
Selagi masih sadar, gadis itu mencoba untuk melawan, menendang pusaka pria itu. Dia berlari sekencang mungkin hingga hampir sampai di halaman rumah kos, matanya mulai berat, dan ....
...bruuught...
Aura jatuh mulai tidak sadarkan diri. Reza yang tadinya merasa melupakan sesuatu, kembali sejenak untuk menemui istrinya. Dia menelusuri lorong gang sempit menuju indekos tempat istrinya tinggal. Tampak seorang pria bertopi mengenakan masker tengah terhuyung-huyung menjepit kedua pahanya.
Dia mengeluarkan senyuman khas miliknya saat melihat sesuatu yang pernah dia alami dulu. Dia berasa de javu teringat masa Gadis Mie Instan menendang alat perangnya dulu.
"Siapa yang menendangnya? Pasti sakit."
Pria itu terhuyung berbelok masuk area kosan Aura. Alis Reza terangkat melihatnya. Memperhatikan apa yang akan dilakukannya. Dia melihat seorang wanita tengah menelungkup di atas tanah. Matanya membesar melihat pakaian yang dikenakan wanita yang tidak sadarkan diri tersebut.
Tampak pria yang menutup identitasnya tadi mendekat pada wanita yang ternyata adalah Aura, istrinya. Dengan amarah, Reza berlari dan memberikan tendangan pada pria yang akan mengangkat istrinya.
...duuughht...
Pria itu jatuh terjerembab menimpa sang istri. Reza segera menarik pria itu dan melayangkan pukulan ke wajahnya.
...buugh...
"Apa yang Kau lakukan, hah?"
Pria itu kembali jatuh. Reza bersiap menarik baju hitam yang dia kenakan. Namun, nahas kaki panjang pria misterius itu melayang sampai ke dada Reza.
...duughh...
Reza merasakan sakit luar biasa pada jantungnya. Dia meringkuk menahan sakit yang luar biasa. Terdengar warga datang, pria itu lari meninggalkan mereka berdua. Reza merangkak mendekati istrinya, namun pandangan semakin kabur dan semua gelap.
💖
Perlahan mata Aura terbuka, menangkap cahaya menyilaukan pada lampu di ruangan yang sangat luas. Matanya kembali menyipit, beradaptasi pada cahaya terang itu.
__ADS_1
Ini di mana?
Aura telah sepenuhnya bisa melihat keadaan sekitar. Dia bangun dan duduk. Mengedarkan seluruh pandangannya pada seluruh isi ruangan. Ada sebuah sekat ruang kecil, di mana di sana tampak sangat ramai diisi oleh para tenaga kesehatan. Mata Aura kembali melirik semua yang ada.
Kenapa aku ada di sini?
Aura menurunkan kedua kakinya. Turun dari brangkar dan melirik sedikit keramaian yang ada di ruang kecil yang di sekat oleh kain pembatas. Meski sekilas, Aura melihat pakaian yang digunakan oleh Reza, suaminya saat mereka berpisah tadi.
Aura baru teringat. Ada yang membekap mulut dan mengejarnya. Aura memberanikan diri untuk melihat keadaah yang mencekam di ruang itu. Dokter sedang memasangkan alat-alat pada tubuh pasien.
Mata Aura semakin besar melihat segala ciri-ciri yang melekat sangat mirip dengan pakaian sang suami. Dia semakin masuk dan matanya membesar. Melihat kenyataan yang sedang terbaring itu benar-benar suaminya.
Aura semakin mendekat, matanya liar melihat semua yang dilakukan dokter untuk menangani Reza. Nakes yang melihat ada seorang asing masuk, meminta Aura untuk keluar dari tempat itu. Sang suami sedang diberi tindak medis darurat.
"Mba, jangan masuk ke sini! Kami sedang meberikan penanganan darurat terhadap pasien," ucap perawat mendorong Aura.
"Kenapa dia, Sus? Dia itu su-suami saya," ucap Aura dengan wajah cemas.
Perawat yang melihat pernyataan Aura yang mengaku sebagai istri pasien, hanya bisa mengerutkan keningnya. Dia terus mendorong perempuan muda itu, kalu menarik kain untuk menutupi ruangan kecil tersebut dengan sempurna.
"Apa yang terjadi, Bu?"
Aura tertegun, tiba-tiba dipanggil 'Bu' oleh pria dewasa ini. Hal itu membuat dia merinding. Namun, dia belum bisa menyatakan rasa tidak setujunya. Aura hanya menjawab pertanyaan Abizar dengan gelengan.
Abizar menggigit tinjunya, memikirkan banyak hal. Meeting yang seharusnya dilakukan malam ini, terpaksa ditunda. Keadaan sang pimpinan sebagai pemegang kendali, dalam situasi tidak memungkinkan.
Setelah menunggu beberapa waktu, dokter keluar dari ruangan penanganan itu. Aura mendekat kepada sang dokter. Dokter mengerutkan keningnya, melihat ke segala arah. Dokter menangkap sosok Abizar, dan mendekat pada Abizar.
"Apa Anda keluarga pasien?" tanya sang dokter. Sementara, Aura terus mengikuti dokter seperti karena tidak tahu harus mengatakan apa.
Abizar mengulum senyum dalam kepalan punggung tinjunya. Aura masih dalam posisi bebek berdiri di belakang dokter, menunggu penjelasan pasti tentang keadaan sang suami.
__ADS_1
"Seseorang yang ada di belakang Anda adalag istrinya, Dok," jelas Abizar.
Dokter tadi kembali liar mencari Aura. Dia berada tepat di belakang sang Dokter. Dokter melihat wajah itu ikut mengulum senyum. Melihat ekspresi istri yang masih sangat muda ini.
"Ekhem, jadi Anda adalah istri pasien?" Aura mengangguk cepat. "Jadi begini, pasien mendapat hantaman yang cukup keras pada dadanya. Hal ini membuat debaran pada jantungannya menjadi meningkat dua kali lipat daripada serangan biasanya. Hal ini sungguh sangat disayangkan, mengapa bisa terjadi pada pengidap jantung bawaan."
Aura mengangguk. Bingung harus berbuat apa. Dia sudah diperbolehkan masuk. Melihat semua alat terpasang pada tubuh Reza, membuat tangan Aura bergetar. Dia sendiri merasa heran mengapa kali ini dia merasa sangat sedih melihat Reza yang seperti ini.
'Bukan kah aku pernah melihat semua alat ini terpasang pada tubuhnya?'
Aura mengecek aliran cairan infus apakah sudah sesuai prosedur apa belum. Lalu memperhatikan monitor yang menunjukan keadaan jantung suaminya masih belum stabil.
Dalam diamnya, Abizar terus memperhatikan istri boss-nya ini. Kali ini dia tampak lebih peduli pada sang atasan. Dia bukan hanya terlihat khawatir, tetapi juga terlihat sangat sedih.
"Ibu jangan khawatir--"
Aura menyela Abizar dengan memberi aba-aba pada lelaki itu. "Stop! Aku merasa risih dipanggil 'Ibu.' Bahkan, Om, jauh lebih tua dariku."
Abizar kembali menahan senyumnya sembari menggaruk pelipis merasa geli. "Soalnya Anda sekarang setara dengan pimpinan Kami. Meskipun usiamu lebih muda, tetap harus memanggilmu dengan demikian."
"Nona! Panggil aku Nona aja!" Aura kembali melihat Reza yang tengah terlelap. "Karena dia, aku jadi suka dipanggil 'Nona."
"Baik lah, Nona Boss Besar! Anda jangan terlalu khawatir. Dia memang sering seperti ini. Semoga saja, saat pagi menjelang, dia sudah kembali sehat," ucap Abizar.
"Semoga saja." Aura menggenggam tangan itu.
💖
Di suatu tempat, di sebuah ruang yang terdapat banyak perangkat, tampak seorang pria tengah mengompres tubuhnya dengan air es. Wajahnya tampak penuh dendam setelah mendapat serangan dari Aura dan Reza.
"Setelah sekian hari menghilang, tau-taunya muncul bersama pria itu." Kembali melanjutkan untuk mengompres bagian yang ditendang oleh Reza tadi.
__ADS_1
Marcell mulai mengetik sesuatu pada salah satu keyboard yang ada di meja itu.
"Kita akan melihat, hubungan apakah yang mereka berdua sembunyikan?"