CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
82. Skinship


__ADS_3

"Kita jalan-jalan ke Bandung. Kamu belum pernah ke sana kan?"


Mata Aura membesar mendengar kata 'Bandung'


Oke ... keep calm baby ... Om Mesum tidak boleh tahu! Empoong, ayoo penuh lah dengan segera. Agar aku bisa mengontak Abang Aksa dan bertemu dengannya, meski hanya sekejap saja. Aku ingin minta maaf padanya. Aku mau semua berakhir dengan baik.


Pandangan Aura terfokus melihat ke arah ponselnya. Dalam kepalanya terfokus dengan mulut komat-kamit mengirim telepati agar ponselnya segera mengikuti perintah. Dia berharap ponsel tersebut segera terisi dengan cepat. Reza melihat keanehan pada gadis itu.


"Kamu lagi ngapain?"


"Aku lagi membantu power bank ini agar mempercepat transfer energinya supaya hapeku ini, segera terisi hingga penuh."


"Mau ngapain dengan hapenya? Aku udah ada di sini lho? Kamu tak perlu lagi menghubungiku. Kalau Kamu rindu, cukup mengucapkannya secara langsung kepadaku!"


Siapa juga rindu sama Kamu? Dasar, Om Mesum ini kapan bisa enyah dari hadapanku? Rasanya, waktu berjalan sangat lambat saat dia ada di sisiku.


Dia tidak ingin Reza mengetahui rencananya. Namun, gadis itu teringat bahwa dia tidak membawa uang satu sen pun. Dia mulai memikirkan cara agar bisa mendapat uang, meski hanya satu lembar Soekarno-Hatta.


"Kanda-Kanda ...." Aura mulai mendekat pada Reza.


Kening Reza berkerut karena gadis ini berubah dengan drastis, dengan panggilan yang tidak biasa. "Apa?"


"Di-dinda lupa membawa uang. Apa aku boleh meminjam duit?"


Reza tergelak, menyadari alasan gadis ini berubah menjadi manis secara tiba-tiba. Tqngan Reza mendekap tubuh Aura untuk masuk ke dalam dadanya. "Coba balas pelukan ku dulu!"


Aura meronta mecoba melepaskan diri dari dekapan Reza. Setelah itu melirik dua orang yang sedari tadi menjadi penonton di belakang.


"Om Abizar, apakah boleh jika aku meminjam duit?" Aura melihat Abizar dan istrinya secara bergantian.


Abizar menaikan alis karena merasa heran, dan melirik Reza mencoba menerjenahkan aba-aba yang harus dikatakanya kepada gadis ini. "Kenapa Kamu meminjam duit? Kamu bisa mengambil semua miliknya, termasuk semua isi yang ada di dalam dompetnya. Tidak usah dikembalikan pun juga tak masalah!" ucapnya.


Aura melirik kembali lelaki yang ada di sebelahnya ini. Kedua alis pria itu tampak bergerak naik turun dengan senyum merekah di bibirnya. Hal itu berarti membuat Aura harus mengikuti kemauannya.

__ADS_1


Aura seperti sangat mengenal semua kelakuan Reza. Gadis itu mulai merasa ragu, jika mencoba meminta uang kembali padanya. Karena, Reza pasti akan meminta hal yang aneh-aneh dan memberatkan baginya.


Dia menilai bahwa Reza adalah tipikal pria yang sangat menyukai skinship relationship. Artinya, dia menganggap Reza sebagai seorang pria penyuka sentuhan. Contohnya saja saat ini, Aura tengah sibuk dengan pikirannya. Akan tetapi, tangan Reza terus sibuk mengelus-elus pipinya. Mata gadis itu mulai menajam, karena tidak suka akan kelakuan Reza yang seperti ini.


"Beneran mau duit?"


Aura mulai berpikir entah kenapa Om Mesum ini semakin hari, semakin menempel kepadanya. Rasa kesalnya semakin memuncak, tapi pria itu masih saja mengelus pipinya. Akhirnya, Aura menyibak tangan itu dengan kasar.


"Satu sentuhan, satu juta!" rutuknya.


"Beneran?" Reza menanggapinya dengan semangat bersiap mengeluarkan isi di dalam dompet miliknya. Aura tak terlalu menanggapi Reza lagi, pandangannya beralih melihat pada pemandang luar jendela, yang menampilkan panorama hijau sepanjang mata memandang.


Pria ini kembali mengelus pipi gadis di sampingnya. Aura kembali menyingkirkan tangan tersebut tanpa melihat ke arah orangnya. Ternyata, tangannya memegang beberapa lembar kertas, bewarna merah. Aura langsung menangkap lembaran uang tersebut. Uang itu langsung dihitung, dan jumlahnya cukup seperti ancamannya tadi.


Reza mulai mencoel-coel pipi Aura dengan gemas. Hal ini tentu membuat Aura protes. Dia tidak menerima mukanya dipegang-pegang seperti ini.


"Kenapa? Protes? Kan udah aku kasih uang!" cetusnya.


"Mana lagi? Kasih buat perawatannya juga! Kalau mukaku jerawatan karena bakteri yang ada di tanganmu bagaimana?"


"Kalian itu lucu banget, tau nggak sih?"


Reza langsung merangkul Aura. "Kan, katanya kita pasangan yang lucu. Jadi, ayo sini aku peluk dulu!"


Aura yang tengah berada dalam rangkulan Reza, menengadah kan wajah menatap panjang menuju netra milik Reza. Begitu pun sebaliknya.


Aura terus menantang tatapan pria itu, dan perasaan Reza mulai tak menentu. Aura yang berada dalam dekapannya pun merasakan degup jantung Reza semakin kencang. Gadis itu menempelkan telinganya di dada Reza. Aura merasa takjub, semakin lama detak jantung Reza menjadi semakin cepat. Terdengar nafas nya semakin lama semakin memburu.


...sreeeettt...


Reza mendorong gadis itu menjauh darinya. Sepertinya, gadis itu mulai mengetahui rahasia akan kelemahan Om Mesum ini.


'Ternyata, dia tidak bisa berada dalam suasana serius.' Senyum tipis menyungging pada bibirnya.

__ADS_1


Reza membuang mukanya. Dia mencoba menenangkan ritme jantung agar kembali normal. Aura mulai merencanakan sesuatu. Dengan jahil, nongol sambil mengerjap kan kedua matanya pada pria itu. Reza terlihat cukup kaget dan memegang d*da di sebelah kiri.


"Kanda, apa yang terjadi?" Aura menggunakan suara yang sangat lembut, masih memainkan matanya menjadi seimut mungkin.


Reza tertegun mendengar suara itu. Suara yang tak pernah keluar dari mulut gadis ini untuknya. Namun, saat berbicara dengan Aksa, dia bicara selembut kapas persis seperti ini.


"A-apa barusan?" Reza mulai merasa gugup.


"Kanda kenapa? Apakah ada yang sakit?" Aura masih mengedipkan kedua mata dan membulatkan bibirnya.


"Hahaha." Ledakan tawa Ratna kembali terdengar. Aura sempat lupa, di dalam kendaraan ini, bukan hanya mereka yang ada di sana.


"Kocak amat ni berdua," ucap Ratna. Abizar memberi kode telunjuk pada bibirnya.


Setelah itu, Aura menyimpan rencana berikutnya, di saat mereka berdua saja. "Jadi kita ke Bandung berapa lama? Ini sudah sore lhoo?"


"Kita nginap di sana!" tukas Reza masih menekan dada sebelah jantungnya.


Terlebih dahulu, Aura menyimpan uang yang didapatkannya tadi. Jatah skinship yang dilakukan Reza, saat dikira sekedar keusilan belaka. Jika Reza mulai macam-macam, dia sudah memiliki senjata untuk melumpuhkan pria ini.


Mereka sampai di Kota Kembang tepat pukul lima sore. Di mana menjadi waktu yang paling tepat untuk menikmati indahnya suasana sore di kota ini. Secara diam-diam, Aura pergi menjauh lalu mencoba menghubungi Aksa. Namun ternyata ponsel Aksa, dalam keadaan tidak aktif.


Reza menyadari gadis itu telah menghilang. Mencarinya ke segala arah, dan ternyata menemukan dia sedang mencoba menghubungi seseorang. Diam-diam Reza memdekat ke arahnya.


"ck' kenala panggilannya malah tidak nyambung?" gerutu gadis itu.


Reza melipat tangannya, bersandar pada dinding. "Menghubungi siapa?"


"Aaagh ...." Aura terkesiap. Hampir saja ponsel itu terlepas dari tangannya. "Iiih, Kamu ngagetin aja?" bentaknya.


"Katakan! Kamu menghubungi siapa?"


"Bukan siapa-siapa! Ini bukan urusanmu juga!"

__ADS_1


Reza merebut ponsel di tangan Aura. "Babang," ucapnya membacakan nama dari panggilan terakhir.


__ADS_2