
Reza memperhatikan dari jauh apa yang tengah terjadi. Wajahnya menjadi marah saat kawanan itu mencoba mengeroyok sang istri. Dia ingin bergerak untuk menolong sang istri.
Tetapi apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Dengan beberapa gerakan kecil saja Aura berhasil membuat para gadis tengil itu mengaduh kesakitan. Dia hanya memulas senyum di bibir, hampir melupakan bahwa istrinya seorang jagoan.
Posisi sudah berbalik, saat ini Aura lah yang bersidekap dada dan mengangkat wajah. Beberapa senior dan teman seangkatan Aura lewat. Peristiwa aneh ini membuat mereka menanyakan tentang hal yang baru saja terjadi.
Aura melirik Keken dengan wajah mengancam. Jika mengetahui junior berulah, para senior tentu tak akan tinggal diam. Tetapi, Aura lebih memilih untuk menyelesaikan sendiri.
"Kalau begitu kami pergi dulu, apa kamu yakin bisa menyelesaikannya?" tanya salah satu senior.
"Iya, Kak. Jangan khawatir. Para bocah piyik ini akan aku tatar biar mereka lebih menghargai para senior. Lalu secara tak sengaja dia melihat sang suami senyam-senyum menunggunya dari jauh. Aura melambaikan tangan lalu mendekat.
Reza ditarik di hadapan kawanan kelompok Keken tadi. Wajah mereka semua tertunduk tak berani menatap pria yang dirangkul oleh orang yang baru saja menghajar mereka.
"Heh, yang pakai baju merah!" bentak Aura.
__ADS_1
Keken paham, orang yang dipanggil oleh pacar Aksa adalah dirinya. "I-iya Kak?" Wajahnya masih tertunduk.
"Mana kesombonganmu tadi? Lihat ke sini!" bentak Aura.
Dengan ragu-ragu, Keken mengangkat wajah. Dia melihat secara lekat pria yang beberapa waktu lalu menjemput rival cintanya ini.
"Kamu kira dia ini siapa?" Keken menggelengkan wajahnya.
"Suruh kawan-kawanmu bubar! Aku ingin bicara denganmu."
Di dalam mobil, Aura mulai mengintrogasi gadis yang mulai merasa ketakutan. Senyum smirk menghiasi wajah Aura, merasa dirinya telah sukses menjadi senior kejam.
"Apa almarhum Bang Aksa tidak pernah menceritakan bahwa aku ini telah menikah?"
Wajah Keken menegang. Dia menggelengkan kepalanya dengan lesu. "Dia tak pernah mengatakan dia jomblo. Dia selalu mengatakan akan ke kota ini untuk bertemu kekasihnya."
__ADS_1
Sekarang Aura mengerti alasan gadis itu menyebutnya yang aneh-aneh kepada dirinya. "Kita akan ke sana, ke tempat di mana dia beristirahat untuk selamanya."
Selama perjalanan, Aura menceritakan hubungan mereka yang telah berakhir, hampir dua tahun lalu. Tak beberapa lama sebelum dia menikah dengan pria yang mengendarai mobil ini.
"Kamu tahu, aku memiliki putra yang bernama Aksara juga. Hal ini kami lakukan untuk mengenang bahwa dia adalah orang yang tak akan pernah hilang dari kehidupan kami."
"Ekhem ..." Reza berdehem merasa keberatan. Meski ada sesuatu milik Aksa yang telah menyambung kehidupannya, tetap saja dia tidak suka Aura terus memikirkan almarhum.
Saat di hadapan pusara Aksa, Aura seakan kembali de Javu pada masa indah saat bersamanya. 'Kamu orang baik Bang ... Kamu layak mendapatkan surga. Terima kasih atas segala hal yang kamu berikan kepadaku. Kepada keluarga kecilku.'
Sebuah sapu tangan mengambang di hadapan wajahnya. Aura melirik orang yang memiliki tangan. Tampak sang suami menggelengkan kepala. Dia seakan sudah memahami Aura yang selalu saja tersedu setiap berkunjung ke tempat ini.
Aura beranjak membiarkan Keken merenung di samping pusara Aksa. Dia membersihkan daun-daun kering yang menutupi pusara tersebut.
"Abang ganteng, maafkan Keken yang belum berhasil menjadi jodohmu.....
__ADS_1