
Reza melihat ke arah pintu yang tertutup tersebut, hanya bisa berdecak. Dia tidak bisa mengatakan alasan mengapa dia menghubungi rivalnya tersebut. Reza beringsut sambil memegang perutnya yang masih terasa sangat penuh. Dia menarik handle pintu, menemukan sang istri tengah berdiri di balkon luar kamar. Dia tengah merenung memandangi pemandangan sekitar dengan wajah yang terlihat sedih.
Reza memperhatikan sang istri dari kejauhan. Tampak dari wajahnya, bahwa Aura, istrinya masih mencintai lelaki itu. Saat dia menelepon tadi pun, terdengar jelas orang yang ditelepon sangat mencintai istrinya tersebut.
'Ah, apa hanya aku saja yang di sini mencintai tanpa dicintai? Apa benar, ini keputusan tepat saat memaksanya menikah denganku seperti ini?'
Reza, kembali memperhatikan foto-foto pernikahan mereka berdua. Kali ini dia mulai fokus melihat ekspresi tak bahagia milik sang istri. Sementara, dia yang berada di samping Aura tengah menyunggingkan senyum lebar pada fotografer saat memotret dirinya dan Aura. Dia teringat akan satu hal, Gino. Yakni sahabatnya yang merenovasi rumah orang tua Aura.
'Apakah semuanya sudah beres? Setidaknya, jika aku pergi nanti dia kembali pada orang tuanya. Dia sudah memiliki tempat yang nyaman, dan bisa mengenangku menjadi seseorang yang pernah hadir sesaat dalam hidupnya.'
Reza mendapat sebuah pesan. Matanya membesar saat membaca pesan tersebut. Dia melihat Aura masih berada di posisi yang sama. Setelah itu dia bergerak keluar dari appartemen dan pergi tanpa memberitahukan Aura.
Aura masih mengawang dalam pikirannya yang merasa sangat kesal kepada lelaki itu. Aura merasa Reza telah menghianati dirinya, karena masih mencoba menyakiti Aksa.
'Dia menghubungi Aksa tanpa sepengetahuanku. Apa yang dia katakan pada Bang Aksa? Padahal aku sudah mengatakan semua yang menyakitkan. Apa masih perlu menambah semua hal yang menyakitkan lagi padanya?'
Appartemen yang mereka tempati ini berada pada lantai sembilan. Dia seperti melihat seseorang seperti Reza berjalan menelusuri trotoar, dan akan menaiki sebuah kendaraan. Aura mencoba memfokuskan matanya. Sesaat orang itu akan menaiki mobil, dia merasa yakin bahwa pria itu memang Reza, suaminya.
Kendaraan yang dinaiki oleh Reza seperti kendaraan milik Abizar. Aura bersidekap dada dan menggerutu. Kenapa lelaki itu tidak bicara apa-apa saat akan meninggalkan tempat ini. Padahal saat dia pergi tadi, dia masih berusaha meninggalkan catatan agar Reza tidak merasa bingung.
Aura memilih menghempaskan diri di atas kasur. Dia menghentakan kakinya karena merasa kesal. Kebetulan kurang tidur, akhirnya terlelap karena tubuhnya masih merasa lelah.
Aura terbangun di saat waktu telah berubah menjadi gelap. Ia segera turun dari tempat tidur tersebut dan menyalakan lampu. Semua masih tampak gelap, tak seorang pun yang menyalakan penerangan pada rumah versi mini ini.
'Apakah dia belum kembali? Apa yang terjadi?'
Aura tidak memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk menghubungi sang suami. Ponsel miliknya sengaja ditinggal di dalam kendaraan yang terparkir jauh. Dia merasa sedikit takut, dan merinding berada di tempat ini sendirian. Rasa paranoid menggelayut di hatinya. Akhirnya dia kembali mengenakan hodie, masker, dan kacamata untuk bergerak keluar.
Aura hanya bisa menunggu kendaraan offline, karena dia tidak memiliki media untuk memesan taksi online. Dia berencana untuk ke rumah Stella. Di sana Aura akan cukup aman. Karena anak buah Sistem belum pernah bertemu dengan Stella.
Namun, sudah sekian waktu dihabiskannya untuk menunggu. Kendaraan masih belum bisa ditemukannya. Semua kendaraan offline terasa begitu laris, hingga susah untuk didapatkan.
Sembari menunggu mendapatkan kendaraan tersebut, Aura terus melangkahkan kaki menuju ke arah rumah Stella. Dia berjalan menggunakan badan jalan. Sehingga ia sering mendengar umpatan pengguna jalan.
__ADS_1
"Orang gila!"
"Trotoar kurang lebar apa?"
"Wooi mau carimati?"
Aura tak memedulikan teriakan-teriakan itu. Dia masih menunggu kendaraan yang bisa untuk ditumpanginya. Melihat salah satu pasukan ojol yang kosong, membuat Aura berani untuk melakukan menyetopnya.
"Bang, boleh sewa ojolnya secara offline ga?"
Pengemudi ojol tersebut mengerutkan kening. "Emang gimana aplikasinya, Mbak?"
"Aku tidak punya hape."
"Hape saja tidak punya, apa nanti sanggup membayar ongkos offline yang saya minta?"
"Iya, saya sanggup. Itu bukan hal yang besar. Jadi apa saya bisa pakai jasa offline nya?"
"Baik lah," jawab Kang Ojol yang tampak lelah.
Aura segera naik kendaraan tersebut. Ini adalah pengemudi yang menggunakan jaket ojol dari platform milik suaminya. Dia terkekeh teringat saat berhasil melumpuhkan bisnis ini.
"Gimana Bang pengalamannya menjadi pengemudi ojek online?"
"Ya, begini lah, Mba. Lumayan buat memenuhi kebutuhan. Tapi sejak beberapa waktu lalu perusahaan pemilik ojol ini, droup hingga sangat susah untuk diakses. Kabarnya perusahaan ini diretas oleh seorang hacker tak bertanggung jawab. Sehingga kami bisa bergantung pada penumpang offline macam Mba, ini."
Aura kembali teringat saat aksinya melumpuhkan bisnis ojek online platform Harmony Grup ini. Saat di mana ia melawan Aksa dan para tim, untuk merebut data dan merusak akses pengguna platform ini. Ternyata efeknya sungguh sangat luar biasa.
'*S*ungguh kasihan sekali mereka?' batinnya merasa bersalah.
Akhirnya mereka sampai di rumah Stella. "Berapa, Bang?"
"Satu juta!"
__ADS_1
"Aaaapaa?"
"Canda Mba. Dua lima aja kalau Mba ikhlas," ucap pengendara tersebut sayu.
Aura merogoh kantong celananya. Memeriksa apakah ia memiliki jumlah uang yang diminta. Ternyata, dia hanya memiliki angka yang paling besar. Akhirnya dia menyerahkan selembar uang merah tersebut.
"Waaah, apa tidak punya uang pas, Mba? Saya tidak memiliki kembaliannya, karena sepi."
"Sepi, Bang?" Aura kembali mengambil beberapa lembar lagi. "Nah, berarti ini rezeki Abang. Ambil aja semua buat Abang!" ucap Aura kembali.
"Benar, Mba?" Mata Kang Ojol tambak mulai berkaca-kaca.
Aura mengangguk. "Semoga berkah."
'Maafkan saya yang telah menghambat rezeki Abang sejak beberapa waktu lalu. Saya berjanji, akan memperbaikinya kembali. Merebut data itu langsung sendirian dari tangan Sistem.'
"Terima kasih, Mbak. Semoga rezeki nya lancar ya, Mbak." Wajah Kang Ojol terlihat sangat terharu. Dia menangkupkan uang tersebut pada wajahnya. Dia segera bergerak pulang menuju keluarga yang menantinya.
Aura ikut merasa haru, memulas senyuman di bibirnya. Dia segera masuk ke rumah Stella. Kebetulan Stella sedang bersama seseorang di beranda rumahnya. Aura melangkahkan kakinya menuju ke arah mereka.
"Haaai!" ucap Aura dengan semangat 45.
Stella yang melihat Aura datang, langsung berlari kecil menyambut sobatnya ini. "Waah, Ra. Kamu kemana aja? Tiap aku hubungi Kamu, tidak nyambung. Terus aku datangai kosanmu, kata yang di sana Kamu tidak pulang."
"Ooh, ehhh--" Aura menggaruk pelipisnya.
'Rasanya nggak etis jika aku bilang pergi pulang kampung untuk menikah,' batinnya.
Aura melihat seorang tampan berada di sisinya. Mereka menunjukan sebuah hubungan yang tak biasa "Kalian udah pacaran nih?" Stella mengangguk dengan malu-malu.
Devan menatap panjang pada gadis berambut panjang ini. Dia mengetahui bahwa Aura adalah seorang hacker. Beberapa kasus pembunuhan yang dia tangani, menunjukan bahwa identitas korban merupakan seseorang yang bekerja sebagai peretas.
"Nona Aura ya?" tanya Devan.
__ADS_1
"Iya?" Aura memandang pria ini dengan heran.
"Berhati-hati lah! Bahaya sedang mengintaimu!"