
"Eh, kamu siapa? Jangan bilang kalau kamu itu sugar baby Papa saya ya?" Gadis itu berkacak pinggang memandang Aura dengan nanar.
"Bu-bukan Mba. Saya mahasiswa Beliau. Ta-tadi saya yang--"
"Rezi, Kamu sudah sampai?"
"Mba, Mba? Emangnya saya ini Mba-mu?" Wajahnya sedikit terangkat. Menilai Aura dari atas ke bawah.
Aura yang merasa tidak enak dilihat seperti itu berdiri memijit jemarinya karena gugup. Dia merasa takut anak sang dosen menuntutnya lebih lanjut lagi. Wajah gadis yang bernama Rezi ini terlihat sangat tidak bersahabat.
"Jadi kamu itu siapa? Gadis penguntit?" Masih mencecar Aura, yang tampak sangat tidak selevel dengan dia. Rezi terus menilai penampilan gadis itu.
Bajunya bermerek sih, tapi aku lihat di salah satu departmen store langgananku dia memakai pakaian beli satu gratis dua. Celananya? Iiih, enggak banget? Sepatu kets? Helloow, gadis mana yang masih pakai sepatu kets lima puluh ribuan itu dibawa ke kampus? Ckckck .... Jangan-jangan dia beneran mau menggaet Om-Om kaya raya seperti Papaku? Tak akan aku biarkan!
"Rezi, bisa kalem dikit nggak sih?" Pak Barack berpindah duduk ke kursi roda. "Saudari Aurora, Anda boleh kembali ke fakultas. Anak saya sudah datang, saya rasa Anda sudah bisa kembali!"
"Ba-baik Pak. Sekali lagi maafkan saya Pak," ucapnya berjalan mundur keluar dari ruangan.
Rezi bersidekap tangan di dadanya, menduga-duga apa yang terjadi. "Apa Kamu berada di sisi Papa saya di saat Beliau terjatuh tadi? Sudah sejak berapa lama Kamu dekat dengan Papa saya?" Rezi masih bersemangat menyerang Aura. Dia merasa sangat mencurigai gerak-gerik gadis ini.
"Maaf kan saya Mba. Saya lah--"
"Sudah! Rezi, Kamu ini mau menemani Papa atau mau marah-marah?" sela Pak Barack.
Rezi berjalan ke sisi sang ayah. Tangannya masih terlipat menatap Aura dengan sudut matanya. "Aku tadi sedang kuliah Pa. Terpaksa meninggalkan kuliah gara-gara masalah ini. Padahal materiku tadi susah banget lho? Lagi mencoba membedah jenazah yang sudah patungan kami beli, di ruang praktik."
"Oh, ya udah! Kamu balik kampusmu saja sanah!" Sang ayah akhirnya merajuk.
"Oh-oh, tentu Papaku yang nomor satu dong."
"Mamamu kenapa belum datang?"
"Tadi Mamah lagi ngumpul sama teman-teman sosialita, katanya buat nyari jodoh berikutnya buat Mas Reza yang gagal melulu," terang sang gadis bernama Rezi itu.
"Kan sudah gagal terus? Kenapa masih dicarikan juga?" tanya sang Ayah.
"Lagian Papa dengar dia punya banyak pacar, jadi Papa rasa tidak perlu dijodoh-jodohkan segala? Atau Papa ikut mencarikan jodoh buat dia juga?" Sang dosen sejenak melirik Aura.
Entah kenapa saya merasa dia akan sangat cocok dengan Reza, batin Pak Barack sembari memperhatikan Aura.
"Tauh tuh Mamah, biasalah Mamah Pa. Tidak punya kerjaan, jadinya nyari kegiatan agar terlihat sibuk," terang Rezi.
__ADS_1
Iiih, kenapa Beliau melihatku seperti itu ya? Berasa akan melemparkan aku ke anaknya yang bernama Reza itu, batin Aura. No, no, ..., Babang Aksa sudah bertahun-tahun tumbuh di hatiku. Ini baru bersemi sejak tadi malam. Aaah, aku merasakan ada sesuatu yang terlupa. Kira-kira apa ya?
"Maaf Pak, Mba .... Saya pamit balik dulu. Semoga Pak Barack kembali sehat seperti sedia kala." Aura menundukan kepalanya, berjalan mundur beberapa langkah lalu berbalik meninggalkan ayah dan anak itu.
"Pa, siapa dia?" tanya anaknya yang bernama Rezi itu.
💖
💖
💖
Aksa yang sejak tadi belum mendapat balasan pesan dari Aura, mulai merasa khawatir. Membayangkan sesuatu yang tidak-tidak terjadi pada Aura.
[Ra, Kamu baik-baik saja?]
Akan tetapi pesannya belum dibalas juga.
"Bro!"
Sentuhan tangan dari sahabatnya Cakra membuat dia terkejut. "Eh, Cak?"
"Kenapa wajahnya terlihat ngenes gitu? Sambil liatin hape sejak tadi? Lu udah punya cewek ya?"
"Yaaa, biasanya gitu? Emang lu lagi apa?"
"Ya, lagi baca-baca informasi lowongan aja. Lu udah baca Harmony Grup lagi rekruitmen orang-orang dari disiplin ilmu IT?" ucap Aksa. "Mereka nerima mahasiswa juga nih."
"Lah? Mau ikut itu juga? Ini aja aplikasi kita belum ada kabar mau diberi bantuan apa kagak. Oiya, kemarin lu pulang telat buat ketemu salah satu cewek kemarin kan? Yang mana orangnya? Yang rambut panjang, apa yang sebahu?" tanya Cakra kepo.
"Yang rambut panjang lucu juga, yang rambut pendek imut banget. Yang rambut panjang buat gue aja gimana?" Aksa langsung menoyor kepala Cakra.
"Oh, jadi yang rambut panjang," gumamnya.
"Kira-kira bagaimana kabar proposal kita ya? Menurut lu gimana kemarin saat gue mempresentasikan di depan pimpinan Harmonynya?" tanya Aksa.
"Keren banget kemarin tu. Pimpinan Harmony pun terlihat sangat tertarik dengan program yang kita rancang. Semoga saja mereka menerima proposal dan menurunkan dana buat kita ya? Syukur-syukur, kita bikin perusahaan sendiri dan diangkat menjadi salah satu anak perusahaan dari Harmony Grup." Cakra menangkupkan tangan ke wajahnya.
"Aaamiin," Aksa juga menangkupkan kedua tangan di wajahnya.
"Ya udah, kita makan dulu. Abis isoma ini ketemu materi bikin mumet," ajak Cakra.
__ADS_1
"Hayuk lah, perut gue juga udah ngajak ajojing sejak tadi," canda Aksa.
💖
💖
💖
"Zar, saya mau ke tempat Papa saya dulu. Saya dapat kabar dari Rezi kalau Papa tadi jatuh di kampus dan saat ini sedang berada di rumah sakit. Karena ada meeting penting, terpaksa saya selesaikan dulu. Sekarang semua sudah beres, jadi saya mau cabut dulu." Reza memasukan beberapa benda dan anak-anaknya ke dalam tas kerjanya.
Sedari kemarin, anak-anak elektroniknya itu mendapat pesan dari banyak klient, atas ajakan dating, alias kencan. Reza mulai merasa lelah menjalani profesionalitasnya yang masih 50% sebagai playboy cap kelinci. Sehingga banyak pesan yang terabaikan olehnya.
Dengan segera Reza menuruni gedung perkantorannya. Karyawan-karyawan di sana hanya melihat kelakuan sang big boss setiap melihat cewek seksoh digodain terus. Dicolek, lalu dikedip. Setelah kepergiannya, para karyawan bergosip kembali tentang Rina mengundurkan diri gara-gara telah mengandung anak Reza. Gosip itu tengah hangat jadi perbincangan para karyawan.
Reza sudah mengendarai mobilnya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan saat berada di rumah sakit nanti.
Papa ada di rumah sakit universitas, kalau tidak salah ada klient kelimaku yang jadi dokter di sana. Tak apa lah, sekalian jumpa dengannya. Walau rada malas juga.
Sekarang klient-ku sisa berapa ya? Empat orang sudah gugur dalam waktu yang singkat.
Reza masih asik dengan pikirannya sambil menyetir kendaraan. Dia sudah memasuki area rumah sakit universitas. Di area pejalan kaki, matanya menangkap sosok gadis mie instan berjalan sendirian dengan menunduk lesu.
"Dia lagi, dia lagi? Kenapa hanya ada wajah dia di dalam novel ini?" Reza menggeleng sejenak lalu melanjutkan perjalanan.
Reza menelepon Rezi adik bontotnya. "Dimana?, ... hmmm, baik lah aku segera ke sana." Reza memasuki area parkiran dah menghentikan kendaraannya. Dia segera turun dan setengah berlari mencari keberadaan keluarganya.
Reza memanyakan pada salah satu perawat lokasi ruang rongent. Setelah memahami posisinya, Reza melihat seseorang seperti sosok pacar kelimanya. "Kalau tidak salah namanya Ana," gumamnya.
"Ana?" ditutupnya mata perempuan berpakaian dokter itu.
"Siapa ini?" tanya perempuan itu.
"Ayo tebak ini siapa!"
"Siapa? Sungguh aku tidak kenal dengan suara Kamu. Lagian jangan begini di depan umum! Kita ini berada dalam pelayanan publik. Harus bisa menjaga sikap!" ucap perempuan itu dengan tegas.
"Mas Reza? Apa yang kamu lakukan?" suara perempuan lain memakai jas putih, sedang berjalan dengan seorang pria mengenakan warna jas yang sama.
"Ana? Kenapa Kamu di sana??"
...*bersambung*...
__ADS_1
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...