
Cerita ngga ya? Dia kan sangat memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan jaringan?
"Bang, sebenarnya aku ini--"
"Oh iya-- Eh, maaf. Lanjutkan lah!" Aksa juga merasa tak sabar ingin menyampaikan sesuatu.
"Oh, kalau begitu kamu aja duluan Bang."
"Eh, tadi rasanya kamu yang duluan mau bicara ya? Tiba-tiba aku teringat, takutnya malah lupa," sela Aksa dengan menggebu-gebu.
"Ya, katakan lah. Aku rasa apa yang aku sampaikan bukan hal yang terlalu penting untuk saat ini," ucapnya memilih mengalah.
"Kemarin malam ketika aku baru sampai ke sini, aku lihat informasi Harmony Grup tengah membuka lowongan besar-besaran untuk menjadi bagian mereka. Aku sudah ikut mendaftar, siapa tau rezeki kan?"
Harmony Grup? Bukan kah itu target level selanjutnya?
"Wah, hebat Bang. Emang mau lamar jadi apa?"
"Mereka merekruit karyawan untuk menciptakan Protektor pengamanan dari serangan hacker. Jadi rekruitnya pun secara besar-besaran seluruh negara ini. Mereka menerima karyawan secara online. Keren banget nggak tu?"
"I-iya ... Keren banget."
Waduh, sepertinya aku tidak bisa menceritan bahwa aku adalah salah satu penjahat itu. Protector? Apa sejenis polisi online?
"Kamu doakan agar aku lolos hingga tahap akhir ya? Biar aku bisa memiliki uang yang banyak. Aku ingin mulai menabung untuk masa depan kita."
......blussshh......
Seketika wajah Aura berubah merona, tubuhnya merasa memanas. "Masa depan?"
"Iya, siapa tahu kita berjodoh kan? Jadi, boleh lah aku bisa merajut asa mulai hari ini? Agar tidak menyusahkan orang tua nantinya."
"Bang, aku boleh bertanya nggak?"
Wajah Aksa mulai tegak. Memperhatikan Aura dengan serius. "Pertanyaan apa?"
"Emang sejak kapan suka sama aku? Kenapa sudah memikirkan masa depan seperti ini? Aku bahkan belum memikirkan apa-apa? Usia hubungan kita baru satu hari."
Masuk pesan mengambang dari layar ponsel Aura. Pesan dari Sistem kembali. Sepintas dia membaca bahwa itu peringatan agar Aura segera melaksanakan misi dengan segera.
"Sejak kapan ya?" Aksa terlihat tengah berpikir.
Aura mulai membuka laptopnya, 'Sepertinya memang harus segera membereskan misi hari keempat ini. Agar aku bisa mengerjakan tugas dengan segera.'
"Sedang apa Ra?" tanya Aksa melihat perhatian Aura mulai teralih.
"Aku harus mengerjakan tugas buat besok Bang. Besok hari terakhir di minggu ini. Aaaahh, setelah itu weekend ... ooooh, bebas selama dua hari berturut-turut. Senangnya akuuu." Aura melupakan pertanyaan yang dilemparkannya pada Aksa barusan.
"Jadi Kamu tidak penasaran aku menyukaimu sejak kapan?"
"Oh iya, sejak kapan emang?" Aura mulai membuka sistem DOS, sembari memilih target berikutnya yang sudah masuk ke dalam catatannya.
__ADS_1
"Aku suka kamu sejak kita sekolah lho?"
Seketika wajah Aura fokus kembali pada Aksa. "Aaah, masa sih? Seingatku dulu Abang tu gonta-ganti pacar mulu. Secara jadi cowok populer di sekolah."
"Dih? Aku gak pernah pacaran tauk! Kamu itu pacar dah cinta pertamaku!"
Wajah Aura kembali merona, "Bohong aaah? Aku suka lihat jalan berdua sama cewek, beda-beda terus."
"Aah, bukan pacaran sih itu. Hanya mereka ngajak bicara, menyatakan perasaan, tetapi aku tolak. Kala itu aku ingin fokus sekolah agar bisa masuk kuliah jalur prestasi. Akhirnya yaa, aku bisa kuliah di sini tanpa ikut tes lagi kan?"
"Abang memang cowok paling top yang aku kenal." Aura mengacungkan kedua jempolnya.
"Aaah, aku belum seberapa. Kamu yang lebih top. Bisa kuliah jalur prestasi plus beasiswa kan? Sementara aku tidak bisa mengajukan beasiswa."
"Beda dong, aku ini dari keluarga kurang mampu Bang. Awalnya, sama sekali tak pernah kepikiran untuk bisa kuliah. Bahkan aku berpikir tamat SMA akan dinikahkan oleh orang tuaku. Agar tidak tidak selalu menjadi beban kan."
"Emangnya kamu mau menikah muda?"
"Kalau tidak bisa apa-apa lagi, mungkin itu pilihan yang harus aku jalani."
"Kalau gitu nikah sama aku Yuk?"
"...???..."
💖
💖
💖
"Sudah lah Ma, jangan bahas itu lagi. Aku ke sini karena Papa lagi sakit Ma. Bukan untuk dijodohin! Aku sudah dewasa. Aku bisa menentukan pilihanku sendiri."
"Tapi Mama tahu, kamu itu merasa tidak percaya diri untuk melanjutkan hubungan ke tahap lebih serius. Mama akan carikan istri yang sabar untukmu. Biar tidak membuatmu deg-degan saat mau nganu."
Rezi yang mendengar pertengkaran kakak sulung dengan ibunya mulai bangkit dari sofa. "Sepertinya ini pembicaraan rate dua puluh satu ples. Sepertinya aku harus permisi dulu masuk kamar. Mas, malam ini nginap di sini aja ya? Nanti aku main ke kamarmu, Mas."
"Bocah minggir!" hardik sang ibu.
"Iye, iye ...." Rezi ngacir sambil ngintip.
"Minggiiiir!" kali ini suara sang kakak.
"Ma, ini adalah urusanku. Mama tidak bisa ikut andil dalam pencarian jodohku. Siapa pun itu, aku yang akan memilihnya."
"Ya ikut lah. Mama ini adalah orang tuamu, yang lahirin kamu, yang--"
"Cukup Ma, biarkan saja dia!" Akhirnya suara Barack Adijaya memutus pertengkaran ibu dan anak itu.
"Setelah sekian lama dia pergi, untuk pertama kali dia mau menginap lagi di sini. Biar kan saja dia!" titah Tuan Besar itu.
"Tapi Pa, Mama juga mau menimang cucu dari dia."
__ADS_1
"Jodoh itu sudah ada di tangan Tuhan. Hentikan saja menjodohkan anak dengan teman sosialitamu itu. Dia berhak memilih. Saya sudah lelah! Mau beristirahat! Malah tidak bisa tidur karena kaliah ribut terus."
Sang istri terdiam, membenarkan apa yang diucapkan oleh suaminya. Merasa bersalah, lalu berdiri di sebelah kursi roda suaminya. "Maafkan Mama, Pa. Mari Mama antar ke kamar ya?" Sang suami mengangguk, lalu sang istri mengode anaknya yang sulung untuk segera mendorong kursi roda tersebut.
Reza berjalan ke belakang kursi roda, lalu mendorongnya. "Terima kasih sudah membelaku," ucap Reza.
"Papa harap kamu hentikan permainanmu dengan wanita-wanita itu. Kamu belum sempat meniduri mereka bukan?" ucap ayahnya sembari melirik Reza. Putra sulungnya itu hanya menggeleng kikuk.
Reza teringat beberapa kenangan yang telah berlalu. Setiap akan mencoba melepas puasanya, dia selalu tak sanggup untuk melanjutkan. Debaran jantung yang tak boleh lebih dari normal, membuat dia harus membatasi aktifitas berat. Bagi dia, aktifitas ranjang adalah aktifitas yang berat.
Dia sudah beberapa kali ingin mencoba, tetapi selalu terbangun saat paginya karena sudah pingsan duluan. Setelah itu, jantungnya terasa sakit luar biasa. Sementara saat pacarnya melihat kelemahan Reza, memilih untuk meninggalkan pria itu karena menganggap dia sebagai laki-laki lemah tak berguna.
"Sepertinya Papa punya seseorang yang cocok untuk dikenalkan denganmu."
Sang istri langsung mendelik. "Baru saja Papa menyuruh Mama membiarkan dia mencari jodoh sendiri. Kenapa malah Papa yang ikut menjodohkan?"
"Soalnya gadis ini berbeda dari yang Mama kenalkan sebelumnya. Papa merasa mereka bakalan saling mengisi."
Kening Reza berkerut. Teringat apa yang dikatakan adiknya tadi siang di rumah sakit. Rezi mengatakan Papanya ini sedang berselingkuh dengan mahasiswanya, ternyata untuk dijodohkan dengan dia. Namun, Reza memilih untuk tidak berkomentar.
"Ah, jangan-jangan Papa mau ngasih mahasiswa buat Reza? Coba pikirkan baik-baik lagi Pa. Siapa dia, dari mana asalnya, bagaimana keluarganya, dan apa yang dimiliki oleh orang tuanya!" Nyonya bangsawan ini mulai kembali kepada apa yang sudah tertanam dalam mindset-nya.
"Ma, jika dulu Papa ini bukan siapa-siapa, berarti Mama tak akan menerima lamaranku?"
"Oh-eh ...." Sang istri langsung gelagapan.
"Sudah-sudah ... jangan berantem terus. Udah jadi Mbah-Mbah, masih aja berantem?"
"Mbah-Mbah nya Embahmu?" jawab, dua Mbah itu serentak.
💖
💖
💖
Aura merasa terkekeh sendiri mengingat pembicaraannya dengan sang pacar. "Apaan sih Abang? Sok-sok ngajak nikah? Nyari duit aja belum bisa. Mau makan sama apa coba? Masa nanti aku yang jadi kepala keluarga?" ucapnya terkekeh sambil memasukan rumus untuk kerja sistem DOS-nya.
Pembicaraan mereka telah usai, karena Aura meminta waktu untuk mengerjakan tugas. Dengan segera membalas pesan dari Sistem dan dia mulai menjalani misinya. Meretas keamanan perusahaan level menengah sedang. Kali ini targetnya adalah seller dari perusahaan lokal yang memproduksi sepatu dan sendal murah.
Aura memulai aksi peretasannya, menekan tombol 'Enter' setiap huruf dan angka yang ada terus bergerak. Namun pergerakan panjang tak berkesudahan.
Tak lama masuk sebuah pesan dari Sistem.
[Apa yang Anda lakukan Nona? Kenapa perusahaan itu yang Anda retas?]
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1