CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
62. Meminta restu


__ADS_3

Reza menyadari akan keadaannya sendiri, sehingga dia tidak bisa mengomentari ini. "Jika Kamu tak ingin orang lain tahu, jangan salah kan orang lain juga tidak tahu bahwa aku sudah menikah. Apa kamu yakin tidak akan cemburu padaku?"


"Aku tak peduli!" ucapnya dengan ketus.


Reza hanya diam tanpa kata. Baginya saat ini yang paling penting adalah membuat gadis ini tunduk terlebih dahulu. Urusan yang selanjutnya bisa sekalian jalan saja. Reza melanjutkan membaca kontrak yang berikutnya.



Nafkah lahir terdiri atas 3 bagian.


a. Nafkah harian


b. Nafkah mingguan


c. Nafkah bulanan



Alis Reza naik sekejap, "Kalau begini Kamu akan membuatku menjadi pengusaha kaya raya," ucapnya.


Aura menulis poin tersebut hanya untuk mengerjai pria ini. "Kenapa bisa makin kaya? Bukannya menjadi semakin miskin gara-gara kehabisan uang?"


"Kamu tak tahu kekuatan memberi rezeki pada istri? Nanti Kamu akan melihatnya sendiri! Tapi tunggu! Ada yang kurang nih?"


Aura merasa bingung, "Apa yang kurang?"


"Kenapa ngga ada tentang nafkah batin untukku yang ditulis di bagian pernafkahan di sini?" godanya.


Sontak wajah Aura memerah, dia masih awam dengan istilah demikian. Namun, dia sangat memahami arah pembicaraan yang dimaksud Reza ini. "Skip dulu! Nanti sambil jalan aja!"


Reza mengambil pulpen, menuliskan sendiri poin tambahan di lembaran kontrak miliknya. Tadinya hanya dua baris, sekarang jadi tiga baris. Setelah itu Reza melanjutkan membaca isi kontrak berikutnya.



Om Mesum dilarang mengganggu Bang Aksa! Apalagi memenjarakannya!



"Tergantung! Kalau diam-diam kalian masih bertemu dengannya, aku tak akan segan melakukan hal yang lebih!"


Mata Aura membesar. Dia merebut kembali lembaran yang dipegang oleh Reza tersebut. "Aku robek deh!"


Lembaran itu kembali direbut oleh Reza. "Jangan dirobek! Kamu sendiri yang buat ini!" Reza melanjutkan membacanya.



Om Mesum harus tetap mempekerjakan Bang Aksa sebagai tim protektor yang baru. Memberikan gaji yang layak untuknya tanpa membeda-bedakan siapa dia dengan anggota lainnya.



Reza menatap wajah Aura sambil mendengkus. "Kamu tak perlu memikirkan dia lagi! Jika dia jadi kaya raya, dia akan didatangi banyak perempuan cantik. Apa itu tidak akan mengganggumu?"


"Pokoknya Kamu tidak boleh memecatnya!"


Reza teringat bahwa Aksa akan dia jadikan sebagai sekretarisnya yang kedua. "Jika aku membatalkan menjadikannya sebagai sekretaris, tak apa kan?"


Tampak ekspresi terkejut dari gadis itu. Dia sendiri sama sekali tidak mengetahui masalah ini. "Batalkan saja! Aku melarangnya untuk kembali ke sini."


Senyuman kemenangan tersungging di bibir Reza. Hal ini bisa membuatnya sedikit lebih tenang. "Bagus!" Reza membaca isi kontraknya kembali.



Kita tidak boleh satu atap dengan orang tua kedua mempelai.



"Aku setuju! Kamu sudah lihat sendiri rumahku bukan? Di sana lah kehidupan baru yang akan kita mulai. Itu milikku sendiri, rumah orang tuaku berada cukup jauh dari sana." Reza melihat raut wajah lega milik Aura.


__ADS_1


Rutin menemui orang tua mempelai.



"Setuju!"


Reza berpikir sejenak, "Kamu doakan bisnisku lancar! Jangan Kamu retas lagi! Supaya aku bisa mengumpulkan uang untuk membeli jet pribadi. Agar kita bisa bolak balik kampung halamanmu sesuka hati!"


Tiba-tiba gadis itu teringat akan tugasnya menghancurkan perusahaan milik Reza. Dia mengecek pesan di ponselnya. Meski tidak ada pesan yang masuk, tetapi hatinya mulai merasa gundah.


'Apa yang akan dikatakan oleh Tuan Sistem jika mengetahui aku menikah dengan Om Mesum ini?' batinnya.


"Kamu kenapa?" tanya Reza yang melihat perubahan rona wajah milik gadis ini.


"Kenapa Kamu tiba-tiba terlihat sangat cemas?" Aura hanya menggelenkan kepalanya.


Reza teringat obrolan mereka beberapa waktu lalu. "Apa kamu memikirkan Sistem yang memaksamu menjadi hacker itu?" Gadis itu mengangguk.


Reza mengusap rambut Aura. "Kamu jangan khawatir! Kita akan cari jalan keluar agar Kamu bisa melepaskan diri darinya!"


Aura hanya mengangguk, menepis tangan itu. Dia merasa tidak nyaman atas perlakuan Reza yang seperti ini. Reza menyadari bahwa gadis yang dipaksa menikah dengannya tersebut masih menutup hati untuknya. Pria itu melanjutkan membaca isi kontrak berikutnya.



Memberi dukungan kepada calon istri untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.



"Oke!"



Calon suami dilarang mencampuri urusan calon istri.



Keningnya kembali berkerut. Mengambil pulpen dan mencoretnya tanpa izin. Aura melihat kelakuan Reza ini mencubit tangan calon suaminya.


"Kenapa main coret aja? Tidak minta izin lagi?" bentak gadis itu.


"Heh, bocah? Ini tidak etis tau nggak? Mana ada suami istri tidak akan saling turut ikut campur dalam masalah masing-masing?" ucap Reza kembali.


"Dari mana Kau tahu? Sudah pernah mencoba hidup berumah tangga hah?"


"Kamu bayangkan saja kedua orang tuamu! Jika salah satu sakit, apa yang lainnya akan cuek begitu saja? Tidak bukan?"


"Begitu juga jika salah satu memiliki masalah, apa yang lain hanya santai membiarkan pasangan menyelesaikan masalahnya sendiri?"


Aura membenarkan penjelasan Reza ini. Dia teringat pada kedua orang tua yang hidup sangat susah di kampung halamannya. Ayah yang merawat ibu yang akhir-akhir ini sering sakit. Dulu saat masih sehat, sang ibu membantu ayahnya menjadi buruh tani seorang pemilik kebun yang kaya raya di kampung halamannya.


Tiba-tiba, gadis itu merasakan rindu luar biasa kepada orang tuanya. "Apa aku boleh menelpon orang tuaku terlebih dahulu?"


"Oh, tentu! Aku juga ingin berkenalan dengan calon mertuaku."


Aura segera melakukan panggilan pada ayahnya. Terdengar beberapa kali nada sambung menunggu panggilan dijawab oleh orang di seberang jaringan. Gadis itu sengaja memasang loudspeaker agar Reza bisa mendengarnya dengan langsung.


"Halo Ra? Ada apa? Tumben Kamu menelepon?" tanya ayahnya di seberang.


"Tidak apa Yah. Aura hanya merasa rindu pada kalian berdua. Bagaimana keadaan di sana Yah?"


"Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Sebenarnya apa yang ingin kamu bicara kan Ra? Cerita kan lah pada Ayah!"


Aura mulai bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Reza yang menyadari itu, merebut ponsel milik Aura.


"Halo Yah!" sapa pria itu.


"Halo, ini siapa?" terdengar suara sang ayah yang mulai heran ada yang ikut memanggilnya dengan sebutan 'Ayah.'


"Perkenalkan Yah, nama saya Reza."

__ADS_1


"Reza? Apakah Kamu teman dekat anak kami di sana?"


"Bagaimana ya Yah, boleh kah saya meminta izin untuk menikahi anak Ayah?" Reza to do point kepada orang tua Aura yang belum tahu apa-apa.


"Apa? Menikah? Anak saya ini masih terlalu belia. Dia juga masih dalam masa perkuliahan. Kalau tidak salah, ada peraturan dilarang menikah hingga menyelesaikan kuliahnya," ucap ayah Aura, terdengar sedikit keberatan.


"Saya sangat mencintai anak Ayah. Oleh sebab itu, saya memohon izin kepada Ayah agar menikahkan kami berdua. Untuk perkuliahannya nanti, masih akan tetap dilanjutkan. Jika tidak mendapat beasiswa lagi, biar saya yang membiayai semuanya. Bahkan saya bersedia untuk membiayai jika dia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi lagi."


Aura tertegun mendengar penjelasan yang diberikan Reza kepada ayahnya. 'Katanya mencintaiku? Bohong nggak sih? Padahal ingin memperbudakku. Tetapi, dia terlihat tulus saat mengatakannya.'


"Aura masih terlalu muda untuk menikah. Dia baru berumur delapan belas tahun. Dia masih terlalu labil untuk menjadi seorang istri," jelas calon mertua Reza ini.


"Saya mengerti, Yah. Saya siap dengan segala risiko ini. Saya sudah tidak sabar untuk mempersuntingnya meski dalam usia muda."


"Tunggu sebentar! Ayah tidak bisa memutuskannya sendiri. Ayah panggil ibu Aura dulu."


"Baik, Yah." Reza mengedipkan matanya pada Aura yang sudah tidak karuan menunggu jawaban dari orang tuanya ini.


Tak lama terdengar suara Ibu Aura. "Ha-halo. Apa benar Aura mau menikah?"


"Halo, Bu. Perkenalkan nama saya, Reza calon suami Aura. Apa saya boleh menikahi putri Ibu secepatnya?"


"Ke-kenapa terlalu cepat?"


"Karena saya tak mau dia direbut orang lain, Bu. Ibu jangan khawatir. Saya akan memberikan segala yang terbaik untuknya."


"Aura-nya sendiri bagaimana? Apakah dia benar-benar mencintaimu? Ibu khawatir jika kalian menikah tanpa cinta, apalagi usia yang masih muda, akan sangat rentan dengan cek cok rumah tangga. Ibu takut berujung perceraian."


"Ibu, saya minta restu, semoga keluarga kami bahagia hingga maut yang memisahkan. Ibu jangan mengkhawatirkan Aura. Saya janjikan akan membuatnya bahagia."


Beberapa waktu, tak terdengar suara apa pun. "A-apa benar kalian sudah bulat pada keputusan ini?" terdengar suara haru dari sang ibu di ujung panggilan.


"Iya, Bu. Kami sudah bulat dengan keputusan ini. Apa Ibu merestui kami?"


"Baik lah jika memang demikian. Kamu harus berjanji untuk membuatnya bahagia!"


Reza tampak menghela nafas panjang merasa lega. Akhirnya orang tua gadis itu menmberi restu atas pernikahan ini. Reza menatap Aura. Tampak gadis itu telah berlinang air mata.


"Kenapa Kamu menangis?" bisik Reza.


"Kamu sangat ahli dalam berbohong!" rutuknya.


"Saya janji Bu, akan membuatnya bahagia," ucap Reza sambil meletakan telunjuk di bibirnya menyuruh gadis itu diam.


"Baik lah, Ibu merestui kalian berdua. Jadi lah keluarga yang bahagia dan rukun."


"Terima kasih, Bu. Kami akan mengurus semua dengan secepatnya. Nanti Ibu dan Ayah akan Kami bawa ke sini saat hari H-nya."


"Baik, lah ... Mana yang terbaik saja. Kamu jaga anak Ibu dengan baik di sana ya!"


"Baik, Bu. Itu pasti."


Panggilan pun berakhir, dia menyerahkan sapu tangan miliknya. Gadis itu langsung menerima, dan menghapus air matanya.


...sruuuughh...


Setelah menghapus ingus, benda tersebut dikembalikan kepada yang memilki. "Untukmu aja!" ucapnya dengan wajah jijik.



Jika merasa tidak cocok setelah hidup berumah tangga selama 1 tahun, jalan cerai adalah pilihan yang terbaik.



Reza menyipitkan matanya, "Ini namanya nikah kontrak!"


Waaahh, Author mau mempromosikan karya temen Author juga ni guys ... keren banget deh ... Semua pasti kenal


Kinara adalah istri yang tak di anggap kehadirannya oleh Andreas. Penampilan nya yang tak terurus membuat dirinya kerap kali di hina oleh orang-orang sekitar. Setelah melahirkan tubuh Kinara bertambah gemuk membuat Andreas semakin jijik melihatnya. Sehingga suatu malam Andreas membentak anaknya karena menangis di tengah malam membuat Kinara tak terima. Seorang ibu tak akan rela anaknya di bentak?! Ternyata tak hanya dirinya yang tak di anggap. Melainkan buah hatinya juga, Andreas tak menganggap kehadiran anak kandungnya itu. Kinara yang jenuh pun memilih bercerai dengan Andreas! Kinara bersumpah akan membalas dendam pada Andreas dan orang-orang sekitar yang selama ini memandangnya dengan sebelah mata. Lalu bagaimana kisah Kinara yang berjumpa dengan Duda Tampan satu anak

__ADS_1



__ADS_2