
Akhirnya Aksa pasrah mengikuti keinginan sang pacar. Saat berjalan di gang sempit menuju kosan, tiba-tiba ada yang menarik Aura dengan kasar.
"Mau lari kemana Kau, Nona?"
Hal ini menyebabkan Aura terlepas dari genggaman Aksa. Lelaki muda itu refleks mendorong tubuh pria yang menarik Aura tadi. Aura memberontak mencoba melepaskan diri dari tangan Marcell.
"Ada apa ini?" sungutnya.
Marcell terdorong beberapa langkah, mencoba untuk melawan Aksa yang bertubuh kurus itu. Namun Aura dengan sigap mencegah perkelahian berdiri di antara mereka.
"Ada apa Mas? Kenapa baru sampai malah langsung menyerang begini?"
Marcell menilik lelaki yang berada di belakang Aura atas hingga ke bawah. Mencoba menebak siapa dia.
"Kau kemana saja?" bentak Marcell pada Aura.
Aura merasa heran mengapa dia dibentak seperti ini. Lalu mencoba menebak-nebak bahwa orang ini mungkin diutus oleh Sistem untuk mencarinya hingga ke sini. Membuatnya memahami mengapa tadi siang, pria ini ada di jalan depan gang masuk ke tempat ini.
"Saya ke-kena jambret. Jadi semua peralatan saya diambil jambret," ucap Aura yang merasa ngeri melihat mata elang milik pria yang bernama Marcell tersebut.
"Kau pikir saya akan percaya begitu saja?"
Aksa hanya diam memperhatikan. Mencoba membaca situasi yang terjadi. Ada sesuatu yang tak bisa dimasukinya antara mereka berdua.
"Bagi saya jika Kau percaya atau pun tak percaya itu bukan masalah. Yang jelas, saya bener-bener kehilangan ponsel sehingga tidak bisa mengontak dia lagi."
Aura melirik sang pacar yang masih diam menyimak pembicaraan mereka. Meski Aksa terlihat diam dan tenang, Aura tahu bahwa dalam kepala pacarnya ini ada jutaan pertanyaan.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Marcell.
"Saya baru membeli hape baru." Aura mengeluarkan ponselnya. Benda tersebut direbut dengan cepat oleh Marcell. Menekan-nekan layar benda pipih tersebut. Membuat Aksa bergerak ingin merebut ponsel milik pacarnya kembali. Namun dihalangi Aura, gadis itu hanya menggelengkan kepala dan membiarkan Marcell mengotak-atik benda itu. Aura sudah mengunci ponselnya dengan kata sandi yang cukup sulit.
Marcell terlihat sedikit mengerutkan kening. Melirik gadis itu lalu menyunggingkan senyum miring. Marcell mengeluarkan ponsel miliknya, mengotak atik benda tersebut. Tak lama, kembali mengotak-atik ponsel milik Aura. Mencoba melakukan panggilan pada kontaknya. Hal ini membuat Aura melongo. Tak menyangka pria ini bisa membobol pasword miliknya dengan rangkaian angka yang cukup absurb.
Setelah memastikan kontak baru milik Aura, Marcell menyerahkan benda milik perempuan itu. "Kamu, jangan pernah mencoba untuk kabur dan main-main dengan Sistem! Jika Kamu tertangkap menghianatinya, jangan salahkan saat itu juga hidupmu akan tamat ...! Cam kan itu!" Pria itu berbalik dan langsung pergi.
Aksa hendak menahan Marcell, merasa kesal atas apa yang dikatakannya pada sang kekasih. Aura mengelungkan tangannya di lengan Aksa, kembali menggelengkan kepala. Gadis itu yakin, Marcell adalah orang yang berbahaya. Dia tak ingin Aksa terlibat dengan Marcell.
Aksa kembali mendekap kedua pundak Aura. "Tolong jelaskan padaku, siapa sebenarnya Sistem itu?"
"Sudah aku katakan, aku tidak tahu!"
Aura kembali melanjutkan perjalanannya menuju indekos untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut. Menyuruh Aksa menunggu sejenak, dia membersihkan diri mengganti pakaian yang lebih baik, dan membawa sejumlah uang untuk persiapan kencan hari ini. Aura menemukan Aksa tengah merenungkan sesuatu.
"Hayo, jangan bengong mulu!"
"Aku memikirkan siapa pria tadi. Aku merasa pernah melihat wajahnya. Namun sudah cukup lama. Di mana ya?" Aksa kembali terlihat merenung.
Aura meraih tangan Aksa lalu menariknya. "Tak usah dipikirkan! Lebih baik kita nikmati waktu yang singkat ini."
Aksa mengembangkan senyumnya, mengikuti langkah Aura. Dia baru menyadari jika sang pacar sedikit dandan dan terlihat sangat segar. Tiba-tiba dia merasa insecure, mengendus pakaian yang sudah basah oleh keringat karena berlarian tadi.
"Kenapa Kamu pakai mandi segala?" tanyanya.
Aura hanya memulas bibirnya dengan sebuah senyuman. Kembali merangkul lengan Aksa. Cowok itu mencoba melepaskan diri dari sang pacar. Dia kehilangan kepercayaan dirinya. "Jangan deket-deket! Aku bau keringat!"
"Gak apa, aku tetap cinta kok!" Kembali mengelungkan tangannya pada lengan Aksa.
"Mau makan di mana?" tanya Aksa.
"Ya ..., terserah. Di mana pun itu asal bersamamu aku mau!" ucap gadis itu.
Mendengar ucapan sang pacar, Aksa hanya menggelengkan kepala. Menikmati suasana yang mulai redup, karena malam sudah mulai menyapa. Terlihat sebuah warung di pinggiran jalan. Warung sate padang, dengan aroma yang semerbak tercium hingga ke hidung mereka. *yang puasa jangan ikut membayangkan*
__ADS_1
"Kita makan itu yuk? Dah rindu banget makan sate ini," ajak Aksa. Aura hanya mengangguk setuju. Mereka segera duduk di bangku yang tersedia.
"Da, sate duo!" sorak Aksa.
"Asyiiaap!" jawab Kang Sate.
Aura dan Aksa hanya terkekeh menunggu pesanannya sampai. Tak lama, semua yang ada di dalam piring telah kosong bersama kuahnya. "Meski agak sedikit beda dengan rasa yang di kampung, yang penting rasa rindu pada makanan ini sedikit terobati," ucap Aksa. Aura mengangguk menyetujuinya.
Malam semakin pekat, udara mulai terasa sejuk. "Biasanya jam segini kita sudah berada di stasiun untuk mengantarkanmu pulang," ucap Aura.
Aura merasakan getaran pada ponsel barunya. Dia menjadi heran, kenapa ada yang mengetahui kontaknya yang baru. Dalam layar, tampak pesan mengambang bernama 'SISTEM.' Sontak membuat mata gadis itu membesar.
"Ada apa? Kenapa kaget begitu?"
Aura menggelengkan kepala, membaca isi pesan dari kontak bernama SISTEM tersebut.
[Selamat malam Nona. Akhirnya Sistem dapat melacak Anda kembali.]
Jiiiaaah, ternyata si Sistem Durjana. Tapi gak apa lah, jadi tidak pusing lagi mencari tahu cara mengontak Sistem ini.
Aura segera membalas pesan dari Sistem tersebut.
^^^[Halo Tuan Sistem. Saya juga merasa lega, akhirnya bisa mengontakmu lagi.]^^^
Aksa mulai merasakan bahwa perhatian pacarnya mulai teralih. Merebut ponsel yang ada di tangan sang pacar. Namun, secepat kilat layar ponsel tersebut langsung terkunci. Membuat alis Aksa naik sebelah karena heran.
"Pesan dari siapa?" tanyanya.
"Ooh, hanya dari operator seluler yang baru," ucap Aura kembali mengalihkan ingatan Aksa. Dia tidak mau pacarnya ini akan ikut terjun ke masalah yang sama jika mengetahui ada yang seperti ini.
"Emang sejak kapan bisa berbalas pesan dengan operator seluler?" Ponsel Aura kembali bergetar. Sebelum pesan mengambang muncul di layar, Aura segera merebut ponsel tersebut dan membaca isinya.
[Apakah sudah siap melanjutkan misi malam ini?]
^^^[Malam ini daya tidak bisa menjalankan misi. Laptop saya rusak!]^^^
Tak lama, pesan kembali masuk.
[Sayang sekali. Namun, misi ini tidak bisa ditunda kembali. Karena Anda sudah dianggap mangkir dari tugas hari kemarin.]
Aura membelalakan mata dan napasnya terdengar cukup memburu. Aura merasa marah atas sikap Tuan Sistem yang hanya mementingkan misi.
^^^[Bagaimana cara saya melaksanakan misi? Sedangkan saya tak memiliki alat yang memadai.]^^^
[Anda bisa melakukan sebagaimana awal melakukan peretasan!]
Aksa yang merasa Aura sudah melupakan keberadaannya memilih bangkit membayar makanan yang telah mereka santap. Dia melirik, gadis itu masih asik dengan ponselnya. Aksa keluar daru warung tenda tersebut.
Aura yang baru menyadari, segera menyusul Aksa. "Kenapa meninggalkan aku?" sungutnya.
"Kamu lagi asik berbalas pesan dengan seseorang. Lebih baik aku minggir."
Aura menengadahkan kepala melihat lelaki tinggi itu. "Ngambek?" celetuknya.
Aksa hanya berjalan meninggalkan gadis itu. Menautkan jemari-jemari di kedua tangannya, menempelkan telapak tangan di kepala bagian belakang. Tanpa mengatakan satu patah kata pun, Aksa mulai melangkahkan kakinya. Aura tertinggal di belakang dengan wajah bingung.
Aksa terus melangkah, dan jarak mereka mulai sedikit jauh. Aura segera mengejar memeluk Aksa dari belakang. "Jangan marah!"
Aksa mulai menurunkan kedua tangannya. Membuka tangan gadis itu, dengan sedikit senyuman memutar badannya tepat menghadap gadis itu. Aksa sedikit membungkukan badan, mencubit kedua pipi Aura. Namun, ponsel Aura kembali bergetar. Kali ini dia membiarkan tanpa membacanya.
"Kenapa tidak dibuka? Sepertinya penting," ucap Aksa.
"Boleh?" tanya Aura. Aksa mengangguk, dan akhirnya dibuka juga.
__ADS_1
[Bagaimana Nona? Apakah bersedia melaksanakan misi hari ini?]
Pesan itu membuatnya bingung. Dia sedang menikmati waktu dengan pacar yang akan jarang ditemuinya. Baginya, waktu ini terasa sangat berharga. Sepertinya dia lebih merelakan kehilangan uangnya kali ini.
[Hari ini saya tidak bisa. Terserah jika kamu maksa.]
Aksa melanjutkan perjalanannya, sambil mendekap pacar dari belakang yang sibuk membalas pesan yang masuk.
[Berarti Anda siap kehilangan DANA lagi hari ini?]
[Sehari kemarin Anda sudah kehilangan DANA sebesar Rp5.000.000,- ditambah hari ini sudah 24 jam tidak membalas pesan sebesar Rp24.000.000,- ditambah lagi hari ini tidak melaksanakan misi sebesar Rp5.000.000,-]
[Total dana Anda akan dipotong sebesar Rp34.000.000,-]
[Apakah Anda yakin?]
Aura menelan salivanya membayangkan dana yang dimiliki lenyap dengan angka yang cukup besar. Aura kembali melihat wajah tampan Aksa. Akhirnya Aura membulatkan tekadnya. Jika melihat angkanya dia merasa tak yakin. Saat melihat wajah Aksa, dia merasa teguh.
Sekali-kali berkorban demi cinta, tak masalah, batinnya.
Aura segera membalas pesan tersebut.
^^^[Ya, saya yakin.]^^^
[Baik lah, jika itu sudah menjadi keputusan Anda, DANA Anda akan ditarik sebesar Rp34.000.000,-]
Kali ini, Aura tidak bisa melihat secara langsung, nilai dana-nya yang ditarik oleh Sistem. Kontak yang bisa menerima notis sudah tidak ada. Pesan kembali masuk.
[Sistem tidak bisa menarik DANA yang Anda miliki!]
[Dana dalam akun Bank Anda telah lenyap.]
[Apa yang terjadi?]
Aura membaca pesan tersebut langsung tertawa terbahak. Dia baru teringat tadi siang memindahkan seluruh tabungannya pada buku yang baru. Tiba-tiba, akal bulusnya muncul.
^^^[Saya kurang tahu. Mungkih hilang diambil orang yang mencuri tas-ku.]^^^
Aura melonjak kegirangan merangkulkan tangannya kembali pada lengan Aksa. Aura melihat waktu telah menunjukan pukul delapan malam. Gadis itu mengajak Aksa untuk menjemput laptopnya kembali.
"Ada apa sih? Kenapa tiba-tiba menjadi girang?" tanya Aksa heran. Sebenarnya banyak sekali tanda tanya di kepalanya. Namun, dia mencoba meredam tanda tanya tersebut.
"Ada deh," ucap Aura. Pesan dari Sistem kembali masuk.
[Sistem berhasil melacak mutasi DANA yang Anda miliki.]
[Anda ingin mempermainkan kami Nona Aurora Safitri?]
Hari ini satu bab dulu ya kakak semua. Jika sempat nulis lagi, mungkin di-up-nya nanti malam. Soalnya agak sedikit ribet, ada seminar lagi.
Mampir pada karya teman otor ya Guys. Siapa yang doyan cerita misteri? ini cocok buat kamu.
Napen Author: zahroni nurhafid
judul karya: Terlemah Yang Tak Terkalahkan
Ditengah Dunia yang dipenuhi menusia berkekuatan dewa (Exceed), Dion terlahir sebagai manusia biasa tanpa kekuatan (Seed) dan menjadi rakyat biasa yang nilai kehidupannya tak lebih hanya sekedar kerikil di tepi jalan bagi dunia. Ia hanya berharap bisa terus menikmati hidup damainya melakukan hal konyol bersama sahabatnya Vista dan mengejar cintanya kepada Artia, mereka bertiga adalah sahabat sedari kecil. Namun kehidupannya mulai berubah sejak Dion mendapat peringatan dari dirinya sendiri yang berasal dari masa depan. "Apapun yang terjadi, Lindungilah, Artia." Fisik dibawah rata-rata dan Tanpa kekuatan, dengan tanggup jawab menyelamatkan Artia dari kematian ia Bangkit berkali2 dari kegagalan dan bergerak dengan memutar otak menjadikannya Seed pertama yang setara dengan Exceed kelas S. Bagaimana Cara manusia menang melawan kekuatan dewa?
...*Bersambung*...
...Jangan lupa tinggalkan jejak yaaahh... Love You All...
__ADS_1