
Air matanya kembali terjatuh. Dia teringat sebuah nama yang diberi uang oleh Reza. Dia mencoba menebak arti kode nama yang dibuatkan Reza.
"K. istri ... 'K' itu apa ya? Kedua? Kedua istri? Apa istri kedua?"
Aura bangkit, kembali merasa kesal. Dia membereskan peralatan penting yang dimiliki, memasukannya ke dalam ransel. Dia membersihkan diri sesaat dan bersiap. Aura menyandang ransel tersebut lalu pergi secara diam-diam dari mansion itu tanpa ada yang menyadari dia telah menghilang.
Aura memilih kembali ke rumah indekosnya dulu. Salah satu kamar di rumah kos tersebut masih jadi miliknya. Semua orang memandang ke arah Aura dengan tatapan aneh. Apalagi terakhir kali Aura di sana, dia menghajar salah satu penghuni yang menyebarkan berita buruk tentangnya.
Aura tidak memedulikan tatapan itu. Memilih masuk ke dalam kamar kos yang sudah dipenuhi oleh debu. Sebelum merebahkan diri, dia memilih untuk membersihkan kamar terlebih dahulu. Reaksi orang-orang yang memandangnya, masih sama. Masih dengan tatapan jijik.
Welcome kehidupan gembel seperti dulu.
Aura menghela napasnya dengan panjang, lalu menutup pintu tersebut perlahan. Dia merasa suasana di kosan ini sudah tidak senyaman sebelumnya. Di mana saat itu dia masih menikmati dirinya yang masih berstatus sebagai gadis belia.
Aura duduk di atas kasur yang tanpa dipan itu. Merasakan lelah yang hebat meski pekerjaan yang dia tempuh hanya sekedar menyapu ruangan saja. Aura menyandarkan dirinya pada dinding menatapi kamar sempit yang menjadi tempatnya bernaung selama ini.
"Mungkin, di sini aku tak merasa sepi lagi." Aura kembali merebahkan dirinya meringkuk di atas kasur. Menatap ponsel yang ada di tangannya. Mengharapkan agar suaminya meneleponnya kembali.
💖
Sudah dua malam Reza berada di kantor. Dia menatapi ponsel yang belum juga dipanggil oleh sang istri. Dengan perasaan kecewa kembali dia merebahkan dirinya di sofa ruang kerja tersebut.
Tak lama, ponselnya bergetar. Dia bersemangat meraih ponsel yang ada di meja yang ada di hadapan sofa. Namun, yang meneleponnya bukan lah orang yang ia harapkan.
"Halo, Bi?"
"Tuan Muda lagi ada banyak pekerjaan di kantor ya?"
"Hmmm, anggap saja begitu. Ada apa, Bi? Semuanya baik-baik saja kan?"
"Kemarin, Nona mengurung diri semalaman di kamarnya, Tuan. Tidak makan satu apa pun. Terus karena hinggatadi siang masih belum keluar juga, Bibi cek dia lagi ngapain di dalam kamar. Ternyata, dia udah nggak ada."
__ADS_1
"Bibi pikir, Nona sedang pergi ke kampus seperti kemarin. Tapi hingga malam begini, Nona belum juga kembali."
Reza mengerutkan keningnya. "Kemana dia?"
"Bibi juga tidak tahu, Tuan Muda. Apa kalian lagi ada masalah?" Reza tidak menjawab. Dia sendiri bingung dengan masalah yang dihadapinya. Perasaan, mereka hanya baik-baik saja. Entah kenapa Aura tiba-tiba diam begitu semenjak pagi.
"Harap dimaklumi saja, Tuan Muda. Dia itu masih sangat muda kan? Jadi, dia masih sangat labil. Tuan Muda sebagai orang dewasa---"
"Sudah ya, Bi. Aku tutup dulu!" selanya tak berminat mendengar alasan klise seperti itu.
Reza kembali merebahkan tubuhnya pada sofa. "Jadi kali ini dia pergi diam-diam dari rumah?"
Waktu pun terus berlalu. Aura menjalani hari-hari di kosannya selayak seperti biasanya. Meski orang-orang di kosan bersikap seperti memusuhinya, dia memilih bertahan. Hatinya seakan hancur, suaminya sama sekali tak menghubunginya dan memilih untuk menghapus kontak Reza karena merasa semakin lama membuatnya menjadi semakin marah kepada pria itu.
Aura sudah mulai pada masa perkuliahan. Saat di kampus pun dia sendirian. Hubungannya dengan Stella semakin hambar dan memilih untuk sendiri. Aura pun berusaha menghindari mertuanya di kampus. Tiba lah di saat hasil studi semester lalunya keluar. Dia mendapat indeks prestasi yang lumayan. Dia masih bisa membawa angka itu untuk melanjutkan beasiswa.
Semakin hari, Stella terus memperhatikan Aura. Aura terlihat semakin kurus dan pucat. Kantung matanya menghitam, wajahnya tak ada gairah seperti biasanya. Stella mencoba mendekati Aura, namun dia selalu menghindar. Akhirnya Stella menarik tangan Aura, menariknya menuju tempat yang lebih tenang.
Aura menghirup aroma parfum Stella. Hal ini membuat perasaannya tak nyaman.
hoooeeekk
hooooeeek
Aura berlari menjauh dari Stella, memuntahkan segala yang ada. Stella menautkan kedua alisnya. Dia sering sekali melihat keadaan yang seperti itu saat menonton sinetron ikan terbang. Aura mendekat kembali sambil membersihkan mulutnya. Ini pertama kali baginya bisa mual karena bau parfum.
"Ra, kenapa kamu terlihat menyedihkan seperti ini sih?" Aura sengaja menjaga jarak dari Stella. Dia hanya menggelengkan kepala.
"Kamu hamil, Ra?"
Aura tersentak, baru menyadari. Sesuatu yang telah dia buat bersama Reza. Tamu bulanannya pun sudah tidak pernah datang. Aura terduduk memeluk perutnya. Dia terlihat layu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kamu ada masalah dengan Om Mesum?"
Aura tergelak mendengar sebutan itu. Panggilan yang sudah sangat lama tak pernah ia sebut dan dengar lagi. Aura hanya menundukan kepala melihat mengusap perut dengan kedua tangannya.
"Kami sudah pisah rumah lebih dari sebulan."
"Lhoh? Jadi semenjak kita kuliah, kalian udah nggak bersama lagi? Kenapa?"
Aura tersenyum kecut. "Sepertinya dia telah memiliki yang lain."
"Hah?" Stella sangat terkejut. "Bukan kah dia begitu cinta sama kamu?"
Aura mengedikan bahu. "Mungkin itu hanya perasaanku saja. Kenyataannya dia masih sama seperti yang dulu. Diam-diam menghubungi wanita lain. Bahkan memberikan uang pada wanita itu."
"Lalu kenapa kamu terus menghindariku selama ini?" sela Stella.
"Aku hanya insecure pada diriku sendiri. Apalagi aku ini hanya ... hanya wanita terbuang." Aura memeluk perutnya. Sesuatu yang dulunya begitu diinginkan oleh Reza, ternyata benar-benar telah bersemayam dalam rahimnya.
"Apa dia tahu, kamu hamil?"
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya.
Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun kelima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack.
Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun, Zack telah memiliki keluarga kecil.
Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?
__ADS_1