
Di ruang darurat, beberapa perawat mengecek tekanan darah, bobot, lingkar lengan, dan lingkar rahim Aura. Melihat itu, membuat Reza merasa tidak sabar karena Aura terus meringis tak kuasa menahan rasa sakit.
Kondisi ini sungguh begitu jauh berbeda saat akan melahirkan Aksa dulu. Ketika akan melahirkan Aksa, ketuban merembes dengan sendirinya tanpa tanpa rasa sakit sama sekali.
"Nanti, bidan akan datang untuk pengecekan lebih lanjut" Para perawat pun pergi, meninggalkan sepasang orang tua yang menanti kehadiran anak kedua ini.
Kali ini, semua tulang belulangnya seakan remuk terlepas dari segala persendian. Aura memejamkan mata, menggenggam tangan Reza tanpa mengeluh. Reza tidak tahu harus mengatakan apa untuk menguatkan sang istri.
Papa Barack dan Mama Kinanti datang dan memberikan petuah agar selalu tawakal dan berserah diri. Aura mengangguk dan menggenngam tangan Reza semakin erat.
"Kamu pasti bisa, Sayang."
Aura memaksakan senyuman menahan setiap hentakan demi hentakan yang berasal dari dalam rahimnya. Beberapa waktu kemudian, bidan datang memeriksa perkembangan terbukanya pintu jalur lahir, sudah sempurna atau belum.
"Masih belum terbuka dengan sempurna ya, Pak. Ini baru bukaan enam."
"Jadi harus menunggu lagi, Bu?" tanya Reza dengan wajah kasihan kepada sang istri.
"Iya, Pak. Kita tunggu hingga bukaan sepuluh, baru bisa kita lakukan persalinan."
"Berapa lama menunggunya?"
"Tergantung, kadang cepat ... kadang harus menunggu hingga esok."
Reza kembali melirik Aura yang terus memejamkan mata menahan sakit yang luar biasa. Reza merasa tidak tega melihat keadaan Aura yang seperti itu.
"Bagaimana jika kita operasi saja, Dok?"
"Jadi Bapak mau melanjutkan tindakan operasi caesar?" tanya Dokter memastikan kembali. Reza mengangguk terus menatap Aura dengan tidak tega.
"Ja-jangan! Kita normal saja," lirih Aura di sela rasa sakit yang terus memburunya.
"Aku tidak tega melihatmu begini," gumam Reza membelai rambut Aura.
__ADS_1
"Tidak apa, Kanda. Ini hanya sesaat. Jika caesar, setelah melahirkan sakitnya akan terasa luar biasa. Aku takut tidak bisa menggendong Aksa nanti."
"Jadi keputusannya bagaimana, Pak?" sela bidan tersebut.
"Normal saja, Dok."
"Baik lah, Pak. Kalau begitu, istrinya bisa diajak untuk banyak bergerak. Supaya pintu lahir semakin terbuka dengan sempurna."
Reza mengangguk, dan bidan itu pamit hingga waktu yang tidak ditentukan. Reza mengajak Aura untuk bangun, turun dari brangkar.
"Apa kamu kuat untuk bergerak."
Meski seluruh tubuh basah oleh keringat dingin, Aura tetap mengangguk. Reza memapahnya dan Aura memilih posisi jongkok dengan kedua lutut terbuka.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Reza heran.
"Aku nonton konten buat lahiran normal. Katanya kalau posisi begini, pintu lahir akan cepat terbuka dengan sempurna. Tapi aku lapar, Kanda."
"Ooh, ya ... apa kamu mau menunggu sejenak?"
Reza mengakses laman pemesanan makanan secara online. "Kamu mau makan apa?"
"Nasi rendang ukuran jumbo!" ucap Aura masih dalam posisi tadi.
"Yakin?"
Aura mengangguk dan memegang tangan Reza untuk bangkit meregangkan lutut yang terasa pegal. Beberapa saat kemudian, dia mengulang kembali posisi jongkok dengan kedua lutut terbuka.
Stella muncul dengan wajah heran, dia menyerahkan kunci kendaraan Reza. "Maaf lama," ucap Stella.
Reza melirik ke kiri dan ke kanan seperti mencari seseorang yang bersama dengan mereka tadi. "Cari siapa, Kak?" tanya Stella mencoba membaca pikiran Reza.
"Mana dia?"
__ADS_1
"Aku antar ke halte, aku suruh pulang saja." Terdengar helaan nafas lega dari Reza. Hal ini membuat Stella terkekeh. Setelah itu pandangan Stella beralih pada Aura yang terlihat aneh baginya.
"Kamu lagi apa, Ra?"
"Ini namanya senam ibu hamil. Biar cepat terbuka pintu lahirnya," terang Aura
"Emangnya belum terbuka? Katanya udah sakit? Kalau di sinetron mah, wanita hamil tua yang kesakitan itu dah tarik nafas dorong aja."
Aura mencoba bangkit berdiri dengan tegap. "Nanti silakan coba sendiri."
Aura kembali jongkok, mengatur nafas denagn kontraksi yang dirasakannya semakin hebat. "Kanda ..." Dia mencoba bangkit berpegangan kembali pada Reza. Dia bergerak menuju brangkar dan duduk di atasnya.
"Sakit banget?" tanya Stella.
"Gila, sakit banget ini. Waktu Aksa dulu nggak sampai begininya," ringisnya.
Aura melirik Reza yang menatapnya dengan sendu. "Habis ini kunci gembok ya, Kanda? Aku berasa gak kuat lagi jika nambah anak rasanya sesakit ini."
Reza mengangguk cepat, ikut duduk di sampingnya. Menyugar rambut Aura yang telah basah karena keringat. "Iya, maafkan aku ya?"
Stella terkekeh melihat keromantisan ini. Membayangkan jika dirinya di posisi Aura nanti bagaimana? Apakah Devan bisa jadi suami siaga seperti Reza nantinya?
"Ha--haa--haatciim ..." Seseorang yang sedang melakukan pengintaian bersin secara tidak sengaja.
Mendengar suara bersin, pria yang tadinya menjadi target penangkapan kabur, menyadari ada yang mengawasi gerak-geriknya.
"Devan? Dia jadi kabur kan?"
...💖💖💖...
Author mau memperkenalkan karya ini kepada kakak semua. Ini adalah cerita tentang duda, ini sudah Author tulis sebelum kisah Aura dimulai.
Akhirnya Author putuskan hiatus untuk fokus menginkuti lomba wanita mandiri. Berhubung Aura udah mau kelar, Author melanjutkan menulis ini.
__ADS_1
Buat yang udah baca Aku Bukan Antagonis Kejam, bersabar dulu yaaa.. Soalnya itu karya kiriman dari Editor Noveltoon. Author masih menunggu kelanjutan Rivena Claudya, Fernando Jose Altamirano dil Castillo, dan Elsa ... Menunggu keputusan dari editor, apakah Author layak melanjutkannya atau tidak.