CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
22. Cemburu


__ADS_3

Reza menatap Mr. Lee dan istrinya bergantian. "Kenapa harus dengan saya? Bukan kah ada yang lain yang lebih pantas untuk putri kalian?"


Abizar memperhatikan Reza dengan seksama. Dia tersenyum puas akan jawaban yang diberikan oleh Reza. Walau pun terkesan menyebalkan, tetapi tak dapat dipungkiri kemampuannya dalam menempatkan sesuatu. Tak heran perusahaan yang dibangun ini, maju di saat usianya masih tergolong cukup muda.


"Hehehe, yaaa, siapa tahu hubungan bisnis ini bisa berlanjut ke hubungan yang lebih dekat bukan?" Mr. Lee dan istri saling bertatapan dan menyunggingkan senyuman penuh arti.


Gila aja mereka? Gue merasa jadi mantu pungutan. Apa mereka pikir gue ini tidak laris di pasaran? Kenapa partai tua suka begini? Apakah mereka semua memamg hobi menjodohkan seseorang? Tak ada bedanya dengan mama.


......cup......


Tengah asik merutuk di dalam hati, tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat di pipi Reza. Semua orang serentak melihat siapa pemilik bibir yang tiba-tiba nemplok di pipi tuan muda ini. Reza mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat nama gadis yang tiba-tiba muncul ini.


"Hai, lagi meeting ya?" Dia memperhatikan semua orang yang duduk di sana tengah mengenakan pakaian formal.


"Kalau begitu, aku ke sana? Kalau sudah selesai, kamu ke sana bentar ya?" Gadis itu menunjuk beberapa temannya yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Reza mengangguk, dan kembali melonggarkan dasi yang sudah lapang. Dia memandang kedua rekan bisnis yang berada di hadapannya. Mereka tercengang dengan wajah tidak percaya.


"Ekhem," deheman tersebut membuat Mr. Lee dan istri kembali memperbaiki posisi duduk mereka. Terlihat sejenak beberapa kodean yang hanya dipahami oleh mereka.


Reza melirik ke arah Abizar. Memberi kode-kode yang hanya mereka pula yang mengerti. Namun Abizar hanya mengedikan bahu. Reza melirik ke arah meja yang ditunjuk oleh salah satu pacarnya tadi. Masih berusaha mengingat nama gadis itu.


"Ekhem, sepertinya pembicaraan kita cukupkan sampai di sini dulu, Pak Reza. Kami harus segera kembali ke kantor. Karena ada pekerjaan selanjutnya yang telah menanti." Mr. Lee dan sekretaris bangkit dan mengulurkan tangannya. Reza segera bangkit dan menyambut uluran tangan kedua orang itu, diiringi oleh Abizar.


"Semoga kita bisa menjadi mitra bisnis yang baik ke depannya, Pak Reza," ucap Mr. Lee dengan senyum wibawanya.


"Baik Pak. Terima kasih." Reza menundukan kepala, Mr. Lee dan istri meninggalkan tempat.


"Abizar, sini!" bisik Reza. Abizar mendekatkan telinganya. "Apa kamu kenal sama yang tadi?" tanyanya.


Abizar melirik ke arah rombongan wanita dengan gaya yang begitu glamour tersebut. Abizar mencoba mengingatnya. "Gisel apa Greta ya?" Dia memainkan dagunya mencoba mengingat kembali. "Entah lah Boss, dia itu pacar Anda! Bukan pacar saya!"


"Huuu, percuma aja jadi sekretaris!" Reza kembali menyugar rambutnya ke belakang. Berjalan dengan penuh percaya diri menuju arah tempat yang ditunjuk pacarnya tadi.


"Hai!" sapanya pada para ladies yang ada di meja itu. Mereka terdiri dari tiga orang.


"Haai," jawab mereka serempak melambaikan tangan.


"Waah, siapa ini?" tanya salah satu dari mereka.


"Ini pacarmu Ta?" tanya yang terakhir.


Wanita yang dipanggil 'Ta' itu hanya tersenyum, lalu dia bangkit merangkul pinggal Reza. Sementara Reza masih sibuk memikirkan nama kekasihnya ini.


'Ta?' apa Talita ya? Rasanya memang ada yang namanya Talita.

__ADS_1


"Iya, saya pacarnya Talita," jawab Reza dengan percaya diri.


Semua mata memandang ke arah Reza. Wanita yang tadi merangkulnya dengan seketika melepaskan tangan dan mendelik pada Reza.


"Baru saja kamu bilang apa?" tanyanya dengan marah.


"Lho? Kenapa kamu marah? Bukan kah kita memang pacaran?" Reza menyugar rambut wanita itu disangkutkan ke belakang telinga.


"Haaalo, apa kabar?" Ada lagi seorang perempuan cantik yang baru saja datang. Dia memandang Reza dengan heran. "Mas Reza? Kenapa ada di sini?" tanyanya.


"Talita???" Tanya ketiga wanita itu serempak.


"O-ouuw...!"


💖


💖


💖


"Masih ada pertanyaan mengenai materi perkuliahan hari ini?" Tanya dosen tersebut dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kelas.


"Bila semuanya diam, saya anggap Saudara semuanya siap mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Saya akhiri, selamat sore." Ucap pria paruh baya tersebut sembari memperhatikan kembali Aura yang membereskan peralatannya masuk ke dalam tas.


Aura langsung menegapkan kepalanya, melihat ke arah pria terhormat tersebut. Dosen tersebut memberi kode agar dia maju ke depan. Dengan langkah ragu dan gugup, dia berjalan sambil menunduk.


"Kenapa menunduk begitu?" Ucap dosen tersebut.


"Ma-maafkan saya Pak." Ucapnya masih menunduk tepat berdiri di hadapan dosen tersebut.


"Kenapa Anda meminta maaf? Apa Anda tahu kesalahan yang telah diperbuat?"


"Tau Pak." Menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya saya ingin mengskorsing Anda, jika pria yang terus Anda perhatikan tidak dapat menjawab pertanyaan tadi. Namun, karena dia mampu menjawab dengan sangat baik, kali ini, bisa dimaafkan. Saya harap lain kali Anda tidak melakukan hal yang sama!" Ucap dosen tersebut memandang gadis yang terus menunduk itu.


"Ba-baik Pak."


"Kalau begitu, saya keluar dulu." Dosen tersebut melangkah meninggalkan kelas. Setelah mengintip tak ada bayangan dosen tersebut, seketika tubuh Aura mengendor dan lemas. Akhirnya ketegangan yang luar biasa menghadapi dosen tersebut terlepas.


Aura melangkahkan kakinya setengah sempoyongan ke arah mejanya tadi. Tampak olehnya dua orang tengah asik membicarakan sesuatu. Aura kembali membereskan peralatan, sambil melirik dua orang tersebut, Aksa dan Stella. Aura menyandang ransel dan berdiri dekat mereka. Tiba-tiba kedua orang tersebut diam, dan tersenyum penuh makna.


"Kok diem?" Aura bergantian memandang Aksa dan Stella. "Lagi ngomongin apa?"

__ADS_1


"Oh, hanya obrolan ringan," ucap Stella seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ooh," ucap Aura. Namun di dalam hati terus bertanya ada apa di antara mereka.


"Ayo kita cabut dulu!" Ucap Aksa menarik Aura. Aura menurut dalam diamnya. Dia terus mengira-ngira apa yang tengah dibicarakan oleh Stella dan Aksa.


Beberapa saat kemudian, terlihat Aura berjalan sendirian di belakang. Aksa dan Stella kembali asik mengobrol berdua. Mereka berdua berjalan di depan.


Ternyata begini rasanya menjadi obat nyamuk. Namun, apalah daya, jika orang yang kusuka ternyata lebih menyukai sahabatku. Apakah harus aku buang rasa yang telah kupendam semenjak masa sekolah ini?


Aura menendang dedaunan kering yang berada di setiap langkahnya. Hatinya kalut terus menendang semua yang ada. Kembali diliriknya ke arah depan, masih terlihat dua orang di hadapannya yang masih bersenda gurau.


Aura mempercepat langkahnya, berjalan mendahului mereka berdua. Sesaat dia berhenti, "Bang, Stella, aku duluan!" Aura mempercepat langkahnya meninggalkan mereka berdua.


"Ra ... Aura!" Aksa memberi kode-kode tertentu pada Stella. Stella hanya memberi kode jempol menyuruh mengejar Aura lagi.


"Duh, so sweet bangaet dia," celetuk Stella melihat Aksa mengejar Aura.


Aksa masih mengejar dan saat ini mereka berada di dekat danau buatan yang ada di area kampus itu. Aksa kembali menarik tangan Aura, tetapi ditampiknya dengan kasar.


"Sebenarnya Abang tu ke sini buat apa? Buat nyari aku apa buat nyari jodoh?" Aura duduk menghempaskan diri di atas rumput, lalu memandangi danau dengan lurus.


"Aku? Tadi buat meeting dengan pimpinan Harmony Grup." Aksa duduk di sampingnya. Mencari sesuatu dalam bentuk apa pun untuk dilemparkan ke danau tersebut.


Aura melipat kakinya, dan mengelungkan kedua tangan memeluk kakinya itu. "Abang tau, betapa gembiranya aku saat bisa berjumpa lagi denganmu?"


Aksa menatap Aura yang masih lurus melihat ke arah danau. "Aku juga senang bisa jumpa denganmu. Kamu tau, saat aku mendapat kabar bahwa kamu akan kuliah di sini, membuat aku merasa jadi orang paling bahagia? Meski kita berada di tempat yang berbeda, setidaknya kita masih satu provinsi. Tentu jaraknya tidak akan sejauh saat kita terpisah oleh pulau bukan?" Aksa yang melihat Aura yang masih menatap danau dengan lurus.


Aksa mengusap kepala Aura dengan gemas. "Setidaknya seperti saat ini, aku bisa datang ke sini, bisa menemuimu di sini. Aku juga tahu apa yang akan aku lakukan ke depannya," tambahnya.


Aura terheran, tangan Aksa masih asik mengacak-acak rambutnya. Aura menampik tangan itu dengan wajah kesal. Kembali mengelungkan tangan memeluk kedua kaki yang dilipatnya.


"Ra, kenapa kamu marah?"


"Entah, aku juga heran kenapa aku jadi begini. Padahal dulu tidak begitu. Melihatmu di antara siswa perempuan yang lain saja, sudah membuatku senang. Aku tahu aku ini siapa. Aku ini bukan lah siapa-siapa. Aku sadar kamu hanya menganggapku sebagai orang yang satu kampung halaman yang berada di perantauan. Kita sama-sama tengah berjuang di negeri yang tidak memiliki saudara ini. Aku tahu kok."


"Ra, apakah kamu cemburu melihat kedekatanku dengan Stella tadi?"


...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2