
Beberapa minggu pun berlalu. Kandungan Aura semakin besar dan besar. Reza terus menenangkan istrinya untuk tidak terlalu mencemaskan pemberitaan tersebut.
"Kamu lagi hamil, Sayang. Kamu tidak perlu memusingkan pemberitaan itu. Aku berangkat kerja dulu. Kamu di rumah aja sampai aku pulang ya? Kalau mau jalan, nanti setelah aku pulang kerja aja. Kita keliling kota dengan mobil."
Reza mencium kening dan bibir istrinya. Lalu melambaikan tangan menuju kendaraannya sendiri. Aura melambaikan tangannya pada sang suami. Setelah itu masuk ke dalam kembali. Dia melanjutkan hobi menonton drama Korea. Ada mitos yang beredar jika nonton orang-orang ganteng, maka anak dalam kandungan ikut ketularan ganteng. Tak terasa, waktu telah beringsut saja menuju sore.
Aura bersiap turun setelah mandi. Dia melihat jam pada dinding yang telah menunjukan waktu suaminya pulang. Aura dengan perut buncitnya berjalan pelan menuruni tangga.
Dari arah luar terdengar suara kendaraan yang tepat berhenti di depan pintu rumah ini. Tak lama Aura melihat sosok suaminya masuk melewati pintu. Tangan Reza tampak terentang menunggu Aura untuk masuk ke dalam pelukannya. Setelah masukan dalam pelukannya, Reza mengacak rambut Aura menciumi pipi, dan mengelus perutnya.
"Kamu harus jadi orang yang melebihi kehebatan Ayah nanti yaa!" ucapnya duduk berjongkok di hadapan perut Aura sembari mengelusnya.
"Nggak boleh niru ayahnya! Nanti anakku malah kena serapah oleh semua perempuan bagaimana?"
"Dari pada niru ibunya? Jadi bur*nan internasional saat ini kan?"
Aura tampak berpikir sejenak. Dia seakan de javu pada peristiwa ini. Apa aku pernah ke masa depan ya? Kok kejadiannya sama persis?
"Nanti jika aku tertangkap bagaimana ya?" Aura berjalan perlahan menuju sofa di ruang tamu sembari dirangkul oleh Reza.
Aura duduk perlahan, dipapah oleh Reza. "Hati-hati, Dinda!"
"Iih, lebay banget," cibir Aura kembali mendekap lengan Reza.
"Diiih, manja banget?" Reza menyugar poni istrinya ini. "Kamu jangan mengkhawatirkan semuanya. Kamu ini sedang hamil. Tidak baik memikirkan sesuatu yang terlalu berat. Aku akan selalu menjadi orang yang akan selalu menjagamu, Sayang."
"Apa Kanda tidak malu punya istri seorang Buronan seperti aku?"
Reza menggengkan kepalanya, membenamkan Aura ke dalam pelukannya. "Jika Kamu tidak begitu, kita tak akan pernah saling mengenal untuk selamanya."
Terdengar suara bel yang menandakan bahwa ada seseorang baru saja datang.
Ini benar-benar pernah aku alami. Apakah aku pernah bermimpi seperti ini?
Raut wajah Aura menegang. Dia mengkhawatirkan orang yang ada di balik pintu tersebut. Aura mencoba untuk segera bangkit, namun ditahan oleh Reza.
"Di sini aja. Biar Bibi yang membuka. Temani aku duduk sejenak. Aku masih lelah."
Tak lama tampak Bibi berjalan dari arah dapur dengan segera membukakan pintu. Dengan perasaan deg-degan Aura mengintip orang yang berada di balik pintu tersebut. Bukan polisi seperti yang pernah ada di dalam mimpinya, melainkan dua pria dengan rambut blonde, berkulit putih, dengan tubuh setinggi Reza, suaminya.
__ADS_1
Bibi yang tadi membukakan pintu, tergopoh-gopoh datang ke arah mereka. "Tuan, Nyonya, di luar sana ada bule yang bahasanya tidak bisa Bibi mengerti," jelasnya.
Aura menggelengkan kepalanya. Dia seperti mendapat firasat buruk. Dia bergerak cepat meninggalkan ruang itu. Reza yang memahami kekhawatiran sang istri segera menemui para bule tersebut.
"Hello, Is there anything I can help?" (Halo, apakah ada yang bisa saya bantu?)
"We are looking for this woman." (Kami sedang mencari wanita ini.) Salah satu dari mereka menyerahkan foto seorang wanita yang masih samar terlihat.
Reza tahu, itu pasti foto Aura. Karena dalam posisi gerak, sehingga membuat wajahnya tidak terlihat begitu jelas. Reza terlihat memasang wajah bingung.
"Who's this?" (Siapa ini?)
Reza memutar-mutar foto yang ngeblur tersebut. Dia menyamakan dengan salah satu pria itu. "It's you?" (Mungkin kamu?)
Lalu Reza pindah pada satu orang lagi. "Or, You?" (Atau kamu?)
Reza memainkan dagunya pura-pura bingung. Sehingga kedua orang tersebut mengerutkan keningnya dan menjadi marah. Mendorong Reza, lalu memaksa masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Where she's?" (Di mana dia?)
"I don't know what you're saying?" (Aku tidak tahu maksudmu.)
"Hatciiiim ...."
"Haaatciiimmm ...."
"Haaaaattttciiimmmm ...."
Aura sengaja mengarahkan kepada dua bule tersebut. Mereka terlihat sangat panik dan sedikit menghindar.
"Sruuuuugghh ...." Aura pura-pura mengeluarkan ingusnya. Hal ini membuat para bule semakin lari menghindar.
"What are you doing?" (Apa yang kau lakukan?)
Aura mengelus perutnya. "I'm sorry, I have the flu. But i'm pregnant so you can't take drugs carelessly." (Maafkan aku, aku sedang flu. Tetapu aku lagi hamil. Sehingga aku tidak boleh minum obat sembarangan.)
"Haaattciiiimmmm ...."
__ADS_1
Reza menahan tawanya, melihat aksi sang istri yang tidak terduga. Padahal dia sempat kawatir, istrinya nangis di pojokan sana. Ternyata malah jadi begini.
"O-Okay ... We go, but we will be back." (Oke, kami pergi. Tapi kami akan kembali.)
"Haaatttciiiiimmmmm ...." Aura terus bergerak mengarahkan bersin ke arah dua bule itu.
Mereka lari terbirit-birit keluar dari rumah. Reza menutup pintu tersebu. Akhirnya pecah tawa mereka berdua.
"Hahahay ... istriku ini penja hat yang li cik ternyata yaaaa."
Aura membuka masker dan kupluknya. "Cukup kamu kata begitu. Aku gak suka dibilang pen ja hat. Bilang aku laksana dewi napa? Masa iya istri lagi hamil dijelekin mulu? Pamali tauk."
Aura mengusap perutnya. "Amit-amit jabang bayi." Hal itu diucapkan berkali-kali.
Reza mengusap lembut perut Aura. Lalu mencium calon penerus yang ada dalam rahim istrinya. "Boy, kamu harus pinter jaga Bunda. Apalagi di saat ayah tidak ada. Kamu adalah harapan kami."
"Aaagghhh," ringis Aura. "Dia nendang lagi. Bikin aku kebelet pipis lagi." Aura bergerak menuju kamar kecil yang tak jauh dari sana.
tok
tok
tok
Kembali terdengar sebuah ketukan pintu. Reza agak sedikit was-was jika bule itu kembali lagi untuk menginterogasi. Reza mengintip siapa orang yang ada di balik pintu tersebut dari jendela.
Kening Reza berkerut melihat dua orang tersebut. Salah satunya adalah pria yang memasukannya ke dalam sel tahanan sementara beberapa bulan lalu. Reza membukakan pintu.
Pria arogant yang dia kenal tersebut melipat kedua tangannya di dada sambil mengangkat dagunya. Wajahnya menajam melihat ke arah dalam rumah seperti mencari sesuatu.
"Ada apa Kapten I Bagus Suska? Apakah Anda belum puas mengacau beberapa waktu lalu? Seharusnya saya bisa menuntut Anda. Namun, karena saya baik hati dan tidak sombong mengurung niat saya tersebut."
brrraaaaakk
Pria tersebut menendang pintu rumah yang besar itu.
"Mana dia?" tanyanya dengan suara garang.
"Siapa?" tanya Reza heran.
__ADS_1
"Aurora Safitri sang Nona Hacker!"