
"Awaas Bo--"
......bruuughh......
Terdengar suara benturan yang keras. Reza menabrak meja yang luput dari matanya. Lututnya menyenggol kaki meja. Sehingga membuat meja ringan tersebut roboh, dan Reza ikut roboh menimpa meja tersebut. Benda lebar itu sedikit koyak ditimpa tubuh Reza. Dada pria itu terbentur cukup keras.
"Boss, sudah saya bilang untuk berhati-hati. Jika berjalan itu pakai mata dengan benar Boss. Arah jalannya ke depan, malah melihat ke tempat lain," Abizar membantu Reza untuk berdiri.
Reza tampak meringis memegang dada dan pinggangnya. "Seharusnya kamu bilang sedari jauh! Jangan setelah tinggal beberapa senti hampir nabrak begini, baru kamu bilang!" rutuknya.
"Habis Boss, saya juga penasaran, apa yang sedang Anda lihat? Ternyata hanya sebuah meja kosong. Ketika saya mulai fokus ke depan, yaaa ... sudah mau menabrak saja," sesalnya.
"Ada apa dengan meja itu Boss?"
"Oh, tadi orang gila yang ngomong dan marah-marah sendiri di sana. Saya pikir masih ada. Syukur lah sudah pergi." Reza merapikan pakaiannya. Dia berpura-pura memasang wajah penuh wibawa. Karyawan yang tidak mengenal pemilik kafe tersebut, tengah kesal melihat tingkah konyol pria aneh ini.
"Kenapa sampai jatuh sih Mas?" tanya salah satu karyawan yang merapikan meja tersebut. Wajahnya terlihat sangat kesal, membuat pekerjaan yang sudah banyak, menjadi tambah banyak.
__ADS_1
"Ada apa?" Jay tiba-tiba saja telah berada di sana. Dia langsung keluar dari kantornya setelah mendengar suara benturan keras tadi.
"Oh, ini Bang Jay, Mas ini menabrak dan jatuh menimpa meja," jelas karyawan part time masih dengan wajah yang agak kesal.
Reza memperhatikan raut wajah karyawan itu. Untung saja gue ini orang yang sabar. Kalau tidak, mungkin saja sudah tidak bekerja di sini lagi esoknya, rutuknya dalam hati.
Kedua alis Jay terangkat, memandang Reza dengan heran. Padahal the big boss ini baru saja keluar dari ruangannya. Entah kenapa malah menabrak meja begini. Tampak Abizar sedang sibuk mengulum tawa di balik bibir. Wajahnya memberi kode tanda tanya, tetapi Abizar hanya mengedikan bahu.
Secara refleks, Jay melihat ke tempat dimana Aura dan Stella makan tadi. Dia mengangguk mulai memahami. Sepertinya sang Boss tengah penasaran dengan gadis yang tidak mau takhluk kepadanya itu.
"Ya udah, tolong kamu rapikan saja meja itu!" Titah Jay.
"Baik Bang." Dia mengangkat meja yang sedikit reot itu ke bagian gudang. Sementara karyawan lain merapikan perkakas di atas meja yang berserakan.
Reza hanya melambaikan tangan dan meninggalkan tempat itu dengan cuek, diiringi Abizar berjalan di belakangnya. Si karyawan yang tengah menyapu bagian itu, hanya bisa mendelik kesal. Reza dan Abizar segera menuju kantor. Kali ini Abizar yang mengendarai mobil tersebut, takut kejadian tadi terulang kembali.
💖
__ADS_1
Aura, Stella, dan Aksa melangkah menuju ruang kelas. Ruang kelas yang sangat luas membuat mereka merasa yakin tidak akan dikenal oleh dosen killer. Mereka memilih duduk di posisi paling belakang, agar tidak menjadi bahan perhatian. Ini bukan kebiasaan Aura, biasanya dia duduk di bangku paling depan, sementara Stella terpaksa ikut-ikutan duduk di depan.
Mahasiswa yang lain juga tidak begitu peduli ada makhluk asing tiba-tiba berada di ruang kelas itu. Mereka hanya menyangka Aksa adalah senior yang mengulang seperti senior yang lain. Sementara senior yang mengulang menyangka Aksa adalah mahasiswa tetap yang berada di kelas ini.
Perkuliahan pun dimulai, Aura melirik ke arah Aksa yang yang ada di sisi lainnya, ikut-ikutan serius dalam perkuliahan ini. Kuliah Pengantar Akuntansi adalah mata kuliah wajib bagi mahasiswa semester pertama. Namun, dosen yang mengampunya killer luar biasa. Sehingga, apabila melakukan kesalahan sedikit saja, nilai maksimal di dalam lembar hasil studi adalah C.
Dosen tersebut tengah menjelaskan materi kuliah dengan suara lantang. Seolah kehilangan mahasiswi yang dihapalnya, mata dosen tersebut liar mencari ke segala arah. Akhirnya dia melihat Aura, dengan mata yang tidak putus terus melihat mahasiswa yang ada di sampingnya.
Mata dosen itu pun melirik ke mahasiswa yang dilirik Aura. Keningnya berkerut, lalu memicingkan kembali agar benar-benar fokus melihat Aksa yang berada di bangku paling belakang. Mahasiswa itu tidak terdeteksi di dalam ingatannya. Usianya masih tergolong cukup muda bila dikatakan sebagai pria pikun yang renta.
"KAMU???"
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1