
Setelah beberapa jam, Reza mulai membuka mata secara perlahan. Mendapati dirinya yang terikat di ruang gelap.
"Uuuhhuukk ... huuuk ... huuukkk ...."
Reza merasa sesak di dadanya. Masih dalam keadaan terbatuk, matanya liar memandang ke segala arah. Hanya sedikit pencahayaan yang dia peroleh, sehingga membuat pupil matanya membesar untuk fokus memperkirakan apa yang ada di sekitar ruangan itu.
"Uuuhhuuukkk ...." Napas Reza tersengal. Sisa helium yang terhirup masih begitu terasa olehnya.
Dia teringat pada Aura. Kepalanya liar melihat ke segala arah. Namun, tak satu pun yang terlihat oleh matanya. Mengingat Aura tengah hamil muda, membuahkan khawatir Reza pada kondisi sang istri.
Siapa yang melakulan ini?
Reza mencoba mengingat kembali semua kejadian sebelum dia sampai ke sini. Dia bersiap untuk memadu kasih. Namun, ada yang membawakan sebuah travel bag untuknya. Seorang pria yang mengaku sebagai pegawai hotel.
Pasti dia yang menyelipkan benda aneh ke dalam tas itu.
Reza mencoba menarik tangannya yang terikat oleh borgol. Ternyata borgol itu tak bergeming sama sekali.
Oh, sial. Istriku di mana? Jika dia berani macam-macam pada istriku, awas saja dia.
Hingga pagi datang, tak satu pun yang masuk ke tempat dia desekap. Dia terus dalam keadaan terikat dengan tangan terborgol.
💖
"Uhuuuk ... uhuuuk ... uhuuuk ..."
Aura terbangun merasa sangat sulit untuk mengambil oksigen dari udara. Aura bangkit dengan refleks langsung duduk.
"Aahhg ...."
Perutnya menjadi terasa sangat sakit. Perutnya terasa keram karena tadi refleks duduk dari posisi tidur. Aura mengusap perutnya membayangkan berbicara dengan anaknya.
"Sayang, kamu harus kuat ya."
"hoooeeekkk"
Aroma helium masih memenuhi ruang itu. Aura bangkit pelan-pelan yang tadinya tertidur di atas lantai beralaskan permadani. Dia masih mengenakan gaun karena berencana hendak makan malam bersama suaminya.
Aura menuju wastafel memuntahkan segala yang bergejolak di dalam perutnya. Aura mengedarkan pandangan. Dia mencari sosok suami yang menghilang begitu saja. Dia berkeliling kamar yang luas dan mewah terus memanggil suami tercinta.
"Kanda ...?"
__ADS_1
"Kanda ...?"
Aura melihat lembaran kertas yang tergeletak di lantai, di dekat dia bangun tadi. Dengan wajah curiga, dia segera menarik secarik kertas tersebut. Alangkah kagetnya dia saat membaca isi dari pesan tersebut.
Hallo, Nona Hacker ...
Sepertinya Kau begitu menikmati kebebasanmu beberapa waktu ini bukan?
Sayang sekali, Kau memutuskan kembali kepada Reza Firto Adijaya dalam kurun waktu yang terlalu cepat. Kenapa tidak sekalian bercerai saja?
Bagaimana rasanya setelah bebas tugas dari pekerjaan yang telah kuberi? Apa kau tak merindukan bagaimana rasanya duduk di depan layar untuk tugas hacking kembali?
Saat ini, suamimu Reza Firto Adijaya, ada bersamaku. Jika kau ingin membebaskannya, Kau harus menyelesaikan tugas level terakhirmu!
Aku menunggu jawabanmu, dalam kurung waktu 24 jam. Terhitung mulai malam ini pulul 20.00.
Aura mereeemas lembaran kertas itu hingga remuk tak berbentuk. Perasaan marah saat mengetahui bahwa Marcell masih menginginkannya untuk menyelesaikan misi yang tidak berkesudahan itu.
Dengan segera, dia menyalakan laptop dan langsung mencari server milik Tuan Sistem. Dia mengirimkan surel virus kepada Sistem, yang tak lain adalah seseorang bernama Marcell. Surel tersebut berisi tentang sebuah pesan.
Awas kau Marcell ...
Pesan langsung sampai pada Marcell. Pria itu menyeringai mendapat perlawanan dari Aura. "Ternyata kau baru bangun, Nona?"
Marcell membalas surel tersebut dalam bentuk rekaman CCTV di mana suaminya sedang didekam dalam ruangan dengan kedua tangannya sedang terikat. Aura segera menangkap video tersebut menemukan titik lokasi di mana Marcell berada.
Video yang berdurasi tak sampai tiga puluh detik tersebut terhapus dengan sendirinya. Akan tetapi, Aura telah berhasil menemukan titik keberadaan mereka.
Aura mengganti pakaian yang dikenakan saat ini dengan pakaian kotornya kemarin. Aura telah memindahkan titik tersebut pada ponselnya. Dia segera mengikuti titik tersebut menggunakan jasa ojek online.
Tak lama, Aura telah berada tepat di titik yang telah ditunjuk oleh map. Aura segera menyelinap masuk secara diam-diam. Dia mengecek apakah di sana ada CCTV atau tidak. Untuk sementara dia menyimpulkan tempat itu tidak memiliki CCTV.
Aura mencoba mengintip dari luar, namun tak bisa melihat apa-apa. Dia mencoba menaiki lantai dua dengan sedikit bergelantungan. Ternyata dengan begini membuat bagian di perutnya jadi keram kembali. Dia hentikan dan meringkuk untuk menenangkan rasa sakit di bagian perutnya.
Mau tak mau, Aura mencoba masuk lewat pintu yang ada, dan langsung disambut oleh Marcell. Dia sudah memantau kedatangan Aura lewat CCTV yang lokasinya disembunyikan.
"Selamat datang Nona. Cepat sekali kau menemukan tempat ini? Kenapa tidak jadi manjat? Apa terjadi sesuatu dengan perutmu? Atau perutmu lagi ada sesuatu?" Seringai mengerikan tergambar di bibirnya.
"Di mana dia?"
Marcell bersidekap dada. Satu tangan memainkan dagu memperhatikan kondisi Aura yang tidak seperti sebelumnya. "Kau tenang saja! Hingga saat ini, dia masih baik-baik saja. Dia akan kulepas, jika kau melaksanakan apa yang aku ucapkan."
__ADS_1
"Apa maumu?"
"Level keduamu gagal! Kau sudah menikah dengan korban retasmu sendiri! Kali ini Kau akan aku tugaskan meretas level tigamu hingga tuntas!"
Aura juga melipat kedua tangannya. Mengangkat sedikit wajah menatap Marcell dengan dingin. "Kenapa harus aku? Bukan kah kau memiliki banyak budak hacker lainnya. Lepaskan aku! Aku sudah memiliki kehidupan sendiri!"
Marcell menyeringai, dia berjalan mengelilingi Aura. "Mengapa kamu?" Marcell membelai rambut Aura dan mencium aroma rambut itu.
"Karena kau istimewa!"
Aura membuang muka, bibir sedikit terangkat karena pernyataan Marcell membuatnya semakin marah. Ada gejolak yang membuatnya ingin segera menghajar pria ini. Namun, kondisinya benar-benar tidak memungkinkan.
"Namun ada hal yang lebih mudah untuk kamu. Jika kamu lakukan, aku akan segera melepaskan dia saat ini juga."
Aura menatapnya dengan tajam. "Kuharap kau tak macam-macam!"
Marcell mengatup bibir, sedikit menaikan bahu. "Bagiku ini bukan sesuatu yang aneh."
"Apa maumu?"
"Jika kamu mau melakukannya, kita berdua bisa menggenggam dunia ini bersama."
Aura meringis menyiratkan rasa jijiknya pada pria itu. "Sepertinya aku sudah menebak isi kepalamu."
Aura berjalan mendekat pada Marcell. Memperlihatkan jemarinya yang sudah dilingkari oleh cincin pernikahannya dengan Reza. "Kamu tahu ini apa? Ini cincin nikahku dengan dia. Kami sudah menikah lebih tiga bulan semenjak kau menugasiku meretas perusahaannya!"
"Itu semua karena kau! Kau tidak menjamin kerahasiaan identitasku! Dia menangkap dan mengancamku. Aku terpaksa menikah untuk menyelamatkan seseorang, yang saat itu sangat aku cinta."
"Nah, seperti yang orang bilang. Cinta datang karena terbiasa, meski prosesnya yang rumit, saat ini aku sangat mencintainya. Kali ini aku berterima kasih, karena ulahmu kami jadi bersatu!"
Marcell menyiratkan sesuatu yang tak biasa. Dia tersentak tak percaya. "Katakan saja kalau kau menyukainya karena diberikan semua fasilitas kenyamanan olehnya ...!"
💖
💖
💖
Ayooo mampir juga di karya temen Author yaaa ... ceritanya seru abiiiss
__ADS_1