CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
108. Buatan istriku


__ADS_3

Marcell kembali mengecek alat pelacak yang disematkan dalam laptop yang diserahkan pada gadis hackernya. Titik alat pelacak itu tidak berubah semenjak semalam.


"Sepertinya dia sudah tahu alasan mengapa dia ditemukan di kediaman CEO Harmony itu." Marcell kembali mengecek kedekatan antara gadis hackernya dengan korbannya CEO Harmony Grup tersebut. Namun, masih belum terlihat juga hasil yang dia harapkan.


"Dia sengaja meletakan benda itu di kantor polisi, sungguh sangat cerdas! Tapi, aku masih memiliki ratusan mata lainnya yang bisa memantau keberadaannya."


Marcell mulai membuka CCTV penjuru kota ini. Semua CP yang ada, digunakan untuk memantau keberadaan Nona Hacker. Mencoba menghubungi kontak yang pernah dia gunakan, itu seperti usaha yang sia-sia.


Mengecek kinerja budak-budak lain yang baru saja berhasil dijeratnya. Membuat pundi-pundinya terus bertambah. Namun, Aura bagai gadis istimewa baginya. Watak arogan gadis arogan tersebut membuatnya terpikat. Dia sungguh berbeda dengan yang lain hanya patuh menuruti perintahnya. Kadang membaca balasan pesan dari gadis itu membuatnya terkekeh sendiri.


"Ke mana Kau Nona?"


💖


Reza dipaksa mencicipi semua makanan yang telah dibuat oleh Aura tadi. Aura menopangkan wajah pada kedua tangannya. Dia mulai merasa berdebar menunggu penilaian dari lidah orang tak biasa seperti suaminya ini. Reza terlihat tersandar karena begah.


"Kamu masak kebanyakan? Apa Kamu menginginkan anak sepasukan tim sepak bola?"


Aura masih menunggu hasil penilaian dari suaminya. Melihat semua masakan dicicipi oleh suaminya ini, membuat perasaannya cukup senang. Melihat Reza makan dengan lahap, membuatnya ikut merasa kenyang.


"Kamu sendiri kenapa makannya dikit sekali? Bukan kah udah kelaparan semenjak semalamamm"


"Aku masak buat suami. Lagian selama masak, sudah banyak comot ini itu. Bagaimana? Bagaimana?" tanyanya tak sabar.


"Kamu lihat sendiri kan? Aku sudah memakan semuanya. Aku merasa ingin membuka bisnis kuliner masakan padang juga jadinya. Apa kamu rajin memasak?"


Aura hanya memasak saat masih berada di negeri asalnya saja. Semenjak jadi mahasiswa di negeri orang, dia memperhitungkan lebih hemat dibeli dibanding masak. Karena dia hanya makan sendirian. Makanya dia tak pernah masak sama sekali. Saat lebih malas lagi, dia tinggal seduh mie instan. Super ... super ... praktis dan super hemat.


"Tapi, Kamu jangan sering-sering memaksa aku memakan ini semua. Kalau keseringan bisa mempercepat prosesmu untuk menjadi janda. Tetapi, aku sangat menyukai asam pedas ini. Tidak berminyak sama sekali. Rasa kuahnya pun seger banget."

__ADS_1


"Seharusnya Kamu buka warung aja kemarin buat nambah-nambah biaya. Bukannya ngehack kayak gini. Jadi repot sendiri kan?"


Aura kembali mengingat tentang gadis tadi malam yang te was ditem bak oleh seseorang. Teringat pada Marcell, yang juga seperti dirinya, hanya dijadikan pion-pion untuk meraih keuntungan oleh seseorang yang dipanggilnya Tuan Sistem.


teng ... nong ...


Suara bell terdengar menandakan ada seseorang yang telah datang pada appartemen sederhana milik Reza ini. Aura bergerak untuk membukakan pintu. Tampak pria tinggi berpakaian rapi memamerkan sebuah tas besar yang dipinta oleh sang big boss.


Reza segera menyambut benda yang sudah dinantikannya sejak beberapa hari ini. Dia sudah membicarakan beberapa hal penting misi untuk melepaskan Aura dari jeratan Tuan Sistem dengan seseorang tadi di teleponñ. Mata Aura juga berbinar melihat laptop super keren milik Reza ini. Dia pun merasa tak sabar untuk mengaksesnya dengan segera.


"Waaahh, lagi makan? Kebetulan saya belum makan." Mata Abizar berbinar melihat makanan sepenuh meja ini.


"Ayo, Om! Mari makan!" ajak Aura mengambilkan piring dan kengkawannya.


"Kenapa beli makanannya banyak sekali? Makan berdua cukup beli dua bungkus aja kan?" ucap Abizar menyendokan nasi ke dalam piringnya.


"Waaah, saya bingung mau pilih yang mana. Sepertinya semua saya mau coba," ucap Abizar.


Abizar mengerutkan keningnya. Merasa panggilannya tidak singkron dengan sang istri. "Kenapa giliran aku dipanggil 'Om' sementara istriku 'Mba'?"


Aura hanya tersenyum tipis. Lalu melihat Abizar makan dengan lahap. "Ini beli di mana sih Boss? Nanti aku mau langganan juga kayaknya ke sana."


Reza melihat Aura. Dia tak ingin sang istri direpotkan oleh orang selain dia. "Cari aja di Mbah Gugel! Nanti ketemunya banyak!" Reza meminum air untuk melegakan kerongkongannya yang terasa serak karena minyak.


"Spil nama restorannya aja pelit. Apalagi kalau istrinya yang masak."


"Uhuuuk ..." Reza tersedak membelalakan matanya pada sang assisten. "Kalau udah selesai, Kamu boleh segera kembali ke kantor!"


Aura mulai memasukan beberapa jenis makanan ke dalam box untuk dibawa oleh Abizar. Kening Reza berkerut, hampir semua makanan dimasukan ke kotak bekal yang akan dibawa oleh Abizar.

__ADS_1


"Dinda, kenapa buat dia semua?"


"Lho? Tadi katanya tidak baik untuk kesehatannya? Makanya aku kasih semua aja buat Om Abizar dan istri. Apalagi istrinya lagi hamil kan? Berkah lhoo membagi makanan bagi orang hamil."


Reza merebut beberapa kotak dan memeluknya. "Tapi aku baru pertama kali cicip masakan istriku, masa iya gak ada buat aku juga"


Abizar refleks menatap Aura. "Jadi Nona Nyonya yang masak ini semua?" Abizar melirik Reza yang tadi tidak mau memberitahukan nama restoran, ternyata ini semua masakan sang istri. Sebuah senyuman jahil melekat di bibir Abizar.


"Nanti boleh dong kalau dimasakin oleh Nona Nyonya suatu saat nanti?"


"Ekheeemm!" Reza mendelik menatap Abizar. Lalu menatap bawahannya dengan tajam, dan rahang mengeras. Reza mengirimkan tepatinya kepada Abizar dengan gigi tertaut.


Istri saya hanya boleh memasak buat saya! Siapa pun selain saya tidak boleh ikut menikmatinya! Paham?


Abizar seolah paham akan yang disampaikan oleh pikiran Reza ke pikirannya. "Oh--ooh-oooh, baik Boss. Maaf kan saya!"


"Semuanya buat Pak Boss aja Nona Nyonya."


Reza kembali menyandarkan dirinya ke sandaran kursi. "Hari ini Kamu boleh membawa semuanya. Kebetulan istriku masaknya kebanyakan, boleh lah Kamu bawa dan bagi yang lain juga. Tapi, yang ini ditinggal untukku."


Reza memisahkan satu menu yang paling disukainya. Asam pedas, menurutnya paling cocok untuk kerongkongan dan tidak mengandung kolesterol jahat. Aura melihat itu, menandai sebagai makanan kesukaan sang suami.


"Bagaimana, Boss? Jadi menghubungi Aksa?"


Mata Aura seketika membesar, saat nama yang berusaha dihapus dalam ingatannya disebut oleh Abizar. Aura menatap Reza dengan wajah menyidik. Reza yang paham makna tatapan itu pura-pura melihat ke arah yang lain.


"Apa yang Kanda lakukan padanya? Bukan kah aku sudah menikah denganmu? Kenapa masih mengganggu dia?" Aura menatap Reza dan Abizar bergantian.


Sementara Abizar tidak memahami apa yang diucapkan oleh Nona Nyonya ini. Yang dia tahu sang Boss menyukai gadis itu semenjak lama. Lalu merebut gadis muda itu dari tangan Aksa. Dengan perasaan marah, Aura masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.

__ADS_1


Abizar merasa melakukan kesalahan, hanya bisa menelan saliva. "Boss, sepertinya tiba-tiba ada urusan dadakan di kantor. Saya cabut dulu." Abizar mengangkat semua box yang disiapkan oleh Aura tadi.


__ADS_2