CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
47. Menyusup bg.2


__ADS_3

Setelah kondisi Reza dinyatakan stabil, CEO muda ini kembali menginjakan kaki di kantor yang sudah beberapa kali mendapat serangan berturut-turut oleh hacker. Reza menyugar rambutnya ke belakang, berjalan di tengah kepanikan karyawannya yang mulai merasa ketakutan atas tindakan hacker yang semakin meresahkan.


"Bagaimana ini Boss?" Abizar mengikuti langkah Reza di belakang, dengan wajah kusut.


"Bagaimana dengan calon sekretaris baru kita? Kapan dia bisa stay di kota ini?"


"Saat ini dia sedang menghadapi Ujian Semester. Katanya dia akan langsung mengurus untuk pindah kuliah ke kota ini." Abizar terus mengiringi langkah Reza.


"Berkat bantuan dia, selama dua hari ini hacker itu gagal dalam melakukan aksi peretasannya."


Reza menghempaskan dirinya pada kursi kerja miliknya. Mengingat orang yang telah berjasa itu adalah kekasih dari nona mie instan yang akan ditolaknya mentah-mentah beberapa waktu lalu. Tanpa pikir panjang segera mengakses CP yang tersedia untuk mengecek beberapa bisnis yang mendapat serangan oleh hacker.


Selama Reza dirawat, sudah hampir setiap hari hacker tersebut meretas perusahaan miliknya. Dua hari berturut bisnis online-nya mengalami pasang surut. Namun, dua hari berikutnya Abizar memohon secara pribadi kepada Aksa untuk membantu perusahaan ini agar selamat dari aksi hacker tersebut. Abizar menjanjikan bahwa Aksa akan dibantu oleh seluruh tim yang lolos sebagai perakit protektor, bisnis terbaru ke depannya. Mereka semua telah menandatangani kontrak secara online dengan Harmony Grup.


"Kita tidak bisa berpangku tangan lagi membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Jika detektif dari pihak kepolisian tidak mampu, itu berarti kita harus menyewa detektif swasta yang handal untuk mengusut siapa pelaku sebenarnya."


Abizar segera mencatat apa yang dititahkan oleh big boss ini ke dalam agenda. Abizar segera kembali ke ruang kerjanya. Mencari informasi detektif yang bisa mengusut pelaku yang membuat perusahaan ini hampir pailit dalam beberapa saat.


Reza mencoba mengecek rekam jejak bisnis kendaraan online yang telah diserang. Karena bantuan anggota tim protektor yang semakin hapal pergerakan hacker, mereka berhasil menyelamatkan perusahaanya.


Tak terasa waktu sudah bergerak menuju malam. Abizar mengintip sang Boss yang untuk pertama kalinya terlihat serius dalam menghadapi masalah. Hal ini berkaitan dengan perusahaan dan nasib para karyawan. Reza berusaha bekerja sama dengan tim protektor dalam membuat surel pengamanan. Reza membentuk grub chat untuk pekerjaan yang baru ini yang berisi seluruh karyawan online baru, termasuk Aksa.


Abizar mengetuk pintu ruang kerja milik Reza. Pria yang tengah terfokus itu melirik sejenak. "Masuk!" Reza kembali sibuk memperhitungkan ketepatan rumus-rumus yang telah dikirim beberapa orang dalam tim tersebut.


"Boss, apa saya sudah diizinkan pulang?"


Reza masih asik memgetik, melirik jam tangan dan terkaget. "Udah waktunya pulang aja?"


"Iya Boss."


"Sudah dapat detektif yang saya minta?"


"Sudah Boss. Dia dulu bekerja di sebuah agen detektif rahasia. Namun karena agen tersebut sudah pindah ke Jepang, dia mendirikan sendiri secara mandiri di kota ini karena tidak ikut ke Jepang."


Dia teringat, itu adalah agen yang dipimpin adik iparnya. Suami Rini. Sehingga Rini terpaksa mengundurkan diri sebagai Rektor karena harus mengikuti suaminya ke Jepang. Reza mengangguk, "Saya sangat tahu dengan Agen Detektif tersebut. Jadi siapa nama detektif itu?"


Abizar membuka catatan pada ponselnya. "Namanya Devan, Boss."


"Oh, ya udah. Kamu boleh pulang. Sepertinya hari ini saya bakalan lembur. Nanti tolong pesankan makanan untuk saya."


"Baik Boss, terima kasih. Saya pastikan tidak akan membuat Anda mati kelaparan saat bekerja di sini sendirian." Abizar menunggu reaksi Reza atas candaannya barusan. Namun ternyata tidak digubris. Wajahnya terlihat sangat serius mengetik dan memperhatikan monitor di hadapannya.


💖


Aksa tengah sibuk menyusun rumus-rumus anti virus yang akan diberikan kepada Harmony Grub. Aksa sangat menggebu ingin menuntaskan permasalahan yang dialami oleh Harmony Grub ini. Apalagi dia telah menekan kontrak kerja sama sebagai karyawan online perusahaan ini.


Gaji yang dijanjikan pun telah masuk ke dalam akun keuangan miliknya. Dia mendapatkan dana dengan nilai yang sangat fantastis, beserta dengan bonus yang diberikan telah menyelamatkan perusahaan tersebut secara berturut-turut. Oleh sebab itu, dengan penuh semangat dia menunjukan bentuk loyalitas yang tinggi kepada perusahaan ini.


Sebenarnya Aksa merasa mengenal beberapa virus yang mencoba menembus barel yang telah dibentuknya. Namun, karena merasa itu tidak mungkin dengan dugaan-dugaan yang ada dalam pikirannya, maka Aksa memilih untuk mengabaikan pikirannya tersebut.


Panggilan Aura masuk, dia dengan segera menarik tanda hijau ke atas.


"Halo Sayang." Aksa masih mengetik dan berkonsentrasi.

__ADS_1


"Haloo, lagi apa Bang?"


"Ini lagi nyari duit untuk tabungan masa depan kita."


"Wiiih, jadi beneran udah kerja ya?"


"Iya, ini aku lagi kerja."


"Ooh, gitu. Kalau begitu nanti saja kita lanjutkan. Sepertinya lagi sibuk banget ya?"


"Lumayan, soalnya pimpinan perusahaannya minta menyelesaikannya malam ini juga."


"Selamat bekerja yaa."


"Iya, I Love You!" bisik Aksa pada ponsel miliknya.


"Love you too."


Panggilan berakhir, Aksa kembali melanjutkan menyusun angka dan huruf pada sistem DOS yang ada di monitor laptopnya.


Aura mulai mengganti pakaiannya dengan pakaian serba gelap seperti waktu itu. Kali ini dia menyiapkan topeng agar tidak ada lagi kejadian alat penyembunyi identitasnya terlepas, seperti waktu itu.


Waktu masih menunjukan pukul sembilan malam. Namun, seorang bernama Marcell tersebut mengatakan mencoba untuk menyusup lebih awal. Meski agak sedikit beresiko, namun ada kemungkinan suksesnya lebih tinggi. Karena pengamanan security lebih longgar bila waktu belum terlalu malam.


Tak lama, pesan dari kontak yang tidak terdaftar memberitahukan dia telah berada di depan. Aura tak mau keluar dengan cara yang aneh, karena hal itu akan menimbulkan kecurigaan. Warga kosan masih ramai lalu-lalang keluar masuk dari kamarnya. Dia berpenampilan seperti biasa, namun pakaianya yang serba hitam.


Aura segera menyusul orang yang mengirim pesan tersebut. Untuk pertama kali melihat wajah pria bernama Marcell tersebut dengan jelas. Dia melepas helm yang melekat di kepala, dan menyugar rambutnya kembali.


Ooh, gitu tampang pria menyebalkan ini. Lumayan lah, tapi tetep gantengan Babang Aksaku.


Marcell seperti mengetahui bahwa segala tindakan mereka terendus oleh sang presiden direktur. Hal itu terjadi karena pimpinan perusahaan mengalihkan segala keamanan digital pada gedung ini pada ponsel yang selalu ada di tangan CEO muda itu.


Hal yang pertama kali dilakukan oleh Marcell ialah membuat jaringan pada ponsel yang menjadi kunci tersebut, seolah kehilangan jaringan sendiri. Seperti jaringan rusak, sehingga tidak bisa mendeteksi dan memberikan peringatan atas apa yang sedang terjadi.


Selanjutnya kembali membuat semua CCTV pada gedung ini nonaktif. Menggantikan gambar pada monitor pada beberapa waktu yang lalu. Reza tengah asik berdiskusi dengan karyawan online-nya yang baru. Sehingga membuatnya cukup lengah dan tak menyadari kejanggalan yang terjadi pada perusahaannya.


Kali ini Marcell mengomandoi agar mereka masuk lewat jalur atas. Mereka menaiki gedung yang ada di belakang kantor perusahaan ini yang merupakan sebuah appartemen, yang membuat mereka leluasa keluar dan masuk lewat gedung ini. Sampai di rofftop gedung ini dengan segera Marcell menggunakan penutup wajah. Diikuti oleh Aura. Gedung yang mereka pijaki ini lebih tinggi dibanding bangunan di sebelahnya.


"Kamu berani melompati gedung ini?" tanya Marcell.


Refleks Aura menggelengkan kepalanya. "Saya tak pernah latihan dan mencoba pankour itu. Itu sangat mengerikan."


Tanpa berbicara apa-apa, Marcell mengeluarkan peralatan lainnya dari ransel yang sudah seperti kantong ajaib robot kucing bewarna biru. Dia mengeluarkan suatu benda yang mirip panah, namun dililit oleh tali karmantel yang cukup panjang.


Marcell menembakan benda tersebut ke gedung seberang. Saat benda itu tersangkut, Marcell memastikan apakah cengkraman benda itu sudah cukup kuat ala belum. Jika mereka melintas menggunakan tali ini. Setelah cukup yakin, Marcel mengikatkan ujung tali ini di gagang baja yang ada di sana dengan kuat.


Marcell mengeluarkan benda lain, yakni benda berbahan stainlesteel sepanjang empat puluh senti meter. "Kamu pegang ini dengan erat. Jangan dilepas sebelum benar-benar menginjakan kaki di sana."


Aura mundur dan menggeleng. Mengingat saat ini berada di lantai dua puluh, membuat perasaannya jadi ciut duluan. Membayangkan jika terjadi suatu hal sebelum sampai di seberang, tentu nyawanya langsung melayang.


"Ayo! Buruan!"


"Saya takut!"

__ADS_1


Marcell melihat wajah Aura yang tampak meringis ketakutan. "Kamu tidak perlu cemas! Jika kamu berpegangan dengan kuat, maka bisa dipastikan Kamu akan mendarat dengan aman."


Marcell mendorong Aura yang menahan tubuhnya memberat ke belakang. Dia takut pada ketinggian. Marcell terus mendorongnya. Menyuruh gadis itu naik ke pagar pembatas, memastikan untuk memegang pengendali tersebut lalu mendorongnya.


"JANGAN LEPAS PEGANGANNYA!" teriak Marcell.


...wuuuzzzzzz...


Dengan kecepatan tinggi Aura bergerak menurun menuju gedung sebelah. Matanya terpejam karena tidak sanggup melihat ke bawah. Tak perlu lama-lama bergelantungan, Aura telah berada di lantai paling atas gedung perkantoran milik Om Mesum ini.


...duuuughkkk...


"Aduh," Aura menabrak dinding tempat penyangga tali ini bertopang di pentilasi, menandakan dia telah sampai ke seberang dengan selamat. Dengan tangan yang masih bergetar, Aura melepas pegangan pada gagang tersebut. Tak lama Marcell juga bergerak menuju lokasi Aura yang masih gemetar karena melintasi jalur sakaratul maut beberapa detik yang lalu.


"Udah? Ayo!" Tanpa pikir panjang Marcell membuka pintu memasuki bagian dalam bangunan tersebut.


Marcell mengecek kembali apakah benar CCTV gedung tersebut telah non-aktif dengan sempurna. Setelah memastikan semua seperti yang diharap, Marcell memberi kode agar Aura mengikutinya dari belakang.


Suasana gedung itu terasa sangat sunyi. Marcell mengecek peta yang dia dapat mengenai denah-denah ruangan yang ada pada gedung ini. Bagian IT gedung ini terdiri atas dua lantai penuh, yakni lantai tiga belas dan lantai empat belas.


Saat ini mereka berada di lantai tujuh belas. Menuruni bangunan tersebut menggunakan tangga darurat satu per satu. Marcell meminta mereka berpencar. Tugas Marcell adalah memastikan keamanan Aura dan keberhasila memasuki bagian IT di gedung ini. Aura berjalan sendirian menuju lantai empat belas.


Di tempat lain di gedung ini, Reza tengah berdiri di balkon ruang kerjanya yang berada di lantai lima belas. Menikmati angin malam yang sejuk, mendamaikan hatinya.


"Sepi banget, udah berapa lama ya tidak pergi kencan?" Tiba-tiba dia teringat kenangan terakhir saat berkencan, malah melihat gadis mie instan tengah mencibir padanya saat berada di samping Aksa.


"Ahk, kenapa malah ingat dia?" Reza mulai bergerak, menutup kembali jendela dan meninggalkan ruang kerjanya. Dia sudah lama tidak merasakan bekerja hingga larut. Karena selama beberapa tahun terakhir, semua pekerjaan aman tanpa kendala.


Reza menyusuri ruang sepi tersebut. Namun dia seperti mendengar langkah kaki dari arah tangga darurat.


"Apa ada orang di sana?" Namun, tak ada jawaban. Mungkin hanya perasaanku saja.


Lalu Reza melanjutkan perjalanannya menuju lift, kembali terdengar langkah kaki dari arah tangga darurat. Perlahan, Reza berjalan menuju tangga darurat. Saat dia berada di tangga, dia tidak mendengar suara apa-apa lagi.


"Apa ada orang di sana?" Kembali tanpa jawaban.


Reza melangkahkan kaki dengan perlahan menuju lantai bawah. Suara tersebut hilang saat berada di lantai empat belas ini. Lantai ini, berjejer puluhan perangkat komputer. Karena di sini merupakan bagian utama dari perusahaan miliknya ini. Mengatur operasional sistem dengan baik.


Aaaiihh, jangan-jangan ada hantu di sini?


Jantung Reza mulai berdebar. Terdengar suara-suara dari arah ruang induk otomasi. Namun, dia mencoba memberanikan diri menuju ruang utama tersebut. Tampak bayangan hitam bergerak-gerak dari arah sana.


...degh......


...degh......


Ayoooh... Mampiiirrr yaaa 😇😇😇



...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2