CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
126. Buronan


__ADS_3

Kening Aura berkerut. Dia tidak mengetahui surat yang dikatakan dan memandang Reza dengan wajah curiga. Namun, sang suami hanya memainkan alis matanya. Yang secara tak langsung menjawab bahwa ini semua adalah ulahnya.


"Jangan Kau libatkan dia dalam masalah di antara kita! Dia tidak tahu apa-apa mengenai ini semua. Ini murni, antara Kau dan aku!"


Marcell kembali menyunggingkan senyum sinisnya. Memperhatikan dua orang pria yang ikut bersama dengannya. "Begitu? Jika hanya antara kita berdua, mengapa Kau membawa mereka ikut serta denganmu?"


"Lalu mengapa Kau menculik dia?" bentak Aura dengan suara menggelegar.


"Karena Kau telah mencoba kabur dariku. Serahkan dirimu, maka dia akan aku lepas." Marcell menekan ujung pisau itu semakin kuat di leher Stella.


"Aaaagghhht," ringis Stella yang membuat hati Aura menjadi pilu.


"Kau!" Marcell menunjuk Devan. "Lepaskan dia!"


Aura memberi kode agar Devan melepaskan Jendra. Dengan kesal, Devan mendorong Jendra hingga jatuh ke lantai. Jendra bangkit dan bergerak ke arah belakang Marcell. Jendra ingin melakukan sesuatu, tetapi dia masih merasa ragu.


"Sekarang giliranmu Nona Hacker!"


"Kau pikir aku suka mendengar nama itu?"


Stella memperhatikan pembicaraan di antara mereka. Dia seolah mengingat semua kejadian-kejadian yang telah berlalu. Tiba-tiba Aura memiliki banyak uang dengan alasan beasiswanya telah cair. Padah dia tahu, beasiswa Aura itu tidak terlalu banyak.


Jadi diam-diam dia jadi hacker bersama orang ini?


"Akhiri pernikahan kalian! Bekerja lah denganku sebaik mungkin!"


Stella kembali membesarkan matanya. Melihat ke arah Aura dan Reza bergantian. Sekarang dia tahu alasan kenapa Aura putus dengan Aksa. Dia menikah dengan pria yang dulunya selalu bermusuhan dengan temannya ini.

__ADS_1


"Leeepaaaas!" ringis Stella memberontak dari dekapan Marcell.


Aura mendekat ke arah Marcell. Namun, tangannya ditarik oleh Reza. Aura menepis tangan itu dan terus mendekat.


"Kau mau apa?" tanya Marcell mundur beberapa langkah.


"Bukan kah tadi Kau sendiri yang menyuruhku untuk bekerja denganmu?" Aura terus maju semakin dekat.


"Tahan! Kau di sana saja!"


Aura terus mendekat dan semakin cepat. Akhirnya menekuk pergelangan tangan Marcell ke belakang, dan menarik dan menggulingkan pria itu. Marcell cepat bangkit, menumpukan tubuh pada tangan yang tertumpu ke lantai. Memutar tubuh dengan kaki dikaitkan kepada kedua kaki Aura. Aura langsung oleng, dan jatuh.


Stella langsung menarik Aura untuk bangkit. Reza bergerak langsung memukulkan balok yang tadi dia dapat. Namun sayang, dia bukan seorang petarung sehingga Marcell dengan mudah menangkisnya dan menyerang balik.


Sebuah pukulan dilayangkan kepada Reza, namun ditangkis dengan sikunya. Reza menanduk dada Marcell sekeras yang dia bisa. Devan menarik pakaian Marcell bagian belakang, langsung memasangkan borgol pada salah satu tangan Marcell. Satu tangan yang bebas melayangkan pukulan pada kepala Devan.


Aura berlari lalu melompat, memberikan tandangan terbang di bahu Marcell. Pria itu sedikit oleng langsung berdiri dan menarik rambut Aura. Mendekap leher dengan sikunya.


"Kau itu bocah tengik yang lupa pada kulitnya. Apa Kau sudah lupa berapa uang yang sudah aku beri kepadamu selama ini?"


Aura meronta ingin lepas dari kuncian leher yang dilakukan Marcell itu. "Bulshiit! Kau dapat miliaran, lalu memberikan sekedar remah-remah kacang begitu saja sudah berasa jadi pahlawan?"


Marcell melihat Reza yang mengambil kembali balok yang tadi terlempar. Marcell memperkuat tekanan pada leher Aura. Wajah Aura sudah merah padam karena sesak.


"Kau tahu, aku lebih rela jika Kau mati dibanding merelakanmu jadi milik orang lain!" Marcell melihat Reza semakin mendekat.


"Mendekat lah jika Kau pun ingin dia mati dengan segera!"

__ADS_1


Wajah Aura sudah berubah sediki gelap. Dia benar-benar kehabisan oksigen. Tiba-tiba, ada yang menyerang Marcell dari belakang.


buuughh


Dekapan di leher tadi yang sangat erat, mulai merenggang. Reza menarik Aura dan memberikan tendangan pada dada Marcell. Devan yang tadi menghajar Marcell, langsung memasang borgol satu lagi yang masih bebas.


...kreeek...


Marcell tidak menerima kedua tangannya terikat, menangkap Devan dimasukan ke dala tangannya yang diborgol oleh Devan. Lalu dengan sekuat tenaga membenturkan kepalanya pada kening Devan.


...buuugh...


Devan langsung terduduk lolos dari rangkulan Marcell. Jendra yang sedari tadi menghilang, ternyata membawa mobil milik Marcell dan berhenti. Marcell segera menuju kendaraannya itu dan masuk ke bagian sebelah supir. Jendra kabur mengendarai mobil milik Marcell.


Stella berlari mengejar Devan yang pusing mendapat benturan dari kepala lawan. Hidung Devan mengeluarkan darah.


"Kakak, Kakak?"


Devan rebah tak sadarkan diri. Reza terduduk memeluk Aura yang hampir mati lemas karena cekikan tadi. Aura menyandarkan diri pada dada suaminya. Napasnya tersengal dan berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya.


"Kamu tidak apa kan Sayang?"


Reza mengecup pucuk kepala Aura dari belakang. Aura hanya bisa mengangguk. Reza mengelungkan kembali pelukan dari belakang menyandarkan pipinya pada kepala Aura.


Stella melihat kemesraan di antara keduanya merasa heran jika hubungan mereka sudah sampai tingkat serius seperti ini. Meski dia tahu Reza memang menyukainya, tetapi Stella merasa tidak terima jika Aura tidak memberitahukan dirinya bahwa mereka telah menikah.


"Sepertinya kita harus berbicara serius setelah ini. Ternyata aku tak cukup baik menjadi sahabatmu. Hingga hal sepenting ini pun Kau rahasiakan dariku."

__ADS_1


Aura hanya menatap panjang Stella dalam diamnya. Reza membuka ponsel hendak memanggil ambulance. Akan tetapi alangkah terkejutnya ia saat melihat wajah istrinya sedang terpampang nyata dalam status buronan.


__ADS_2