
Reza menarik kedua tangan Aura. Aura merasa sangat janggal akan kelakuan pria ini yang berubah drastis dari sikap sebelumnya. 'Di mana wajah penuh cengiran itu?'' batinnya.
"Berhentilah menjadi hacker! Bagaimana pun, aku akan tetap membuatkannya untukmu. Bukti aku serius kepadamu ini lho."
Aura menundukan kepalanya, hatinya terenyuh. Sementara, ia tidak bisa menyebutkan alasan mengapa sampai saat ini masih belum bisa berhenti. Padahal dia juga ingin segera menghentikan semuanya. Namun, dia sudah terlanjur tercebur pada kegiatan itu.
"Kenapa diam saja? Apa Kamu tak ingin berhenti?"
Aura mulai menarik tangannya yang ada dalam genggaman Reza. Dia menggeleng pelan. Memainkan jemarinya karena bingung harus memberikan jawaban apa.
"Apa Kamu mengenal Marcell itu?"
Aura kembali menggeleng. "Dia hanya orang menyebalkan yang diutus Tuan Sistem untuk membantu kegiatan offline-ku. Kami baru beberapa kali bertemu."
"Jika ternyata dia lah yang menjadi Tuan Sistem bagaimana?" tanya Reza mencoba mengangkat dagu Aura.
Aura menggeleng tipis. "Entah lah. Aku tak bisa membedakannya."
"Apa Kamu akan terus menyerang perusahaanku?"
Aura mengangguk tipis. "Itu adalah misi level kedua. Perusahaanmu kategori level kedua." Aura mengangkat wajahnya. "Apa Kamu masih tidak mempercayaiku?"
Reza mengeluarkan gadget miliknya, membuka layar tersebut, mencoba mengetik nama Marcell. "Kamu tahu, nama Marcell itu seperti tidak asing lagi dalam dunia peretasan. Namun, dalam beberapa waktu ini nama itu telah menghilang."
Reza tidak bisa menggunakan sistem retas dengan sempurna bila hanya menggunakan seluler ini. "Sayang sekali, laptopku tertinggal. Padahal akan ada banyak program untuk mengusut nama itu." Reza mulai membuka jas bewarna hitam miliknya, lalu melemparnya dengan asal. Setelah itu, membuka kancing hem putihnya satu persatu.
__ADS_1
Aura masih sibuk dengan pikirannya. Tidak menyadari bahwa pria yang ada di sampingnya telah tidak mengenakan atasan. "Sampai kapan bermenung seperti itu?"
"Hah? Apa?" Aura tersadar, dan netranya menangkap roti sobek yang tak pernah terlihat selama ini. Otaknya masih mencerna apa yang dia lihat. Matanya masih terfokus pada sesuatu yang janol-jenol tipis di perut pria ini. Seakan kewarasannya kembali hadir, dia melihat pria itu merebahkan diri di atas bunga-bunga mawar yang dirontokan itu.
"Aaagghh!" Matanya ditutup dengan jemarinya. Celah jari yang renggang, membuatnya masih melihat itu juga. Kembali dia menutup matanya. Pria itu memiringkan tubuh bertopang pada satu tangan.
"Dinda, kamu kenapa?" Sebuah senyum jahil merekah di bibirnya. "Apa Kamu tidak pernah melihat ini, Dinda?" Reza menikmati reaksi istrinya yang seolah melihat itu pertama kali.
"Kenapa Kamu punya kotak-kotak begitu?" pekiknya.
"Lhah? Emang kenapa?" Reza meringsek mendekati istri yang masih menutup wajahnya karena malu. Dia menikmati permainan ini.
"Pakai baju sanah!"
"Bukan kah Kamu sudah pernah melihat ini waktu di rumahku dulu?" Reza kembali mengambil posisi duduk. Menarik kedua tangan Aura yang masih lekat menutup wajahnya.
Aura teringat kelemahan pria ini. Dengan segera memeluk dan menyandarkan wajahnya pada dada suaminya. Senyum tipis juga merekah pada bibir Aura.
"Kanda, Kamu minta dipeluk yaaa? Sini kita pelukan dulu!" Aura mengusap-usap punggung Reza. Pria yang sudah menjadi suaminya ini mulai meliuk karena geli merasakan sesuatu.
"Kamu mau aku terkam?" bisik Reza tepat di telinga Aura.
"Terkam aja yeee!" Memeluk Reza semakin erat. Telinganya mulai ditempelkan pada dada sang suami. Namun, entah kenapa detak jantung kali ini tidak seperti waktu itu.
Aura memandang Reza. Pria itu menatapnya dengan sayu. "Kanda kena--" Ucapan Aura terhenti karena Reza telah meng ulum bibirnya membuat dia sangat terkejut. Reza terus memberikan kecupan demi kecupan pada bibir mungil milik istrinya ini sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Aura terus meronta, dia tidak bisa mengimbani apa yang telah dilakukan Reza. Memukul-mukul dada Reza, yang terus mendorong kepalanya agar bibirnya tetap menempel pada bibir pria itu. Dalam hati Aura masih mengingat satu nama. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan air mata terus terurai mendapat serangan kecu pan yang tiada henti diberikan Reza.
Reza membuka mata, melihat pipi gadis ini telah banjir oleh air mata. Reza tersadar dan heran, mengapa degupan jantungnya tidak kacau seperti biasanya.
Reza melepaskan tangannya yang tadi menahan kepala Aura untuk tidak bergerak. Melepaskan Aura yang seakan tidak rela dicium oleh dirinya yang kini sudah berstatus sebagai suami.
"Aku mandi dulu!"
Reza beringsut beranjak sembari memegang dadanya. Namun, debaran jantungnya kali ini berbeda ... nafasnya tidak sesak. Dia berjalan ke arah kamar mandi yang hanya berdinding kaca transparan. Melirik Aura yang terlihat masih shock. Bibirnya tersenyum tipis, sepertinya Aura belum menyadari itu.
Aura mencari tisue yang tersedia di atas meja. Membersihkan bibirnya yang telah lum at basah oleh serangan pria tadi. Refleks, Aura menunjuk ke arah kamar mandi. Kembali, matanya ternganga melihat sang suami hanya menutup bagian bawahnya saja saat mandi. Dinding kaca transparan kamar mandi itu, benar-benar mempertontonkan segalanya. Aura membuang muka menoleh ke sisi lain.
'Sial, bagaimana caranya aku mandi? Dia sengaja mencari kamar hotel yang seperti ini. Om Mesum sialan itu akan melihat seluruh isi bajuku. Ah, bagaimana kalau tidak usah mandi aja?'
Reza telah menyelesaikan aktifitas mandi. Namun, sang istri sudah tertidur meski tubuhnya masih mengenakan kebaya nikah semenjak tadi pagi. Reza merasa kasihan melihatnya. Istrinya ini sudah kekurangan istirahat semenjak beberapa hari terakhir.
Akhirnya, Reza menyelimuti tubuh Aura, dan beringsut ke sebelahnya untuk menyelimuti dirinya sendiri. Membelakangi Aura dan dia mulai memejamkan mata. Tak lama terdengar suara nafas yang teratur. Aura membuka matanya secara perlahan. Mengecek apakah benar Reza sudah tidur dengan pulas atau belum. Setelah memastikan suaminya benar-benar tertidur, Aura bergerak masuk ke kamar mandi.
Usai mandi, dia masih menggunakan handuk kimono yang diediakan oleh pihak hotel. Dia mengintip Reza, apakah benar-benar masih tidur. Ternyata, suaminya masih dalam lelap namun posisinya telah berubah.
Dia teringat, dia sama sekali tidak membawa pakaian ganti. Reza tidak memberitahukan jika mereka akan menginap di hotel. Padahal pria itu membawa tas berisi pakaian, tetapi Aura tak menanyakan alasan mengapa dia membawa tas tersebut.
'Ah, bodohnya aku!'
Aura kembali melihat suaminya yang seperti benar-benar terlelap. Dengan mengendap, dia membuka tas berisi pakaian milik Reza tadi. Dia mencari pakaian yang mungkin bisa dikenakan. Bertemu lah dengan sebuat t-shirt dan tanpa pikir panjang dia langsung mengenakannya. Pakaian Reza melekat kebesaran untuk tubuh mungilnya. Namun apa boleh buat, yang penting bisa menutupi dirinya dari sesuatu yang bisa mengundang lelaki itu. Dia teringat ciuman panas Reza yang membuat dirinya cukup shock. Dia ingin menghindari itu terjadi kembali.
__ADS_1
Selanjutnya untuk menutupi bawahan, tak satu pun dia menemukan celana pendek milik Om Mesum ini. Yang ada hanya celana joger santai yang kepanjangan untuk kaki pendeknya. Dengan segera memasukan salah satu kaki ke dalam celana tersebut.
Namun, ada satu tangan yang tengah memegang paha putihnya.