CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
110. Cincin


__ADS_3

*Demi menjaga level author agar tidak turun, mohon readers semua menyelesaikan membaca hingga bab terakhir ya... Entun mau tutup buku bulan ini.* Apalah arti Author tanpa readers. Apalah arti karya tanpa pembaca.


...***...


"Maksudnya?" tanya Aura heran.


"Pokoknya Kamu hati-hati saja!" Devan pun pamit pada Stella. Lalu ada panggilan lagi di telepon selulernya. Devan beranjak cukup jauh.


"Halo Sayang. Aku lagi dalam perjalanan. Nanti aku hubungi lagi."


Aura memperhatikan gerak-gerik Devan. Baginya gerak-gerik Devan sangat mirip dengan Reza saat sebelum menjadi suaminya. Stella melihat pria tersebut dengan wajah berbinar dan bangga. Terlihat sekali, gadis ini udah bucin abiz pada Devan.


"Cinta amat Sist?" cibir Aura.


"Hahaha, gimana ya? Seneng gimana gitu ternyata punya pacar seorang detektif. Dia hebat sekali bukan?" celetuk Stella.


Aura terkejut, mulutnya menganga. Merangkai semua teka-teki mengapa saat pagi ketemu dia di kampus, dan malamnya dia ditangkap oleh orang-orang suruhan Reza. Gara-gara dia lah, saat ini dia berstatus istri lelaki itu.


Ingin marah dan menghajar Devan, tetapi nasi telah menjadi bubur. Saat ini dia sudah menjadi istri korbannya tersebut. Mau tak mau dia harus merelakan semuanya. Menerima keberadaan lelaki yang saat ini selalu hadir dalam hidupnya.


'Dia kemana ya?'


Stella yang sedari tadi memperhatikan Devan, beralih pada sahabatnya ini. Tampak temannya membawa ransel, udah seperti seorang yang minggat dari rumah. Mata Aura tampak mengawang memikirkan sesuatu.


"Ra, Kamu mikirin apa? Kenapa malam-malam ke sini?"


Aura kembali teringat tujuan utamanya untuk datang ke sini. Beberapa detik memikirkan alasan. "Ooh, a-aku mau nginap di sini, boleh nggak?"


Stella langsung sumringah. "Mau nginap di sini? Tentu saja boleh. Kenapa tidak hubungi aku dulu? Kan bisa aku jemput."


"Sayang, aku lanjut menuntaskan pekerjaan dulu. Daah!" Lalu Devan melirik Aura. "Kamu hati-hati saja, banyak kejahatan yang datang tak terduga!"


Aura mengangguk, dan mereka berdua melambaikan tangan pada Devan yang mengendarai motor sport. Setelah Devan keluar dari gerbang rumahnya, Stella menarik Aura masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung mencari kedua orang tua yang kebetulan baru saja balik dari kantor.


"Appa, Mama ... Aura mau nginap di sini boleh ya?"


Kedua orang tuanya menyambut sahabat dari Stella ini. "Tentu saja boleh," ucap ibunya.

__ADS_1


Aura segera memberi salam dan salim. Mama Stella melihat ada yang janggal pada jari manis milik sahabat anaknya ini.


"Bukan kah ini--"


Aura segera menyembunyikan tangannya tersebut. "Ooh, ini bukan apa-apa Tante. Ini diberi oleh seseorang."


"Apakah Pak Reza yang memasangkannya?" tanya ibu Stella lagi.


Stella menarik bahu Aura. "Ra? Ada yang Kamu sembunyikan?"


"Ooh--eeeh--"


Stella menarik Aura. "Ma, Appa, Stella bawa Aura ke kamar dulu." Kedua orang tuanya mengangguk dan dengan langkah gusar Stella menarik Aura menuju kamarnya.


Sampai di kamar Stella, Aura menghempaskan dirinya ke kasur. Dia merasa cukup nyaman tanpa merasa khawatir saat berada di tempat Stella ini. Sementara Stella bersidekap dada memperhatikan Aura.


"Sekarang gitu ya? Kamu udah jago main rahasia-rahasiaan sama aku?"


Aura melirik Stella, dan bangkit duduk senyamannya. "Kenapa Kamu bilang begitu?"


"Saat Kamu putus dengan Kak Aksa, sedikit pun tidak menceritakan padaku. Aku tahunya malah dari Kak Aksa sendiri. Sekarang hubunganmu makin dekat sama Om Mesum itu? Sampai dikasih cincin segala? Kalian sudah tunangan apa?"


"Iya, ini cincin dari dia."


"Kalian sudah tunangan? Kapan? Kenapa tidak mengatakan apa pun padaku? Jika Mamaku tidak bertanya, mungkin aku tidak akan paham." Stella mencabikan bibirnya karena merasa jengkel.


"Iya, iya, maaf. Lain kali aku akan menceritakan lebih lanjut lagi padamu."


Stella melihat wajah lelah dari sahabatnya ini. Baru beberapa saat bertemu setelah sekian lama, Aura terlihat sering bermenung. "Kamu lapar, Ra?"


Aura menggeleng. "Apa aku boleh numpang mandi sebentar? Tubuhku terasa sangat gerah. Tadi jalan kaki cukup lama."


"Tentu saja boleh," ucap Stella.


Aura segera menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri, karena sejak terakhir mandi di rumah Reza, dia belum sempat membersihkan diri lagi. Dia merasa lucu sendiri. Malah setelah menjadi istri seseorang, membuatnya makin jarang mandi.


Teringat kembali kepada seseorang yang pergi tanpa pamit. "Kamu kemana, pergi diam-diam seperti itu?" Aura kembali melihat cincin yang melekat di jari manisnya

__ADS_1


💖


Di sebuah rumah sakit, Abizar tengah mondar-mandir di depan sebuah pintu dengan lampu yang sedang menyala. Ini menandakan bahwa ada yang sedang melakukan operasi di dalam ruangan tersebut.


Flashback On


Abizar baru saja meninggalkan appartemen yang baru ditempati oleh Big Boss dan istrinya. Namun, tak lama panggilan dari sang Big Boss masuk. Dengan segera dia mengangkat panggilan tersebut.


"Zar, tolong jemput saya! Saya mau ke rumah sakit!"


"Oke, Boss!"


Abizar kembali memutar haluan kembali ke tempat tadi. Ternyata tampak Reza hanya turun sendirian, tanpa mengajak istrinya. Reza langsung masuk ke dalam, dan menitahkan untuk segera menuju rumah sakit.


"Istrinya kenapa tidak diajak?"


Reza hanya diam seribu bahasa. Mereka tidak banyak bicara hingga sampai ke rumah sakit. Reza masuk untuk berkonsultasi dengan dokter yang ada di dalam ruangan tersebut. Sekitar tiga puluh menit, sang atasan keluar dan menyampaikan kabar yang mengejutkan.


"Saya akan operasi jantung saat ini juga."


"Lhoh? Sekarang juga? Apa istri tidak dikabari dulu?" tanya Abizar bingung.


Reza sedikit menggeleng. "Tidak apa, nanti setelah semua membaik, aku akan kembali memberi kejutan untuknya."


"Bukan kah harus mendapat persetujuan dari orang terdekat dulu?" Abizar semakij bingung atas tindakan yang dilakukan oleh sang big boss ini. Karena operasi cangkok jantung bukan hal yang main-main. Ini sebuah tindakan medis yang sangat besar.


"Tadi saya sudah beri alasab kepada dokter bahwa istri sudah mengizinkan, hanya sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi nanti, Kamu yang mewakilkan istri saya untuk menandatangani persetujuan operasi ini oke?"


Abizar menggaruk kepalanya dengan gusar. Dia merasa apa yang dilakukan oleh sang atasan ini, adalah tindak yang berbahaya. Oke, jika operasi sukses. Namun, jika terjadi sebaliknya bagaimana?


"Sebaiknya, Boss telepon dulu dia!"


Reza menggeleng tipis. "Dia tidak bisa dihubungi. Mungkin untuk sementara lebih baik begitu. Bahkan dia tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Untuk sementara lebih baik begitu."


"Terus orang tua bagaimana?" tanya Abizar.


"Mereka juga tidak boleh tau."

__ADS_1


"Lalu kalau terjadi apa-apa saat operasi nanti bagaimana?"


Reza kembali berpikir ulang. "Saya harap operasi ini berhasil, karena kemungkinan suksesnya cukup besar. Namun, jika suatu di luar harapan terjadi, Kamu harus segera memberitahukan semuanya. Terutama istriku."


__ADS_2