
Genggaman Aura semakin erat. Dia mulai menduga-duga akan kemungkinan yang terjadi. Akan tetapi, orang yang menangkapnya kemarin sudah mengetahui posisi keberadaannya saat ini.
Seharusnya dia mencariku langsung ke sini?
Aura mulai ragu, Stella entah hilang ke mana? Apakah masih berkaitan dengan Tuan Sistem, atau ada orang lain lagi yang melakukannya?
tok
tok
tok
Terdengar kembali ketukan dari pintu luar kamar. "Ya, Bi?" sahut Reza
"Tuan Muda, ada sebuah pesan yang dimasukan lewat celah bagian bawah pintu rumah."
Reza langsung bangkit bergerak membuka pintu dengan kecil. Dia tak ingin Bibi melihat keadaan istrinya yang saat ini masih belum berbusana. Bibi menyerahkan surat kaleng tersebut lewat celah pintu.
"Makasi ya, Bi."
Reza kembali menutup pintu, melihat wajah serius istrinya yang masih berbicara dengan Devan. Reza duduk kembali di dekat Aura. Dia membuka lipatan dan membaca selembaran surat kaleng tersebut.
Halo Nona Hacker
Apa Kamu mengenal seseorang bernama Stella L. Kesuma Nengtyas?
Jika Kamu ingin dia selamat, bercerai lah dengan Reza Firto Adijaya itu. Aku akan menerima status jandamu.
Marcell--Tuan Sistem kesayanganmu
Aura masih serius berbicara dengan Devan. Jadi, dia belum membaca isi surat tersebut. Reza langsung merobek lembaran kertas tersebut
Enak aja main suruh kita cerai? Gue aja belum berhasil membuka segelnya juga? "ck"
__ADS_1
Jadi mereka benar-benar sudah tahu lokasi apartemen ini? Sepertinya harus cari tempat baru lagi.
Reza merebut ponsel yang masih dipegang Aura. Mereka berdua masih serius berbicara lewat telepon. Reza langsung menutup panggilan yang masih belum usai itu. Mata Aura menajam kesal.
"Kamu mandi lagi sanah! Setelah itu kita akan makan malam."
Reza masuk ke kamar mandi, tak lama dia telah menyelesaikan pembersihan dirinya. Digantikan oleh Aura yang tak kalah kilat mandinya.
Saat Aura keluar, Reza telah mengenakan pakaian dengan rapi. Melihat istrinya selesai mandi, dia membuka lemari, mencarikan pakaian untuk Aura bersama daleemannya. Reza mengambil br*a untuk dipasangkan pada istrinya.
"Angkat tanganmu!"
Aura mengangkat tangannya. Handuk yang menutupi sesuatu terlepas memamerkan milik indah sang istri. Reza mengecupnya sejenak lalu memasangkannya dengan seksama. Menyugar rambut yang menutupi leher, lalu membisikan sesuatu.
"Sepertinya akan lebih leluasa membuka kuncinya saat kita berbulan madu. Kamu mau kemana, Sayang?"
Aura menepis tangan Reza. Mengenakan pakaian itu sendiri hingga selesai. Reza mengambil mesin pengering rambut lalu mendudukan istrinya di depan meja rias. Reza mulai menyalakan, terdengar suara nyaring dari mesin itu. Reza menembakan angin yang berasal dari benda itu ke arah rambut Aura.
"Ternyata aku tak bisa marah berlama-lama kepadamu," rutuknya.
"Ooh, Kamu lebih suka saat aku marah ya? Agar diserang seperti tadi lagi kan? Kamu terlihat sangat menikmatinya."
Wajah Aura merona, dia tidak memungkiri itu semua. "Kenapa masih cemburu? Semua milikku sudah Kamu cicipi."
"Belum," ucap Reza kalem masih sibuk menembakan pengering rambut tersebut. "Aku akan puas jika sudah bisa mengh@milimu!"
Aura menggeleng. "Aku belum mau!"
"Harus mau! Sudah berapa kali kukatakan! Kamu tak usah memikirkan biaya. Aku sanggup membiayai semua." Reza mulai menyisir rambut Aura dan mencabut kontak pengering itu.
"Akan susah dong kuliah dalam keadaan hamil dan punya anak."
"Kamu jangan mengkhawatirkan itu! Aku akan menjamin kenyamanan semasa kehamilanmu. Nanti kita akan bayar baby sitter untuk mengasuh anak kita."
__ADS_1
Aura memegang perutnya. Membayangkan dirinya saat hamil seperti apa. Membulatkan pipinya saat semakin gendut saat hamil nanti.
"Tenang, Sayang! Bagaimana pun, Kamu akan tetap cantik bagiku." Reza mengelungkan lengannya dari belakang, dan mencium pipi istrinya ini.
"Apa Kamu bersedia, jika rahimmu akan diisi oleh Reza dan Aura versi junior?"
Aura terlihat berpikir kembali. Sembari berpikir, Reza terus memeluknya dari belakang menempelkan pipi mereka. Akhirnya Aura tersenyum dan mengangguk. Akhirnya kali ini dia merasa yakin, bisa menjalani semuanya dengan sang suami.
Reza melepaskan pelukannya. Tangannya menarik Aura. "Kalau begitu, ayo kita makan dulu! Setelah itu ada yang ingin aku sampaikan kepadamu." Aura mengangguk, dan bangkit bergelayut pada lengan suaminya.
Meski Reza tak setampan Aksa, dia merasa yakin saat ini telah mencintai Reza. Meski tadi sempat goyah, saat melihat Aksa, namun hatinya telah hampir dipenuhi oleh nama Reza. Mungkin sesaat lagi dia tidak akan bersedih lagi jika melihat Aksa.
Reza menyuapi Aura sambil bersenda gurau. "Kamu makan yang banyak dong. Masa istri CEO kurus kering begini? Apa kata orang melihat istri seorang CEO seperti kurang gizi seperti Kamu? Mana bisa kuat nanti saat hamil?"
Aura pun mencibir. "Nanti kalau udah gendut malah dibilang gak bisa menjaga diri? Lalu selingkuh sama yang lebih muda?"
Reza berpikir sejenak. Saat ini saja usia mereka terpaut hampir sepuluh tahun. "Hmmm, aku rasa aku tidak bisa mengimbangi permainan anak-anak piyik di bawah usiamu. Usiaku juga belum tentu sepanjang usiamu. Aku semakin tua, sementara Kamu masih muda."
Aura mengerutkan keningnya dan menggeleng. "Jangan berkata seperti itu lagi!"
Bibi yang memperhatikan setiap kemesraan mereka, hanya bisa memainkan celemek. Tiba-tiba dia rindu kepada mendiang suaminya yang telah lama pergi.
"Ah, kalian selalu membuat Bibi iri. Jangan mesraan terus tiap hari begini!" candanya.
"Ayo, nikah lagi, Bi!" ucap Reza merangkul Aura.
"Bibi ini udah tua. Enam puluh tahun, mana ada yang mau? Lagian sebentar lagi Bibi akan sibuk mengasuh anak-anak kalian."
Reza kembali mencium pipi Aura. "Iri lagi nggak, Bi?" Aura hanya bisa terkekeh melihat kedekatannya pada Bibi asisten ini.
Setelah acara makan usai, Reza mulai memasang wajah serius. "Kamu tahu di mana lokasi Marcell yang menculikmu itu?"
"Lupa-lupa ingat sih. Kenapa?"
__ADS_1
"Ayo kita ke sana! Stella diculik olehnya."