
"Sepertinya, panggilan Nona Mie Instan, memang lebih cocok untukmu!"
"Apaan sih? Makan aja sanah!" Melihat pria itu belum makan sedikit pun. "Masa kalah sama aku?"
"Kamu lihat ke sana dulu!" ucap Reza yang merasa canggung jika diperhatikan.
Aura memilih mencoba menyalakan ponselnya. Namun ternyata, ponsel tersebut sudah kehabisan daya. Aura kembali memperhatikan pria itu yang tengah makan dengan alon-alon. Senyum tipis menyungging di bibirnya. Membayangkan jika lomba makan dengan adik-adiknya, pria ini dijamin langsung kalah.
Reza yang sadar tengah diperhatikan membelakangi gadis itu dan segera menyelesaikan makannya. Terakhir, dia minum air pun dengan sangat tenang. Mengambil sapu tangan yang sengaja disediakan di atas meja, membersihkan semua sisa yang menembel di sekitar mulutnya.
"Rapih bener makannya, Tuan Muda?"
"Makan itu ya mesti dengan tenang! Tidak kayak Kamu, makan kayak orang kelaparan setelah satu tahun nggak makan."
Tiba-tiba, Bibi datang dari arah luar "Tuan Muda, di luar ada Mas Abizar bersama istrinya datang berkunjung."
"Wah, kebetulan sekali. Dinda, ayo sekalian kita double date dengan mereka."
"Katanya lebih cocok Nona Mie Instan?" celetuknya.
"Tapi Kanda lebih suka memanggilmu Dinda." Menarik tangan gadis itu untuk bertemu dengan pasutri yang merasakan kebahagiaan menanti buah hati.
Abizar melihat Reza yang menarik tangan seorang gadis yang malu-malu berjalan di belakangnya. Padahal, dia berencana ingin menanyakan kepada sang Boss, bagaimana cerita sampai mereka memutuskan untuk menikah. Akan tetapi, gadis itu sedang bersamanya. Abizar memilih menunda pertanyaannya kembali.
"Zar, nanti ada beberapa ponsel yang mau saya titip kepada Kamu."
Abizar memasang wajah heran. "Titip untuk?"
"Tolong bagikan pada OB atau OG di kantor yang belum memiliki ponsel pintar."
Seketika wajah Abizar ikut sumringah. "Wiiihh, buat saya ada ngga Boss?"
"Oooh, Kamu mau? Berarti Kamu mau saya turunkan jabatan menjadi OB?"
Abizar memberi kode silang dengan kedua tangannya. "Jangan Boss!"
"Makanya, kalau penghasilan udah lebih dari cukup itu mestinya bersyukur. Ini jatah orang masih aja mau diembat."
"Eheee, canda Boss."
__ADS_1
"Makanya, Mas. Jangan asal ngomong aaah?" Istri Abizar mencubit pinggang sang suami.
"Bagaimana kehamilannya, Mba Ratna?" tanya Reza.
"Alhamdulillah, semua lancar, Mas Boss." Ratna, istri Abizar menengok tangan seorang gadis muda yang terus digenggam oleh Reza.
"Ini siapa, Mas Boss?"
Abizar belum sempat menceritakan kepada istrinya bahwa Pimpinannya ini akan menikah dengan gadis muda. Abizar hanya berdehem menunggu sang Boss menjawabnya sendiri.
Reza menarik gadis itu untuk mendekat pada Ratna. "Kenalkan ini istrinya Abizar."
Aura teringat pada analisa Aksa dahulu. Aksa meramalkan bahwa Abizar yang dahulunya disangka sebagai CEO itu telah beristri. Aura mengulurkan tangan dan disambut oleh Ratna.
"Namaku Aura, Mba."
"Ratna. Jadi apa nih hubungannya dengan Mas Boss?"
Reza menunggu jawaban dari gadis itu. Kira-kira, gadis ini akan menjawab bagaimana. Beberapa detik berlalu, Aura masih bingung untuk menjelaskannya. Mata Ratna memberi kode agar Aura segera menjawabnya.
"A-aku, aku, aku---"
Wajah Ratna tampak sangat terkejut mendengar kabar baru ini. "Waaauu, Mas Boss akhirnya memutuskan untuk menikah? Aku pikir akan terus menambah koleksi. Hahaha."
Abizar membelalakan matanya kepada sang istri. "Hahaha, Kamu bisa aja candanya, Sayang?" Mendekap sang istri dengan wajah terancam.
Reza tak memedulikan Abizar, ikut mencoba mendekap Aura. Gadis itu bergeser beberapa langkah ke samping. Reza kembali mendekat, dan segera merangkul Aura. "Mau kemana? Bisa nggak, tenang saja di tempat!" bisik Reza.
"Ekhem, kebetulan sekali kalian datang ke sini. Bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama. Keliling tempat yang enak dengan pasangan masing-masing?" ucap Reza. Aura masih berusaha melepaskan diri, tetapi tetap dikekep dalam rangkulannya.
Abizar menatap sang istri. "Kamu sanggup nggak, Sayang? Kalau enggak, jangan dipaksakan?"
"Waah, aku seneng lhoh Mas? Kapan lagi kita jalan-jalan kan, Mas? Udah lama kita tidak jalan-jalan kan? Kalau melihat mereka berdua, siapa tahu rezeki mereka ikut nular ke anak kita." Ratna mengelus perutnya yang sudan memasuki trimester kedua.
Abizar menggeleng tidak setuju. "Rezekinya boleh nular ya Sayang. Jangan wataknya juga ya? Cukup watak ayahnya saja yang turun padanya."
"Dah lah, ngobrol mulu. Ayo kita cabut aja?" Reza mendekap pinggang gadis kecilnya, tetapi Aura masih berusaha menolak tangan itu.
💖
__ADS_1
Aksa semenjak tadi tidak bisa menghubungi Aura dengan nomor kontak yang baru saja dibelinya. 'Kenapa lagi ya? Ponselnya tidak aktif sejak tadi.'
Aksa mengalihkan pikirannya mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya. Tidak hanya itu dia juga mengecek email, dan membaca balasan bahwa pengunduran diri darinya telah ditolak oleh Harmony Grup. "Ck." Aksa hanya bisa berdecak kesal.
"Apa maunya orang itu?"
Aksa membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan dan mengusap wajahnya itu dengan kasar. Dia merasa kesal luar biasa. Tetapi, tak tahu harus berbuat apa.
Sementara Marcell yang juga mencoba menghubungi Aura, tidak berhasil juga. "Kemana lagi gadis itu?"
Marcell mencoba menebak-nebak hubungan antara Aura dan CEO Harmony Grup. "Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?"
Marcell mencoba melacak gadis itu lewat signal GPS. Ternyata keberadaan gadis itu tidak ditemukan. Setelah itu mencoba melacak lewat pencarian gambar. Namun, keberadaannya juga tidak terdeteksi oleh CCTV penjuru kota.
...
Aura sedang dibawa perjalanan keluar kota oleh Reza. Matahari sudah sedikit condong ke arah barat, menunjukan waktu menuju sore hari. Aura hanya menyandarkan kepalanya pada jendela kendaraan yang luas itu dengan bibir manyun. Reza menarik kepala gadis itu, memaksanya bersandar pada pundaknya.
Dua orang yang di belakang hanya terkekeh melihat pasangan baru ini yang jauh dari kata romantis. Aura mendorong dagu pria yang duduk di sampingnya. Kembali manyun seperti tidak menikmati perjalanan yang terasa cukup panjang. Dia merasa asing sendirian di dalam kendaraan ini.
"Kenapa?" tanya Reza yang melihat gadis itu yang terus terlihat sedih. Namun, dia hanya menggelengkan kepala.
"Apa yang Kamu pikirkan?" Aura kembali menggelengkan kepalanya. "Ponsel Kamu kehabisan daya lagi?" Aura mengangguk tipis.
Reza segera mencari power bank yang ada dalam tasnya.
"Mas, kayaknya Mas Boss perhatian banget sama Aura. Tetapi kenapa si Aura terlihat tak bahagia ya?" bisik Ratna di telinga suaminya. Abizar hanya memberi aba-aba telunjuk di bibirnya. Karena dia sendiri merasa heran pada hubungan kedua orang ini.
"Kita mau kemana, Om?"
"Kanda!"
"Iye, iya ... Kita mau kemana?"
"Kandanya mana?"
"Jawab aja! Kita ini sebenarnya mau kemana?"
"Kita jalan-jalan ke Bandung. Kamu belum pernah ke sana kan?"
__ADS_1