
Reza mendengkus masuk ke dalam kamar yang biasa digunakam untuk tamu tersebut. Dia sudah terbiasa tidur sambil memeluk istrinya. Sehingga dia tidak bisa tidur di kamar itu sendirian. Entah kenapa, dia merasa ada sosok tak kasat mata ikut tidur di sampingnya.
"Entah kenapa berasa ada Aksa di mana-mana?" Mata Reza liar melirik ke segala sisi.
Reza menangkupkan kedua tangannya. Mulutnya komat-kamit meminta pertolongan agar dijauhkan dari makhluk-makhluk astral yang tak kasat mata.
Reza menyembunyikan seluruh tubuhnya ke dalam selimut. Dia mendengar suara aneh yang semakin lama semakin mendekat. Semua bulu yang ada di tubuh Reza pun ikut berdiri. Dia merasa ada yang mendekat dan menarik selimut ...
"Aaaaagggggghhh ..." teriak Reza membuat dua makhluk yang ada di depannya terkejut.
"Oooeeekk ... oooeeekkk ...."
Reza membuka matanya, ternyata yang datang badalah istri dan anaknya. Mata Aura menajam melihat suaminya yang terlihat sangat konyol itu. Namun, Aura kembali menimang-nimang Aksa untuk tenang dan tidak menangis lagi.
"Dinda, kenapa kamu di sini? Katanya tidur di atas?"
Aura menggelengkan kepala, masih menimang bayinya agar kembali terlelap. Aura bolak balaik kiri kanan--muka belakang, hingga Aksa kecil kembali teridur. Aura memberi kode Agar agar Reza membuka bad cover yang menutupi semua bagian ranjang itu.
Reza yang memahami arti kode tersebut, dengan segera membuka selimutnya. Lalu Aura beringsut menaruh bayi mereka berada di posisi tengah. Kening Reza kembali berkerut. Dia tidak setuju jika Aksa kecil menjadi penghalang baginya memeluk sang istri.
"Kenapa dia ditaruk di sana? Aku mau memeluk kamu, Sayang."
"Jika dia tidak di sana, aku takut nanti dia jatuh. Atau kami batal menemani Kanda di sini? Kanda banyak mau gini kan bikin kesel."
Aura hendak bergerak mengambil si kecil kembali. Reza menarik tangan Aura dan menggelengkan kepala dengan wajah memohon.
"Baik lah, kalau gitu aku peluk si Boy aja."
"Jangan! Nanti dia bisa benyek kehimpit sama ayahnya."
__ADS_1
Mendengar ucapan sang istri, membuat perasaannya menjadi sedih. Reza membaringkan tubuhnya, membelakangi Aura di dalam selimut. Sementara Aura mencabik ikut masuk ke dalam selimut mencium pipi mungil kemerahan milik baby Aksa.
Entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih sensi dibanding biasanya, batin Aura.
💖
Aura merawat luka yang bekas sayatan operasinya dengan seksama. Memastikan sayatan itu untuk tetap kering agar penyembuhannya menjadi lebih cepat.
Reza menikmati saat dia dirawat oleh sang istri. Namun, setiap Aura mulai melakukan pembersihan pada bekas operasi tersebut, di saat itu juga Aksa kecil merengek minta digendong. Reza mendelik melihat tingkah laku putranya itu.
"Caaah, apa kamu cemburu sama Ayah? Ayah juga mau dirawat sama Bunda kamu. Gantian dulu, napa?"
Aura mencubit suaminya, hingga Reza mengaduh kesakitan. "Ini Ayah kenapa si? Namanya juga bayi. Dia gak bisa ngomong tauk. Jadi, nangis itu cara dia ngungkapin perasaannya."
"Kalau gitu aku mau nangis juga tiap minta sesuatu."
Aura menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Mengerjapkan matanya sedikit menggelengkan kepala. Sebuah kecupan mendarat pada bibir Aura diiringi kecupan kecupan berikutnya.
Reza mengangguk dan Aura segera menggendong Aksa kecil yang terus merengek. Aura menimang sang bayi, dan terdengar ketukan pintu dari arah luar kamar. Aura kembali menaruh bayinya lalu membuka pintu.
Reza bengambil alih mengajak putranya bermain. "Bocah ... booocah ... karena namamu kurang enak untuk disebut, Ayah panggil kamu Boy aja." Reza memainkan jemari anaknya. Jarinya digenggam erat oleh sang buah hati.
"Kamu mau main kemana? Tunggu ya? Setelah luka ini sembuh, kita langsung main bola." Aksa kecil terlihat tertawa. Reza mencium kedua pipi bayi yang ucul itu.
Sementara Aura mengecek orang yang mengetuk pintuk tadi. Ternyata Bibi yang memberitahukan bahwa Stella datang untuk bertemu dengannya.
"Kanda, aku keluar dulu sebentar. Ada Stella di luar."
"Yaaa."
__ADS_1
Aura segera mencari temannya itu. Ternyata dia datang sambil mengapit lengan Devan. Saat melihat Aura, Stella berpindah merangkul Aura. Aura yang tahu maksud rangkulan tersebut, hanya menganggukan kepalanya sendu. Setelah itu, Aura mempersilakan kedua pasangan itu untuk duduk dan Aura meminta sang asisten untuk menyiapkan minuman dan cemilan.
"Mana babynya?" tanya Stella memanjangkan leher melihat ke segala arah.
"Lagi main sama ayahnya. Tunggu sebentar ya, aku ambil dulu." Aura bangkit dan mengambil Aksa yang masih asik digangguin ayahnya.
"Kanda pakai baju dulu, temui mereka di depan."
Tanpa menunggu jawaban, Aura hendak beranjak duluan. Tangan Reza menahan pinggang istrinya.
"Tunggu! Aku mau nya kita barengan!"
"Ya udah, buruan!"
Reza segera mengenakan pakaian dan merangkul pundak istrinya yang menggendong Aksa kecil yang sedari tadi tampak bahagia. Melihat kehadiran baby yang ada di tangan Aura, Stella secara refleks melompat mendekati mereka. Dia langsung menggendong bayi mungil itu dan memainkan bibir merahnya.
"Hati-hati! Nanti ketularan virus bar-barmu," canda Reza, namun dicubit oleh Aura.
Stella hanya mencabik, dan membawanya duduk di samping Devan. "Kak, nanti kita bikin yang seperti ini ya?"
"Oooh, tenang Sayang. Nanti hasilnya lebih tampan dari ini kita buat. Aku ini kan lebih tampan dari ayah dia." Devan melirik ke arah Reza.
"Ekheeeem, kemana-mana Reza Firto Adijaya yang paling ganteng, eeelaaah?"
Devan membuang mukanya dengan ekspresi wajah yang tampak aneh. Stella membesarkan matanya agar Devan menghentikan tingkahnya. Walau baginya memang Devan jauh lebih tampan.
...bonus foto Devan
__ADS_1
...