
Di sebuah tempat, dengan cahaya yang cukup redup, Jendra dan Marcell tengah mendiskusikan keadaan markasnya yang telah digrebek oleh pihak yang berwajib.
Sementara Aura tengah dikurung di sebuah ruang gelap. Hanya ada bias cahaya dari arah luar pentilasi udara yang sangat kecil.
Aura mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya agar bisa melepaskan diri dari sekapan ini. Dia teringat wajah suaminya yang terlihat cemas saat mencari dirinya. Dia yang telah hadir mencari hingga ke markas Tuan Sistem. Aura merasakan buncahan rindu yang luar biasa terhadap Reza, suaminya.
Aura kembali memperhatikan pentilasi kecil yang berada pada ketinggian tiga meter di atas sana. Memperkirakan ukuran, masih bisa meloloskan dirinya atau tidak. Aura mengecek setiap sudut ruangan itu. Apakah ada benda yang bisa digunakan untuk menopangnya hingga menjangkau pentilasi tersebut?
Dari arah luar, terdengar suara kunci sedang diputar oleh seseorang. Aura segera merebahkan diri pura-pura tertidur. Usai kunci dibuka, terdengar suara gagang pintu yang ditarik oleh orang tersebut. Terdengar deritan pintu yang dibuka, sedikit cahaya dari ruangan luar ikut masuk memperlihatkan gadis yang tergeletak di atas lantai yang kotor.
Derap langkah, dari sepatu pantofel pria itu menggema hingga ke sudut ruang kosong ini. Langkah itu terhenti tepat di sisi gadis itu. Dia berjongkok, memperhatikan wajah Nona kesayangannya ini di antara temaramnya bias cahaya yang masuk di ruang itu.
Tangannya mulai membelai pipi gadis yang terlihat tenang dalam mimpi. Aura pun merasakan sebuah tangan itu menyugar rambut yang menutupi wajahnya. Belaian itu beralih pada dagu, kening, dan kembali ke pipi.
Sementara, orang yang dibelai hanya bisa menggerutu di dalam tidur pura-puranya. Di dalam hatinya, ingin sekali menghajar pria kurang ajar ini. Namun, rencana yang belum matang, membuat dia belum berani bertindak. Sehingga berpura-pura tidur ini, adalah pilihan yang terbaik untuknya saat ini.
...cup...
Tanpa disangka, sebuah ciuman mendarat di pipinya, membuat Aura benar-benar menarik pria itu dan menggulingkannya. Posisi Aura saat ini berada di atas, sementara pria tadi berada di bawah. Aura menekan leher pria itu sekuatnya.
"Ma-Marcell? Apa yang Kau lakukan di sini?" Matanya membulat, ternyata yang melakukan hal yang tidak se no noh barusan adalah partner kerja yang disodorkan Tuan Sistem untuknya. Aurs membersihkan bekas ciu man dengan lengan pakaian yang sedang melekat.
"Aku kangen padamu. Kamu ke mana saja? Sudah lama rasanya kita tidak bekerja sama dalam sebuah misi." Marcell melepaskan sisa tangan Aura yang masih melekat di lehernya. Mangangkat tubuh untuk duduk sehingga Aura tepat berada di pangkuannya. Bibir Marcell hampir mendarat di bibir gadis itu.
"Kekurang ajaranmu masih belum hilang, hah?" Aura menahan dan mendorong wajah Marcell untuk menjauh.
Aura bangkit dan bergerak menuju pintu yang sedang terbuka. Dia melihat ke segala arah. Tak satu pun orang yang ada di sana. Aura kembali mendekat pada pria yang terus memperhatikannya dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Kau masih ingin di sini? Saya akan pergi!" Aura kembali bergerak melangkahkan kaki hendak meninggalkan ruangan yang dijadikan penjara baginya itu.
"Anda mau ke mana Nona Aurora Safitri? Apakah semua yang diberikan Sistem tidak cukup bagimu?"
Aura tertegun mendengar suara itu, suara yang mirip dengan Tuan Sistem yang begitu ia hapal. Kali ini diucapkan oleh pria yang berdiri tepat di belakangnya. Tanpa pikir panjang dia segera melompat lari dari ruangan itu menuju ke arah luar.
'Sial! Ternyata Tuan Sistem itu dia? Pantas saja dia tahu semua.'
Aura sudah melihat sejenak posisi pintu di ruangan luas tersebut. Namun sayang, pintu itu terkunci. Dengan tangkas dia memeriksa jendela dan mencoba membukanya. Akan tetapi, pintu jendela di sana tak bisa dibuka dan menempel begitu keras.
...proook...
...proook...
...proook...
Semua kenangan yang dia lewati dengan pria itu berputar bagaikan roda film yang menayangkan semua waktu yang mereka lewati bersama, dan baru menyadari akan kebodohannya selama ini. Bagaimana perlakuan Tuan Sistem, dan semua ucapan Marcell yang selalu menohok perasaannya. Semua teka-teki itu telah menyatu, bagai susunan puzzle yang telah tertata dengan sempurna.
"Apa yang Kau inginkan?"
Marcell terlihat sedikit tergelak, bersidekap dada masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Nona Hacker kesayangannya ini. "Menurutmu kira-kira apa?"
Marcell melangkahkan kakinya mendekat pada gadis itu. Mencoba untuk menyugar rambutnya, tetapi langsung ditepis dengan tatapan tajam. Satu tangan lagi akan membelai pipi gadis itu. Aura langsung menangkap tangan Marcell mencoba untuk menguncinya. Namun nahas, tenaga Marcell jauh lebih kuat.
Marcell dengan mudah membalikan keadaan. Dia duluan mengunci Aura dengan menarik tangan gadis itu menyilangi dada, ditarik ke atas bahu. Posisi Marcell saat ini tepat berada di belakang Aura. Tangan Marcell yang masih bebas memeluk perut langsing milik Aura.
Napas Marcell memburu terus mengunci Aura dari belakang. Aura mencoba meronta dan melepaskan diri dari kuncian penuh naf. .su itu. Marcell mulai liar menyugar rambut Aura bagian teng kuknya. Ketika hendak mengecup, Aura menunduk memutar tubu dan kakinya diangkat lurus ke atas.
__ADS_1
...plaaak...
Mulut Marcell tepat men ci um kaki Aura. Meski lengannya menjadi luar biasa sakit, paling tidak, dia bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita yang telah bersuami. Setelah itu, Aura menarik tubuh Marcell yang telah kepalang menunduk. Sehingga pria itu terjungkir, dengan pucuk kepala langsung mendarat di lantai.
"Aaagghh ...." Tubuh Marcell turut terhempas.
Aura bangkit dengan segera. Dia melihat sebilah pisau yang berada di atas meja. Aura bergerak cepat mengambilnya. Dia merubah posisk tubuh tinggi Marcell yang masih oleng, ke posisi tengkurap. Lalu, kembali menarik dan memelintir tangan Marcell ke arah belakang.
Aura menginjak punggung Marcell, lalu mengarahkan pisau, tepat di bawah jakun pria itu. Tangan Marcell mulai di tarik ke arah berlawanan, membuat dia meronta memukul-mukul lantai, karena merasakan kesakitan luar biasa pada otot lengannya.
Aura menekan pisau tersebut, menghunus kulit leher sehingga terasa semakin perih. "Apa yang akan Kau lakukan Nona gila?" ringis Marcell yang tengah terjepit tak bisa bergerak sama sekali.
"Kau mau berbuat apa kepada saya, hah?" Suara Aura terdengar lantang. Aura semakin menarik tangan Marcell berlawanan arah. Otot lengan pria itu benar-benar kesakitan luar biasa.
"Jangan pernah mencoba menyentuh saya sama sekali! Tangan dan mulutmu itu terlalu kotor mengenai tubuh saya!"
Meski tengah merasakan kesakitan yang luar biasa, dan bilah pisau mulai menyayat kulit lehernya, Marcell kembali tergelak merasakan geli sendiri. Nona Hacker kesayangannya ini benar-benar tangguh.
"Lanjutkan lah usahamu! Jika berhasil meloloskan diri, maka Kamu akan selamat. Sebaliknya, jika masih berada di sini hingga esok pagi, maka Kau harus menyelesaikan misi! Kita lanjut pada level ketiga!"
Aura meringis melihat kegigihan pria ini menyuruhnya untuk melaksanakan misi. Padahal keadaan dia sudah terjepit seperti ini.
cekrek
cekrek
Terdengar suara kunci dibuka dari luar. Pintu didorong dari arah luar. Seorang pria tak dikenal membawa balok di tangannya. Langsung memukul pundak Aura tanpa aba-aba. Gadis itu rebah dengan seketika.
__ADS_1