
*Author lagi semangat buat namatin karya ini. Soalnya banyak dateline yang harus Author kerjakan pada karya lain. Hehe ... Heran, Konfliknya banyak banget. Udah ngebul kepala nulisnya, tapi yang baca cuma dikit.. wkwkwkw .. nasib Author remahan iwak peyek ðŸ˜ðŸ¤£*
...💖💖💖...
Ternyata, data tersebut telah menghilang tanpa ia ketahui. Hal ini membuat Marcell semakin naik pitam dan menggebu ingin segera membalas Nona Hacker tersebut. Dia berpikir ini semua adalah ulah Aura.
Sedangkan Aura yang telah lelah bermain dengan laptopnya, memilih untuk kembali menuju sawah yang ada di belakang villa ini. Dia kembali duduk di pondok memperhatikan para petani yang menyiangi sawah mereka.
Selanjutnya mata Aura beralih pada orang-orangan sawah yang dibuatnya bersama sang suami. Pakaian orang sawah itu berkibar ditiup angin gunung yang begitu sejuk. Aura tersenyum saat membayangkan jika itu adalah Reza.
Setidaknya, Reza kedua ini bisa menemaniku di saat Kanda tak ada.
"Waaah, Neng duduk di sini lagi?" Ibu pemilik pondok ikut duduk untuk beristirahat. Aura mengangguk mengembangkan senyumannya.
"Orang sawah yang di sana itu buatan Kamu yah?"
"Iya, Bu. Maaf ya, Bu, seenaknya membuat orang-orangan sawah di sini."
"Waaah, Ibu malah mau mengucapkan terima kasih malah, Neng. Yang lama sudah hancur dimakan waktu. Kami belum sempat membuatnya kembali. Tapi kenapa dikasih baju dan celana bagus seperti itu? Sayang sekali bukan?"
Aura mengulum senyumnya. "Itu pakaian suamiku, Bu. Aku sengaja membuat itu, biar mengobati rinduku padanya."
"Lhoh? Suaminya tidak di sini? Terus kemarin gimana?"
Aura menggelengkan kepalanya. "Dia tinggal di kota, Bu. Kami berdua hanya bisa bertemu sekali seminggu. Jadi, orang sawah itu bisa mengobati rinduku padanya."
Ibu tersebut terlihat berpikir sejenak. "Apa Kamu ini ... hmmm ..., nggak jadi deh."
"Kenapa, Bu? Malah bikin aku penasaran kan?"
Wajah Ibu itu tampak sedikit ragu. "Maaf ya, Neng. Kamu jangan marah ya? Apa Kamu ini istri simpanan?"
Aura sangat terkejut dan keningnya mulai berkerut. "Kenapa gitu, Bu?"
__ADS_1
"Yaaa, siapa tau saja kan? Kenapa Kamu bisa dilempar jauh seperti ini? Apakah untuk menghindari istri pertama."
"Bukan, Bu. Aku ini istri sah nya kok."
"Lalu kenapa kalian jauh-jauhan begini?"
Aura hanya bisa tersenyum kecut. Tidak mungkin mengakui bahwa dia adalah seorang bur*nan pihak kepolisian. Dia masih asik memikirkan alasan mereka terpaksa tinggal berjauhan.
"Apa Kamu tidak takut jika ada yang merebut suamimu? Suaminya itu ganteng banget lho?" tambah ibu tersebut.
'Hah? Ganteng? Masa sih?' Mata Aura mengambang memikirkan suaminya kembali. Ternyata, dia baru menyadari ketampanan suaminya yang tertutup oleh perasaannya selama ini pada Aksa.
"Akhir-akhir ini banyak pelakor lho, Neng. Riskan sekali pasangan muda terpisah jauh-jauh begini. Apalagi kalau laki-laki yang masih muda, uuuhh ... Dia masih begitu menggebu-gebu urusan r*njang lho?Kalau Ibu mah bakalan dikeukeup kemana-mana suami Ibu. Itu orangnya." Ibu tersebut menunjuk ke arah bapak-bapak paruh baya yang mencangkul di dalam sawah.
"Meski suami Ibu cuma seorang petani, ibu tak rela jika suami ibu deket-deket sama orang lain. Apalagi kalau suaminya kayak suami Kamu. Sepertinya dia orang yang sukses ya? Udah ganteng, masih muda, kaya raya lagi. Bakalan banyak ulat bulu mendekati suami Kamu lhoh?"
Aura mulai kepikiran dengan apa yang disampaikan oleh Ibu yang duduk di sampingnya ini. Melihat pakaian dan celana brandit dipasangkan pada orang-orangan sawah yang tengah berkibar ditiup oleh angin. Tiba-tiba, rindu kembali hadir pada hatinya.
"Oooh, masih kuliah. Masih sangat muda ya. Jadi inget zaman ibu dulu. Setamat SMA ibu juga langsung menikah. Beda usia Ibu dan suami terpaut sepuluh tahun."
Aura membandingkan dengan dirinya yang tak jauh berbeda dengan kisah Ibu tersebut. Hal ini membuatnya tersenyum sendiri membayangkan jika dia menjadi ibu yang ada di sebelahnya. Membayangkan bapak yang mencangkul tersebut adalah Reza yang telah menua.
Aaahh, indahnya bila menua bersama seperti ini.
Di tempat lain Reza meminta Abizar untuk membuat janji dengan perusahaan-perusahaan kelas menengah yang telah diretas oleh Aura. Dia sudah mencatat nama-nama dan jumlah kerugian yang dialami perusahaan tersebut. Dia menargetkan semuanya harus selesai menjelang senin depan.
Sore harinya, Reza menemui beberapa owner yang telah menjadi korban Aura. Memberi kompensasi kepada mereka agar mencabut tuntutan terhadap hacker yang telah membuat mereka merugi tersebut. Reza sedikit terkendala saat bertemu dengan owner yang juga seorang hacker.
"Jadi yang nge-hack usaha gue itu bini, Lu? Apa tujuannya ngerusak perusahaan kecil milik kami ini? Apa dia ingin mengurangi lawan perusahaan suaminya? Untuk apa? Bidang usaha kita tak ada yang sama? Kami yang hanya menengah sedang cuma sanggup membuka usaha kecil-kecilan. Masih saja diganggu oleh perusahaan mayor seperti kalian."
Reza sengaja tidak mengajak Abizar menemui para owner tersebut. Dia tak ingin Abizar mengetahui rahasia sang istri sebagai peretas hebat. Menjadi orang yang telah meretas perusahaan mereka juga.
"Maaf, Bang. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan perusahaan kami. Hanya saja saya sebagai suami merasa bertanggung jawab untuk membereskan masalah ini. Saya bersedia memberikan kompensasi kerugian yang telah kalian alami. Dengan syarat, tuntutan kepada istri saya tersebut dicabut."
__ADS_1
Pria itu menatap Reza dengan tajam. Dia bersidekap dada membuang muka. Mereka dalam diam yang panjang. Beberapa saat kemudian akhirnya sang owner menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Berapa kompensasi yang bisa Kau berikan kepada kami?"
"Sesuai kerugian yang kalian dapatkan. Saya sendiri sudah mencatatnya dengan rapi."
"Gue mau dua kali lipat!" ucap owner tersebut.
Wajah Reza menegang karena ucapan pria ini. Hanya dia yang sedikit sulit ditakhlukan oleh Reza. Sementara yang lain masih mau bernegosiasi dengan baik dengannya.
Beralih kepada Stella, yang masih kebingungan karena kesusahan dalam menghubungi Aura. Akhirnya dia memilih untuk menghubungi Aksa. Ternyata, panggilannya tidak dijawab oleh Aksa.
Kenapa mereka masih kompak begini sih? Aaah, siaaalan!
Beberapa saat kemudian, panggilan Devan kembali masuk untuk kesekian kali. Untuk kesekian kali pula Stella mereject panggilan tersebut. Dia sungguh merasa sangat kesal mengetahui pria itu memiliki pacar yang lain.
Lalu pesan chat dari Devan masuk untuknya.
[Sayang, kenapa Kamu pergi begitu saja? Apa yang dikatakan Ayu kepadamu?]
Stella hanya membaca, tanpa ada niat untuk membalasnya. Dia merasa selalu saja sial masalah percintaan. Lalu membandingkan nasibnya dengan Aura, yang tiba-tiba saja putus dengan pacar yang dicintai, dan taunya menikah dengan seorang CEO muda kaya raya dengan diam-diam.
Aaah, nasib Aura lebih baik dariku. Meski dia harus putus dengan orang dicintainya, setidaknya dia memiliki cinta pria yang benar-benar menyukainya dengan tulus.
Di tempat lain, Marcell mengecek server perusahaan Harmony yang telah diperbaiki. Dia menemukan jejak yang sangat dia kenal. Meskipun orang tersebut menggunakan server lain, tetapi dia sangat mengenal bahwa permainan itu milik Nana Hacker kesayangannya menyeringai mencoba melacak IP address tersebut.
@ ayooo mampir pada karya teman Author, Napen Ryby @
judulnya: Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Cerita Isekai, masuk ke dalam dunia Novel
__ADS_1