CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
Ex. P16


__ADS_3

Lalu anak kecil tersebut tampak berlari ke sana ke mari. Terakhir dia mendekat pada seorang wanita. Mata Devan pun terbelalak nyalang melihat sosok wanita yang diduganya sebagai ibu dari anak itu.


Wanita tersebut kebetulan melihat ke arah Devan. Dia pun ikut terpana melihat Devan, dan pandangannya berpindah kepada seseorang yang berada di samping Devan. Dengan air muka yang tak dapat diartikan, perempuan tersebut menggandeng anaknya dan pergi dari tempat itu.


"Apa Kakak mengenal mereka?"


Devan hanya diam terus memandangi ibu dan anak itu hingga menghilang tak terlihat lagi oleh mata. Devan mengeluarkan ponsel dari dalam kantong jaketnya. Dia mencari sebuah nama di dalam kontak. Dia hilang dalam lamunan panjang teringat wanita yang pernah jadi kekasihnya.


"Kak, apa Kamu mengenal mereka?"


💖


💖


Entah kenapa keraguan terus menyelimuti perasaan Stella. Dia mulai merasa gelisah menduga-duga sesuatu yang takut menjadi sebuah kenyataan.


Stella akhirnya meminum obat tidur, agar matanya bisa tertidur. Waktu telah menunjukan pukul tiga dini hari, dia belum merasa mengantuk sama sekali. Akhirnya dia bisa tidur karena bantuan obat tidur tersebut.


Stella akan selalu kesulitan untuk tidur jika dia memiliki masalah. Dia seperti candu meminum benda tersebut karena bisa membantunya untuk bisa lelap dalam lelahnya. Stella adalah tipikal semakin kesulitan tidur, apabila dia semakin lelah. Namun, semua itu disembunyikannya dari orang tuanya.


Keesokan hari dia bangun setelah dibangunkan oleh Mama lewat panggilan telepon genggam. Mama Stella mendapat laporan dari asisten rumah tangganya bahwa sang gadis belum juga keluar dari kamar hingga pukul sepuluh pagi.

__ADS_1


"Ya aaammpuun ... Ini sudah siang Stella. Apa kamu tidak pergi ke kampus?"


"Stella udah libur, Ma. Ini kan sudah beres semesteran, jadi waktunya untuk molooorrr ..."


"Aduuh Stella? Ayo, bangun dulu gih! Mandi, sarapan, atau kamu ngapain setelah itu kan. Pokonya kamu tidak boleh ngulang tidur lagi!"


Stella menggaruk dagunya, sambil menguap menatap waktu pada jam di dinding. Sebentar lagi akan memasuki pukul sebelas siang. Stella beringsut menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah semua usai, Stella mengecek ponselnya. Mengecek pesan atau panggilan dari kekasihnya yang tercinta. Namun, ternyata tidak ada apa-apa.


Stella yang tidak memiliki kegiatan, akhirnya memutuskan untuk main melihat bayi-bayi lucu yang ada di rumah sahabatnya. Lalu menghabiskan waktu seharian di sana. Sore hari Stella mencoba mengecek kembali ponselnya, tetapi masih belum ada apa-apa yang datang dari Devan.


"Kenapa, La? Kenapa sedari tadi Kamu terlihat gelisah?" Aura menyadari ada yang berbeda dari Stella yang selalu heboh. Hari ini Stella lebih kalem dari biasanya.


Aura mengerti apa yang dirasakan oleh Stella. Karena dia sendiri pernah merasakan jika tidak mendapat kabar apa-apa, rasanya khawatir dan bingung. Aura mencoba menghibur Stella dengan hal yang dia bisa.


Beberapa waktu kemudian, Stella pamit dan melajukan kendaraannya. Matanya menangkap sebuah benda yang sedang terparkir di pinggir jalan. Itu adalah motor yang biasa dinaikinya bersama Devan.


Kebetulan sekali Stella sedang dilanda oleh rindu yang membuncah, Stella turut memarkirkan kendaraannya di dekat motor tersebut. Dia turun dan mencoba mencari sosok yang seharian ini tak ada kabar sama sekali.


Stella hanya mengikuti insting kemana kaki mengajaknya melangkah. Dia menelusuri pertokoan area ini berada. Stella melangkah tanpa arah. Hingga akhirnya dia melihat sosok Devan tampak tengah berdebat dengan seorang wanita.

__ADS_1


Dia seakan beralih pada waktu yang berlalu. Apalagi dugaannya menjadi semakin kuat saat melihat anak kecil yang begitu mirip dengan Devan yang dia lihat kemarin. Stella terus mendekat pada toko tersebut, dan mendengar perdebatan itu terasa semakin jelas.


"Aku hanya ingin tahu saja ... Kenapa kamu terus mengelak?" suara Devan yang sangat dia hafal terus mendesak wanita tersebut.


"Sudah! Kamu tidak perlu memikirkan masa lalu! Kita telah memiliki kehidupan masing-masing. Pergi lah! Nanti suamiku datang dan berpikiran macam-macam! Kamu juga sudah bahagia dengan kehidupanmu, bukan?"


"Paling tidak, aku bisa mengetahui dia ini siapa? Hanya itu yang ingin kuketahui. Apakah dia---"


Devan kembali melihat bocah laki-laki yang terus memperhatikan pertengkaran mereka. Lalu matanya beralih pada sosok gadis muda yang menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Stella?"


Stella menyadari kehadirannya telah diketahui oleh Devan. Dia memilih mundur dan pergi. Devan mengejarnya hingga dia berhasil mendaoatkan Stella dalam genggamannya. Stella menepis tangan Devan melanjutkan lari darinya.


"Sayang? Tunggu!" Devan mengikuti dari belakang dan kembali menjangkau tangan Stella.


Tangan itu kembali ditepis dan Stella melanjutkan langkahnya yang semakin lama semakin lunglai. "Siapa dia?" Akhirnya Stella menghentikan langkahnya.


Devan mendekat dan menggenggam tangan Stella. "Saat ini dia bukan siapa-siapa."


"Oooh, saat ini? Berarti dulu kalian memang memiliki sesuatu?"

__ADS_1


"Dia hanya masa lalu!" ucap Devan tegas.


"Siapa anak itu?"


__ADS_2