
"Kalau begitu, kamu tidak boleh pergi dari sini! Kamu harus tetap menjadi budakku! Sebagai hukuman karena kau sudah mengkhianatiku sedari awal!" ucap Marcell dingin dan pergi masuk ke ruangan dan mengunci diri.
Aura melirik ke arah Jendra. Jendra mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu malah membuatnya marah?" bisik Jendra.
Aura mengedikan bahu. "Boos mu itu gila!" rutuknya. "Bukannya dulu dia berkata hanya sekali aja retas kelas internasionalnya?"
Jendra tidak memberi jawaban. Dia hanya memberi kode agar Aura segera masuk kembali ke ruangan tadi. Aura mengecek pintu luar. Pintu tersebut ternyata dalam keadaan terkunci.
"Kamu pikir dia akan lengah begitu aja?" gumam Jendra melirik ke arah pintu di mana Marcell berada.
"Kenapa kau betah sekali bekerja dengannya?"
"Terpaksa. Aku sudah janji menjadi pengganti teman-teman yang lain. Jika aku kabur, maka keselamatan orang tuaku jadi taruhannya. Satu cara agar aku benar-benar bisa bebas dari dia adalah, saat CIA berhasil menangkapnya. Baru lah aku bisa bernapas lega." terang Jendra.
"Terus kenapa kau berusaha membantu kami?"
"Ya, aku hanya tak ingin dia terus terobsesi padamu. Apalagi kamu mengatakan sedang hamil." Jendra melirik ke arah pintu ruang Marcell tadi.
"Semoga aja dia tidak semakin gila," tambahnya lagi. Jendra membuka kunci di mana Reza berada. Dia tampak menyambut istrinya dengan suka cita. Reza menyambutnya dengan ciuman pada Aura secara bertubi-tubi.
Heh, pasangan ini lama-lama ngeselin juga.
Pintu kembali ditutup oleh Jendra dari luar. Reza menarik Aura duduk di lantai dalam rangkulannya. "Bagaimana Sayang? Kali ini berhasil?"
Aura mengangguk. Pelukan kembali melayang pada tubuh Aura. "Istriku emang the best kalau jadi peeenjahat begini."
Aura hanya mengangguk bersandar dalam pelukan Reza yang selalu memanjakannya. Bersandar dari lelahnya menjadi gadis kuat. Bersandar pada seseorang yang bisa membuat harinya yang abu-abu menjadi lebih berwarna.
💖
Tiba pada waktunya pukul setengah dua dini hari. Terdengar suara kunci pintu dibuka dengan hati-hati. Pintu dibuka dengan perlahan, dan kepala Jendra mengintip memberi aba-aba agar kedua orang tersebut keluar dari ruangan ini.
"Kenapa lama sekali?" tanya Reza.
"Minuman yang saya kasih obat tidur baru diminumnya beberapa waktu lalu. Dari tadi dia sibuk mantau anak-anak yang lain." terang Jendra.
Aura menggenggam tangan Reza menganggukan kepala. Mereka terlebih dahulu mengikat Marcell yang benar-benar sudah sangat lelap seperti tak akan bangun.
"Kalian ikat aku juga! Biar aku di sini dengannya. Jangan lupa, langsung laporkan pada pihak kepolisian!"
Mata Aura menatap Jendra dengan sedikit kerutan di keningnya. "Kalau aku melapor pada pihak kepolisian, kamu juga akan ikut tertangkap bersamanya."
__ADS_1
"Tak apa lah tertangkap sekalian bersamanya. Yang penting, dia mendekam di penjara. Tidak mengganggu keluargaku juga."
Reza mulai mencari tali untuk diikat pada Jendra. Aura pun teringat akan sesuatu. "Aku harus membantu mereka semua lepas."
Jendra sudah diikat oleh Reza. Mulutnya telah diberi lakban. Jendra menganggukan kepala menandakan bahwa dia telah boleh ditinggalkan dalam satu ruangan yang sama. Reza menutup pintu tersebut memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Aura.
Aura tengah berada di hadapan CP yang sangat banyak. Dia tengah memantau hasil kerja bocah hacker yang tak lain bernasib sama dengannya. Aura mulai menulis sesuatu yang akan dikirimkan kepada budak hacker yang dinaungi oleh Sistem Kekayaan.
*Mulai h**ari ini, kalian bebas* ...
*Jalani hari kalian dengan cara yang lebih positif ...
Kalian adalah calon penerus yang akan membangun bangsa ini menjadi lebih baik ke depannya.
Sistem Kekayaan Hacker ini, akan dihapus mulai detik ini juga*.
Usai menulis pesan tersebut, Aura mengirimkan kepada semua budak hacker yang dimiliki si Tuan Sistem bernama Marcell. Setelah itu dia kembali sibuk menyetting program ciptaan Marcell dengan men-delete untuk selamanya.
Terima kasih atas semuanya. Karena Sistem ini lah, aku bisa merasakan betapa asiknya bermain dalam peretasan ini. Meski itu semua telah menjerumuskanku kepada sebuah lubang yang dalam. Semoga, tak ada lagi korban selanjutnya.
Aura melirik lelaki yang ada di sampingnya. Lelaki yang menjadi suami dadakannya karena Sistem ini juga.
Satu hal yang tak akan pernah aku lupakan kenangan terhadapa Sistem ini ialah, memberikan suami seorang Reza Firto Adijaya.
Perusahaan yang ada di Perancis, tengah mengusut siapa pelaku di balik kekacauan data milik perusahaan mereka. Mereka sempat merekam beberapa detik wajah Aura sesaat sebelum meninggalkan lokasi. Bagian IT dan hacker perusahaan tersebut tengah melacak siapa pelaku tersebut.
Sementara diam-diam Marcell menyunggingkan senyuman sinis membuka mata saat mengetahui bahwa tawanannya telah kabur. Marcell menarik pisau yang sengaja diselipkannya di pinggang celana bagian depan dan belakangnya. Dia sudah menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh Jendra yang diam-diam memberikan surat kepada Aura.
Dia pura-pura meminum minuman yang diberi oleh Jendra. Dan ternyata, Jendra diam-diam mengkhianatinya untuk yang kedua kali. Marcell memutuskan tali yang mengikatnya.
Dia duduk dengan seringai mengerikan di wajahnya. Jendra yang sadar pergerakan Marcell, membuka mata. Marcell mengayungkan tangannya menancapkan sesuatu pada jantungnya.
💖
Pada malam berikutnya, Reza dan Aura mengistirahatkan diri di rumah mereka. Mereka sudah melaporkan peristiwa yang tadi mereka alami kepada pihak kepolisian. Aura sedang tiduran dalam pelukan Reza di atas kasur. Reza membelai rambut panjang istrinya mengenang peristiwa yang baru saja terjadi.
tok
tok
tok
__ADS_1
Dari luar kamar terdengar suara ketukan pintu. Aura hendak bangkit membukakan, namun dihalangi oleh Reza. Reza yang turun dari ranjang bergerak membukakan pintu.
"Ada apa, Bi?"
Bibi melirik ke stand telepon rumah dengan wajah sedikit ragu. "Ada telepon dari pihak kepolisian, Tuan."
Reza berpikir sejenak, lalu bergerak mengangkat gagang telepon tersebut. "Halo, ini dengan saya Reza."
"Selamat malam, Pak Reza. Berdasarkan laporan yang Anda berikan tadi, kami menemukan sosok jenazah pria muda di sana."
Wajah Reza menegang. "Maksudnya?"
"Seorang mahasiswa dari Universitas Negara ditemukan tewaaas karena tikaman sen jata ta jam. Pria muda itu bernama Jendra, mahasiswa tingkat akhir di kampus tersebut."
"Apaa? Lalu bagaimana dengan pria yang satu lagi?"
"Kami hanya menemukan satu sosok orang tersebut. Lalu kami menyita beberapa unit perangkat komputer yang ada di sana."
Reza menatap Aura yang telah berada di sisinya. Aura menatapnya dengan wajah heran. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan nasib Jendra kepada kekasih hatinya ini.
💖
💖
💖
ayo reader tersayang, mampir juga pada cerita yang ditulis oleh teman Author ini yaaa ...
napen: nunuk pujianti
judul: MENDADAK NIKAH
blurb:
Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat.
Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan.
"Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!"
Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?
__ADS_1