
"Apa dia sedang telponan dengan pacarnya lagi? Mau main-main denganku rupanya?" Tiba-tiba hatinya tergerak menuju ke ruma kosan di mana gadis itu berada.
Sementara itu, Aura sedang mencoba berperang kembali melawan tim protector dari Harmony. Kali ini dia tidak melihat Aksa berada di dalam tim tersebut. Meski demikian, dia masih tidak bisa serius melakukan peretasan kali ini.
Ada banyak hal yang bergelut di dalam kepalanya. Meski hatinya belum siap untuk melakukan peretasan, dia ingin membalas perlakuan Reza yang sudah seenaknya memblokir kontak milik Aksa tadi siang. Namun, ternyata hatinya mulai mendua saat melakukan peretasan kali ini. Antara ingin dan tidak ingin.
"Ada apa Nona? Apa ada yang mengganggu pikiran Anda?"
"Tidak, jangan pikirkan aku! Lanjutkan saja pekerjaanmu. Tapi jangan Kau ambil semua data perusahaan itu!"
"Kali ini kita akan melakukan peretasan dengan cara yang berbeda dengan dari sebelumnya. Kali ini, kita cukup mengunci Data mereka dari jauh. Setelah itu kita akan meminta tebusan yang tinggi. Kita membuka kembali kunci tersebut jika bayarannya sudah masuk dan terdeteksi oleh Sistem."
"Ya lah, terserah Anda lah Tuan!"
...tok...
...tok...
...tok...
Terdengar suara ketukan pintu kamarnya. "Tuan Sistem, silakan Anda lanjutkan dulu! Ada yang mengetuk pintu kamar saya."
"Baik lah!"
Aura segera membuka jubah dan penutup wajahnya. Segera membuka pintu kamar tersebut. "Iya, ada apa?" tanya gadis itu.
"Tuh, ada yang nyari!" ucapnya dengan ketus, dan berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Aura menelengkan kepala, melihat ke jam dinding dengan heran. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ini adalah waktu larangan berkunjung. Batas waktu kunjung kosan ini adalah pukul sembilan malam. Aura mengunci pintunya terlebih dahulu. Berjalan perlahan menuju beranda.
"Om? Mau apa lagi?"
Reza menarik lengan gadis itu ke pojokan dengan kasar. Menjepit dagu Aura dengan geram. "Siapa yang bicara denganmu?"
"Ma-maksudmu?" tanya Aura gugup.
"Kamu sedang berbicara dengan pacarmu itu?" Mata Reza menatapnya dengan tajam.
"Bukan! Kami sudah tidak bisa berhubungan semenjak Kau blokir kontaknya."
"Saat ini apa yang Kau lakukan, hah? Kan sudah aku bilang? Jangan mengacau lagi, jika Kamu tidak mau hidup miskin bersama denganku nanti!"
Aura merasa semakin kesakitan atas perlakuan pria ini. "A-aku--" Dia mencoba melepas jepitan tangan Reza tadi.
Reza tersulut amarah, Reza menc*um bibir itu dengan kasar ... beberapa saat gadis itu terus memberontak memukul-mukul dadanya, membuat debaran jantungnya semakin cepat. Nafasnya mulai memburu dan semakin sesak. Akhirnya mendorong gadis itu lepas berbalik untuk mengatur nafas.
"Jika Kamu begini terus, jangan harap akan lepas dariku! Kau akan tetap jadi milikku, meski aku akan jatuh miskin! Cam kan itu!"
Reza pergi meninggalkannya yang masih berdiri di pojok bangunan tersebut. Untuk pertama kalinya Aura merasa takut pada Om Mesum. Menatap kepergiannya yang terus menghilang dalam kegelapan malam, masih memegangi bibirnya.
"Ck," decak Reza memukul setir kendaraan miliknya.
"Kita akan coba, apa kali ini Kau akan menang?" gumamnya dengan air muka bingar.
Dia langsung ikut dalam peperangan virus kali ini. Mencoba mengakses sistem dengan Linux. Mencoba mengakses perlawanan dengan cara yang berbeda. Menangkap serangan dari lawannya.
Marcell dikejutkan karena tiba-tiba mendapat serangan hebat lagi. Namun serangan kali ini berbeda dari hari sebelumnya. Kemarin dia cukup kewalahan berperang dengan orang yang disangka dari Harmony. Tetapi entah kenapa virus tersebut menghilang begitu saja saat pertarungan unicorn miliknya tengah sengit melawan makhluk besar milik lawan. Kali ini perlawanan Harmony berbeda lagi.
__ADS_1
Kemana gadis itu? Kenapa lama sekali? batin Marcell.
Aura masih merasakan amarah dari ciuman Reza. Dia berjalan dengan sangat pelan sambil terus memegang bibirnya. Ini adalah ciuma pertamanya. Kasar dan tanpa cinta. Dia sungguh merasa terhina. Aura terus melangkah satu per satu, sehingga tak ada yang menyadari bahwa dia sedang melewati koridor tersebut menuju kamarnya.
"Eh, kamu merasa nggak sih? Aura itu sok kecakepan banget?"
Aura mendengar ada yang tengah membicarakannya. Perasaannya menjadi berdebar saat akhirnya menjadi bahan gibahan tetangga. Namun, dia tak serta merta pergi masuk kamar, tetapi mendengar tentang hal apa yang telah digibahkan oleh mereka itu.
"Ssstt, nanti orangnya dengar!" Dari suara yang berbeda.
"Nggak mungkin, orangnya kan lagi keluar sama pacarnya. Aku bingung kenapa pacarnya ganti mulu? Padahal tampangnya pas-pasan saja. Atau, jangan-jangan dia sudah menjajakan dirinya? Jadi pria yang mencarinya selalu berganti melulu."
"Tadi kamu lihat gak? Dia berangkat mengenakan pakaian biasanya sehari-hari, pulang-pulang malah mengenakan pakaian mahal?"
"Sssttt, sudah-sudah! Gak baik membicarakan orang di belakang! Mungkin saja yang sebelum-sebelumnya saudara, Om, Kakak atau lain-lain. Jangan suuzon melulu!" Dari suara yang lain lagi.
"Aah, gak seru bergibah ria denganmu. Mending dengan Surti. Enak banget gibahin cewek itu bersamanya."
Sekarang Aura baru sadar, dia sudah sering dibicarakan sedari belakang. Berjalan tertunduk membuka kunci kamarnya. Membiarkan Sistem bekerja sendiri, dia memilih duduk di pojok kasur memeluk kakinya.
Aksa semenjak pulang dari kampus, hanya merenung diam di dalam kamarnya. Pesannya belum dibalas oleh Aura. Saat dia mencoba menghubungi, tak ada tanda panggilan masuk. Dia sadar kontaknya telah diblokir oleh Aura.
Aksa kembali menatap fotonya saat berkencan beberapa waktu lalu. "Seandainya aku orang berkuasa, mungkin semua ini tak akan terjadi. Tak akan kubiarkan Kamu menjadi hacker Ra. Atau mungkin tak akan pernah mengajarkanmu bagaimana cara hacking jika aku bisa membaca kejadian masa depan."
Aksa mendapat pesan dari anggota protector yang lain.
[Bro, kenapa tidak ikut?]
[Big Boss turun tangan! Ternyata diam-diam dia jago juga!]
__ADS_1
Big Boss? CEO itu? Reza Firto Adijaya, orang yang merebut kekasihku...