
Aura berlari menuju ruang perkuliahan hari ini. Karena larinya cukup cepat, ketika seorang dosen tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya, Aura tidak bisa melakukan rem mendadak untuk mengelak. Nahasnya, dia menabrak dosen yang terkenal garang itu, Barack Adijaya.
......Bruggh......
"Aahg, maaf Pak. Maafkan saya?" Aura segera bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu dosen tersebut.
Namun, Tuan Besar itu menatap Aura dengan sinis. Mencoba bangkit sendiri. Nafasnya mendengkus karena kesal kepada gadis ini. Namun, saat baru hampir berdiri, tiba-tiba ....
......kreeek......
"Aduuuuh, pinggangku," ringisnya.
"Maaf kan saya Pak. Dimana yang sakit Pak?" Aura mencoba menarik orang tua itu kembali.
......kreeek......
Terdengar lagi gemeletuk gesekan tulang belulang pria lumayan berumur ini. Kepalanya menengadah menatap tajam kepada mahasiswi kesayangan. Tidak menyangka akan begini balasan atas kebaikannya selama ini.
"Saudara Aurora Safitri, apa Anda tidak melihat usia saya yang sudah menua ini? Kenapa main tarik begitu saja hah?"
"Ma-maaf Pak. Tadi saya sangat terburu-buru." Dia tertunduk merasa sangat bersalah.
"Pak, biar kami yang membantu Anda." Arga dan rombongannya datang. Mereka membantu dosen tersebut bangkit. Sang dosen terlihat meringis karena kesakitan.
Pak Barack dibawa kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Aura mengintip keadaan pria yang sudah lebih dari setengah baya tersebut menyandarkan tubuhnya pada kursi karena menahan sakit di pinggangnya. Aura mengetuk pintu, dan sang dosen melihat Aura sembari menahan sakit di pinggang.
Aura berdiri di samping meja besar milik Pak Barack. "Bapak sangat kesakitan, saya sungguh sangat menyesal. Apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya Pak?"
Orang yang dipanggilnya 'Pak' melihat waktu pada jam tangannya. "Sudah, nanti kita bereskan. Sekarang Anda ada perkuliahan bukan? Masuk lah, nanti temui saya kembali!"
"Apa perlu saya panggilkan dokter Pak?" tanya Aura masih dengan nada berat.
"Sudah saya bilang, sekarang masuk ke kelasmu!" hardiknya.
Aura mengangguk dan berjalan mundur keluar dari ruangan tersebut, diikuti oleh Arga dan kawan-kawan. Saat pintu hampir tertutup dengan sempurna, terdengar perintah dari dosen tersebut, "Jangan berlari di dalam koridor lagi!"
"Baik Pak, sekali lagi maafkan saya Pak." Pintu ditutup dengan sempurna. Aura, Arga dan kawan-kawannya melangkah dengan cepat menuju ruang perkuliahan.
Dosen kali ini memiliki sisi yang berbeda lagi. Siapa yang terlambat lebih dari lima menit, maka dia tidak boleh masuk untuk perkuliahan hari ini. Pak Edgard adalah dosen yang cukup muda, dan kabarnya sangat suka menebarkan nilai C pada LHS mahasiswanya.
Aura mengetuk pintu tersebut, dia merasa yakin bahwa masih belum cukup terlambat untuk bisa masuk. Pintu dibuka dengan pelan. Terlihat kilatan dari ujung kacamata sang dosen.
"Maaf Pak, apa kami masih diperbolehkan untuk masuk?"
Pak Edgard berdiri tak percaya melihat sosok yang biasanya dia ingat ini, datang terlambat. Mengecek kembali pada jam tangannya, "Mana tugas Anda semua?" tanya dosen tersebut menengadahkan tangannya.
Aura segera mengeluarkan dari ransel, lalu mengeluarkan lembaran tugas dari map agar tetap rapi, lalu menyerahkannya kepada beliau. Dosen tersebut mengecek tugas milik Aura, keningnya berkerut.
"Ini bukan tugas yang saya beri."
Aura gelagapan, mengeluarkan tugas yang satu lagi. Dosen tersebut menyerahkan yang salah tadi, lalu memeriksa kembali tugas Aura dan anggota yang terlambat lainnya. Setelah mengangguk, Pak Edgard menunjuk ke pintu.
"Maksudnya Pak?" tanya Aura makin deg-degan.
__ADS_1
"Keluar! Saya konsisten dengan peraturan yang telah kita buat."
"Ta-tapi Pak?"
"Keluar!"
Aura ingin membujuk kembali, namun Arga menarik tangan Aura, menggelengkan kepalanya. Aura melihat ke arah Stella, lalu melambaikan tangan. Stella pun melambaikan tangan tanda prihatin atas hal yang menimpa temannya.
"Hiks, beasiswaku ...," tangisnya terancam akan mendapat nilai yang buruk.
"Sudah lah Ra, beliau tidak akan menerima permohonan memberi keringanan sedikit pun. Bukan kah kita sudah empat bulan kuliah bersama beliau? Tidak pernah memberi dispensasi kepada siapa pun?" ucap Arga.
Aura mengangguk, lalu teringat pada Pak Barack tadi yang tengah kesakitan. "Kalau begitu, aku ke ruang Pak Barack saja, biar aku antar ke rumah sakit yang ada di kampus ini."
"Aku juga ikut!" Ucap Arga.
"Ga, kami ke perpus aja lah?" ucap kawannya yang lain.
"Yoi," balas Arga.
Aura mengetuk pintu ruang kerja dosen tersebut. Pelan-pelan membuka pintu melihat sang dosen masih meringis kesakitan. Mata Pak Barack menatap dua mahasiswa yang baru saja meninggalkan tempat ini beberapa saat.
"Kenapa kalian kembali? Bukankah kalian ada jadwal perkuliahan?"
"Kami sudah terlambat dan dilarang untuk mengikuti perkuliahan hari ini Pak," jelas Aura menunduk.
"Oh, kuliah dengan Pak Edgard?"
"Hah? Rumah sakit? Bukan kah itu terlalu berlebihan?"
"Dulu ibu saya jatuh di kamar mandi, Pak. Karena terus dibiarkan malah menjadi semakin parah. Bahkan Ibu saya tidak bisa bekerja membantu Ayah saya lagi. Hal itu karena berawal dari jatuh yang dibiarkan begitu saja. Saya tidak ingin hal tersebut juga terjadi pada Bapak. Oleh sebab itu, mari saya antarkan ke rumah sakit. Sebagai wujud rasa tanggung jawab saya kepada Bapak."
Pak Barack mengibaskan tangannya pertanda menolak. "Tidak usah! Saya sudah menelepon anak saya. Biar dia yang mengurus saya."
"Lebih cepat lebih baik Pak. Mari saya antarkan ke rumah sakit?"
"Ekhem, ternyata Kamu suka memaksa juga?" Pak Barack mengambil ponselnya, menekan-nekan layar tersebut lalu diletakan di telinga.
"Tolong jemput saya! Saya akan ke rumah sakit universitas sekarang juga!" Panggilan ditutup lalu mencoba untuk bangkit dari kursi kerjanya.
Aura dan Arga segera memapah dosen mereka, lalu mengiringi dengan pelan. Dari ujung koridor tampak pria paruh baya tergopoh ke arah mereka.
"Tuan Besar, Anda tidak apa?"
Aura menduga-duga bahwa Bapak ini adalah orang yang baru saja ditelepon oleh Pak Barack. Aura terus memapah sang dosen. Mereka berjalan dengan hati-hati hingga sang Tuan Besar masuk ke dalam mobil.
"Ra, Kamu yakin akan menemani Beliau?" tanya Arga.
"Iya, aku merasa gak enak hati. Beliau kesakitan gara-gara aku. Kamu mau ikut nggak?"
"Hmmm, aku temani sampai di sini saja? Lagian Beliau sudah memiliki asisten juga kan?"
"Ya udah, aku ikut mengantarkan beliau." Aura dudu di depan sebelah supir dosen tersebut. Tak perlu berlama-lama mereka sudah berada di rumah sakit yang masih berada di dalam kawasan kampus itu.
__ADS_1
Tadi Aura sempat mendengar beberapa kali panggilan masuk, Beliau seperti menginformasikan posisinya sekarang.
Mungkin saja keluarga Beliau yang menelepon, batinnya.
Aura kembali memapah dosen tersebut. Bibir Pak Barack tersungging sebuah senyuman dan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Ekhem, saya boleh berbicara non formal kepadamu Aurora?" tanya dosen tersebut mulai berbicara santai.
"Ya, terserah Bapak. Bagaimana pun, Anda adalah guru saya."
"Seandainya anak saya perhatian seperti kamu ini? Mungkin saya akan memilih pensiun secepatnya menikmati masa tua saya."
Aura kembali memperhatikan sang dosen, "Saya lihat, Bapak masih cukup muda. Orang tua saya yang baru berusia empat puluhan, malah terlihat lebih tua dibanding Bapak."
"Hahaha, ternyata Kamu pandai mengambil hati orang tua."
Mereka masuk ke ruang dokter senior yang merupakan salah satu dosen senior di Fakultas Kedokteran. Dokter tersebut menyalami Pak Barack.
"Apa yang terjadi Prof?"
Sedikit mengernyit, "Tadi saya jatuh. Setelah itu pinggang saya terasa sakit. Tolong Dok, bagaimana cara agar terbebas dari sakit ini?"
"Hmmm, berarti sakit karena cidera? Kalau begitu apakah Anda bersedia untuk dirontgen memeriksa keadaan terlebih dahulu?" Tanya dokter tersebut meminta pendapat Pak Barack.
Mata sang dokter menoleh kepada Aura, "Siapa ini? Putri bungsu Anda itu ya?"
"Ekhem," dosen tersebut melirik Aura sejenak, "Anggap saja begitu."
......gleeekk......
Tenggorokan gadis itu seperti tercekat. Agak sedikit was-was jika dibilang dia lah penyebab cidera yang dialami dosen ini.
"Kalau begitu, saya akan meminta perawat untuk menjemput Anda dengan kursi roda." Sang dokter mengangkat gagang telepon, lalu melakukan panggilan cepat. Memanggil perawat untuk membawa pria yang duduk di hadapannya ini ke ruang rongent.
Setelah itu, sang dokter memeriksa tekanan darah dan kondisi lainnya yang dianggap perlu. "Tekanan darah Anda sedikit tinggi. Mungkin disebabkan karena menahan rasa sakit yang luar biasa ini. Semoga setelah menjalani perawatan, keadaan Anda bisa menjadi lebih baik lagi."
"Baik lah Dok, lakukan yang terbaik!"
Tak lama pintu ruangan tersebut dibuka dari luar. Sepasang perawat datang membawa kursi roda. Di belakang perawat itu muncul seorang gadis cantik.
"Papa?" Dia masuk dengan perasaan gusar. "Apa yang terjadi Pa?" Matanya liar melihat ke segala arah. "Tadi aku sudah menelepon Mas Reza, katanya bakalan nyusul, lagi ada rapat."
Wuiiihh, keluarga sibuk ternyata, batin Aura.
"Ya udah, tidak apa," jawab sang dosen.
"Eh, kamu siapa? Jangan bilang kalau kamu itu sugar baby Papa saya ya?"
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1