CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
68. Mimpi


__ADS_3

Big Boss? CEO itu? Reza Firto Adijaya, orang yang merebut kekasihku.


Aksa mencoba memantau peperangan itu dalam diamnya. Namun yang dilihat dari sisi lawan hanya seorang dibalik topeng, bertubuh kekar.


Itu bukan Aura, mungkin dia lah Tuan Sistem yang dikatakan oleh Aura. Apakah aku mengajukan kerja sama saja kepada Tuan Sistem tersebut?


Dia memperhatikan peperangan sengit perlawanan virus tersebut. Namun akhirnya pihak hacker kewalahan menghadapi perlawanan tim protector dan big boss. Hacker tak berkutik karena berhasil dikunci.


"Reza Firto Adijaya, ternyata Kau hebat juga," gumam Aksa.


Di suatu tempat yang terdiri banyak CP, Marcell memukul meja kerjanya. Dia terus mendapat gempuran dari tim protector. "Jadi mereka sudah upgrade kemampuan? Itu cewek kenapa tidak muncul-muncul juga?"


Dia menghubungi Aura, tetapi panggilannya tidak dijawab oleh gadis itu. "Apa yang terjadi dengannya?"


Aura meringkuk memeluk kakinya. Dua hal yang membuatnya shock terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Bibirnya masih merasakan kecupan yang dipaksakan oleh Reza. Hatinya pun tidak menerima bahwa dia menjadi bahan obrolan.


Dia memikirkan siapa orang yang berada dalam kamar tersebut. Aura berpikir ingin menjelaskan bahwa dugaan mereka tersebut salah. "Apa perlu dijelaskan? Jika dijelaskan, pasti akan terkesan mencari-cari alasan," desisnya.


Tanpa dia sadari, akhirnya dia tertidur karena terus memikirkan hal tersebut. Tuan Sistem yang berada di tempat berbeda, tengah murka karena sistem miliknya terkunci oleh gempuran dari pihak lawan. Dia sibuk memperbaiki sistemnya tersebut.


Reza masih di dalam kendaraannya yang terparkir di dekat kosan Aura. Dia tengah berselonjor menyilang kaki bertumpu di atas setir. Jok direbahkan, berbantal salah satu telapak tangan merasakan puas berhasil melawan hacker. Bibirnya mengelus sisa c*uman dengan gadis itu.


"Tak kusangka, bibirnya malah menjadi penyemangat yang memacuku untuk memenangkan peperangan ini," gumamnya membayangkan setiap kecupan yang dia berikan pada gadis tersebut yang kaku karena kaget.


"Sepertinya dia tidak berbohong bahwa dia belum pernah berc*uman."


Kemarahan pria itu, seakan meluap seketika saat berhasil melumpuhkan hacker tersebut. "Sepertinya aku kecanduan menikmati bibirnya." Reza segera melajukan kendaraannya ini menuju kantor. Dia ingin menyusun senjata yang lebih ampuh untuk melawan hacker tersebut.


💖


Aura menelusuri lorong rumah sakit. Perutnya tampak membesar, tangan berada di pinggang. Wajahnya tampak lelah dan kuyu penuh keringat di sekitar dahi. Terlihat Aksa berdiri di depan sebuah pintu. Aksa tampak sangat gagah mengenakan jas dengan rapi yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Aksa menyeka keringat yang membanjiri wajah Aura.


"Aku sudah mencarinya ke beberapa rumah sakit lain, tetapi belum menemukan yang cocok," jawabnya.


"Kenapa Kamu tidak memanggilku? Aku akan mengantarmu kemana pun? Kamu pasti sangat lelah menjalani semua ini sendiri."


Aura menggelengkan kepalanya. "Aku tak ingin terus menyakitimu!"


Dia tersenyum kecut, lalu perlahan menarik gagang pintu tersebut. Terdengar suara alat yang berirama sangat teratur. Aura berjalan dengan perlahan ke sisi brangkar tersebut. Melihat sosok yang tengah tertidur dengan wajah pucat. Aura duduk di bangku yang ada di sisi brangkar. Menarik tangan pria itu yang ditusuk oleh peralatan menyambungkan dengan cairan infus. Tidak hanya itu jemarinya dijepit oleh peralatan elektronik yang tersambung dengan monitor.


"Kanda, apa yang harus Dinda lakukan? Apakah jantung Dinda saja yang harus dibongkar untuk membuat Kanda sembuh kembali?"


Aura mencium tangan itu tak hentinya menetes kan air mata. Aksa mendekat, menyentuh pundah Aura.


"Kamu jangan begitu! Kamu ini sedang hamil. Jangan berpikir seperti itu!"


"Aku bukan istri yang baik untuknya. Aku selalu menyakitinya. Namun, dia selalu saja mengalah untukku. Di saat semua rasa telah berhasil direbutnya, kenapa dia malah seperti ini? hikhik ...." Tubuhnya terguncang karena rasa yang sangat luar biasa.


Aura terbangun dari tidurnya. Bantal telah basah karena air mata. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. "Apa yang terjadi?"


Dia merasa heran, kenapa orang yang memaksa menciumnya tersebut malah hadir di dalam mimpinya. "Aaah, amit-amit jabang bayi," rutuknya.


Dia bangkit merasa geli sendiri saat teringat tengah hamil. "Sepertinya aku harus mencari alasan untuk membatalkan pernikahanku dengannya. Kata orang, mimpi adalah kebalikan dari dunia nyata kan?"


Aura segera membersihkan dirinya. Mengecek ponsel yang terabaikan semalaman karena merasa kesal pada kejadian tadi. "Tuan Sistem pasti marah besar," gumamnya.


Aura teringat kembali pada tetangga sebelah kamar yang membicarakannya. 'Anggap saja pura-pura tidak mendengar,' batinnya.


Aura segera menuju kampus. Alangkah terkejutnya, ada sosok yang sudah duduk pagi-pagi di beranda rumah kos ini. Aura menggeleng, pura-pura tak melihat. Setengah mendengkus, menatap lurus ke arah jalan meninggalkan pria itu.


Reza segera mengejar Aura yang mendiamkannya. Aura tetap mempercepat langkahnya, dan di luar gang tampak kendaraan Om Mesum tengah terparkir. Menjadi tontonan bagi para pejalan kaki.

__ADS_1


Aura melirik kendaraan itu sesaat, langsung berjalan berbelok menuju kampusnya. Lelaki itu masih mengikutinya dari belakang meninggalkan kendaraan tersebut. Aura membuatnya bagai seorang yang tak terlihat. Reza benar-benar mengikutinya hingga mereka sampai di kampus gadis itu.


"Reza, ada urusan apa Kamu ke sini?" ucap Barack Adijaya, ayahnya yang kebetulan juga baru turun dari kendaraan.


"Nggak ada Pa, hanya ingin meniru adegan lagu 'Menghapus Jejakmu' yang dulu viral itu lho Pa," ucapnya sambil melirik gadis yang menatapnya dengan tajam.


Pak dosen tersebut ikut melirik ke arah mahasiswinya itu. Sedikit tergelak menepuk-nepuk punggung sang anak. "Kegilaanmu sungguh antimainstream Za! Tapi silakan kembali ke asalmu! Pergi lah ke kantormu! Cari uang yang banyak agar bisa memberikan kenyamanan bagi anak perempuan orang nantinya! Bukan diintilin kemana-mana seperti ini!"


"Oh, itu tentu Pa! Jangan khawatirkan itu!" Akhirnya pria itu menarik tangan Aura. Gadis itu memberontak tidak ingin ikut. Dia masih marah atas perlakuan lelaki yang merenggut c*uman pertamanya.


Akhirnya Reza berhasil menarik gadis itu menuju tempat yang tidak terlalu ramai. "Maafkan tindakanku tadi malam!"


Aura membuang muka, bersidekap tangan. "Apa Kamu melanjutkan pekerjaanmu tadi malam bersama orang itu?"


Aura hanya diam seribu bahasa. Tiba-tiba dia kembali teringat pada mimpinya tadi malam. Secara refleks dia memegang bibirnya mundur beberapa langkah dan menggeleng.


Reza tergelak melihat reaksi dan ekspresi Aura. "Apa kamu menginginkannya lagi?" candanya.


"Pergi! Setelah Kau menghinaku, lalu-lalu-lalu--" Aura melihat sekelilingnya, masih banyak mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar sana.


"Pokoknya aku sangat membencimu!"


Reza semakin mendekat pada gadis itu. Berdiri tepat di hadapannya. "Kalau Kamu sangat membenciku, aku tak jamin ya, jika nanti Kamu berubah menjadi sangat mencintaiku. Menangis-nangis minta dipeluk. Ingin terus bersamaku, sampai minta ikut kemana pun aku pergi. Seperti kata orang, benci itu hanya ungkapan terbalik dari frasa sangat mencintai."


"Mimpi!" rutuk gadis itu. "Dah, pergi sanah! Aku bosan melihat wajahmu itu!"


"Ra, Aura!" Terdengar panggilan dari Stella. Temannya itu baru sampai ke kampus. "Tumben cepet bener sampainya?" Stella melirik Reza yang juga berada di sana.


Aura ikut melirik Reza. "Aku mau mengajukan ujian susulan. Waktu hari terakhir, aku tidak ikut kan?" Menajamkan matanya melihat lelaki itu. Dia tidak ikut ujian hari terakhir karena diculik oleh Reza.


"Om, ngapain di sini?" tanya Stella.

__ADS_1


"Jangan panggil Om lagi! Panggil aku Kakak Ipar! Aku akan menjadi suami temanmu ini!"


"Whaaat?"


__ADS_2