CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
100. Hukuman


__ADS_3

"Aku akan bertahan! Sampai kapan pun aku akan menunggu!" Menatap kembali wajah itu. Aksa hendak membelai pipinya. Namun, Aura bangkit dari posisinya dan membelakangi Aksa, menyapu air mata yang sedari tadi sudah terbendung di pelupuknya.


"Jangan, aku ini su--"


Aura belum menyelesaikan ucapannya. Namun Aksa memeluknya dari belakang. Dia terdiam, merasakan debaran di dadanya. Seperti ada yang menyadarkan bahwa ini tak boleh terjadi, Aura melepaskan kedua tangan yang memeluknya itu.


"Tidak boleh begini! Aku ini sudah menikah!"


Aksa tertegun mendengar ucapan Aura. "Tidak mungkin! Kamu bohong! Kita baru saja bertemu beberapa waktu lalu!"


Aura melihatkan jemarinya pada Aksa. "Apa kamu melihat ini? Ini cincin pernikahan. Aku menikah setelah kita berpisah, malam itu." Aura tertunduk dengan wajah sayu.


"Bohong! Itu hanya alasanmu agar aku menjauh kan? Itu perintah CEO itu bukan? Aku tahu, Kamu mencintaiku! Aku pun sangat mencintaimu."


Aura menundukan kepalanya. "Sudah, Bang. Sebemarnya kita sudah tidak boleh bertemu seperti ini lagi. Hanya saja aku tak ingin, Kamu terus mencariku. Aku sudah menikah. Kamu kembali lah ke Bandung! Aku harus merawat suamiku yang sedang sakit."


Aura bergerak beberapa langkah, dan kembali memutar badannya menghadap Aksa. "Aku ingin mencoba mencintai suamiku. Kamu jangan pernah mencariku lagi. Lupakan lah aku!"


"Terserah Kamu mau bilang apa! Aku akan selalu mencari dan menunggumu! Jika Kamu tidak bisa juga mencintai dia, berpisahlah! Aku akan segera mencari pekerjaan. Setelah Kamu berpisah, kita akan segera menikah!"


Aura berjalan mundur kembali dan menggelengkan kepalanya. "Jangan sia-sia kan waktumu! Aku tak akan pernah berjanji mengenai hal itu!"


Aura segera berlari menuju kembali ke rumah indekosnya. Dia menangis hebat di atas tempat tidur. Mengingat semua kenangan yang dilaluinya mulai saat masih sekolah, hingga berjumpa kembali di negeri orang ini. Dia menghabiskan waktunya dengan menangis tanpa suara.


Aksa yang tertegun, kembali hanya bisa melihat kedua tangan itu. Pelukan yang dilepaskan oleh gadis pujaan hati.


'Katanya saat ini dia sudah menjadi milik orang. Milik orang ...


"KENAPA RAAAAA? KENAPAAAAA?"


"BAGAIMANA PUN AKU AKAN MENUNGGU!"


Aksa meninju pilar gazebo itu beberapa kali. Setelah itu, dia merosot duduk membenamkan dirinya meringkuk dalam pelukannya sendiri.


"Jika seandainya aku tahu ini akan terjadi, aku akan mengambilmu lebih dahulu di hotel itu. Kamu tahu? Saking berharganya dirimu untukku? Bahkan Kau tak pernah ku sentuh seujung kuku pun. Aku menyesali ituuu! Aaaaarrrrggg!"


💖


Di rumah sakit, Mama Reza sudah mulai merasa habis kesabaran karena Aura belum juga muncul. Setiap saat melirik ponselnya melihat waktu.

__ADS_1


"Mana istri Kamu? Kenapa masih belum datang juga?"


Reza juga merasa Aura terlalu lama untuk kembali dari meetingnya. Dia segera menghubungi Abizar menanyakan kepastian keberadaan Aura.


"Halo, Boss. Aman terkendali, Boss. Tak sia-sia punya bini pinter, Boss!"


Abizar sudah nyerocos duluan sebelum ditanya. "Hey, tunggu! Saya udah lihat tadi kan? Saya tidak menanyakan itu. Yang mau saya tanyakan, apakah istri saya sudah berangkat dari sana?"


"Emang belum nyampe, Boss? Dia sudah cabut semenjak dua jam yang lalu."


"Hah? Dua jam yang lalu? Tapi kenapa sampai sekarang dia belum balik juga?"


"Wah, saya kurang tahu, Boss! Coba tanya supirnya, Boss!"


"Oh, ya udah! Jangan lupa handle kantor baik-baik! Kalau hancur nanti Kamu, saya pecat!"


"Alah, Boss ... jangan keras-keras!"


Reza menutup panggilannya, lalu beralih menelepon supirnya, Jono. Sambil menunggu panggilan, dia melirik sang ibu mondar-mandir dengan wajah geram. "Ma, mukanya boleh dikondisikan? Nanti cantiknya hilang lho?"


"Mama itu kesel tau nggak sih?"


Reza memberi kode agar ibunya tenang dulu beberala saat. Panggilan pada supirnya Jono telah tersambung.


"No, mana istri saya? Kenapa lama sekali?"


"Anu, Tuan. Nona masih di kosannya belum keluar."


"Hmmm, jadi dia masih di kosannya? Syukur lah, kalau dia tidak apa-apa. Kalau gitu antarkan dia dengan selamat nanti!"


"Anu, Tuan? Anu ...."


"Anu, anu apa?"


"Sebenarnya tadi, Nona, adu ... gimana ya? Nggak jadi aja, Tuan!"


"Ayo katakan, cepat!"


"Nggak jadi Tuan, ga jadi."

__ADS_1


"Alaah, udah ngomong anu, anu, malah digantung? Ayo katakan cepat! Mau saya pecat?"


"Jangan, Tuan!"


"Cepat katakan! Kamu buang-buang waktu saya saja!"


"Iya, maaf Tuan. Begini, tadi waktu baru sampai kosan Nona, tak lama dia kayak dikejar-kejar seorang pria."


"Apa? Siapa yang mengejarnya? Jangan-jangan penculik kemarin?"


"Bukan, penculik kayaknya Tuan. Orangnya ganteng dan terlihat baik-baik kok. Nona pergi beberapa waktu bersama dia, sekitar setengah jam-an. Lalu, Nona terlihat berlari pulang sambil menangis. Jadinya hingga sekarang dia belum muncul juga."


Raut wajah Reza seketika berubah merah. "Ya udah. Saya tutup dulu," ucap Reza, dingin.


'Jadi karena itu dia tidak muncul. Dia baru saja bertemu pacar lamanya,' batin Reza, diam dalam renungan panjang. Mukanya merah padam, dan membanting ponsel itu asal akhirnya jatuh ke lantai, membuat sang ibu kaget.


"Kamu kenapa?" tanya sang Ibu.


Reza hanya diam seribu bahasa, dengan tangan tengah mengepal.


Setelah berhasil menata hati, Aura segera membersihkan diri. Matanya terlihat sembab, sehingga dia memilih menggunakan topi, masker, dan kaca mata. Aura mengikat rambutnya, lalu segera menuju ke jalan depan gang.


Di sebuah pojok kosan tersebut, seseorang yang bergaya sama sengan Aura tengah menantinya. Beruntung identitas Aura tidak terdeteksi, sehingga dia melewati pria itu yang masih mengintai tajam memperhatikan rumah indekos tersebut.


Aura segera naik kendaraan yang sedari tadi menunggu. Jono berangkat terus memperhatikan Nyonya Mudanya ini yang berpenampilan berbeda dari biasa. Jono tidak berani menyapa Aura. Dia merasa ingin segera kabur sesaat setelah mengantar Aura. Karena dia takut, Aura akan menghajarnya karena baru saja mengadu pada Tuan Muda Reza.


Tak lama, mereka pun sampai di pelataran parkir rumah sakit. "Makasi, Mas Jono," ucap Aura saat turun


"Sama-sama, Nona." Jono merasa bersalah kepada Nona Muda yang baik itu. Menatapnya mulai memasuki koridor rumah sakit dan menghilang. Jono memukul-mukul mulutnya.


"Ah, mulut. Kamu sudah menyusahkan Nona kita yang baik hati itu." Jono memukul-mukul mulutnya sendiri.


Aura berjalan dengan lesu, memandangi sekeliling rumah sakit. Menghirup udara pelan-pelan hingga memenuhi diafragmanya. Berjalan bagai orang bingung di antara pengunjung rumah sakit lainnya. Usai menangis sepuasnya tadi, pikirannya sungguh terasa kosong. Saking kosongnya dia terlihat seperti orang ling lung.


Aura sudah tepat berada di depan pintu kamar rawat suaminya. Dia kembali menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Secara perlahan gagang pintu ditarik, lalu didorong hingga terbuka.


Hawa mencekam sangat terasa di dalam kamar itu. Dua mata seorang pria yang duduk di atas brangkar langsung menyambutnya dengan nanar. Aura berusaha melebarkan senyumnya agar suaminya tidak merasa curiga. Semua peralatan yang tadi melekat di tubuh suaminya telah terlepas.


"Nah, Kamu sudah datang! Sekarang giliran Mama yang pulang. Kenapa Kamu lama sekali?" Mertuanya itu langsung mengambil tas jinjing mahalnya lalu melambaikan tangan. Namun, wajahnya terlihat sangat kesal.

__ADS_1


Aura ingin bertanya pada sang suami. Namun, rona suami tak kalah seram. Aura mendekat. "Kanda, ada apa?"


Reza langsung menarik istrinya, merebahkan Aura di pangkuannya. Lalu me lu mat bi bir Aura dengan pa nas penuh amarah.


__ADS_2