
Waktu telah terang saat Aura keluar dari ruang persalinan ... Bayi mereka sedang tidur di ruangan khusus manusia kecil yang baru lahir. Kali ini yang mendorong kursi roda itu, adalah suaminya sendiri menuju ruang rawat kelas elite yang dibayarkan sang suami.
Saat akan pindah ke brangkar, Reza hendak mengangkat Aura. Aura menahan, dan menggelengkan kepala. "Aku bisa sendiri."
Setelah duduk di atas brangkar, Aura kembali terbayang betapa panjangnya waktu yang mereka lalui. "Sepertinya aku sudah kapok melahirkan," celetuknya.
Reza mengangguk dan membelai rambut Aura. "Aku akan menepati janji. Karena buah hati kita cukup seperti harapanku. Kita akan fokus pada masa depan mereka saja."
Aura memeluk lengan suaminya. "Kamu mau, mereka jadi apa nantinya?"
"Hmmm ... asal tidak niru Bundanya aja, aku izinkan mereka memilih jadi apa saja."
Aura menegakan kepalanya. "Apa maksudmu?" Memasang wajah cemberut.
"Aku tak mau anak perempuan kita nikah cepat kayak Bundanya. Aku mau dia menyelesaikan pendidikannya dulu." Reza kembali membelai rambut sang istri.
Aura mendorong Reza sampai jatuh dari brangkar. "Pergi sana! Karna siapa juga aku nikah umur delapan belas. Padahal dia sendiri yang mepet aku nikah, ngancam-ngancam penjarain---" Aura batal melanjutkan ucapannya.
"Hmmm, sedih lagi ... sedih lagi ...." Reza memasang wajah kesal.
Aura merentangkan tangannya, Reza masuk ke dalam pelukan itu. Kali ini Aura bersandar pada dada sang suami. Memeluknya mendengarkan suara detakan demi detakan milik seseorang yang telah pergi dan tak akan kembali.
"Mikirin dia lagi ...."
Aura tak bergeming, masih menikmati irama yang terdengar beraturan di dada sang pawang. Reza mendorong bahu Aura yang tadinya masih menempel pada dirinya.
"Kamu suka banget bikin aku cemburu ya?"
__ADS_1
Aura kembali menarik Reza mendengarkan detakan demi detakan yang sama. "Kamu cemburu pada orang yang sudah memberikan separuh dirinya kepadamu?"
Reza kembali mendorong Aura. "Jangan gini dong, aaah ... Kalau kamu begini terus, aku bisa jadi tidak ikhlas menggunakan jantung ini?"
Aura menengadahkan wajahnya menatap Reza yang memasang wajah cemburu. "Dia adalah orang baik yang tak akan bisa kulupakan seumur hidupku. Sementara kamu adalah orang yang tak akan terganti hingga usiaku tak bisa dilanjutkan lagi. Kalian adalah orang berbeda meskipun menggunakan jantung yang sama."
Reza duduk di brangkar tersebut. "Boleh kah aku memintamu untuk tidak sedih setiap mengenang dia?"
Aura menganggukkan kepalanya. "Maafkan aku ...." Lalu mereka berpelukan membali.
"Ekhem ..."
Sebuah deheman dari seseorang yang mengintip di celah pintu yang baru saja dibuka dari luar. Ternyata yang datang sepagi ini adalah sang asisten kesayangan Reza. Dia datang membawa sang istri dan putranya yang telah berusia dua tahun.
"Selamat ya, Boss ... garcep amat dah?" ucapnya menyerahkan parcell yang dibawanya.
Reza melirik istri Abizar. "Bagaimana, Mba? Mau nambah lagi?"
"Jangan dulu, Pak Boss ... Ini aja kami sering ditinggal karena pekerjaan. Kalah nambah lagi, nanti aku bisa stress duluan." ucap Ratna istri Abizar.
Reza hanya menahan senyuman. Dia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti. Mereka bercengkrama dan saatnya untuk putri kecil mereka diberikan ASI kembali.
"Waaah, gak kalah cantik, seperti ibunya. Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka berdua?" seloroh Ratna istri Abizar.
Aura dan Reza saling bertatapan. Abizar menyikut sang istri yang telah salah berucap. Akhirnya Ratna nyengir sendiri karena kikuk.
"Aku hanya bercanda. Jangan dimasukan ke dalam hati," ucap Ratna.
__ADS_1
Aura mengulas senyum tipisnya. "Boleh juga menurutku. Kayaknya asik juga." celetuk Aura. "Tapi aku khawatir malah mereka nanti dewasanya malah tidak jodoh kan?" Aura menatap Reza, dan sepertinya Reza tidak setuju dengan kata perjodohan.
"Jangan ambil anakku! Biarkan saja aku yang mengurusnya hingga tua nanti." Reza merebut bayi perempuan mungil itu. Reza mencium anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Diih, anaknya aja yang dicium? Bundanya kagak?" celetuk Aura.
"Jadi kamu cemburu sama anak sendiri ni ceritanya?" Reza membawa bayi itu ke arah jendela. Kebetulan mentari pagi masuk lewat jendela kamar itu.
"Nanti jika ada meeting atau hal-hal penting lainnya, dicancel dulu, Zar," ucap Reza tanpa menoleh Abizar. Dia sibuk menjemur putri kecil mereka di bawah sinar matahari.
"Baik, Boss! Jangan khawatirkan itu! Saya pastikan, semua akan baik-baik saja meskipun Anda tidak ada, Boss."
"Laporan Jay terhadap Kafe bagaimana?"
"Aman terkendali seperti biasa, Boss." terang Jay.
"Terus ada yang lain?" tanya Reza kembali untuk memastikan.
"Untuk sementara hanya itu, Boss. Kalau ada hal penting mendesak, akan saya hubungi kembali."
Reza tak menanggapi apa yang diucapkan Abizar. Dia sedang menikmati pemandangan saat putri kecilnya menggapai-gapai kan tangannya. Berbeda dengan Aura, mengerutkan kening melihat reaksi bayi yang belum mereka beri nama tersebut.
"Oooeeekkk ... oooeeekkk ... oooeeekk."
Tangisan bayi mungil itu terdengar sangat keras. Hal ini membuat Reza yang menikmati keadaan yang telah memiliki seorang putri, langsung kelabakan. Suara tangisannya sungguh sangat kencang. Reza langsung mengantarkan putri mereka kepada sang istri.
"Kanda, dia itu ke sini buat minum ASI. Kamu sudah membuatnya makin kehausan!"
__ADS_1