
"Kakak?" Kening Stella berkerut, dan dia kembali menoleh ke arah pria yang mengajaknya bicara tadi. Bangku itu telah kosong. Seluruh bulu roma Stella langsung berdiri dan merinding.
"Lama menunggu?"
"Kak, tiba-tiba aku teringat kamu punya saudara kembar ya?" Stella mengusap tangannya yang merinding karena merasa ngeri.
Devan mengangguk, "Aku pernah mengajakmu ke makamnya kan?"
"Aakk---" Mulut Stella tercekat. Dia bingung harus memulai dari mana.
"Apakah kamu sudah mengunjungi makamnya lagi?"
Devan mengembangkan senyuman lebarnya. "Kami sekeluarga memiliki ritual berkunjung ke sana tiap week end. Kenapa, Sayang? Ada apa?"
Stella tersenyum kikuk menggeleng tipis dan bangkit dengan segera. Devan menyambut tangan Stella dan langsung menuju ke parkiran. Stella masih berjalan dengan linglung menengok ke arah belakang. Tampak sosok pria berpakaian putih mengangguk kepadanya.
Omaigat ... beneran kembaran Kak Devan ...
Bayangan itu kini benar-benar nyata menghilang di depan matanya buyar bagai angin. Stella mengalihkan pandangan pada pria yang sedang menggandeng tangannya ini.
"Dia meninggal waktu masih usia sekolah ya Kak?"
Devan telah membuka jaketnya, bersiap dipasangkan pada Stella. Devan memperhatikan arah pandangan Stella yang terus tidak berpindah ke suatu tempat. Tangannya bergerak naik turun untuk memastikan sesuatu.
Devan menyentuh pundak Stella. Hal ini membuat Stella gelagapan dan wajahnya langsung berubah jadi putih pucat. "Apa yang kamu lihat?"
__ADS_1
"Kak, aku langsung ke rumah saja, ya?" pintanya sedikit ketakutan.
"Baik lah, nanti biar aku yang menjemput mobilmu ke sana. Sekarang aku akan mengatarkanmu pulang. Pakai dulu jaketnya! Angin malam sangat dingin."
Stella menyerahkan kembali jaket tersebut. "Seharusnya aku yang bilang begitu. Kan kamu yang bawa motor. Nanti malah dingin banget kalau tidak pakai jaket."
💖
💖
💖
Waktu telah menunjukan pukul tiga dini hari. Rasa sakit luar biasa menyerang kembali. Aura membangunkan suaminya yang tertidur di atas sofa di kamar rawat tersebut.
"Kanda ... Kanda ...."
"Panggil dokter, suster, atau siapa Kanda ... sakit banget ..." ringisnya.
"Tunggu sebentar ya?" Reza segera keluar memanggil siapa pun yang bisa memeriksa kondisi istrinya.
Perawat pun membangunkan bidan yang kebetulan jaga malam. Lalu segera menuju ruangan tersebut memeriksa kembali kondisi Aura yang tengah menikmati betapa aduhainya kontraksi malam ini.
"Sepertinya Ibu Aura sudah siap untuk melahirkan," ucap bidan dan segera melakukan persiapan untuk dibawa ke ruang persalinan.
Beberapa perawat pria datang hendak menolong Aura pindah ke kursi roda, namun Reza merasa keberatan. "Biar saya yang melakukannya."
__ADS_1
Reza mengangkat tubuh istrinya yang sudah kejang karena sakit yang luar biasa, dipindahkan ke atas kursi roda. Dengan langkah cepat perawat segera membawa Aura ke ruang persalinan. Reza diberi pakaian steril untuk menemani masa sulit ini. Ini pertama kali baginya. Saat kelahiran buah hati pertama dia juga terbaring tak bisa bergerak.
Reza berdiri di bagian kepala Aura. Menggenggam kedua tangan Aura yang menarik dan mengguncang tubuhnya. "Sayang, kamu pasti bisa."
Reza mencium pucuk kepala Aura, terus menenangkan hati Aura. Lambat laun Aura bisa mengendalikan diri mendengar arahan yang diberikan oleh dokter dan bidan.
"Tarik nafaaas ...." Aura menarik nafas sedalam-dalamnya.
"Lepas kan ...." Saat melepaskan, terasa ada dorongan kuat dari rahimnya.
"Lagi, Bu! Tarik nafaaas ..." Kembali Aura menarik nafasm Kali ini tangan Aura berbindah pada kepala Reza yang berada di bagian bahunya. Aura mencakar-cakar bagian kepala Reza.
Reza kebingungan dan kesakitan mendapat cakaran sang istri. Namun, dia pasrah tidak bisa beranjak dan ikut merasakan sakit yang diderita sang istri. Beberapa waktu bergulat, dengan cakaran yang didapat Reza, akhirnya cakaran itu lepas.
"Oooeeek ... oooeeekkk ... oeeekkk!"
Mata Reza menatap bayi merah itu diangkat dan segera dibersihkan. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah berusaha menuruti permintaanku. Kamu lah yang terbaik." Reza mencium pucuk kepala Aura yang telah banjir oleh keringat.
Air mata Reza menetes setelah merasakan betapa beratnya perjuangan yang dilakukan Aura dalam melahirkan anaknya. Ditambah dia lebih sedih lagi mengingat saat Aura berjuang sendiri tanpa dirinya ketika melahirkan anak pertama.
"Maafkan aku tidak menemanimu saat melahirkan Aksa."
Aura mengangguk. "Saat itu, Aksa adalah bayi yang sangat baik semenjak dalam kandungan. Dia menyadari perjuangan ibunya selama dia dalam kandungan. Begitu banyak hal yang terjadi saat dia dalam kandungan."
Bayi mereka yang telah dibersihan, langsung diserahkan kepada Reza. "Bayi perempuannya sangat cantik ... Perpaduan sempurna antara Ayah dan ibunya ..."
__ADS_1
Reza langsung mengumandangkan Azan dan iqomah pada telinga bayi cantik itu. Tak lama, bayi itu kembali diambil dan diletakan pada dada Aura. Bayi itu beringsut mencari sesuatu di dalam tubuh ibunya, dan akhirnya menemukan sumber ASI tersebut.