
"Kenapa, Ken? Apa ada sesuatu di atas sana?"
Keken gelagapan dan pura-pura melihat hal yang aneh. "Tadi di sana ada sesuatu yang lewat," ucapnya asal.
"Oh, apakah itu? Apa sejenis hantu?"
Keken mengangguk cepat. "I-iya."
"Ooh, di sini itu memang begitu, Ken. Jadi kabarnya kalau orangnya punya niat jahat saat datang ke sini itu, si hantu akan menampakan wujudnya." Aura menyandarkan diri mengubah chanel televisi. Kebetulan sekali film horor yang pernah viral, berjudul Valakor ....
Keken tampak bersiap membereskan tas yang dibawanya tadi. Aura sama sekali tidak berniat mencegah kepergiannya. Jono pun muncul di hadapan mereka.
"Nona, tadi Tuan meminta saya mengantarkan Nona ini untuk pulang."
Aura masih melirik Keken dengan wajah kesal. Keken tampak dengan suka cita diantar secara gratis oleh Jono. Hal ini membuat Aura semakin merasa tidak rela.
"Ooh, tidak usah Jo. Dia udah gede gini bisa pulang sendiri kok. Aku dulu kemana-mana sendirian aja." Lalu menatap Keken dengan membesarkan bola matanya.
"Benar kan, Ken?" Dengan nada penuh penekanan.
Wajah Keken tampak langsung berubah menjadi bete. Tanpa mengatakan apa-apa dia pergi meninggalkan mereka. Jono merasa tidak enak bertanya kepada majikannya ini.
"Apa tidak apa dibiarkan begitu, Nona?"
__ADS_1
"Biar aja! Cewek tak tahu diri itu mesti diberi pelajaran." Matanya nyalang hingga gadis itu tak tampak di depan mata.
Jono hanya mengangguk. Aura pun bergerak menuju lantai atas, ke kamar mereka. Menemukan suaminya sedang bermain dengan anak mereka yang merangkak ke sana ke mari di dalam kamar. Tanpa berkata apa-apa, Aura langsung memeluk suaminya. Mencium bibir Reza, sehingga membuat bapak satu anak itu menjadi heran.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba?"
Aura menggelengkan pelan, senyuman terulas di bibirnya. "Love you. You'r the best husband!" (Kamu suami yang terbaik.)
Reza membalas pelukan itu dan langsung memberikan kecupan hangat kepada sang istri. "Kamu jarang banget kayak gini. Kamu lagi kesambet apa?"
💖
💖
💖
Aura melirik sejenak, lalu melanjutkan kembali langkahnya menarik Stella. Stella memberi kode menanyakan apa yang sedang terjadi. Aura menggelengkan kepala tetap maju melangkah menuju kelas mereka.
Saat pulang, suaminya memberitahukan telah berada di parkiran. Aura berpamitan dengan Stella menuju lokasi tempat Reza menanti. Dari jauh dia melihat Keken sedang berbicara dengan Reza. Wajahnya tampak malu-malu berdiri di hadapan Reza.
Beruntung Reza tak menanggapi, pura-pura sibuk memainkan ponselnya. Aura mendekat, Reza langsung mengejar istrinya mengode gadis itu di sudut mata. Aura membalas kode tersebut dengan kedipan.
"Keken, kenapa kamu di sini?"
__ADS_1
"Oooh, tadi Aa Eja memanggilku."
"Uuhuuuk ...." Reza pura-pura keselek biji salak, ketika mendengar namanya dipanggil seperti itu.
"Beneran, Kanda memanggil Keken?"
"Eee, apa iya ya? Sepertinya aku juga lupa. Apa tahun lalu kali ya?" ucap Reza cuek plus kesal.
"Oooh, udah ketemu tahun lalu ya?" Aura melirik Keken yang memasang tampang tidak peduli.
"Iya, dalam mimpi buruk," tambah sang suami.
"Kalau begitu, kami pulang dulu ya?" Aura menarik Reza untuk segera masuk.
"Aku ikut," pinta Keken kembali.
"Ooh, malam ini kami ada acara keluarga di luar." Reza membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Melihat hal itu membuat Keken menyandarkan genggaman pada pipinya. Dia ingin mendapat perlakuan seperti itu juga. Aura yang melihat tampang Keken hanya bisa melengos kesal memutar bola mata, merasa jengah.
"Oiya, nama kamu siapa?" tanya Reza yang memang kesulitan mengingat nama orang yang dianggap tidak terlalu penting.
"Keken, A' ... Ke---keeeen! Masa Aa' lupa aja? Keken aja hapal nama Aa. Aa Eja kan?"
__ADS_1
"Oh gitu ya? Kamu gak perlu memikirkan namaku. Nanti juga tidak bisa aku ingat. Kami cabut dulu. Lihat itu, ada yang nungguin kamu di belakang!" Reza masuk ke dalam mobil meninggalkan gadis itu dengan segera.
Keken menoleh pada apa yang dikatakan suami orang tadi. Tampak di belakang ada pria dengan rambut acak-acakan, pakaian compang-camping, menatap Keken dengan wajah jenaka.