CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
164. Wanita paling beruntung


__ADS_3

Wajah Reza sedikit menegang. Lalu sebisa mungkin dibuangnya dan bersikap sewajar mungkin. "Maksud Anda apa Kap? Menuduh istri saya seenaknya sebagai seorang hacker. Entah bisa megang CP atau laptop entah enggak."


"JANGAN MELINDUNGINYA!" teriak Kapten tersebut tepat di depan gendang telinga Reza, sehingga suami Aura itu menutup kupingnya yang terasa ada anak di dalamnya.


"Anda ini ya? Udah bertamu secara tidak sopan, pakai menyakiti yang punya rumah, segala. Apa Anda pernah dicopot dari jabatan sendiri?"


"CEPAT BAWAKAN NONA HACKER ITU!!!" Kapten I Bagus Suska masih kekeuh dengan dugaannya.


Lalu mata mereka melihat sosok yang tengah hamil besar keluar dari sebuah ruang. Aura berjalan pelan menuju ke arah mereka, merangkul Reza dengan mesra.


"Ada apa, Kanda? Kenapa mereka ke sini?"


Kapten I Bagus Suska mengeluarkan surat perintah pemeriksaan kepada Aura. Aura mundur beberapa langkah membaca isi surat tersebut.


"Bagaimana? Kau tak bisa mengelak lagi, bukan?"


"Marcell?"


"Dia berhasil kabur dengan meninggalkan namamu untuk kami tangkap. Saya tak menyangka, ternyata perempuan bawel itu adalah wanita yang membuat masyarakat resah beberapa waktu lalu."


Reza menyela berdiri melindungi istrinya. "Bukan kah semua tuntutan telah dicabut oleh para korban? Anda jangan mengada-ada ya!"


Kapten I Bagus Suska memutar bola matanya. "Saya yakin, kali ini yang dicari pihak Perancis adalah dia. Pokoknya dia harus ikut kami!"


Kapten I Bagus Suska mendorong Reza untuk menarik Aura yang berada di belakangnya. Aura yang ditarik merasa kejang di bagian kandungannya.


"Aaahggg ..."


Reza berganti mendorong kapten tersebut. "Apa Anda tidak pernah memiliki istri, hah? Apa Anda tidak lihat, istri saya ini sedang hamil besar!" teriaknya murka memeluk sang istri.


"Nanti kalau terjadi apa-apa pada kandungan dan anak saya, Anda siap-siaplah dengan tuntutan saya berikutnya!"


Reza segera membawa Aura menuju kendaraan yang dibawa oleh Jono. Aura sedikit tersenyum melirik Kapten I Bagus Suska yang cengo mendapat serapah dari suaminya. Meski tadi sempat sakit, sekarang sudah tidak terasa lagi. Dia menikmati kekhawatiran sang suami.


Reza merangkul Aura dalam pelukannya. Wajahnya tampak serius merasa ketakutan akan hal buruk yang akan menimpa istri dan anaknya. "Kamu bertahan, Sayang. Kita akan segera memeriksa kehamilanmu."

__ADS_1


"Hahahaha, aku sudah berusaha menahan tawa, tetapi tak kuat juga. Aaah, meski Kanda hanya suami dadakan, ternyata aku adalah wanita yang paling beruntung karena menjadi istrimu."


Reza mengerutkan keningnya. "Jadi kamu hanya pura-pura?"


Aura menggelengkan kepala. "Sebenarnya tadi beneran sakit kok. Hanya sebentar saja karena kaget gara-gara ditarik tadi. Sekarang udah gak apa."


"Huuuufffttt...." Reza menghembuskan nafasnya merasa lega. Melirik sang istri yang berhasil membuat amarahnya naik sampai ke ubun-ubun.


"Ya udah, kalau begitu kita jalan-jalan saja."


Kapten I Bagus Suska melengos. Dia pikir dia hebat? Lihat saja nanti! Kalian akan menyesal telah membuat saya murka!


💖


Keesokan pagi, ketika Reza hendak berangkat ke kantor, ternyata Kapten I Bagus Suska telah berdiri di depan pintu bersama seorang anak buahnya. Reza mendorong kapten tersebut untuk bisa melewati bariel pertahanan tersebut. Namun, sang kapten dengan kukuh menguatkan tubuhnya agar tetap tegak.


"Kapten kenapa sih?" Reza melirik ke arah belakang. Istrinya tidak menyadari ada tamu yang tak diundang telah berdiri bagai benteng yang tak bisa dirobohkan.


"Cepat serahkan istrimu!"


Reza berpikir sejenak. "Mau Anda apakan istri saya? Anda terdengar seperti orang mesum yang mau merebut istri orang!"


"Sekarang kalian pergi dulu! Dia tak akan aku serahkan! Saya suaminya! Jadi jangan kalian apa-apakan dia!"


Reza terus mendorong kedua pihak penyidik itu hingga masuk ke kendaraan yang mereka bawa tadi. Kapten I Bagus Suska memukul setir dengan tinjunya. Lalu melihat ke arah pintu masuk rumah itu. Saat membuka pintu, baru sedikit, pintu tersebut terdorong kembali.


Kepala Reza nongol lewat jendela. "Pergi sanah! Ganggu ketenangan wanita hamil aja!"


Keesokan hari, Kapten I Bagus Suska datang kembali. Kali ini dia membawa pasukan yang lebih banyak. Reza yang mengintip kedatangan mereka, segera keluar dari rumah mencegat pasukan tersebut yang memaksa untuk membawa Aura.


"Kamu, kalau masih keras kepala begini, memaksa kami membawa istrimu dengan paksa!"


"Kenapa Anda sangat ngotot membawa istri saya untuk ikut? Istri saya itu sedang hamil besar! Kalian jangan membuatnya stress!"


"Beri kami kesempatan untuk memeriksanya. Bagaimana kami bisa tahu dia benar-benar tidak bersalah? Sementara Anda terus menghalangi penyidikan kami!"

__ADS_1


Kapten I Bagus Suska memberi aba-aba untuk menerobos pertahanan Reza. Reza menarik salah satu pasukan dan mendorongnya pada pasukan lain. Sehingga, mereka semua roboh.


Pasukan roboh itu mulai bangkit, memegang kedua tangan Reza agar tidak bergerak. Namun, Reza memberikan tendangan kepada kedua poli si yang tengah menahannya.


"Sudah saya bilang! Kalian jangan pernah mengganggu keluargaku!"


Kapten I Bagus Suska mendekati Reza. Menarik tangannya, dan melayangkan tendangan membuat satu kaki Reza tertekuk. "Kau diam saja! Jangan mempersulit persoalan ini!"


Reza berusaha bangkit dan mendorong Kapten I Bagus Suska hingga terjatuh. Satu oknum melihat itu dengan tiba-tiba memukul Reza dari belakang. Melayangkan siku pada bahu bagian kiri.


buughhh


"Aaaaghhh ..." pukulan itu seperti tepat mengenai jantung baru Reza. Wajah Reza menegang tanpa ekspresi. Darah muncrat dari mulutnya.


Reza berlutut, lalu rebah tertungkup di atas ubin. Aura yang mendengar kehebohan keluar dari rumah.


"KANDAAAAAAAA ...." Aura setengah berlari menahan perut mengejar Reza yang menegang tertungkup di atas ubin.


"Apa yang Kau lakukan?" teriak Kapten I Bagus Suska kepada oknum yang memukul Reza.


"Kandaaa .... Kanda .... Apa yang terjadi?" tangisnya.


"Apa yang kalian lakukan kepada suamiku?" Aura mencoba mengubah posisi Reza.


Bekas da rah di sudut bibir menambah paraunya tangisan Aura. "Apa yang terjadi? Kenapa kalian jahat begini?"


Aura memandang semua wajah oknum yang berada di sana, dia tak henti menangis hingga Reza didorong dengan brangkar menuju ruang gawat darurat.


"Kanda .... Kandaaa..." Langkah Aura dihalangi oleh nakes yang menangani Reza.


Aura terduduk lemas seakan tak ada tenaga. Tubuhnya terguncang hebat dengan isakan tangis yang tiada henti. Abizar datang bersama Aksa. Aksa langsung merangkul dan menenangkannya.


Tampak semua polisi tadi menundukan kepala, menyesali atas apa yang terjadi. Tak lama Via dan pasukannya juga hadir melihat kepiluan tangisan wanita muda itu. Via seakan de javu teringat kejadian saat kehilangan Deval.


Via mendekat, dan Aksa melepas rangkulannya. Berganti Via yang memeluk Aura dengan wajah prihatinnya.

__ADS_1


"Kamu harus kuat! Kita tunggu hasil pemeriksaan!"


Via menatap Kapten I Bagus Suska dengan amarah. "Saya harap, kalian segera melayangkan surat pengunduran diri!"


__ADS_2