CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
148. Seperti di hotel bintang 5


__ADS_3

"Kanda baik-baik aja kan?"


Reza menganggukan kepalanya, memutar persendian di kedua lengannya. Setelah itu, Reza merentangkan kedua tangannya. "Ayo sini, kamu kangen masuk sini kan?"


Aura masuk ke dalam pelukan sang suami. Menciumnya dan memeluknya kembali. Jutaan ketakutan sirna meski saat ini mereka dalam keadaan terpenjara.



Aku tahu kamu sangat merindukanku. Reza membelai rambut panjang Aura dengan lembut. Mata Reza liar melihat ke segala sisi mencari celah untuk keluar dari tempat ini. Aura telah menyelesaikan melepas rindunya pada Reza.


"Bagaimana dengan hasil kerjaan kamu tadi?"


Aura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa menembusnya."


Reza membelai perut Aura. "Boy, kamu harus kuat! Jangan susahkan Bunda! Ayah dan Bundamu sedang bekerja keras agar kita kembali pulang." Reza mencium perut Aura, dan membelai lembut pipi istrinya.


"Kali ini perusahaan apa?"


"Yang orange dari Perancis," gumam Aura.


"Ooh, itu perusahaan besar yang mendunia. Wajar aja proteksinya tinggi. Jika kamu berhasil menembusnya, kamu akan langsung terkenal, dan jadi buronan dunia." Wajah Reza terlihat serius saat mengatakannya.


"Tetapi, Kamu jangan takut, Dinda. Ada kanda yang akan selalu menjagamu di sini." Reza kembali memeluk Aura dan mencium keningnya.


'Takut? Bukannya kamu yang takut?' Aura terkekeh dalam pelukan Reza.


Semua pemandangan tersebut membuat Marcell terbakar melihat ke arah pintu tersebut. "Hmmm, ternyata aku salah langkah," gumamnya, hendak bergerak.


Langkahnya dicegat oleh Jendra. "Biarkan saja mereka!"


"Apa kau bilang? Membiarkan mereka untuk aku tonton?"


"Jangan dilihat! Toh mereka pasangan sah!"


Marcell mendengkus, menuju keluar dari tempat itu. Dia mencoba mencari angin segar, menopangkan kepalanya kepada kedua telapak tangan yang ditautkan. Jendra bergerak mengintip kembali ke arah minitor CCTV. Dia menggelengkan kepala melihat aksi dua orang yang terekam di sana.


"Suami istri sih, tapi pilih-pilih tempat dulu kenapa?"


Di dalam ruangan tersebut, tampak dua insan tengah berpagut dan berc*uman mesra. Beberapa waktu kemudian mereka tertawa mengingat kondisi mereka yang tidak tepat, untuk melakukan hal ini.


"Sekarang aku yakin, kamu sudah benar-benar mencintaiku."


Aura yang mendengar pernyataan Reza barusan memisahkan diri dari suaminya ini. Dia memeluk lutut dengan wajah cemberut. "Kamu pikir aku masih main-main? Yang ada di rahimku ini, anak siapa coba?"

__ADS_1


Reza kembali mendekatkan dirinya kepada sang istri. Melepaskan posisi Aura yang tengah melipat tubuhnya. Reza merebahkan diri, berbantalkan paha Aura. Membelai wajah istrinya lalu mencium kembali calon bayi yang ada di dalam perut Aura.


"Iya, itu anakku."


"Hah, di mana pun itu, kondisi apa pun itu, tak masalah bagiku. Asalkan bersama kalian, dipenjara seperti ini pun berasa seperti berada di hotel bintang lima." Reza kembali membelai wajah istrinya.


"Huh, aku tak mau seperti ini. Aku mau kita segera bebas."


Reza tampak memicingkan matanya dalam senyuman. Akhirnya dia menemukan rumah, tempat ia bisa melepaskan rasa penat. Dia bisa tidur, setelah semalam tak bisa beristirahat dengan nyaman.


Aura menyugar rambut Reza. "Aku sendiri tak menyangka bisa seperti ini, kenapa begitu cepat jatuh hati padamu."


"Karena aku suamimu. Itu lah hebatnya ikrar cintaku padamu." Mata Reza masih terpejam, tetapi wajahnya terlihat sumringah.


Aura melihat ke segala sisi. Sebuah ruang kosong penuh debu tanpa jendela. Ventilasi udaranya pun terlihat sangat kecil. Ruangan ini benar-benar tak memiliki celah untuk bisa membuatnya kabur.


Aura masih menganalisa dan memperhitungkan cara untuk keluar. Tangan Reza bergerak meraih tangan Aura diletakan di kepalanya kembali.


"Ayo, aku masih rindu belaianmu. Apalagi yang di bawah. Karena tidak mungkin, maka belai bagian atas dulu."


"Huuuu ...." Aura kembali membelai rambut Reza. Namun, wajahnya masih liar melihat ke segala arah. Tampak ada secarik kertas masuk lewat celah di bawah pintu. Aura akan bergerak mengambil kertas tersebut, tetapi dicegat oleh Reza.


"Mau kemana? Belai aku dulu hingga tidur. Aku lelah."


Duh, kasihan ... Kanda pasti tidak terbiasa menghadapi kesulitan seperti ini? Apa Kanda bisa bertahan, berada di sisiku yang penuh lika-liku ini?"


Aura mengecup kening Reza. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyangga kepala suaminya. Karena tidak menemukan apa pun, Aura membuka bolero yang dikenakan Reza. Bolero itu dilipat dan dijadikan alas bagi kepala suaminya.


Terdengar suara kunci dibuka dari luar. Aura buru-buru mengambil kertas tadi. Benda itu dilipat hingga kecil dan diselipkan ke dalam kantong celana jins yang dia kenakan. Selang beberapa detik, pintu terlihat terbuka dari luar.


"Udah selesai mesra-mesraannya?"


Aura menengadahkan kepala melihat orang yang berbicara. Wajah Marcell terlihat dingin dan suram. Kepalanya tampak memberi kode agar Aura mengikuti langkahnya.


Aura bangkit, melihat ke arah Reza yang masih terlelap dalam tidurnya. Aura mengikuti langkah Marcell dan kembali duduk di depan layar.


"Duduk!" menunjuk kursi di depan kumpulan CP.



Aura melihat jam di monitor CP. Sudah menunjukan waktu menuju malam hari. "Apa kau tak tertarik memberi kami makan?"


"Makan?" Senyum sinis, mengembang di bibirnya. "Aku pikir kamu merasa cukup jika hanya disatukan berdua begitu saja."

__ADS_1


Aura menajamkan matanya karena kesal. "Jika kau tak sanggup memberi makan seseorang, jangan main culak-culik dong. Kau ini punya hati nggak sih?"


Marcell menundukan tubuh, menjepit kembali dagu Aura dengan sedikit keras. "Kau pikir, kau bisa hidup dengan menggunakan hati saja?"


Aura mendorong tangan itu kembali. "Ya udah, bebaskan kami!"


"Tidak, sebelum kau menyelesaikan misimu!"


"Kau tahu sendiri ini tidak mudah! Sementara, di awal dulu kau mengatakan bahwa pekerjaan ini membutuhkan waktu yang lama. Biar kan kami bebas! Aku janji akan menyelesaikannya saat berada di rumah."


Secara refleks, senyum sinis menghiasi bibir Marcell. "Kau pikir masih bisa bernegosiasi dalam kondisi seperti ini?"


Aura mengedikan bahunya. Tubuhnya benar-benar terasa sangat lelah. Sudah lebih dari 24 jam ia tidak makan satu apa pun. "Aku rasa aku tak akan bisa bekerja jika dalam keadaan kelaparan begini. Kau tahu, kau telah menyiksa tiga nyawa sekaligus!"


Marcell seolah tak peduli, dia beranjak pergi. Aura duduk meluruskan dirinya menghadap monitor CP. Tampak bungkusan berada di depan CPU. Aura mengecek bungkusan itu, matanya membesar. Di dalam bungkusan itu, terdapat dua bungkus nasi.


"Hei, Tuan Sistem? Apa ini makanan buatku?"


Namun, tak terdengar sahutan dari orang yang ditanyakan. Aura membawa bungkusan itu lalu bergerak menuju ruang tempat Reza disekap. Sepertinya pintu sengaja tidak dikunci. Aura masuk membangunkan Reza untuk makan.


Reza mengusap seluruh wajahnya. "Aku baru saja bisa tertidur."


"Nanti bisa dilanjutkan. Sekarang Kanda makan dulu."


Aura mengeluarkan semua yang ada dalam bungkusan itu. Ada dua botol air mineral dan dua bungkus nasi. Reza msngerutkan keningnya.


"Siapa yang memberikan makanan ini?"


Aura memberikan kode dengan mengedikan kepalanya. Artinya orang yang ada di luar yang memberikan ini kepadanya. Hal ini membuat kening Reza semakin berkerut. Reza menahan tangan Aura dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu yakin ini tidak diberi ra cun?"


💖


💖


Mampir pada karya teman Author yang ini juga ya guys ...


napen: Siti Fatimah


judul: Penjara Cinta Mafia Kejam


__ADS_1


__ADS_2