
"Maafkan aku calon suamiku. Aku adalah penjahat yang selalu ingin menjatuhkanmu," tangisnya, sesegukan.
"Kamu kenapa tiba-tiba menjadi pucat seperti ini?" Reza membalas pelukan Aura. Dia ikut panik melihat keadaan Aura yang seperti kehabisan daya.
"Ekhem," Ayah baru pulang dari rumah Pak RT untuk mengurus pernikahan esok. Melihat dua orang yang belum sah ini berpelukan, membuat Ayah marah. Kedua orang itu terkesiap. Namun, Aura masih terlihat sedikit lesu. Dia masih memikirkan sasuatu yang belum bisa dilepaskannya.
"Reza, apakah kalian sering seperti ini di sana?" Ayah menatap Reza dengan tajam.
"Bu-bukan seperti yang ayah pikirkan. Hanya saja, Aura terlihat kurang sehat."
"Apa?" Ayah langsung mengejar melihat keadaan Aura. "Kamu kenapa, Ra?"
Aura bangkit. Dia hanya sedang merasa bersalah pada laki-laki itu. "Aku tidak apa." Dia masuk ke kamar bersama adik-adik perempuannya. Lalu menutup pintu.
Ayah kembali melihat Reza dengan tatapan pernuh arti. Reza yang ditatap seperti itu seketika merasa tidak enak hati. "Yah, kedua orang tua saya sudah sampai di kota ini. Saat ini, mereka sedang menginap di hotel."
Ayah Aura melihat jam di dinding. Sepertinya malam ini sudah cukup larut. Nanti kita bertemunya saat nikah di KUA dan nanti kita akan mengurus banyak hal. Jadi kalau semua sudah seleasai, biar kami saja yang datang ke hotel untuk menemui mereka. Lalu Ayah Aura mengerjakan hal lain yang dirasa perlu.
"Huuufftt, hampir saja. Kalau tahu dulu anaknya sudah kuculik, pasti akan lebih marah lagi," desisnya sangat pelan.
Akhirnya Reza memberitahukan pada orangtuanya bahwa mereka belum bisa datang ke hotel malam ini.
💖
Semua orang telah berada di ruang Akad Nikah KUA. Aura terlihat anggun meski dibalut oleh kebaya dengan dandanan sederhana. Sementara Reza tampak gagah mengenakan jas yang sudah terbiasa melekat pada tubuhnya.
__ADS_1
Reza tengah duduk di samping orang tua dan adiknya Rezi. Rini belum bisa ikut, karena pernikahan Reza ini begitu mendadak, membuat sang suami belum bisa mengajukan rencana cuti di negara matahari terbit. Sembari memejamkan mata, ia menenangkan jantungnya yang berdegup tak beratusan semenjak tadi. Reza merasa sangat grogi, takut melakukan kesalahan. Dalam kepalanya tengah menghafal isi ijab kabul yang harus dia bacakan sesaat lagi.
Barack Adijaya, sang ayah memperhatikan sang anak yang terus memejamkan mata. Menyentuh pundaknya, sambil mengatakan sesuatu. "Pikiran dan hatimu harus tenang!"
Reza mengangguk, dia masih latihan membacakan ijab kabul dalam kalbunya. Saat membuka mata, tampak mempelai wanita tengah duduk di sisi keluarganya. Aura terlihat sangat cantik, di matanya.
Acara pun dimulai, dan dibuka oleh pihak KUA. Saksi yang hadir pun tidak terlalu banyak. Beberapa saat setelahnya, ijab kabul pun dimulai, dan dipimpin oleh penghulu.
Ayah Aura mulai menjabat tangan Reza. Aura yang melihat calon suami dan Ayahnya akan membacakan ijab kabul, ikut merasa berdebar. Aura memejamkan mata, karena jantungnya hampir copot karena perasaan yang tidak menentu ini.
"Saya nikahkan engkau ananda Reza Firto Adijaya bin Barack Adijaya dengan anak saya Aurora Safitri binti Asril Mizan dengan mas kawin, emas murni seberat seratus gram dibayar tunaaaaaai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Aurora Safitri binti Asril Mizan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Semua lancar dibacakan oleh Reza. Semua yang hadir di ruangan tersebut merasa lega, saat pria ini melafazkannya hanya dalam satu tarikan. Jantungnya hampir meledak karena menahan rasa yang luar biasa.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" ucap saksi pihak laki-laki.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri." Mereka semua langsung berdoa dipimping oleh penghulu pernikahan.
Reza melirik Aura yang duduk bersama orang tuanya. Aura terlihat melongo karena tak menyangka pria ini menyebutnya hanya dalam satu lafaz. Dia sudah resmi menjadi istri Reza Firto Adijaya. Air matanya menetes, menyadari tak akan ada celah lagi antara hubungan dirinya dengan Aksa.
Akhirnya, mempelai wanita diminta untuk duduk di sebelah mempelai pria. Aura mencium tangan suaminya. Reza menyambut ciuman pada kening sang istri. "Sudah lihat ketulusan hatiku bukan?" bisiknya. "I love you," tambahnya.
Aura tercenung mendengar ucapan Reza barusan. 'Katanya tulus? Katanya cinta? Bukan kah dia hanya menjadikanku tawanan cintanya saja? Karena aku terus mengganggu perusahaannya.
__ADS_1
Setelah itu adalah sesi restu dari kedua mempelai pengantin. Aura mencium tangan kedua orang tua dan kedua mertuanya. Kedua orang tua mereka memberikan doa yang terbaik untuk mereka. Meski Mama Reza masih belum ikhlas menerima Aura sebagai menantu.
Cincin pun dipasang secara bergantian. Tidak hanya itu, penyerahan mahar pun dilakukan. Terakhir sesi foto memegang buku nikah masing-masing. Reza dengan santainya merangkul wanita yang resmi menjadi istrinya ini.
"Aku sudah tidak sabar, Dinda," bisiknya pada telinga Aura.
Bulu roma Aura seketika berdiri. Mencoba membayangkan apa yang dimaksud oleh pria yang telah resmi mejadi suaminya ini. Aura hanya menyibak tangan Reza yang telah nangkring di pinggangnya.
"Aura kami serahkan kepadamu Reza. Apa pun yang terjadi, bagaimana pun dia, saat ini sudah menjadi tanggung jawabmu. Jika dia salah, nasihatilah dia dengan cara yang baik. Jika ada masalah dalam berumah tangga, bicara kan lah dengan baik. Keutuhan rumah tangga kini berkunci pada sikap kalian berdua dalam menyelesaikan masalah," ucap Ayah Aura, menepuk lengan Reza.
Reza mengangguk. "Percayakan lah Aura pada saya. Saya akan melakukan segala yang terbaik untuk dirinya."
Aura melirik pria ini, antara percaya dan tak percaya atas segala hal yang diucapkannya. Sementara Aura sendiri, tengah mendapat wejangan dari ibu mertuanya.
"Sekarang, Kamu sudah jadi istri dari putra sulung kami, Mas Reza. Oleh sebab itu, Kamu harus bisa membuatnya nyaman saat bersamamu. Nanti, ada hal yang wajib Kamu berikan kepada suami. Ada nafkah batin yang tidak boleh Kamu tolak. Baik Kamu tulus mencintainya, maupun tidak memiliki rasa sama sekali padanya."
"Kami berdua sangat mengharapkan agar dia segera memberikan kami cucu. Jadi, Kamu jangan sampai menunda-nunda ya? Kami sudah tidak sabar menimang cucu dari kalian berdua."
Reza langsung merangkul pinggang Aura dari belakang. Aura terkesiap mendapat pelukan mendadak begini. Apalagi di hadapan semua orang.
"Kami akan menunda rencana memiliki anak terlebih dahulu, Ma, Pa. Karena dia ingin menyelesaikan perkuliahannya. Takutnya bila memiliki anak, malah akan membuatnya sibuk, dan membuat perkuliahannya terbengkalai," jelas Reza tanpa malu dan ragu berlaku mesra di hadapan semua orang.
"Ekhem," Papa Reza memberi kode agar anaknya melepas pelukan berlebihan itu. "Kamu tidak perlu pamer kemesraan seperti ini. Tak semua orang suka melihat hal ini," ucap Papanya mengingatkan.
"Biarin, Pa. Aku menikahinya karena memang ingin bebas memeluknya begini. Sekarang dia tidak bisa menolaknya lagi."
__ADS_1
Aura hanya bisa terdiam karena merasa sangat canggung. Meski ada perasaan lega, bahwa pria yang memeluknya dari belakang ini, telah menyelamatkan dirinya dari ultimatum ibu mertua.
Nafkah batin? Harus ya? Ah, bagaimana ini? Aku belum siap.