
Seorang petugas kebersihan sedang memasukan sampah yang baru selesai disapunya. Petugas itu menyapu di antara wajah yang tampak tegang satu sama lainnya. Namun, dia tidak menemukan wajah target utama yang membuat dia dendam kesumat.
Setelah ini adalah giliran Kau, Nona Hacker! Kemana Kau bersembunyi? Kau akan menemani suamimu yang sebentar lagi berganti status menjadi jena zah.
Marcell melirik ke arah pintu ICU sejenak. Namun, yang menjaga ruangan tersebut cukup ramai. Dia memilih untuk pergi, menunggu waktu yang tepat. Ada sepasang mata yang mengawasi tingkahnya yang terlihat aneh itu.
Akhirnya, di sebuah rumah sakit, Aura menemukan sebuah jantung yang siap untuk dipasang pada pasien yang membutuhkan. Namun sayang, jantung itu ukurannya tidak cocok untuk Reza. Jantung tersebut memiliki ukuran yang hanya cocok untuk anak kecil.
"Bagaimana ini Kanda? Aku harus bagaimana? huhuhu .... Tuhan, berikan lah satu kesempatan lagi untuk suamiku. Aku akan berjanji menjadi istri yang baik untuknya. Aku mohon Tuhan, satu kesempatan lagi ... Atau aku berikan jantungku ini untuk dirinya?"
Aura melangkah terhuyung kembali ke tempat di mana suaminya berada. Dia menelusuri lorong rumah sakit. Dia merasakan betapa lelahnya dia sendiri tanpa Reza. Keringat telah membasahi seluruh jengkal kulitnya.
Akhirnya, dia sampai di depan pintu di mana ruangan di balik pintu itu ada sosok lelaki yang tertidur menunggu kabar baik darinya. Namun, nyatanya kabar itu hanya angan kosong yang tak bisa dia penuhi.
Aksa yang berdiri di sana, memperhatikan Aura yang terlihat kuyu karena lelah. Aksa mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantong celana.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Aksa menyeka keringat yang membanjiri wajah Aura.
"Aku sudah mencari jantung itu ke beberapa rumah sakit, tetapi belum menemukan yang cocok," jawabnya lesu.
"Kenapa Kamu tidak memanggilku? Aku akan mengantarmu kemana pun? Kamu pasti sangat lelah menjalani semua ini sendiri."
Aura menggelengkan kepalanya. "Aku tak ingin terus menyakitimu!"
Dia tersenyum kecut, lalu perlahan menarik gagang pintu ruang ICU tersebut. Terdengar suara alat yang berirama sangat teratur. Aura berjalan dengan perlahan ke sisi brangkar, tepat di samping suaminya. Tampak pria itu tengah tertidur dengan wajah putih pucat.
Aura duduk di bangku yang ada di sisi brangkar. Menarik tangan pria itu yang ditusuk oleh peralatan menyambungkan dengan cairan infus. Tidak hanya itu, jemarinya dijepit oleh peralatan elektronik yang tersambung dengan monitor.
__ADS_1
"Kanda, apa yang harus Dinda lakukan? Apakah jantung Dinda saja yang dibongkar untuk membuat Kanda sembuh kembali?"
Aura mencium tangan itu tak hentinya menetes kan air mata. Aksa mendekat, menyentuh pundak Aura.
"Kamu jangan begitu! Kamu ini sedang hamil. Jangan pernah berpikir seperti itu!"
"Aku bukan istri yang baik untuknya. Aku selalu membuat masalah untuknya. Namun, dia selalu saja menjadi orang yang berdiri di depan untuk melindungiku, hiks ...." Tubuhnya terguncang hebat mengeluarkan asa yang luar biasa.
Aksa tertunduk melihat tangisan itu. Dia melirik pria yang tertidur dengan banyak peralatan menempel pada tubuhnya. Lalu, dia kembali memandang Aura yang menangis menggenggam tangan Reza.
Aksa membuka pintu dengan perlahan. Melangkahkan kakinya keluar, dan menutup pintu kembali menuju bangku yang ada di lorong rumah sakit itu.
*Tidak, tidak boleh begitu. Saat ini Aura sangat mencintai dia. Entah kenapa melihat keadaan dia seperti itu membuat*ku semakin berharap agar Aura bisa kembali padaku?
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Stella hadir ditemani oleh Devan. Stella memeluk Aura dan ikut menangis tersedu.
"Ra, kamu sabar ya. Banyak berdoa. Semoga suami kamu segera pulih." Aura menganggukan kepalanya meski mulut hanya membisu.
Aura menggelengkan kepala. "Aku tak lapar."
Stella menarik Aura agar wajahnya menatap Stella dengan baik. "Ra, saat ini kamu itu tidak sendiri! Ada nyawa lain yang hidup dalam dirimu. Jika kamu merasa tak lapar sekali pun, maka kamu harus tetap makan! Jangan egois pada dirimu sendiri!"
Aura menatap perutnya yang sudah membulat. Air matanya kembali terjatuh. Dibelainya dengan lembut, bayi yang masih menggulung dalam rahimnya itu.
"Maafkan Bunda, Sayang ... Bunda melupakanmu dalam beberapa saat. Kamu pasti sangat lapar."
Aura membuka kantong yang dibawa oleh Stella, lalu memakannya dengan perlahan meski air mata tak berhenti membasahi pipinya. Stella mengusap punggung Aura.
__ADS_1
"Kamu harus kuat! Kamu pasti sanggup menghadapinya."
Sosok pria petugas kebersihan menangkap wajah yang menangis itu. Bibirnya terulas senyum tipis, akhirnya dia bisa melancarkan aksi balas dendam yang memuncak karena telah membuatnya kembali masuk tahanan isolasi gelap dan pengap. Pria itu melihat waktu masih terlalu siang untuk rencananya. Lalu dia pergi menghindar untuk sementara. Kembali ada mata yang memperhatikan sosok pria yang mencurigakan tersebut.
Semua orang telah merasa lelah. Reza belum menunjukan perkembangan sama sekali. Rumah sakit yang dititip pesan untuk memberi informasi mengenai jantung, belum ada kabar. Saat ini, hanya Aura yang tinggal sendirian di rumah sakit. Semua sudah meminta Aura untuk pulang. Namun dia bersikeras untuk tetap menemani suaminya.
Aksa pulang ke kosan yang disewakan perusahaan untuknya. Dia ingin membersihkan diri yang sudah lebih dari 24 tidak mandi. Dia sudah berencana kembali lagi setelah semua beres.
Saat selesai membersihkan diri, dia teringat pada sosok pria yang berpakaian petugas kebersihan rumah sakit. Baginya, pria itu terlihat sangat mencurigakan. Lalu dia bergegas untuk segera kembali ke rumah sakit.
Dalam suasana sepi itu Aura masih menggenggam tangan suaminya. Satu tangan lagi digunakan untuk membelai wajah Reza.
"Kanda, aku harus mencari ke mana lagi?"
Aura mendengar gagang pintu sedang ditarik dari luar. Tampak pria menggunakan jas bewarna putih masuk ke dalam ruangan tersebut. Aura berdiri menyambut kedatangan dokter yang menggunakan masker dan kacamata tersebut.
"Bagaimana keadaan suami saya saat ini, Dok?"
Pria yang berpenampilan seperti seorang dokter itu tak menyahut sama sekali. Dia hanya mengeluarkan sebuah benda dari dalam kantong jas putih tersebut.
"Kenapa suntikan itu besar sekali, Dok?" tanya Aura yang merasa gerak-gerik pria tersebut terlihat mencurigakan.
Dokter tersebut, masih diam tanpa jawaban. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil yang mungkin sebuah obat yang akan disuntikan kepada Reza. Namun, Aura semakin merasa aneh, dia menghabisakan semua isi botol kecil obat tersebut masuk ke dalam alat suntik tanpa memperhatikan takaran. Dokter itu pun bersiap untuk menyuntikan dosis obat masuk lewat selang infus.
Aura menahan tangan dokter itu. "Ini obat apa dok?"
Tangan Aura ditepis, dan dia kembali mencoba menyuntikan benda itu masuk ke selang infus. Aura memukul benda suntik itu, dan terjatuh.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Dia memukul wajah Aura.
Mata Aura membesar karena dia sangat mengenal suara itu. Aura segera mendorong pria yang mengenakan pakaian dokter itu hingga ia terjatuh. Pria itu membuka masker dan kacamata dengan seringai menghiasi wajahnya.