
Reza menyipitkan matanya, "Ini namanya nikah kontrak!" Reza hendak menghapusnya, tetapi ditahan oleh Aura.
"Tapi buat apa dipertahankan jika di antara kita tidak ada kecocokan?"
"Dari mana Kamu bisa menyebut satu tahun merasa tidak cocok? Itu terlalu cepat untuk menyimpulkan semua. Apa Kamu tak ingin mencoba mencintaiku terlebih dahulu?"
Aura membuang muka, seolah berkata 'tak sudi' lalu merebut lembar kontrak milik Reza. Aura mengipaskan lembar kertas itu di hadapan Reza. "Cuma tiga?" tanyanya.
"Sudah dibaca baik-baik?"
Aura menggeleng. Lalu memulai membacanya.
Mau mencintai calon suami apa adanya.
"Hmmmm ...." Baginya ini cukup sulit.
"Kenapa? Masih mau bilang 'cuma?'"
Dia kembali teringat perpisahan dengan pacarnya tadi. Padahal masih merasakan manisnya waktu bersama. Masa tiba-tiba dipaksa untuk mencintai yang baru lagi?
"Jika aku belum bisa?"
Reza mengacuhkan ucapan gadis itu terus membaca dan mengoreksi isi kontrak yang ditulis Aura.
Mau menemani calon suami di saat susah maupun senang.
"Oh, ini gampang!" celetuknya.
"Jadi nanti Kamu harus menemani setiap acara resmi maupun tak resmi yang akan aku hadiri."
Mata Aura menyipit, berpikir ulang setelah mengatakan itu gampang. "Bukan kah itu pekerjaan Mas sekretaris?"
"Kalau dia menemani masalah pekerjaan. Kalau di luar pekerjaan nanti ya jadi tugas Kamu!"
"Boleh laah," celetuknya.
Calon istri harus bersedia memberi nafkah batin kepada calon suami tiap hari hingga puas.
"Ini yang baru dibuat tadi?" Reza hanya memainkan alisnya membenarkan.
"Masa iya tiap hari?" protes gadis itu.
"Tidak ada protes! Dah tiga itu saja cukup bagiku! Kamu harus bisa menjalaninya."
__ADS_1
Reza mengipaskan lembar kontrak yang ditulis Aura. "Aku sudah mengoreksi mana yang pantas, dan mencoret yang menurutku tak masuk akal."
Reza mengambil sebuah map, lalu menyimpan kedua lembar surat kontrak tersebut. "Ini diketik dulu, setelah itu kasih matrai, dan tanda tangan masing-masing kedua belah pihak."
"Kalau ada yang melanggar, nanti mesti siap-siap menerima hukuman oleh masing-masing pihak. Hukumannya boleh dalam bentuk apa saja!"
"Apa saja?" Aura memastikan kembali.
"Iya, apa saja!"
"Termasuk perceraian?"
Reza membelalakan matanya, "Kenapa Kau selalu mengarahkan pernikahan kita ke perceraian?"
"Ini pernikahan yang Kau paksakan! Ya tentu harus ada celah yang membuatku bisa lepas dari hal yang Kau paksakan ini!"
"Entah lah! Jika itu memang mau mu. Jika memang sebuah kesalahan besar yang dibuat di antara kita. Kesalahan yang tak bisa dimaafkan, mungkin perceraian adalah jalan keluar yang terbaik!"
Reza menekan panggilan cepat menyuruh Abizar untuk mengetik surat kontrak tersebut. Reza siap-siap mengenakan jas-nya kembali dengan rapi.
"Kau boleh pulang! Aku ada meeting dengan klient beberapa saat lagi!" Reza menatap jam di tangannya.
Tak lama, Abizar sudah menyerahkan hasil ketikan surat kontrak, mereka segera membubuhi matrai dan tanda tangan masing-masing. Sang sekretaris hanya diam seribu bahasa memperhatikan aksi kedua orang tersebut.
"Zar, tolong katakan pada Mang Ujo untuk mengantarkan calon istri saya ini pulang ke rumahnya dengan baik. Setelah itu persiapkan segala hal yang diperlukan untuk meeting nanti." Reza menatap Aura dengan tajam.
"Ini karena ulahmu! Jika tidak, aku tak akan perlu serepot ini menggaet mitra kembali."
Aura hanya mendelik, memainkan rambutnya. "Egepe!"
"Terserah!"
Abizar menangkap hal yang berbeda di antara mereka. Namum, masih tidak berani menanyakan penyebab perubahan status antara mereka dengan tiba-tiba begini.
"Baik lah Nona Aura, silakan ikuti saya!" Abizar membukakan pintu.
"Tidak usah! Aku bisa melakukan segalanya dengan kaki dan tanganku sendiri!" Gadis itu keluar, ponselnya bergetar. Panggilan dari Aksa. Namun, dia memilih untuk menolak panggilan itu.
Reza yang menatap kepergian Aura, hanya bisa menyunggingkan senyum sinis. 'Kita lihat saja nanti! Apakah Kau akan masih bisa sekeras kepala seperti ini setelah menjadi Nyonya Adijaya generasi kedua nanti?"
Setelah itu mereka melaksanakan meeting untuk memperbaiki citra perusahaan yang hancur karena ulah calon istri.
💖
Masa ujian telah usai, Aura tengah merebahkan dirinya di tempat tidur dalam kamar kos. Matanya sendu menatap gagang pintu yang telah diperbaiki Aksa. "Setelah semua kebaikan yang Kamu berikan, hanya ini yang bisa aku lakukan. Maafkan aku, aku terpaksa. Agar Kamu tidak dipenjara."
Dalam ponsel baru tersebut, tak satu pun foto Aksa yang tersimpan. "Sebuah takdir yang kejam," rutuknya.
...tok...
...tok...
...tok...
Terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Dengan perasaan malas, dia bangkit membukakan pintu tersebut. Ternyata yang datang adalah Stella.
__ADS_1
"Ra, aku denger Kamu ...." Aura memeluk sahabatnya itu, akhirnya air mata gadis itu tumpah. "Kenapa kalian berpisah? Bukan kah kalian saling cinta?"
Aura melepaskan pelukan tersebut, dan menghempaskan diri ke kasur. "Entah lah La. Aku juga tidak paham."
Aura mulai menimbang-nimbang, apakah harus cerita pada Stella atau tidak perlu. Tiba-tiba ada yang mengintip ke dalam kamar Aura.
"Ra, ada yang nyariin Kamu." ucapnya.
"Siapa?" tanya Aura heran.
"Gak tau, beda lagi dari yang kemarin ih. Sebenarnya pacar Kamu ada berapa sih?" tanya tetangga kamarnya itu.
"Makasi ya," ucapnya tidak mengubris pertanyaan tersebut. Dia segera keluar dari kamar, diikuti oleh Stella yang ikut penasaran.
Ternyata tampak seorang yang biasa dipanggil Om Mesum, tengah duduk di bangku beranda rumah kos tersebut.
"Hay Dinda!" sapanya saat melihat Aura.
Stella terperangah mendengar panggilan tersebut. Menarik Aura ingin meminta penjelasan. "Apa maksudnya itu?"
Aura hanya menggeleng dengan lesu. Stella kembali menarik Aura mendekat pada Om Mesum. "Om, apa yang terjadi antara kalian?"
Sejenak Reza melirik ke arah Aura. "Apa dia belum cerita?" Stella hanya menggeng cepat. "Oh, bukan apa-apa. Kami hanya memiliki urusan penting," jelasnya.
"Kau tau rumah kos ku ini dari siapa?" tanya Aura bersidekap dada menyandarkan diri ke dinding.
"Dih, galak bener?" ucap Reza setengah tergelak.
"Ada urusan apa Kamu dengannya Ra?" tanya Stella.
"Bukan apa-apa!" ucap Aura ketus melirik pria itu.
"Ck-ck-ck, pada teman dekatmu pun Kamu rahasian, Dinda?" tanya Reza.
"Ada apa sih, Om?" tanya Stella penasaran. Tiba-tiba dia teringat cerita orang tuanya beberapa waktu lalu. Orang tuanya mengatakan bahwa sepertinya Om Mesum ini menyukai teman dekatnya Aura.
"Apa kalian sudah jadian, Ra?" tanya Stella mulai memberondong Aura.
Reza hanya mengembangkan senyum misterius. Dia merasa puas mengerjai gadis itu. Aura menatap Reza dengan tajam dan penuh kebencian.
"Hmmm, dia itu orang gila mesum!" ucap Aura membuang muka.
"Ayo lah! Coba katakan padaku dengan jujur! Apa Kamu putus dengan Kak Aksa lalu jadian dengan Om Mesum?"
Reza memperhatikan perdebatan dua orang bersahabat itu sambil melihat jam tangan miliknya. "Sudah selesai belom perdebatannya, Dinda? Ayo kota berangkat! Ada banyal hal yang harus kita bereskan hari ini!"
Kedua pasang mata sahabat ini melongok kepada Reza dengan wajah melongo. "Dia ngomong sama Kamu, Ra," celetuk Stella.
"Oh iya, aku Dinda ya?" Aura menggandeng tangan Stella. "Aku ajak Stella juga!"
Kedua alis Reza pun terangkat.
Ayo mampir juga pada karya temen author ya readers tersayang
Hanna, seorang gadis bertubuh besar dan berpenampilan tidak menarik, selalu tidak dianggap dan tersisihkan oleh ibu dan juga saudaranya, begitupun dengan orang-orang disekitarnya. Hingga keadaan berbalik, orang-orang yang dulu mencemoohnya kini mencoba mengambil hatinya, begitu juga dengan pria yang dulu sangat membencinya. "Kau harus menjadi duchess of Claymore, suka atau pun tidak!" - Alexander Davlin Claymore, Duke of Claymore - "Bukan kah kau tidak suka dengan gadis berlemak yang suka meneteskan air liurnya saat melihat makanan?" - Lady Hanna Jhonson - Tidak cukup dihina, Hanna pun menjadi taruhan oleh teman-temannya dan juga pria yang sangat dia sukai. Hingga suatu hari, Hanna tersedot masuk ke dalam novel yang sedang dia baca, dan menjadi pemeran utama yang hidupnya juga sama menyedihkannya. Merasa mendapat kesempatan kedua, Hanna mencoba mengubah takdir nya, dengan melawan siapa saja yang ingi menyingkirkan nya
__ADS_1