CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
156. Cameo= figuran


__ADS_3

"Aura ... kenapa saat ini kamu bisa jadi hacker gila seperti ini? Padahal, aku tak pernah mengajarkanmu seperti ini dulunya." Aksa menggelengkan kepalanya. Kembali mencoba menyusup untuk membuka kunci yang dilakukan Aura secara diam-diam.


Di TKP, Via menepuk-nepuk pipi Romi untuk menyadarkannya. Perlahan, Romi bangun dan melirik ke segala sisi. Dia melirik ke kiri dan ke kanan.


"Apa yang terjadi Rom?"


Romi menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu, ketika asik membuat program, tiba-tiba dia memukul kepalaku."


Via membesarkan matanya. Aura pun tersentak langsung membayangkan orang yang dimaksud. Aura keluar dari mobil melihat ke segala sisi. Memperkirakan arah pria itu lari.


"Siapa yang memukulmu?" tanya Via kepada Romi.


"Marcell."


"Sekarang bagaimana keadaanmu?" Romi menganggukan kepala dan menujukan tanda jempol.


"Yang lain pada ke mana?" Romi menggelengkan kepala lemah.


Via beringsut keluar dari kendaraan tersebut. "Kamu istirahat dulu sejenak. Kami akan mencarinya." Pintu mobil ditutup dan Via memanjat naik ke atas mobil. Memutar fokus teleskop mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.


Dari dalam teleskop, akhirnya Via berhasil melihat ketiga anak-anak besar milik Jimmy. Tampak ketiga bujang itu tengah hajar-hajaran melawan Marcell. Di dalam teleskop tersebut, terlihat Marcell adalah merupakan seorang petarung yang tangguh. Via bergerak turun dari atap mobil dan bergerak menuju tempat tersebut diikuti oleh Aura.


Via mulai mengeluarkan bius dengan kadar yang lebih tinggi. Kali ini bius tersebut dimasukan ke dalam sebuah suntik yang cukup besar. Setelah itu, Via berlari diikuti Aura dengan langkah cepat. Akhirnya, mereka menemukan empat orang yang saling beradu kepalan tinju.


"Apa kalian bisa membuatnya tenang beberapa saat?" tanya Via.


Ketiga bujang mengangguk mantap dan mulai mencoba menahan Marcell. Dino melayangkan kepalannya ke arah perut Marcell. Jason bertugas menarik kaki Marcell hingga terjatuh. Dery bertugas menahan tubuh Marcell dan duduk di atas tubuhnya. Dengan sigap Jason duduk di atas kaki dan menahan kaki Marcell yang terus meronta.


Via berlari dengan langkah cepat. Segera menancapkan suntikan berisi bius ke paha lelaki kuat itu. Tak lama dua mobil rumah sakit datang. Dari dalam keluar para bujang berpakaian warna warni. Ada yang berwarna putih, hijau, biru. Terakhir sang Papa muncul melepas jas putih yang tadi lupa ditinggal karena sudah panik duluan saat Via, istrinya menelepon.


"Selamat, kalian datang terlambaaat!" rutuk Dino dengan alis naik sebelah. Wajahnya telah penuh dengan lebam bekas pukulan. Begitu juga dengan Jason, dan Dery. Mereka masih menahan Marcell hingga rontaan pria tersebut terasa makin lamban.


Jimmy langsung memeluk tubuh Via. "Apa kamu tidak apa-apa sayang?"

__ADS_1


Aura melihat betapa khawatirnya Jimmy terhadap istrinya yang bagi Aura sungguh kuat dan hebat. Tiba-tiba, Aura merindukan suaminya yang masih tertahan di kantor polisi. Via tampak menyunggingkan bibir dan tersenyum. Melihat para bujang penghuni rumah sakit mereka telah hadir untuk menangkap satu pria ini.


"Maaf kan aku, sudah membuat kalian semua repot seperti ini." Aura mendekat kepada pasangan yang masih dalam adegan mesra itu.


"Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu setiap beraksi kembali seperti ini. Apa kamu tidak bisa duduk tenang mengasuh dua kembar kita yang masih butuh pelukan Mamanya?" ucap Jimmy mencium kening Via.


Ya elah, dicuekin ...


Aura menyandarkan dirinya pada kendaraan yang sedang parkir di sana. Dia merasa hanya sekedar cameo di antara orang-orang ini. Aura hanya bisa melihat Marcell tersebut benar-benar diikat dari pundak hingga ujung kaki dengan sebuah tali tambang. Aura menggelengkan kepala melihat aksi orang-orang yang berpakaian rumah sakit ini.


Setelah semua siap, mereka membawa Marcell langsung ke pihak kepolisian. Para pasukan polisi terlihat heran, mengapa ada ambulance membawa orang dalam keadaan terikat.


"Kenapa bawa pasien ke sini? Ini seharusnya tugas pihak rumah sakit!" ucap salah satu anggota.


"Ini orang sakitnya bukan sekadar sakit biasa. Ini sakitnya harus diobat di dalam tahanan!" ucap Dino.


"Ini semua ulah pria itu!" Dino menunjuk Romi, Jason, dan Dery yang penuh dengan luka.


Aura segera mencari Reza ke bagian penahanan sementara. Tampak sang suami sedang meringkuk di dalam sel. Melihat kehadiran Aura, Reza segera bangkit dan berdiri di hadapan jeruji besi.


"Kanda, apa yang terjadi? Kenapa mereka memasukan kamu ke dalam sel?"


Reza menggelengkan kepala. "Bagaimana hasilnya? Kamu baik-baik saja kan Sayang? Wajahmu terlihat sangat pucat."


"Aku tak apa. Hanya sedikit lelah mengurus pria gila itu. Dia cukup merepotkan." Aura menggenggam jemari yang menggenggam jeruji besi tersebut.


"Aku akan meminta Kapten gila itu melepaskamu." Reza mengangguk dan Aura segera mencari Kapten I Bagus Suska.


Ternyata sedang terjadi perdebatan antara Via dan Kapten tersebu. Aura hanya mendengar teriakan dan gebrakan meja yang saling dipukul oleh mereka berdua. Aura tak habis pikir dengan watak Via yang sangat luar biasa. Memperhatikan Jimmy yang terlihat lebih kalem dan tenang.


Mungkin itu yang dinamakan jodoh kali ya? Di antara wanita dominan, di isi oleh laki-laki yang lebih tenang seperti dokter Jimmy. Kalau aku gimana ya?


Terlihat pintu dibuka dari dalam.

__ADS_1


"Aku tak menyangka, Anda kembali seperti dulu setelah saya kembali. Anda sungguh membuat saya dan warga negara ini kecewa!"


braaakk


Wajah Via terlihat sedikit merah dengan nafas memburu akibat amarah, mendorong pintu tersebut dengan sangat keras. Semua pria yang ada di sana hanya bisa mengernyitkan dahi. Tampak Jimmy mendekat dan membelai rambut Via. Jimmy hanya memberi anggukan tampak wajah Via sedikit lebih tenang.


Ini namanya p**awang Mba Via kali ya?


Setelah itu, Via berjalan mendekat menuju tempat Aura berdiri. "Kamu sabar dulu ya? Semoga setelah ini akan membuat mulutnya bungkan setelah kembali dari labor."


Aura menganggukan kepala. "Maaf ya Mba? Udah merepotkan?"


"Ini adalah tugasku sebagai penyelidik. Aku pergi dulu sejenak."


Semua anggota yang dibawanya mengikuti di belakang. Via merasa sangat heran melihat semua yang ada. Dia terus memikirkan, 'Siapa sebenarnya orang-orang rumah sakit itu?'


Setelah itu, giliran Aura yang masuk ke dalam ruang kerja Kapten I Bagus Suska. Wajah pemilik ruangan ini tak kalah merah dan menatap Aura dengan tajam. Aura duduk di kursi yang tersedia tanpa disuruh. Saat Aura akan berbicara pada Kapten tersebut, sang Kapten sudah bersuara terlebih dahulu.


"Kau ...!!!"


💖


💖


💖


Ayooo kakak, mampir juga pada karya temen Author yang kece ini.


napen: Teh Ijo


judul: Jerat Hasrat Sang CEO


__ADS_1


__ADS_2